
Alexander terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari nyonya Tamara yang sedang berteriak memanggil namanya. saat ia sampai di depan meja asistennya, Alexander langsung menyerahkan semua pekerjaan hari ini kepada ferry untuk ditangani.
"fer aku pulang dulu, tolong tangani semua pekerjaan hari ini.."ucap Alexander langsung meninggalkan meja asistennya. Ferry pun menjadi terkejut mendengar ucapan Alexander. tapi tiba-tiba otak Ferry langsung connect. seri pun berdiri dan memanggil Alexander.
"tuan tidak mau diantar..!!??"teriak fery. dari raut wajahnya, Ferry sudah tahu pasti terjadi sesuatu di dalam ruangan Alexander. Alexander yang mendengar teriakan asistennya itu hanya melambaikan tangannya. tak lama setelah Alexander menghilang dari balik bangunan itu. terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan Alexander. Ferry pun langsung paham kenapa bosnya tiba-tiba kehilangan semangat kerja. Ferry yang melihat nyonya Tamara berjalan melewatinya itu pun hanya memberi hormat. dan nyonya Tamara Hanya berjalan melewati feri tanpa membalas sapaan atau hormat yang feri tujukan kepadanya.
( huh dasar nenek lampir... sombong banget yak... walah walah.. jangan sampai aku memiliki mertua yang seperti nyonya Tamara itu. idih amit-amit..) batin fery sambil bergidik ngeri membayangkan jika suatu saat nanti dia mendapatkan mertua yang seperti nyonya tak marah.
***
nyonya Tamara langsung meninggalkan gedung bertingkat itu dan masuk ke dalam mobilnya. di dalam mobil sudah ada sang supir yang menunggu sang majikan.
"hah dasar anak itu, bisa-bisanya dia melakukan hal ini kepada ibu kandungnya. awas kamu Anastasia.."ucap nyonya Tamara dengan geram. nyonya Tamara pun langsung memerintahkan kepada sopirnya untuk melajukan mobil kembali ke mansion. sementara nyonya Tamara langsung mengambil handphonenya dan menghubungi max.
Tut
"halo tante.."terdengar suara lelah dari seberang sana.
"halo max Kamu sedang di mana..? boleh Tante minta tolong kembali kepadamu..??"tanya nyonya Tamara lagi.
__ADS_1
"Tante mau minta tolong apa.?" tanya max di seberang telepon. max pun sudah menebak apa yang akan nyonya Tamara minta kepadanya.
"tolong selidiki Alexander. cari tahu ke mana dia selama ini, karena sudah berbulan-bulan Alexander tidak pulang ke rumah. tante ingin tahu apa yang ia lakukan di luar sana."ucap nyonya Tamara kepada max. untuk mempersingkat obrolan dari nyonya Tamara, max pun hanya menyetujui permintaan nyonya Tamara itu.
"Baiklah tante. nanti akan saya selidiki.. kalau begitu teleponnya saya tutup dulu ya Tante.."ucap max lagi. setelah mendapat persetujuan dari lawan bicaranya, max pun langsung mengakhiri panggilan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
ya saat ini max sudah berada di Indonesia. Iya juga sudah mulai masuk dan aktif menjalankan anak perusahaan yang dipimpin oleh pamannya, yang sebenarnya adalah perusahaan miliknya.
***
kembali kepada Alexander. Alexander pun langsung menghentikan taksi yang melintas di depan gedung kantornya itu. Iya pun langsung tancap gas kembali pulang ke rumah. hari ini mood-nya tiba-tiba jelek akibat ucapan atau perdebatannya dengan nyonya Tamara. tak lama Alexander pun sampai di depan gerbang rumah tersebut. setelah membayar ongkos taksi, Alexander langsung melenggang masuk melewati gerbang.
Ceklek. tak menunggu waktu lama pintu pun langsung dibuka. Anastasia yang melihat Alexander pulang dengan cepat pun menjadi heran. kesannya baru 30 menit yang lalu Alexander meninggalkan rumah, tapi tiba-tiba Alexander sudah berdiri tegak di depan pintu.
"loh kok sudah pulang aja.. cepat sekali.. apakah terjadi sesuatu di kantor..??"tanya Anastasia kepada Alexander.
tanpa menjawab ucapan Anastasia dan tanpa mendapat persetujuan dari Anastasia, Alexander langsung menarik tubuh Anastasia dan menenggelamkan tubuh itu dalam pelukannya. Anastasia yang mendapati perlakuan seperti itu kembali merasa heran. tidak biasanya Alexander melakukan hal seperti itu jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Anastasia pun tidak memberontak, malahan ia membalas pelukan Alexander sembari menyenangkannya. Anastasia mengusap pelan punggung Alexander itu.
