The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 11


__ADS_3

Di depan pelataran rumah bu Fatimah terdapat mobil Avanza terparkir di sana.


Iya,Arini beserta keluarga hendak kembali ke kota hari ini,mereka sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya.


Mas Rudi yang sedang menenteng tas yang akan di masukkan ke bagasi mobil. Di ikuti juga anaknya dari belakang membawa barang yang akan di bawanya.


Di teras rumah,terlihat Anjani dan kedua kakak iparnya sedang mengobrol.


Dua hari yang lalu Anjani telah di boyong oleh keluarga Malik untuk ke rumah Malik.


Tak heran jika sekarang Anjani berada di sana.


"Anjani,kalau ada waktu main lah ke ibu kota ya,nanti akan aku ajak kamu dan juga Malik jalan-jalan di sana," kata Arini kepada Anjani.


"Iya kak,insyaallah kalau kami ada waktu pasti berkunjung ke rumah kak Arini," jawab Anjani.


"Sarah,jaga Anjani,anggap dia sebagai adik kamu sendiri," pesan Arini kepada Sarah.


"Iya kak,jangan kawatir,Anjani pasti betah di rumah sini,iya kan Anjani," sahut Sarah seraya melirik ke arah Anjani.


Dan Anjani hanya tersenyum. Senyuman manisnya itu yang membuat Malik terpikat. Tanpa di duga Malik yang sedari tadi berdiri di depan pintu memandangi istrinya. Sambil tersenyum melihat sang istri mengobrol dengan kayaknya.


"Arini,ayo kita jalan,biar nanti tidak kemalaman sampai rumah." Rudi memanggil Arini dari samping mobil.


"Bapak,ibu kami pamit pulang dulu ya," pamit Arini dan juga Rudi,mereka mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Kakek,nenek kami pulang dulu ya," pamit mereka kepada kakek dan nenek nya.


"Kalian semua,hati-hati di jalan ya,jangan ngebut,"


Mereka semua masuk ke dalam mobil.


"Assalamualaikum," pamit Arini beserta anak dan suaminya juga mengucapkan salam.


"waalaikumsalam,hati-hati di kapan,"


Rudi pun menyalakan mobilnya dan perlahan mobil mulai berjalan dan sudah tidak terlihat.


Sarah,Toni,bu Fatimah dan juga ustadz Maulana masuk ke dalam rumah. Anjani dan Malik masih duduk di teras rumah.


Mereka memulai untuk mengobrol dan mencoba membuat pendekatan satu dengan yang lainya.


Anjani masih begitu canggung mengobrol dengan suaminya sendiri,dia juga kadang masih menunduk kan wajah ketika sang suami memandangnya.


Tak terasa adzan magrib berkumandang.

__ADS_1


"Anjani,kita sholat yuk,sudah adzan," ajak Malik kepada sang istri.


"Mas Malik sholat dulu saja,saya sedang halangan," jawab Anjani malu-malu.


"Yahh,nanti malam tertunda dong sunah kita," jawab Malik sedikit kecewa.


Wajah Anjani berubah memerah seperti tomat yang susah masak.


Melihat wajah sang istri memerah Malik tertawa lebar. Anjani semakin memerah wajahnya.


"Apaan sih mas Malik," Anjani terus berlalu masuk rumah meninggalkan Malik yang masih tertawa.


...****************...


Dengan kecepatan sedang,Danu menelusuri jalan aspal yang licin. Hujan gerimis turun ketika Danu pulang dari kampus.


Wanda sudah pulang lebih dulu,dia membawa motor sendiri.


Braakk!!!


Terdengar suara benturan,seperti ada sesuatu yang menabrak.


Bener saja,tak jauh dari arah Danu,terlihat begitu banyak warga berkerumun.


Dia menabrak pohon kersem di pertigaan jalan Sudirman,untung nya tidak ada korban jiwa.


Terlihat para warga membantu pemuda itu,Danu juga turut membantu setelah dia memarkirkan motornya.


"Istirahat dulu mas,duduk dulu di warung saya," salah satu warga yang ada di situ mencoba memapah pemuda tersebut dan di bantu Danu yang juga ada di sana.


Warga yang lain menepikan motor pemuda tersebut.


Sampai di warung,pak Liwon- pemilik warung,bergegas mengambilkan air dan di berikan kepada pemuda tersebut.


