The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 20


__ADS_3

Huek!


Huek!


Terdengar orang sedang muntah di kamar mandi.


Siapa itu pagi-pagi begini.


Malik mencoba melihat Anjani yang sedang berada di kamar mandi.


"Sayang,kamu kenapa?" Terlihat wajah Malik panik melihat istrinya muntah-muntah.


"Gak tahu mas,bangun tidur tadi aku merasa mual-mual,kayak nya masuk angin,"


Anjani menjawab pertanyaan suaminya dan masih mengusap perut yang masih merasa mual.


"Apa perlu mas kerokin?" Malik mencoba menawarkan jasa.


Bisa jadi istrinya masuk angin karena semalam tidur kemalaman.


"Tidak usah mas,nanti minum obat masuk angin juga sembuh,"


Anjani menolak jasa suaminya.


"Ya sudah hari ini kamu di rumah saja,jangan pergi kerja dulu,biar nanti mas ijin langsung ke rumah bu Ida,"


Malik terlihat khawatir dengan kondisi istrinya yang terlihat lemah dan pucat.


"Tapi mas..."


"Kamu harus nurut,oke,"


"Iya deh,saya nurut sama mas,"


Merasa sudah dikit membaik,Anjani keluar dari kamar mandi dan menemani sang suami makan sarapan.


Tak lupa dia juga membuatkan kopi untuk suaminya.


Namun entah kenapa tiba-tiba di merasa mual lagi saat mencium aroma kopi.


Segera dia berlari menuju kamar mandi hendak muntah lagi.


Malik yang duduk di kursi meja makan,bergegas berdiri dan menghampiri istrinya itu.


"Anjani,kamu kenapa sih kok muntah-muntah terus,"


"Tidak tahu mas," jawab Anjani sambil menyeka keringat yang mengucur di keningnya.


"Aku bawa ke puskesmas sekarang,takut terjadi apa-apa sama kamu,"


Anjani hanya nurut saja apa yang di katakan sang suami.


"Iya deh,Anjani siap-siap dulu,"


Mereka berdua pun berangkat menuju puskesmas terdekat.


"Sini,duduk dulu,biar mas ambil nomer antrian," Malik membimbing istrinya duduk di kursi tempat mereka mengantri.


Tidak lama setelah itu Malik menyusul istrinya dan duduk di sebelah istrinya.


"Bagaimana perasaan mu sekarang?" Malik bertanya kepada Anjani yang terlihat pucat.


"Sudah mendingan mas,mas Malik tidak ke toko hari ini?" Anjani mencoba bertanya kepada suaminya itu.


"Tidak,aku libur dulu hari ini,kamu kan sedang sakit,mas gak tega ninggalin kamu sendirian di rumah,"


Terlihat kekhawatiran pada diri Malik.

__ADS_1


Anjani hanya nurut saja. Membantah pun percuma saja. Lagian dia memang butuh orang yang menemani nya saat ini.


Lama menunggu,akhirnya datang giliran Anjani.


Anjani masuk keruang pemeriksaan di temani suaminya.


Selepas di periksa Anjani pun duduk di depan meja milik sang bidan di dampingi Malik yang ada di sana juga.


"Bagaimana hasilnya bu bidan? Istri saya sakit apa?" Malik panik,khawatir istrinya sakit.


"Tenang pak,bu Anjani tidak sakit," jawab bu bidan sambil tersenyum.


"Tidak sakit? Terus dari tadi dia muntah-muntah,kenapa?" Semakin bingung Malik dengan penjelasan bidan itu.


"Dari hasil pemeriksaan,selamat ya pak,bu,anda berdua akan menjadi orang tua," jelas bu bidan dengan senyum ramahnya.


Malik tercengang.


"Anak? Aku akan Memilik anak?"


"Iya pak,bu Anjani bukan sakit,tapi beliau sedang hamil sudah enam minggu,"


Seakan tidak percaya Malik.


"Alhamdulillah,terimakasih bu bidan," ucap syukur Malik di iringi senyum bahagia oleh Anjani.


"Ini hamil nya masih muda,tolong bu Anjani,di usahakan jangan kerja yang berat,istirahat yang cukup,"


Setelah di beri resep dan kiat-kiat orang hamil pertama,mereka berdua keluar dan berencana untuk pulang.


