TIBA-TIBA MENJADI IBU

TIBA-TIBA MENJADI IBU
55. Tim alfa


__ADS_3

setelah max dan Tuan Bastian mengakhiri panggilan. tak menunggu waktu yang lama, max langsung menghubungi tim Alfa, yang saat ini adalah tim intelijen dalam mengungkap semua jenis kasus.


pasalnya, max adalah seorang intelijen muda, dari angkatan darat. tapi karena sang Paman sangat protektif terhadapnya dan takut kehilangan dirinya seperti kedua orang tuanya. Tuan Bastian langsung menarik max dari dunia kemiliteran itu. tapi walaupun begitu, max masih tetap aktif dalam dunia tersebut.


"halo mark..." ucap max. Mark adalah nama panggilan untuk seorang yang sedang melakukan penyamaran identitas.


"halo max, apa kabar..?? lama kamu tidak berkunjung ke tempat ini lagi." ucap Mark di seberang telepon.


"Iya mark aku sedang disibukkan dengan urusan perusahaan. Oh ya mark aku ingin meminta tolong kepadamu dan tim yang saat ini kamu pimpin." ucap max. suara max tiba-tiba berubah menjadi datar dan serius. sontak saja Mark yang mengerti dengan perubahan nada suara max, langsung mengerutkan keningnya.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi max..??" tanya Mark lagi sudah mulai serius. max kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan, Ia melakukan hal tersebut untuk mengurangi rasa sesak di dalam hatinya. entah kenapa, bayangan bayangan kedua orang tua max yang meninggal langsung terlintas di kepalanya. Iya juga langsung memikirkan nasib Alexander yang sangat menyayangi istri dan anak-anaknya yang saat ini pasti merasa sangat terpukul.


"Iya mark Aku membutuhkan bantuanmu. tolong lakukan penyelidikan di lokasi pengembangan pariwisata yang sedang dirancang di kota A. karena di sana sedang terjadi insiden kehilangan. aku juga meminta tolong kepadamu untuk menyelidiki tempat itu melalui citra satelit, karena di sana sama sekali tidak ada petunjuk lain yang bisa digunakan untuk mencari jejak mereka selain menggunakan citra satelit." terang max.


karena saat ini, max yang masih disibukkan dengan urusan laporan dan proposal kantornya, setelah mendapat kabar dari tuan Bastian, Iya langsung beralih kepada sebuah komputer yang selalu ia bawa kemana-mana. Iya sedang meretas beberapa situs keamanan yang berhubungan di tempat pembukaan wisata baru di sana. namun ia tidak menemukan petunjuk apapun, karena itu ia meminta kepada tim Alfa untuk melakukan penyelidikan menggunakan citra satelit.


"Baiklah Kami akan membantu. tapi apakah tidak sebaiknya kamu ke markas saja max..??" tanya Mark kepada max. tangan max masih sibuk mengotak-atik komputer untuk mencari dan menyelidiki tentang hilangnya Anastasia dan kedua anaknya.


"aku tidak bisa datang ke markas, Aku harus pergi ke lokasi kejadian untuk membantu Alexander mencari istri dan anak-anaknya." ucap max lagi. Mark mengganggu anggukan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, Aku akan membantu sebisaku. nanti bawalah beberapa anggota tim kita untuk membantu penyelidikanmu di sana." ucap Mark lagi memberi solusi. max pun langsung menyetujui usul dari mark.


"Baiklah mark, tolong utuslah beberapa orang yang menurutmu mampu untuk membantuku di sana." ucap max lagi kepada Mark. setelah pembicaraan mereka selesai, max dan mark pun langsung menutup panggilan. setelah itu, max langsung pergi bergegas menuju lokasi kejadian.


***


di tempat lain, nyonya Tamara merasakan khawatir yang menyerangnya tiba-tiba. entah kenapa ia tiba-tiba teringat dengan putranya Alexander. semenjak kejadian nyonya Tamara dan Alexander adu mulut di ruangan Alexander waktu itu, kini Alexander benar-benar tidak menemui nyonya Tamara lagi.


bukannya Alexander ingin menjadi anak durhaka, Alexander hanya ingin menghindari nyonya Tamara apalagi nyonya Tamara sedang gencar-gencarnya menjodohkan dirinya dengan perempuan lain.


