
Di toko tempat Anjani bekerja,terlihat Danu dan juga bu Ida kewalahan melayani pembeli,beruntung ada anak magang di sana bisa menjadi pengganti Anjani sementara dia ambil cuti.
“Ibu,kenapa sih Anjani tidak masuk kerja hari ini?Apakah dia sedang sakit?”
Danu bertanya kepada ibunya yang sedang sibuk di depan kasir melayani para pembeli.
“Dia ada kepentingan,dia ambil cuti 2 hari.” jawab bu Ida tanpa menoleh kepada anaknya.
“Sepenting apa sih,sampai ambil cuti 2 hari?” Gerutu Danu tanpa di hiraukan ibunya.
“Kamu tidak tahu ya? Anjani malam ini akan di lamar oleh ustadz Malik.” jawab sang ibu.
“Apa!!” Danu terkejut dan sedikit berteriak membuat semua mata memandang ke arahnya.
“Ibu bercanda,kan?” Tanya Danu suara yang sedikit bergetar.
“Ibu tidak bercanda,Danu,kalau tidak percaya tanya saja sendiri,kalau besok dia masuk kerja lagi.” dan bu Ida masih tidak menghiraukannya karena dia masih sibuk melayani para pembeli. Dan kebetulan hari itu banyak pembeli yang datang.
Danu lemas seketika,seakan di sambar petir di siang bolong mendapat berita bahwa gadis yang selama ini dia kagumi akan menjadi istri orang lain. Dunia seakan runtuh seketika. Dia lemas dan terduduk di latai. Danu merasa tidak berdaya.
Ibunya masih tidak menyadari nya,karena masih sibuk dengan para pelanggan. Tak berapa lama,Danu berdiri dan mencoba menguatkan kakinya untuk berpijak lagi.
Dia masih lemas terkulai tak berdaya,dengan langkah gontai dia berjalan menuju ruangan kerja milik sang ibu. Di sana terdapat sofa panjang,tempat bu Ida beristirahat ketika beliau merasakan capek dan lelah. Dan sekarang,Danu merebahkan badan nya di atas sofa tersebut dan dia mencoba memejamkan mata yang terasa begitu berat untuk di buka.
Waktu semakin larut dan toko bu Ida juga mulai sepi karena para pelanggan sudah mulai pergi satu persatu,bu Ida melirik jam di tangannya,waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Ternyata hari memang sudah malam dan bu Ida meminta Maya-anak magang untuk segera menutup toko dan segera pulang.
“Maya,Danu kemana ya kok dari tadi tidak kelihatan?” Bu Ida bertanya kepada Maya dan sambil celingukan mencari Danu,anak kesayangan dan satu-satunya.
“Tadi,kalau saya tidak salah lihat mas Danu masuk keruangan ibu,” jelas Maya sambil membereskan barang-barang karena toko akan segera di tutup.
Tanpa pikir panjang lagi,bu Ida langsung masuk keruangan kerjanya,dan benar saja,Danu sedang tertidur di sofa. bu Ida mendekatinya dan mengelus rambut anak nya. Seketika Danu terperanjat dan membuka mata.
“Ibu,” Danu bangun dan duduk di samping ibunya.
__ADS_1
“Kamu terlihat begitu capek anak ku,” ucap bu Ida sambil mengelus tangan putranya itu.
“Tadi Danu sedikit pusing bu,lalu Danu masuk kesini dan mencoba untuk beristirahat,”
“Kita pulang yuk,sudah hampir jam 9 malam nih,” Danu mengangguk kemudian berdiri dan berjalan di samping ibunya.
“Sudah beres semua Maya?” Tanya bu bos kepada Maya.
“Sudah bu,” jawab Maya.
“Yuk kita pulang,jangan lupa di kunci semua pintunya Maya,” perintah bu bos dan di turuti oleh si Maya. Mereka bertiga keluar dari toko dan hendak pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa juga untuk mengunci pintu toko, Kebetulan hari itu Danu membawa mobil dan Maya juga masih belum di jemput oleh bapak nya. Jadi bu bos mengantar Maya pulang ke-rumahnya dengan jarak yang lumayan jauh dari toko. sekitar 2km jarah tempuh yang harus mereka tuju untuk sampai ke rumah Maya.
***
Di rumah Anjani,sudah ada tamu di sana,ada pak rt,pak bayan dan juga beberapa perangkat desa juga ikut hadir untuk menjadi saksi lamaran Anjani dengan Malik Abazir.
Semetara para tamu dan juga Malik beserta keluarga besarnya sudah duduk di dalam ruang tamu,ada juga yang duduk di teras rumah karena terlalu sempit untuk mereka semua duduk di dalam.Terlihat juga pak Tarno ada di tengah-tengah para tamu untuk menyambutnya. Anjani masih di dalam kamar dan dia masih belum mau keluar menemui calon suaminya itu,bu Mirna sibuk membujuk Anjani.
Anjani masih saja diam dan enggan menjawab perkataan ibunya.
terdengar suara pintu kamar di ketuk.
Tok! Tok! Tok!
“Anjani,apa kamu belum siap? Jangan membiarkan mereka menunggu terlalu lama,” suara pak Tarno terdengar dari balik pintu.
“Iya pak,sebentar lagi,kami sudah siap,” ibu nya yang menyahut.
“Anjani,ayo kita keluar sekarang,” ajak ibunya dan dengan berat hati Anjani melangkah keluar dari dalam kamarnya.
Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu,semua mata memandang ke arah Anjani tak terkecuali calon suaminya,Anjani hanya menundukkan wajahnya.
"Baiklah semua sudah berkumpul di sini,kita bisa memulai acara nya," ucap pak Rt.
__ADS_1
Acara lamaran untuk Anjani pun berjalan lancar dan mereka juga telah menetapkan hari dan tanggal pernikahan nya.
Seserahan berupa buah,peralatan mandi,alat make up dan termasuk uang tunai untuk Anjani dan masih banyak yang lainnya telah di serahkan kepada pihak Anjani.
Mereka berdua bertukar cincin dan pernikahan di tetapkan satu bulan kemudian.
Anjani hanya pasrah dan menerima keadaan karena dia tidak mau menjadi anak durhaka.
Linangan air mata mewakili perasaannya saat ini.
Selepas acara lamaran,semua tamu di sarankan untuk makan,makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Ada nasi,lauk pauk,sayur dan juga ada snack di sana.
Semua di sajikan dengan baik oleh keluarga pak Tarno. Sebelum para tamu datang,bu Mirna memasak semuanya di bantu oleh tetangga nya,mbok Ahad.
Mbok Ahad sudah biasa di suruh warga untuk membantu memasak saat dj rumah ada hajatan.
Dan kebetulan hari ini bu Mirna membutuhkan bantuannya untuk memasak masakan yang hendak di sajikan kepada keluarga Ustadz Maulana.
Terlihat di sana,Anjani hanya duduk diam tanpa suara sepatah pun.
Mencoba menahan tangis dan berusaha tidak mengeluarkan air mata yang telah menggenang seperti air sungai yang akan meluap.
Bu Mirna yang berada di samping Anjani,selalu mengusap lengan Anjani dan sesekali membisikkan kata untuk menguatkan hati dan menerima takdir yang telah Allah gariskan kepadanya.
Berkata mengenai takdir,Anjani sudah tidak bisa lagi berkata-kata.
Sekarang,Anjani hanya harus bisa menerima takdir nya dan mencoba untuk berdamai dengan keadaan.
Memang tidak mudah,namun Anjani akan mencoba yang terbaik semampu yang dia bisa.
...****************...
__ADS_1