
Menunggu di koridor membuat mereka sedikit panik.
Sudah hampir satu jam Vania dan juga ibunya berada di ruangan itu.
Malik,Anjani dan juga pak Tarno menunggu di luar.
Tak berapa lama bu Mirna keluar dan Anjani langsung mendekati ibunya.
"Gimana bu? Apa kata dokter?" Anjani menanyakan keadaan Vania kepada ibu nya.
"Dokter bilang,asal rutin di bawa kontrol,insyaallah trauma yang dia derita bisa sembuh," jawab bu Mirna.
"Benarkah itu,bu?" Anjani tidak percaya.
"Benar nak,adik mu bisa sembuh asal kita rutin bawa dia kontrol," ucap bu Mirna lemas.
"Alhamdulillah,tapi kenapa ibu terlihat sedih begitu?" Anjani bertanya lagi.
"Ibu bingung,siapa yang akan membawa Vania kontrol? Bapak sama ibu tidak memiliki kendaraan,"
Anjani mencoba untuk menenangkan ibunya.
Dia juga bingung,tidak punya solusi juga.
Malik mendekat,mencoba memberi saran.
"Begini saja bu,saya kan membuka toko di sekitar sini,biar nanti saya yang antar Vania kontrol," ucap Malik yang juga di setujui oleh Anjani.
"Tapi,siapa yang akan menjemput saat dia pulang?"
"Tidak apa-apa bu biar Malik yang antar pulang,ibu jangan khawatir,"
Bu Mirna memandang Anjani dan Anjani mengangguk tanda setuju.
"Baiklah kalau begitu,nak Malik maaf merepotkan lagi," bu Mirna merasa tidak enak hati.
"Ibu,jangan bilang seperti itu. Vania sama dengan adik Malik," bujuk Malik kepada ibu mertuanya.
Selesai mengobrol,terlihat dokter Faizal keluar dari ruangan nya dan menghampiri keluarga Anjani.
"Bapak,ibu,Vania mengalami trauma yang sedikit berat mengguncang jiwanya,mohon di perhatikan setiap dia bertindak. Saya khawatir nanti dia akan melakukan hal yang tidak di inginkan," ucap dokter Faizal kepada pak Tarno dan bu Mirna.
"Iya dok,terimakasih banyak,kami akan selalu memperhatikan nya," jawab pak Tarno dengan wajah sedihnya.
"Setiap hari kamis dan sabtu di usahakan kontrol kemari ya,"
"Baik dokter,"
Mereka semua berpamitan untuk pulang. Vania yang seperti orang linglung.
Kadang dia menangis,berteriak kadang dia juga tertawa sendiri seperti orang gila.
Kasihan Vania,masih di bawah umur harus menanggung derita yang begitu berat.
...****************...
Mereka pun tiba di rumah.
Bu Mirna menyarankan agar Anjani dan juga Malik untuk segera pulang saja karena mereka juga punya kehidupan sendiri.
Dengan berat hati,Anjani berpamitan untuk pulang.
Bagaimanapun mereka memang harus pulang mengurus semua yang ada di rumah.
"Ya sudah ibu,bapak,kami berdua pamit pulang dulu,kalau ada apa-apa segera kabari ya bu," pamit Anjani.
"Iya nak,kamu hati-hati ya,di jaga kandungannya dengan baik,"
__ADS_1
Malik menyalakan mesin motor nya dan mereka pun pulang menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah,Anjani langsung duduk di ruang tv.
Tidak percaya apa yang telah terjadi kepada adiknya itu.
Di susul Malik juga duduk tepat di sebelahnya.
"Mas,apa nanti tidak merepotkan kamu setiap kamis dan sabtu ngantar Vania kontrol?" Tanya Anjani kepada suaminya.
"Kenapa bertanya seperti itu? Kita sudah menjadi satu keluarga,sudah sepatutnya aku juga ikut berpartisipasi,iya kan," jawab Malik sambil bersandar di punggung kursi.
"Aku tidak enak hati sama kamu,selalu merepotkan saja," ucap Anjani.
"Sudah tidak usah di bahas,aku lapar,tolong masak kan mi instan ya," pinta Malik kepada suaminya.
Anjani mengangguk dan berdiri menuju kamar hendak berganti pakaian.
Karena kalau di rumah memang lebih leluasa memakai daster,apa lagi sekarang dia sedang hamil.
