
"Baiklah Tuhan terima kasih. kalau begitu saya pamit.."ucap Romi lagi. setelah itu ia langsung meninggalkan ruangan Tuan Bastian dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
sementara di ruangan, Tuan Bastian mulai memijit pelipisnya dengan pelan. Iya mengkhawatirkan keselamatan menantu anak dan cucu-cucunya. karena ia tahu, Laura dan keluarganya adalah tipikal orang yang tidak akan menyerah Jika menginginkan sesuatu. Mereka pun tidak akan segan-segan untuk menyakiti orang lain demi tercapainya tujuan mereka.
"huf... bagaimana ini..."ucap tuan Bastian dengan bingung. namun tak lama Ia berpikir, Iya kembali memfokuskan pikirannya kepada pekerjaannya.
***
malam hari pun menjelang. terlihat Alexander masih sibuk berada di depan layar monitor dan memeriksa beberapa laporan mengenai keuangan dan kemajuan perusahaannya. tentu saja di sana ia tidak sendiri, ada Ferry yang selalu setia menemaninya.
saat Alexander masih fokus kepada laporan-laporannya. tiba-tiba Iya memikirkan istri dan anak-anaknya. Alexander lupa mengabari mereka. Alexander pun meletakkan pekerjaannya sebentar dan beralih mengambil handphone dan menghubungi istrinya.
Tut
"halo.."ucap Anastasia menjawab panggilan dari Alexander.
"halo sayang, Maaf aku baru mengabarimu sekarang, Aku hanya ingin mengatakan, mungkin aku akan pulang terlambat. ada beberapa laporan yang harus aku perbaiki segera. tidak apa-apa kan..?"tanya Alexander. sebenarnya Alexander sangat merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Kenapa ? karena ia takut Anastasia berpikiran macam-macam tentangnya. Iya takut kalau Anastasia kembali mendiamkannya dan tidak mengijinkannya bertemu dengan mereka.
Tapi tampaknya, Anastasia tidak memperdulikan apapun. buktinya ia sudah bisa menerima kehadiran Alexander bersama mereka. rasanya perjuangan Alexander untuk bersama mereka itu tidak terlalu kentara. namun Anastasia tidak mau egois, Ia memiliki anak-anak yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. tapi untuk masalah cinta, biarlah semua berjalan apa adanya.
"Iya tidak apa-apa, tapi dari tadi aryano sangat rewel ingin bertemu denganmu. Begitu juga dengan alzio. berkenan kah kamu berbicara kepada mereka..?"tanya Anastasia kepada Alexander.
__ADS_1
mendengar pernyataan itu Alexander tersenyum, ternyata begini rasanya ya kalau anak-anak tidak bisa jauh dari ayahnya. dan ini merupakan suatu kebahagiaan tersendiri untuk Alexander.
dan tentu saja Alexander tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. dulu saat Alexander dicari untuk memberikan kasih sayang kepada kedua anaknya itu, Iya tidak bisa memberikannya selain alasan tidak mencintai Anastasia, dia juga mendapat tekanan dari nyonya Tamara.
"tentu saja sayang. berikan handphonenya kepada mereka."ucap Alexander.
Alexander pun segera berubah panggilannya jadi video call. sementara Anastasia langsung menyerahkan dan memperlihatkan kedua buah hati mereka yang sedang mengambek, karena sudah jam 07.00 malam ayah mereka belum kembali pulang.
"halo jagoannya ayah. Kenapa pada manyun manyun bibirnya ?"tanya Alexander menggoda anak-anaknya itu. aryano yang mendengar suara ayahnya pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah seluler itu.
"Ayah, Ian merindukan ayah. Kenapa ayah belum pulang juga..? apa Ayah akan meninggalkan kami lagi..?"ucap ariano. pikirannya langsung mengarah ke situ. sepertinya ariano sangat trauma saat ayahnya tidak berada di dekatnya. Alexander yang mendengar itu pun tersenyum manis.
alzio yang belum jelas berbicara itu, ikut menimpali ucapan kakaknya dengan bahasa bayinya.
"yayaya..."racau alzio sepertinya mengomeli sang ayah. 🤭🤭 Alexander tersenyum melihat kedua buah hatinya itu. apalagi mendengar alzio menimpali ucapan sang kakak.
