
Anjani berdiri,berjalan menghampiri suaminya yang tengah mencari dirinya.
"Kamu sudah pulang mas," sapa Anjani dan menjabat tangan suaminya itu.
"Anjani,kenapa sih kamu tidak memberi ijin ibu memandikan Syifa?" Tanya Malik dengan nada sedikit tinggi.
"Biar aku saja mas,kasihan ibu sudah tua," jawab Anjani mencoba menutupi kenyataan.
"Tapi ibu ingin juga lebih dekat sama Syifa!"
Anjani hanya terdiam. Dia tidak mau ribut hanya hal sepele.
"Iya,besok biar ibu saja yang mengurus Syifa,*
Dan Anjani pun pergi meninggalkan suaminya. Dia menghampiri Syifa yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
'Ya Allah,semoga hamba kuat,' ucap Anjani dalam hati.
Selesai mengurus anak perempuan nya,dia mulai menyiapkan makan malam.
Semenjak ada ibu mertua,Anjani seperti pembantu di rumah sendiri.
Semua yang dia kerjakan selalu salah,tidak pernah ada benarnya.
Dari pagi sampai malam ada saja yang dia kerjakan.
Namun Anjani rela menjalani dengan sabar.
Anjani pergi ke dapur untuk memasak makan malam.
Menu hari ini,Anjani memasak sayur sop dengan menggoreng perkedel kentang.
Selesai memasak dia pergi mandi dan menjalankan sholat maghrib.
Dengan perut bunting,Anjani mengerjakan pekerjaan rumah dengan hati-hati.
...----------------...
Di dalam kamar,Anjani menemani Syifa tidur. Waktu sudah pukul delapan malam.
Sudah waktunya Syifa untuk tidur,karena sudah lewat malam bagi anak kecil.
Syifa susah tertidur di kamarnya sendiri,Anjani meninggalkan Syifa dan menutup pintu kamar.
Anjani pindah ke dalam kamarnya sendiri. Malik sudah berbaring di sana.
Anjani mendekat dan dia ingin berunding dengan suaminya itu.
"Mas,besok selepas persalinan anak kita yang kedua,izinkan aku mengikuti program kb ya?" Ucap Anjani sedikit takut.
"Tidak Anjani,kamu tidak ku ijinkan mengikuti program kb itu,aku tidak setuju," jawab Malik.
"Tapi mas..." belum sempat melanjutkan kalimatnya di potong sama Malik.
"Sudah,tidak ada tapi-tapi,aku tidak mau berdebat masalah yang sama berulang kali!" Cetus Malik.
Harus bagaimana lagi,Anjani hanya bisa menuruti kata suaminya itu.
Dia hanya bisa pasrah.
Anjani pun mulai tidur dan tidak akan membahas masalah kb lagi.
Menjelang subuh,Anjani merasa perutnya mules,seperti mau melahirkan.
"Mas,perutku," Anjani merintih membangunkan suaminya.
"Kenapa dengan perutmu Anjani?" Tanya Malik.
"Sepertinya aku akan melahirkan mas," jawab Anjani menahan sakit di perutnya.
"Ayo aku antar kamu ke klinik," ucap Malik.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Malik mengetuk pintu kamar ibunya.
"Ibu,"
Bu Fatimah keluar membuka pintu kamar.
"Ada nak," ucap bu Fatimah.
"Sepertinya Anjani mau lahiran bu,saya mau antar dia ke klinik,"
"Lahiran? Kan kandungan nya baru tujuh bulan,"
"Iya bu,katanya perutnya sakit,seperti mau melahirkan," jawab Malik.
"Ya sudah kamu pergi sana bawa ke klinik,biar Syifa di rumah saja sama ibu,"kata bu Fatimah kepada Malik.
Malik dan Anjani naik motor menuju klinik terdekat.
Sampai di sana Anjani langsung di tangani suster dan bidan.
"Tolong bu,istri saya sepertinya sudah mau melahirkan," ucap Malik kepada suster tersebut.
"Bapak tunggu di luar ya,biar kami tangani dulu," ucap suster.
Malik menunggu di depan ruangan. Kali ini dia sendirian tidak menghubungi siapapun.
Sayup-sayup Malik mendengar adzan subuh berkumandang.
Dia pergi ke musholah yang berada di sebrang klinik tersebut.
