
Aku akan pergi dinas ke luar kota dengan Roni seminggu lagi.
Lelaki yang selama ini selalu menggoda ku.
Mengharap kan cintanya berbalas,namun sayang hingga sekarang aku masih belum bisa membuka hatiku untuk dia.
Aku akan berbicara dengan kedua orang tuaku tentang perjalanan dinas ku nanti.
Aku yang sudah bangun namun males untuk beranjak dari tempat tidur.
Kuraih ponselku yang ada di meja samping.
Sudah jam 7 pagi,aku sedikit bermalasan karena hari ini aku ambil cuti sehari.
Terdengar suara ibu ku dari luar seperti sedang mengobrol dengan seseorang.
Dengan penasaran aku mencoba keluar dan melihat apa yang Sebenarnya terjadi.
Deg...!!
Jantung ku seakan mau melompat dari tempatnya.
Mas Malik,menuju ke rumah ku. Tumben?
Ada apakah gerangan Beliau datang ke mari.
Kulihat lagi lebih jelas.
Deg
Deg
Deg
Jantungku kembali berdebar,terlihat seorang wanita di samping nya sambil menggandeng tangan mas Malik.
Aku tersadar.
Ya,mas Malik sudah beristri.
Tapi mengapa aku masih belum bisa membuang rasa ku terhadapnya?
Apa mungkin karena cinta pertama?
Aku memang belum pernah jatuh cinta seperti sekarang ini.
Aku benar-benar tergila-gila kepadanya.
Andai mas Malik mau menikah lagi,aku rela menjadi yang kedua.
Aku rela menjadi madunya.
"Assalamualaikum,bu Siti," suara lembut pria idamanku itu,kudengarkan dari Ruang tengah.
"Wa'alaikumsallam,nak Malik,Anjani mari silahkan masuk," sambut ibu ramah.
Mereka berada di ruang tamu dan aku berada di ruang tv,terpisah oleh dinding namun aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Tumben pagi-pagi sekali,ada perlu apa ya?" ibu ku bertanya kepada mereka dan aku sudah pasang telinga di balik dinding.
"Begini bu Siti,kami kemari mau memesan baju untuk kami pakai pergi ke acara nikahan sahabat saya," jawab mas Malik Dengan suara lembutnya.
Ya Tuhan,mengapa nasib tidak berpihak kepadaku?
Kenapa harus Anjani yang menjadi istrinya dan bukan aku?
Mau pergi ke kondangan saja memesan baju sarimbit.
Beruntung sekali kamu Anjani.
__ADS_1
Ah sudahlah,aku tidak perduli lagi.
Aku beranjak pergi hendak mandi dan sarapan.
Aku akan belanja kebutuhan ku selama aku dinas keluar kota.
Selesai mandi,aku duduk di depan meja makan. Terlihat ibu ku juga masuk dari ruang depan.
"Ibu dari mana?" Aku pura-pura bertanya,padahal aku sudah tahu.
"Oohh,dari depan,tadi nak Malik dengan Anjani kemari memesan baju," jawab ibuku sambil ikutan duduk di depanku.
"Tumben,mamangnya mereka mau kemana?" Aku bertanya lagi.
"Katanya sih mau di pakai untuk kondangan ke rumah temannya,tapi ibu rasa mereka akan pergi berbulan madu. Tadi ibu lihat nak Malik begitu perhatian kepada Anjani. Kamu tahu tidak,beruntung sekali Anjani bisa menikah dengan dia. Sudah ganteng,sholeh,tutur katanya lembut,"
Bla bla bla
Ibu ku seakan sengaja memanasiku. Menyanjung mereka berdua di depanku.
Aku cepat-cepat menghabiskan makanku dan pergi meninggalkan ibu ku sendiri di sana.
Aargh...
Hatiku sakit mendengar cerita ibu ku tentang mereka berdua.
***************
Aku pergi ke mini market terdekat menggunakan motor ku.
Belanja kebutuhan yang akan aku bawa ke luar kota.
Tidak sengaja aku bertemu Roni juga di sana. Segera aku ingin mendekatinya,namun aku urungkan.
Terlihat Roni keluar dari mobil di temani oleh tante-tante.