"benarkah, Ayah tidak meninggalkan kami?"tanya ariano lagi memastikan bahwa ayahnya benar-benar tidak pergi dan tidak mengabaikan Mereka lagi.
"Iya sayang... Ayah tidak akan kemana-kemana... jadi Ian jangan rewel ya kasihan bunda sendirian di rumah mengurus kalian."ucap Alexander menasehati putranya itu. ariano pun tersenyum dan segera menganggukkan kepalanya.
"Iya Ayah.. Oh ya, Ayah nanti pulang jangan lupa bawa oleh-oleh ya.."ucap ariano lagi.
"baiklah sayang. kalau begitu berikan handphonenya kepada bunda kembali."ucap Alexander. ariano pun langsung menyerahkan handphone itu kembali kepada Anastasia. tampaklah wajah Alexander di dalam layar telepon itu.
__ADS_1
"Maaf ya, harus merepotkanmu mengurus mereka sendiri. padahal masih ada aku ayah mereka."ucap Alexander merasa bersalah kepada Anastasia. mendengar itu Anastasia pun tersenyum.
"tidak apa-apa, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Kalau begitu kamu lanjutkan saja bekerjanya supaya kamu cepat pulang."ucap Anastasia. Iya enggan memanggil Alexander dengan sebutan sayang mas atau semacamnya.
"Baiklah kalau begitu.."ucap Alexander. Setelah itu mereka pun langsung menutup panggilan. setelah panggilan itu berakhir Alexander pun kembali meletakkan handphonenya di atas meja dan mengarahkan pandangannya kepada Ferry.
"fer, apa kamu capek??"tanya Alexander menatap ke arah Ferry. feri yang mendengar pertanyaan tuannya itu mendumel dalam hati.
( ini si bos, pengen digoreng. sudah tahu orang capek malah bertanya..) batin Ferry. Alexander yang mendapati sorot mata malas dari Ferry itu pun segera berucap.
"jangan mengumpatiku dalam hatimu. Kalau kamu tidak ingin dikirim ke Afrika untuk mengurus perusahaan di sana."ucap Alexander dengan santai. feri pun jadi gelagapan sendiri. Iya tersenyum.
"hehehe maaf tuan.. aku tidak bermaksud mengumpati Tuan seperti itu.."ucap Ferry tanpa merasa berdosa.
"Oh.. jadi bener kamu mengataiku dalam hatimu. bulan ini gajimu dipotong, dan tidak dapat bonus.."ucap Alexander lagi. Ferry pun jadi salah tingkah sendiri.
"eh jangan gitu dong tuan. kan kita sebagai manusia harus jujur, Saya juga tidak pandai berbohong kepada tuan."ucap Ferry dengan gamblangnya. Alexander yang mendengar itu pun merasa kesal sendiri. kok bisa-bisanya Ia memiliki asisten yang sableng seperti itu. Alexander menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.
"sudahlah,.. cepat bantu aku untuk menyelesaikan beberapa laporan ini. berbicara denganmu tidak akan menemukan titik terang. kamu itu sudah seperti ibu-ibu komplek saja yang cerewet."ucap Alexander mengomeli Ferry. Ferry pun tersenyum mendengar omelan sang atasan. bukan tidak mungkin, akhir-akhir ini sepertinya tuannya memang sedang berada dalam suasana hati yang baik.
"tidak apa-apa lah tuan. lagi pula Tuan juga tidak sadar mengomel seperti itu, sama saja menyerupai emak-emak kompleks. hihihi..."goda asisten feri lagi. Namun karena sepertinya Ferry sudah banyak omong, Alexander pun langsung memberikan tatapan tajam kepada Ferry. sontak saja Ferry jadi gelagapan sendiri.
"hehehe maaf tuan.."ucap Ferry lagi setelah itu bergabung dengan Alexander dan memeriksa beberapa laporan yang ada di atas mejanya itu.
__ADS_1
(huh dasar... untung bos, kenapa sih bos itu kalau marah nggak pernah jelek-jelek ya. kalau marah bukannya jelek malah tambah ganteng. pantesan saja Nona Laura selalu menempelnya hehehe..) batin Ferry. Ferry nggak nyembunyikan senyumnya dari Alexander.
***bersambung***