"Ini mas,di minum dulu airnya," pak Liwon sambil menyodorkan segelas air.


"Terimakasih pak," ucap pemuda itu sambil meminum airnya sampai habis.


Danu yang dari tadi duduk di samping pemuda itu mencoba untuk bertanya.


"Maaf mas,kalau boleh tahu nama mas siapa?"


"Saya Radit mas,dari desa sebrang,terimakasih ya mas sudah mau menolong saya,"


"Iya mas sama-sama,oh ya,saya Danu," sambil mengulurkan tangan dan di jabat oleh Radit.

__ADS_1


Pak Liwon yang juga mendengarkan obrolan Danu dengan Radit lantas menghampiri mereka berdua dan bertanya kepada Radit.


"Mas Radit tidak apa-apa kan?" Tanya pak Liwon.


"Alhamdulillah pak,cuma sedikit luka di lutut dan siku," jawab Radit meringis menahan sakit.


"Mas Radit kok bisa menabrak pohon keren? Mas Radit ngantuk ya?" Danu bertanya penasaran.


"Tadi pas saya lewat sana mendadak ada anak kecil menyebrang mas,saya panik lalu saya banting stir,saya oleng terus nabrak pohon itu,alhamdulillah tidak terjadi apa-apa sama saya,hanya lecet,"


Pak Liwon manggut-manggut mendengarkan cerita dari Radit. Kemudian Radit melanjutkan ceritanya.


"Saya jatuh terus saya coba celingukan mencari anak yang nyebrang tadi tapi tidak ada,sudah tidak kelihatan,"


Entah kenapa mendengar cerita Radit,Danu tiba-tiba menjadi merinding.


"Kok bisa ya,anak kecil nyebrang jalan,apa emaknya gak nyariin ya?" Danu bertanya penasaran.


"Ehem," pak Liwon berdehem.


"Sudah tidak aneh lagi mas,sudah menjadi rahasia umum,kalau di situ sering terjadi kecelakaan tunggal."


"Maksudnya,apa pak?" Danu semakin penasaran,Radit juga mulai memasang telinga untuk mendengarkan kisah dari pak Liwon.


"Bukan cuma mas Radit,korban Kecelakaan tunggal di sana,kemarin juga terjadi kecelakaan tunggal,seorang wanita membonceng neneknya,untung mereka berdua tidak kenapa-napa," lanjut pak Liwon.


"Kalau boleh tahu,kenapa kok bisa begitu ya pak?" Tanya Radit penasaran.


"Dulu,waktu saya masih muda,di sebelah pohon kersem ada sebuah rumah tua,yang di huni oleh sepasang suami istri,entah apa sebab nya sang suami meracuni anak dan istrinya, si istri masih sempat keluar dan berlari kerumah warga sekitar untuk meminta pertolongan sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya, mereka sempat di bawa ke piskesmas terdekat tapi sudah tidak tertolong,mereka berdua meninggal dalam perjalanan," pak Liwon mulai bercerita.


"Terus suaminya kemana pak?" Tanya Danu semakin penasaran.


"Suaminya melarikan diri waktu anak dan istrinya di bawa ke puskesmas,tidak lama,suaminya menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui semua perbuatannya,semenjak hari itu,orang yang lewat jalan itu,menjelang Maghrib atau menjelang Dzuhur,pasti ada yang kecelakaan kalau tidak membunyikan klakson. Kejadiannya semua sama,ada anak kecil menyebrang jalan." jelas pak Liwon panjang lebar.


Mereka berdua melongo,Danu melirik ke arah jam tangannya,waktu menunjukan pukul 17:30,menjelang magrib,lagi-lagi Danu merinding.


"Lalu rumah tua itu kok tidak ada sekarang pak?" Radit yang bertanya.


"Rumah tersebut di bongkar,karena di bangun di atas tanah pemerintah. Sekarang di bangun kantor kecamatan." pak Liwon mengakhiri ceritanya.


Suara Adzan magrib berkumandang,Danu dan Radit beranjak dari warung pak Liwon hendak menuju Masjid terdekat di susul juga pak Liwon yang hendak ke Masjid.


Mereka bertiga bejalan bersama menuju Rumah Allah SWT,memenuhi Panggilan-Nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2