The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 25


__ADS_3

Ceklek!


Pintu depan terbuka.


Sepi.


Tidak ada orang kah?


Tap!


Tap!


Tap!


Berjalan masuk,memeriksa setiap sudut ruangan.


Tidak ada orang. Kemana mereka semua pagi-pagi begini.


Melirik jam tangan,pukul 08.00WIB.


Kemana papa sama Bella?


Tidak biasanya mereka berdua pergi sepagi ini.


"Mbok!"


Si Mbok yang di panggil Roni langsung keluar tergopoh mendekat.


"Eehh den Roni,tumben den pagi-pagi sudah datang?" Sapa mbok Supi kepada Roni.


Mbok Supi adalah pembantu di keluarga Roni.


Beliau sudah lama bekerja di sana.


Semenjak Roni masih bayi sudah di asuh sama mbok Supi.


Bella Adelia Adik Roni satu-satunya. Meski begitu,Bella tidak manja dan suka mandiri.


Selama ini Roni tinggal di apartemen nya sendiri.


Sudah muak melihat tingkah papa nya yang suka bawa wanita ke rumah semenjak bercerai dari sang ibu beberapa bulan yang lalu.


Roni tinggal di apartemen bersama dengan ibunya.


"Papa sama Bella kemana,kok sepi?" Roni bertanya kepada pembantu nya itu.


"Bapak sudah berangkat pagi-pagi sekali den. Non Bella sudah berangkat kuliah den," jawab mbok Supi.


"Ya sudah mbok,saya mau ke kamar dulu,mau ambil sesuatu,"


Roni berjalan menuju kamar papanya,hendak mengambil sesuatu yang di perlukan.


Mencoba mencari barang yang di maksud,namun belum ketemu juga.


Rak buku,lemari dan juga laci meja juga sudah di periksa namun belum ketemu juga.


Mencoba membuka koper kecil di bawah ranjang.


Ketemu,selembar kertas yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang.


Sertifikat salon kecantikan milik mamanya,warisan dari keluarga yang harus di jaga.


Yang sekarang sedang di kuasai papa nya dengan wanita gilanya.


Mamanya sampai stres memikirkan ini.


Makanya,meminta tolong sama Roni untuk mengambilkan sertifikat itu.


'Untung belum ketahuan sama papa,' ucap Roni dalam hati.


Dia tersenyum puas karena apa yang dia cari sudah ketemu.


Dia segera keluar dari kamar itu dan bergegas pergi.


"Den Roni,tidak makan dulu?" Panggil mbok Supi kepada Roni yang terlihat tergesa-gesa.


"Tidak mbok,saya masih ada urusan," jawab Roni sambil berjalan menuju mobilnya.


Roni masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobil.


Dia sudah pergi,berjalan menuju apartemen yang dia tinggali bersama sang ibu.


Menuju kantor, dia sengaja melewati salon kecantikan milik mamanya.


Benar saja,wanita gila itu yang berada di sana.

__ADS_1


'Wanita gila tidak tahu malu,air susu di balas air tubah,lihat sampai kapan kamu bisa bertahan di samping papa ku,' Roni menggerutu dan ngomel sendiri.


Dia melajukan mobilnya menuju kantor tempat dia bekerja.


Kalau mampir dulu ke apartemen,tidak bisa karena waktu sudah siang.


Di tempat Anjani bekerja.


Terlihat Anjani sedang membersihkan rak,dia juga menyapu lantai.


Dia gembira bisa bekerja karena di rumah sendiri sangat membosankan.


Bu Ida juga sudah ada di sana. Beliau sedang berada di dalam ruangannya.


Sebuah mobil datang dan parkir di pelataran toko.


Seorang pemuda keluar dari mobil itu. Wajah yang tidak asing lagi.


Danu,berjalan menuju toko itu.


Tap!


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas.


"Mas Danu?" Sapa Anjani yang sedang membersihkan rak sepatu di balik pintu.


"Anjani? Kamu terlihat pucat,apa kamu sakit?" Danu menoleh ke arah Anjani dan melihat wajah Anjani yang sedikit pucat.


"Aku,tidak sakit," jawab Anjani.


"ehm,ibu mana?" Kembali Danu bertanya kepada Anjani.


"Ada di ruang kerjanya mas," jawab Anjani dengan suara lembutnya.


Deg!


Danu masih berdebar setiap kali bertemu dengan Anjani.


Apa lagi mendengar suara lembutnya. Seakan dunia ini berhenti berputar.


Danu menatap Anjani dalam-dalam. Mata bertemu mata.