Karena sedang menunggu istri melahirkan Malik berusaha berjalan dengan cepat.
Sambil menunggu imam datang,dia selalu berdoa semoga anak dan istrinya di beri keselamatan dalam proses melahirkan.
Beberapa jam kemudian...
Malik sudah berada di depan kamar bersalin Anjani.
Sudah dua jam Malik menunggu di sana,tiba-tiba terdengar suara bayi menangis.
Dia langsung menengadahkan tangan dan berucap syukur kepada sang pencipta.
Selang beberapa menit,suster keluar dan memberi tahu bahwa anaknya laki-laki.
"Alhamdulillah pak,istri dan anak bapak selamat,"
"Alhamdulillah ya Allah,"
Malik terus berucap syukur tiada henti.
Di rumah Malik...
Sang ibu dan juga anak sulungnya,Syifa.
Mereka berada di rumah selama Malik menemani istrinya melahirkan.
Syifa yang bangun tidur terus nangis Karen tidak melihat sang ibu.
"Cup cup cup,Syifa,ibu dan bapak kamu nanti sebentar lagi pulang," bujuk neneknya.
Bukannya diam,malah semakin kenceng nangisnya.
"Syifa,kamu bisa diam tidak sih!" Bentak neneknya karena sudah tidak sabar.
Syifa terdiam seketika setelah di bentak neneknya.
__ADS_1
"Nenek jahat!" Ucap nya sambil sesenggukan.
Bu Fatimah tidak menghiraukan,dia terpaksa memasak karena merasa lapar.
Anjani masih di klinik belum balik juga.
Malik juga masih di sana menemani istrinya itu.
"Dasar Wanita kerjanya cuma melahirkan saja,bikin repot anak ku saja," bu Fatimah ngomel sendiri di dalam dapur.
Sudah jam satu,Malik dan Anjani sudah pulang sambil menggendong anak lelakinya.
"Assalamualaikum,ibu,Syifa," terdengar suara Malik di luar rumah.
"Waalaikumsalam,Malik,sudah pulang?" Sapa sang ibu kepada anaknya.
"Ibu,bapak," Syifa berlari mendekat kepada Malik dan memeluk Anjani.
Anjani tersenyum kepada Syifa. Malik lalu menggendong anak sulungnya itu.
"Ini siapa bu?" Tanya Syifa polos.
"Ini adiknya Syifa,ganteng tidak?" Jawab Anjani sambil mendekatkan kepada Syifa.
Namanya juga anak kecil,dia melonjak girang mendengar kalau memiliki adik.
"Ayo masuk dulu,kamarnya sudah ibu bersihkan," ucap bu Fatimah kepada Anjani dan juga Malik.
Mereka bertiga berjalan menuju kamar yang di maksud.
"Malik,kamu pasti lapar,makan dulu sana,ibu sudah masak di meja makan," kata sang ibu kepada Malik.
"Malik mau mandi dulu bu,"
Malik pergi dan menuju kamar mandi hendak membersihkan diri karena dari pagi belum mandi.
Anjani meletakkan anaknya di atas kasur dan Syifa mencoba naik ke atas ranjang untuk menengok adik nya.
Bu Fatimah juga sudah pergi meninggalkan Anjani sendiri di kamar nya.
"Syifa,sudah makan belum nak?" Tanya Anjani kepada anaknya yang sedang memegangi tangan adiknya.
Dia menggeleng,"belum,Syifa lapar bu,nenek marah Syifa," ucapnya.
Deg!
Hati Anjani sakit mendengar perkataan anaknya.
Dia bahkan tidak pernah membentak anaknya,sampai hati sang nenek memarahi cucunya yang masih kecil.
"Syifa,sini,duduk sini," Ucap Anjani menyuruh anaknya mendekati dan duduk di sampingnya.
Dia menurut dan duduk di samping ibunya.
Anjani mengelus kepala anaknya itu,dengan penuh kasih.
"Kenapa Syifa belum makan?" Tanya Anjani kepada anaknya itu.
"Syifa nangis,nenek marah,Syifa lapar," ucapnya polos.
"Sekarang Syifa masih lapar tidak?" Tanya Anjani. Dan Syifa hanya mengangguk pelan.
Anjani mengelus anaknya dengan lembut.
Air mata menetes tanpa di minta.
Ya Allah...
Tabahkan dan kuatkan kami.
...****************...
__ADS_1