"Mas,aku ingin mampir dulu ke rumah ibu,sudah lama tidak kesana,"


Memang semenjak Anjani pindah ke rumahnya sendiri,sudah lama dia belum mampir ke rumah orang tuanya.


"Ya sudah,kebetulan mas juga ada hal yang mau di ambil di rumah," jawab Malik sambil menstater motornya.


Jarak dari puskesmas menuju rumah orang tua Anjani tidak terlalu jauh.


Mereka berdua akhirnya sampai juga di depan rumah Anjani.


Anjani segera turun dari motor dan berjalan menuju rumahnya.


Rumah terlihat sepi,sepertinya tidak ada orang di rumah.


"Assalamualaikum,bapak,ibu," Anjani mencoba membuka pintu.


Ceklek!


Tidak terkunci tapi kok sepi?


Anjani membatin.


"Bapak sama ibu ada tidak?"


Malik yang berdiri di belakang Anjani mencoba bertanya.


"Entahlah mas,biar aku periksa dulu,mungkin ada di belakang," jawab Anjani sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Anjani masuk dan memeriksa ke dalam,semetara Malik duduk di dipan bambu teras rumah.


Anjani memeriksa kamar,tidak ada orang.


Berjalan lagi menuju dapur,tidak ada.


Mencoba menuju ke belakang rumah,barang kali ada di sumur.


Tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


'Mungkin bapak ke sawah,ibu mungkin sedang kerja,Vania pasti sekolah,'


Anjani hanya membatin.


Sedang mau masuk lagi ke dalam rumah,ada tetangga sebelah rumah menyapa Anjani.


"Eh,Anjani,kamu pulang?" Tanya bu Salimah kepada Anjani.


"Bu Salimah,iya bu,tapi bapak sama ibu kemana ya kok tidak ada di rumah?"


Anjani mencoba bertanya kepada bu Salimah.


"Kan bapak sama ibu kamu sedang ke puskesmas," jawab bu Salimah.


"Memangnya siapa yang sakit bu?" Anjani panik mendengar kabar dari bu Salimah.


"Kamu tidak tau,sesuatu menimpa Vania beberapa waktu lalu?"


"Memangnya Vania kenapa bu? Kok bapak sama ibu tidak bilang-bilang sama saya?" Anjani terlihat panik.


Akhirnya bu Salimah mulai bercerita tentang musibah yang telah menimpa adik tercintanya itu.


Anjani menangis mendengar cerita dari bu Salimah.


"Ya Allah,kenapa bapak tidak memberi tahu saya masalah ini," sambil berlinangan air mata.


Sedang duduk di teras,Malik merasa istrinya sudah lama belum keluar juga.


Malik pun mencoba masuk dan mencari keberadaan istrinya.


Ternyata,istrinya ada di belakang rumah,sedang mengobrol dengan bu Salimah.


Melihat istrinya menangis,Malik pun lantas bertanya.


"Anjani,kamu kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Malik khawatir.


Anjani hanya menggeleng.


"Bu Salimah,ada apa ini,kenapa Anjani nangis sampai seperti ini?"


Malik bertanya kepada bu Salimah.


"Kita masuk rumah dulu yuk mas," belum sempat bu Salimah menjawab pertanyaan Malik.


Anjani mengajak suaminya masuk kedalam rumah.


"Bu Salimah,terimakasih ya,kami masuk rumah dulu," ucap Anjani.


Dan bu Salimah hanya mengangguk.


Anjani dan juga Malik masuk ke dalam rumah. Mereka berdua duduk di ruang tamu beralaskan tikar.


"Anjani,sayang kamu kenapa? Ada apa?" Malik membelai lembut pipi istrinya,mengusap air mata yang mengalir di pipi mulusnya.


Bukannya bercerita,Anjani malah semakin menjadi menangis.


Malik hanya bingung dengan sikap istrinya.


Di peluknya istrinya itu,di benamkan dalam pelukan. Membiarkan dia menangis sepuasnya dalam dekapan suaminya.


'Ada apa? Kenapa Anjani menangis sampai seperti ini?'


Malik membatin dan membelai kepala istrinya dengan lembut.


Entah apa yang sebenarnya dia rasa.


Apa ada sesuatu sama bapak atau ibu mertuanya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2