Dia sedang membuka kancing baju dan telah di lepas baru sampai perut.
Malik nyelonong saja masuk tanpa permisi.
Anjani kaget dan masih merasa malu karena dia setengah telanjang di hadapan suaminya sendiri.
Malik yang melihat kejadian itu langsung tertegun.
"Mas,kok tidak ketuk pintu sih,asal masuk saja,aku mau ganti baju nih," ucap Anjani kepada Malik dengan muka yang memerah seperti tomat karena malu.
Malik malah tersenyum dan mendekati istrinya.
"Kenapa harus malu? Aku ini suamimu,bukan orang lain," kata Malik sambil tangan nya meraba belahan milik Anjani.
"Mas,jangan deh,katanya mau di masakin mi instan," Anjani mencoba menepiskan tangan Malik.
Mencium leher jenjang istrinya,turun ke dada.
"Aahh mas,jangan sekarang,"
******* Anjani membuat Malik semakin gencar meluncurkan serangan.
Tanpa pikir panjang,di bopong nya Anjani dan di bawa ke atas ranjang.
"Mas,Bukannya lapar? Tadi minta... Aach,"
Tidak sempat melanjutkan kata-kata nya,Malik menerkam bibir ranumnya.
"Makan kamu dulu,baru makan mi instan,"
Ucap Malik kepada Anjani.
Anjani pun tidak dapat menolak keinginan suaminya itu.
"Kamu selalu menggoda di depanku sayang,aku sudah tidak tahan lagi,"
Di tengah hari,matahari begitu terik,mereka meluncurkan genjatan senjata masing-masing.
Selesai perang sengit, mereka berdua terkulai lemas,dengan di tutupi kain selimut.
Anjani tertidur di pelukan Malik.
Begitu juga Malik,tertidur dengan mendekap istrinya.
Sungguh hari yang melelahkan.
...****************...
__ADS_1
Di meja makan terlihat Malik dan Anjani sedang menikmati mi instan.
Mereka makan sambil mengobrol.
"Mas,besok aku pergi kerja ya?" Anjani mencoba meminta ijin kepada sang suami.
"Tapi janji ya,jangan angkat yang berat-berat," ucap Malik mengingatkan istrinya kalau sedang hamil muda.
"Iya,aku janji," jawab Anjani.
Malik memandangi wajah istrinya yang duduk tepat di depannya.
"Anjani,setiap kali aku melihat mu,aku langsung bergairah gitu,kamu memang terlalu menggoda," goda Malik kepada Anjani.
"Apaan sih mas,barusan kan udah,mau nambah?" Anjani balik menggoda.
"Boleh,sekarang?"
"Jangan bercanda deh,"
Anjani beranjak berdiri dari duduknya.
Pergi hendak mencuci piring.
Malik tertawa lepas melihat Anjani seperti itu.
"Sudah,jangan tertawa terus,udah adzan magrib tuh,kita sholat yuk," Anjani mengajak suaminya untuk menjalankan sholat maghrib.
Anjani berjalan menuju ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu.
Di susul suaminya juga akan berwudhu.
"Nanti sehabis sholat nambah ya," bisik Malik di telinga Anjani.
Anjani mencubit pinggang suaminya yang genit itu.
Sejak kapan dia menjadi begitu genit.
Lagi-lagi,Malik tertawa lebar.
Sungguh kepuasan tersendiri bisa menggoda istrinya.
Apa lagi kalau wajah nya memerah seperti tomat,terlihat menggemaskan.
Sungguh beruntung Malik memiliki istri Anjani.
Meski harus menelan pil pahit di waktu pertama menikah.
Kini dia bersyukur,buah penantian selama dua bulan itu berbuah manis.
Anjani bisa menerima nya sebagai seorang suami sejati.
Dua bulan memang penantian yang cukup lama bagi Malik waktu itu.
Malam pertama tidur satu kamar,namun terpisah.
Anjani di ranjang sedangkan Malik di lantai beralaskan tikar.
Hujan turun,kedinginan pun dia harus menahan sendiri.
Seperti seorang bujang yang belum beristri.
Namun itu dulu,sekarang mereka sudah bisa saling menerima.
Bisa saling menghangatkan dan mencairkan kebekuan selama dua bulan terakhir.
Semoga begitu hangat terus sampai ajal menjemput.
__ADS_1
...****************...