"aduh... apa yang terjadi denganku, kenapa tiba-tiba aku merasa sekhawatir ini. pikiranku juga tertuju kepada Alexander, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya." ucap nyonya Tamara kepada dirinya sendiri. nyonya Tamara benar-benar gusar, berulang kali ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan untuk mengurangi rasa cemas dan khawatir dalam hatinya.


"apa sebaiknya aku telepon Alexander saja. aku benar-benar mengkhawatirkan anak nakal itu." ucap nyonya tamara lagi.


nyonya Tamara pun langsung mengambil gawainya, kemudian mencari kontak dengan nama Alexander, setelah itu nyonya Tamara langsung memanggil alamat telepon tersebut.


sekali dua kali nyonya Tamara melakukan panggilan, tapi tetap tidak diangkat oleh pemiliknya. namun nyonya Tamara tidak berhenti di situ saja, Iya terus berusaha untuk menghubungi nomor Alexander. tapi tetap tak ada jawaban dari Alexander.


"aduh ke mana sih anak ini.., membuat khawatir saja." ucap nyonya Tamara. karena tidak diangkat, nyonya Tamara kembali mendudukkan tubuhnya ke atas sofa. kali ini pikirannya memang sedang menerawang ke mana-mana, Iya juga sedang menerka-nerka apa yang telah terjadi kepada Alexander. karena tak biasanya ia menjadi seperti ini.

__ADS_1


"mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. barangkali tadi ya sedang sibuk, nanti aku akan mencoba menghubunginya kembali." ucap nyonya Tamara berusaha untuk merendam rasa cemas dan khawatirnya kepada putranya itu.


***


di tempat lain. Alexander yang sudah tersadar dari pingsannya mulai kembali histeris. saat ini ia benar-benar sudah kehilangan akal dan pikirannya, Iya terus mencari istri dan anak-anaknya dan memanggil-manggil nama mereka.


"sayang..!! kalian dimana..!! anak-anak Ayah yang ganteng, kalian di mana..?? Ayah merindukan kalian, tolong jangan bermain petak umpet dari ayah. sayang..!!" panggil Alexander. sementara Alexander tidak kemana-mana, Iya hanya mengelilingi villa itu dengan Tuan Sanjaya dan beberapa warga lain yang mendampinginya. namun Alexander seolah tak melihat keberadaan mereka.


"tuan, nyonya dan para tuan muda tidak ada di sini. kita sedang berusaha untuk mencari dan menemukan keberadaan mereka." ucap Tuan Sanjaya tiba-tiba.


Tuan Sanjaya merasa prihatin melihat orang yang baru saja ia kenal, yang berperawakan tampan gagah dan tinggi kini tak ada lagi di tubuh lelaki itu. belum sehari Alexander kehilangan istri dan anak-anaknya, kini tampilannya sudah tidak karuan lagi. tubuhnya berubah menjadi sosok yang sangat memprihatinkan.


Alexander yang mendengar penuturan Tuan Sanjaya, langsung terdiam di tempat. seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu. Alexander juga berusaha mengumpulkan ingatannya. tiba-tiba Alexander menghadap ke arah Tuan Sanjaya dan bertanya.


"tuan di mana istri dan anak-anak saya. apakah Tuan melihat mereka...??" tanya Alexander lagi. Tuan Sanjaya menggelengkan kepalanya.


"maaf tuan, tapi kita juga sedang berusaha untuk mencari dan menemukan nyonya dan para tuan muda. karena itu Tuan harus kuat." ucap Tuan Sanjaya berusaha untuk menenangkan Alexander yang saat ini dalam kondisi terpuruk.


saat Tuan Sanjaya masih menasehati Alexander untuk bangkit dan jangan terpuruk, tiba-tiba ada orang yang memanggil namanya dari jarak jauh.

__ADS_1


"lex...!!" seru orang tersebut. Alexander yang merasa namanya terpanggil langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. di sana Alexander melihat sosok laki-laki muda sedang berlari kecil menghampirinya.


***bersambung***


__ADS_2