Tangan ingin membelai pipi mulusnya,namun ia segera tersadar.


Danu langsung pergi meninggalkan Anjani yang sedang terpaku.


Anjani juga merasa bingung dengan perasaan nya saat ini.


Berusaha membuang jauh semua yang dia rasakan sekarang.


Kembali fokus membersihkan semua apa yang kotor.


Selang beberapa menit,Danu keluar lagi dan kali ini dia tidak menyapa Anjani.


Danu langsung keluar dan masuk mobil. Meninggal kan toko milik ibunya itu.


Danu melaju menuju kantornya. Sambil menyalakan musik.


Untuk teman dalam perjalanan menuju kantor.


Tepat di depan, lampu lalu lintas berwarna merah.


Danu menghentikan mobilnya. Sambil menunggu lampu berubah warna.


Dia celingukan memandang ke kanan dan ke kiri.


Terlihat di sana Malik sedang membonceng seorang perempuan di belakang motornya.


Danu kaget dan penasaran siapa gadis yang bersama Malik itu?


Dia mencoba memperhatikan dengan seksama.


Tidak terlalu jelas,karena perempuan itu menggunakan helm.


Lampu sudah berubah warna hijau. Danu jalan lurus ke depan sedangkan Malik belok ke kanan.


Danu masih penasaran siapa gadis itu.


Apakah mungkin?


Tidak mungkin. Malik sudah beristri. Dia juga sangat mencintai istrinya itu.

__ADS_1


Danu terus memikirkan apa yang telah dia lihat tadi.


Tak terasa,dia sudah di pelataran parkir depan kantor.


Dia membuka pintu mobil dan keluar. Kebetulan Sania juga di sana.


Dia juga baru sampai.


"Danu!" Panggil Sania kepada Danu.


Danu menoleh dan tersenyum. Sania mendekati Danu dan mereka berjalan bersama menuju kantor.


Seperti biasa,mereka menunggu lift untuk naik ke lantai tiga.


Ting!


Lift terbuka,Danu dan Sania masuk.


Terlihat Roni sedang mengawasi mereka dari jarak yang cukup jauh.


Kenapa Roni tidak ikut masuk lift?


Mungkin dia merasa kalau Danu dengan Sania sedang menjalin hubungan spesial.


Ting!


Lift berhenti di lantai tiga. Danu berjalan menuju meja kantornya.


Sania juga berjalan menuju ruangannya.


Semua karyawan menyapa dengan ramah dan senyuman.


Sania juga membalas nya dengan anggukan dan senyuman.


Setelah Sania masuk ke ruang kerjanya.


Mereka mulai bergosip.


Danu dan Sania punya hubungan apa?


Apakah mereka berdua sedang pacaran?


Begitulah percakapan yang di dengar oleh Danu dan dia hanya tersenyum.


Wawan yang berada di samping meja kerja Danu mencoba bertanya.


"Danu,apa benar yang mereka bicarakan?" Dia bertanya penuh rasa penasaran.


"Kamu sudah mulai suka gosip ya," jawab Danu singkat.


Dia memang sengaja merahasiakan hubungannya dengan Sania atas permintaan Sania sendiri.


Apa alasannya,Danu juga tidak yakin.


Teringat percakapan dengan Sania di dalam lift kemarin.


"Danu,jangan bilang pada siapapun kalau aku sepupumu,oke," ucap Sania kepada Danu.


"Memangnya kenapa? Kamu malu ya punya sepupu seperti aku,yang gantengnya mirip oppa korea," Danu menggoda Sania.


Sania mencibir dan berkata,"siapa yang bilang kamu mirip oppa korea,hah,"


Danu terkekeh mendengar pernyataan adik sepupunya itu.


Tapi memang benar,kalau di amati dengan cermat,Danu sedikit mirip dengan artis korea.


Postur tubuh yang tinggi,kulit putih seputih susu.


Di tambah lagi,bibir yang merah merona seperti memakai lipstik.


"Tapi,kalau di amati kamu ganteng juga,bibir mu merah seperti ceri," ucap Sania sambil mendekatkan mata melihat wajah Danu.


Jika teringat kejadian sama Sania di dalam lift waktu itu,membuat Danu tersenyum sendiri.


"Kamu kenapa tersenyum?" Wawan membuyarkan lamunannya.


"Sudah,pergi kerja,jangan ngegosip saja,"


Dasar Danu suka membuat orang penasaran.


Danu masih memikirkan yang tadi. Malik membonceng perempuan.


Siapa perempuan itu?


Apakah pacar baru atau selingkuhan Malik?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2