Aku terkejut,benarkah ini Roni yang aku kenal?
Mereka berdua berjalan menuju ke mini market yang sekarang aku berdiri.
Aku cepat-cepat bersembunyi di balik rak tepat Roni berdiri.
Aku awasi mereka berdua,apa mungkin Roni berkencan dengan tante-tante?
Ya Tuhan,melihat perlakuan tante tersebut kepada Roni.
Begitu manja dan sedikit genit. Dia juga bergelayut manja di lengan Roni yang kekar.
Kok,aku merasa risih ya,melihat peristiwa itu?
Tidak-Tidak,aku tidak memiliki perasaan kepada Roni.
Aku mengintip lagi dan mencoba memasang telinga,si tante memanggil nya sayang?
Oh my God!
Seakan dunia runtuh,aku sudah tidak betah bersembunyi namun,aku juga masih penasaran dengan mereka berdua.
'Cepatlah kalian pergi dari sini!'
Aku mengomel sendiri dalam hati.
Mereka masih saja memilih barang-barang apa yang hendak mereka beli.
Sepertinya mereka sudah selesai belanja,mereka berjalan menuju kasir dan membayar Semua belanjaan nya.
Tante yang membayar tagihannya?
Ya ampun,Roni sejak kapan dia berubah menyukai tante?
__ADS_1
Aku masih melongo di tempat aku bersembunyi.
"Kamu lagi ngapain?"
Suara dari belakang ku mengagetkan aku,segera aku menoleh.
"Danu! Sejak kapan kamu di sini?" Aku benar-benar terkejut.
"Baru saja sampai,tapi aku melihatmu di sini seperti sedang mengintip seseorang,makanya aku menghampiri mu,"
Ucap Danu seakan menggoda ku.
"Mana ada aku ngintip,lagian siapa juga yang aku intip," jawabku sewot dan pergi mencari barang yang aku butuhkan.
"Kamu belanja banyak banget," Danu berjalan tepat di samping ku.
"Iya,aku mau dinas ke luar kota minggu depan,ngomong-ngomong kamu sudah wisuda kan,kamu melamar kerja di mana?"
Aku ingat Danu sudah wisuda,sepertinya dia belum bekerja.
"Aku masih belum bekerja,masih membantu ibu di toko,"
Dia menjawabku sambil memilih sesuatu.
"Ehm,bagaimana kalau kamu kerja di tempatku? Kebetulan di sana sedang membutuhkan karyawan baru,"
Aku mencoba membantu nya,kan dia keponakanku.
Anak dari budhe ku,yang berarti dia abang sepupuku.
Meski pun dia satu tahun lebih muda dari aku,namun dia sudah Terlihat dewasa.
"Nanti aku pertimbangkan," jawabnya.
"Aku sudah selesai belanja,bagaimana kalau kita makan siang bareng di warung sebelah,"
Aku mengajak Danu untuk makan,sekarang kami jarang main bersama semenjak kami dewasa.
Dulu waktu masih kecil,kami sering bermain bertiga aku,Wanda dan juga Danu.
"Boleh,tapi kamu yang traktir ya," Danu menjawab dengan cengar-cengir.
Aku tersenyum,"iya,tenang saja,anggap saja merayakan kelulusan kamu,"
Danu tertawa lebar mendengar jawaban dari ku.
Kami keluar,aku menuju motorku yang terparkir di depan mini market.
Danu kebetulan mengendarai mobilnya.
"Kamu kesini bawa motor?" Danu bertanya padaku. Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana kalau kamu ikut aku saja naik mobil ku?"
"Terus motorku bagaimana?" Aku balik bertanya.
"Ya sudah Sini,belanjaan kamu aku bawakan,"
Danu mengambil kantong keresek yang aku bawa.
"Kamu hati-hati ya mengendarai motornya,jangan ngebut,aku jalan di belakangmu," aku hanya mengangguk.
Ya ampun Danu,kamu perhatian banget,cewek kamu pasti bahagia menjadi pacarmu.
Tapi ngomong-ngomong,dia sudah punya cewek belum ya?
Atau dia masih jomblo seperti aku?
Biar aku tanya Wanda nanti kalau sudah sampai rumah.
__ADS_1
...****************...