"ada apa?? ayo masuk dulu.." ucap Anastasia. mendengar ucapan Anastasya. Alexander melepaskan pelukannya, dan menurut mereka pun masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. sesampainya mereka di dalam rumah, Alexander mengedarkan pandangannya. Iya heran dari tadi ia tidak menemukan anak-anaknya, jangankan melihat mendengar suara ribut mereka saja Alexander tidak mendapatinya.
__ADS_1
"loh di mana anak-anak..??"tanya Alexander. Anastasia pun mengambil tas yang masih berada di tangan Alexander dan meletakkannya di tempatnya. Anastasia melayani Alexander sedemikian rupa. setelah itu baru Anastasia menjawab pertanyaan Alexander.
"Oh anak-anak sedang dibawa ibu sama bapak ke rumahnya.. katanya Mereka sudah kangen kepada anak-anak.."ucap Anastasia lagi menjawab pertanyaan Alexander. Alexander yang mendengar ucapan Anastasya itu pun mendadak memasang ekspresi sayu. iya berpikir, orang lain saja yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka mau menjaga dan merawat serta menemani anak-anaknya. lalu apa kabarnya dengan nyonya Tamara yang memang notabenenya adalah nenek kandung mereka sendiri. Alexander pun menghembuskan nafasnya dengan pasrah.
"Ada apa Kenapa sepertinya kamu merasa tertekan..? kalau kamu mau ceritakanlah kepadaku. kalau tidak, juga tidak apa-apa.."ucap Anastasia. Anastasia masih ragu kepada Alexander walaupun Alexander sudah menunjukkan ketulusannya dan benar-benar berubah. namun Anastasia bertekad agar tidak terlalu memaksa Alexander untuk terbuka dengannya.
"tadi pagi di kantor aku bertemu dengan Mama. Mama menemuiku untuk membahas mengenai perjodohan. Mama ingin menjodohkanku kepada perempuan lain dan bukan Laura. aku hanya merasa tidak terima saja, Mama seolah-olah tidak mau memberikanku kebebasan dalam menentukan kehidupanku. tadi juga aku sempat berdebat dengan Mama, karena itu semangat kerjaku langsung hilang. daripada di kantor malas-malasan lebih baik aku pulang ke rumah."ucap Alexander dengan jujur. Anastasia pun tersenyum, ternyata Dari dulu sampai sekarang nyonya Tamara masih belum mau menerima nya sebagai menantunya.
"lalu Bagaimana dengan pekerjaanmu..??"tanya Anastasia lagi. Anastasia juga sudah menyediakan teh di atas meja untuk Alexander.
"Aku menyerahkan semua pekerjaanku kepada Ferry. lagi pula aku benar-benar tidak mood melakukan pekerjaan itu. dan yang tidak aku habis pikir, kenapa Mama tiba-tiba menjodohkan aku dengan orang lain. padahal dulu Mama sangat menyukai Laura untuk dijadikan sebagai menantunya."terang Alexander dengan aneh. Alexander benar-benar merasa aneh dengan sikap mamanya terhadap Laura. apalagi nyonya Tamara tidak lagi membahas Laura di hadapannya. tentu saja itu mengundang sikap penasaran dari Alexander.
"mungkin terjadi sesuatu diantara mereka yang tidak kamu ketahui. makanya nyonya Tamara tidak memperdulikan Laura lagi.."ucap Anastasia. tapi tiba-tiba Alexander menggeleng-gelengkan kepalanya.
"ah ngapain juga kita bahas mereka.. biarkan sajalah..." ungkap Alexander lagi. Alexander pun menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan sedikit memejamkan matanya.
"memangnya kamu tidak penasaran dengan apa yang terjadi kepada mereka. aku aja penasaran loh. Kenapa tidak berusaha kamu selidiki saja.." ucap Anastasia memberikan saran kepada Alexander. Alexander yang memejamkan matanya sontak saja langsung membuka matanya.
"bener juga kamu sayang.. aku memang belum mengetahui apa-apa tentang Laura. yang aku tahu, dulu aku sangat mencintai Laura dan berusaha melakukan apapun untuk dapat bersamanya. tapi aku tidak mengetahui cerita tentang hidup Laura ataupun latar belakang keluarganya."ucap Alexander lagi. saran dari Anastasia seolah-olah semakin membuat Alexander penasaran terhadap keluarga beguel itu.
__ADS_1
***bersambung***