TIBA-TIBA MENJADI IBU

TIBA-TIBA MENJADI IBU
56. menyusul


__ADS_3

Alexander menajamkan penglihatannya. ternyata yang memanggilnya adalah saudara sepupunya max. dengan kecepatan tinggi, akhirnya max tiba di lokasi di mana Alexander saat ini berada.


Alexander yang melihat kedatangan saudara sepupunya itu, entah kenapa tiba-tiba ia merasa ingin menangis.


"max...." ucap Alexander dengan lirih. max yang mengerti pun langsung berusaha untuk menenangkan Alexander.


"tenanglah, jangan terpuruk seperti ini. kita akan mencari mereka sama-sama." ucap max kepada saudara sepupunya. Alexander pun berusaha untuk menguasai dirinya, Iya memang harus kuat agar bisa menemukan istri dan kedua anaknya yang saat ini tidak tahu rimbanya.


"Dari mana kamu mengetahui bahwa di sini aku mendapatkan musibah. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, dan aku menyesal telah meninggalkan istri dan anak-anakku pergi sendiri tanpa dampingan dariku." ucap Alexander menyalahkan dirinya sendiri.


"jangan salahkan dirimu seperti itu, setiap kejadian yang terjadi tidak ada satupun di antara kita yang bisa memprediksi. kuatkan hatimu." ucap max sambil menepuk-nepuk pelan pundak saudara sepupunya itu.


entah kenapa tangis Alexander langsung pecah. Alexander memeluk tubuh saudara sepupunya itu sambil menangis terisak-isak seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. max juga dengan setia menepuk-nepuk punggung saudara sepupunya untuk menenangkan diri Alexander.


***


di kediaman nyonya Tamara. saat ini Tuan Bastian telah kembali dari luar negeri, kini ia telah berada di kediaman utama keluarga Maranatha.


Nyonya Tamara yang belum mengetahui apa-apa terkejut melihat suaminya telah kembali tanpa memberitahunya terlebih dahulu. tak dapat dipungkiri Nyonya Tamara memang merindukan suaminya.


"pa, papa sudah pulang..!! Kenapa tidak mengabari Mama terlebih dahulu. kan mama bisa jemput di bandara." ucap Nyonya Tamara. Iya langsung bergegas untuk memeluk sang suami yang sudah lama meninggalkan dirinya karena terlalu sibuk mengurus perusahaan nya di luar negeri.

__ADS_1


Tuan Bastian sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya sendirian tanpa dampingan darinya, tapi karena nyonya Tamara egois lebih mementingkan dan mengurus serta ikut campur mengenai masalah rumah tangga Alexander, sampai akhirnya Tuan Bastian pergi sendiri tanpa memperdulikan istrinya. pasalnya Tuan Bastian terlalu kesal kepada sang istri yang terlalu ikut campur mengenai urusan rumah tangga putaran mereka.


"Maaf ma, papa terburu-buru makanya papa tidak memberi kabar kepada Mama." ucap tuan Bastian. Nyonya Tamara pun langsung mengambil tas di tangan suaminya dan menuntun suaminya masuk ke dalam kamar mereka.


sesampainya mereka di dalam kamar, Tuan Bastian langsung mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan melepas ikatan dasi yang melilit di lehernya.


Setelah nyonya Tamara meletakkan tas suaminya, Nyonya Tamara pun langsung mendekat ke arah Tuan Bastian dan duduk di sampingnya.


"katakan ada apa pa, papa tidak biasanya pulang tanpa memberi kabar seperti ini kecuali terjadi sesuatu..??" tanya Nyonya Tamara. Iya tahu bahwa setiap suaminya itu pulang pasti akan memberi kabar ke rumah, kecuali Tuan Bastian sedang terburu-buru dan memiliki masalah.


"tidak apa-apa ma..!!" jawab Tuan Bastian dengan datar. Nyonya Tamara tidak percaya bahwa suaminya sedang tidak memiliki masalah, karena dari raut wajahnya saja dan intonasi suara yang ia keluarkan sangat mencerminkan Kalau tuan Bastian sedang memiliki masalah.


"Maaf pah, bukannya mama membantah apa yang papa sampaikan. tapi mama memang tidak yakin kalau papa tidak memiliki masalah. Apakah papa benar-benar tidak ingin memberitahu Mama apa yang terjadi.?" tanya Nyonya tamara lagi, Iya sangat yakin kalau suaminya memang memiliki masalah yang disembunyikan darinya.


"Mama yakin ingin mendengar kabar atau masalah yang sedang papa pikirkan.??" tanya Tuan Bastian. Nyonya Tamara yang mendengarkan pertanyaan itu pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya pa, Mama ingin tahu.." ucap Nyonya Tamara lagi. tuan Bastian tidak punya alasan untuk menyembunyikan masalah ini.


karena desakan dari nyonya Tamara, akhirnya tuan Bastian mulai bercerita, ia menceritakan semua yang disampaikan oleh asisten Ferry kepadanya tanpa dilebih-lebihkan dan juga sebaliknya. nyonya Tamara yang mendengar cerita tersebut, tak bisa tidak terkejut.


entah kenapa, dalam hatinya timbul rasa iba kepada Anastasia dan kedua anaknya. walaupun kedua anak itu tidak pernah ia akui sebagai cucunya, tapi tetap saja, hati nya menjadi sakit. entah kenapa, nyonya Tamara meneteskan air matanya.

__ADS_1


"lalu, bagaimana kondisi Alexander sekarang pa.." tanya nyonya Tamara dengan lirih. Nyonya Tamara tak kuasa membendung air matanya. Iya langsung mengingat kata-katanya tempo lalu, di mana ia menolak keberadaan kedua anak tidak berdosa itu. dan bahkan dengan teganya, Nyonya Tamara mengucapkan kata-kata hinaan kepada Anastasia di depan anak pertama Alexander.


jika dikatakan menyesal, saat ini nyonya Tamara benar-benar menyesal. ada rasa sakit yang tiba-tiba menghinggapi hatinya, lagi-lagi ya terbayang akan perlakuan dan ucapan kasar kepada anak-anak yang tidak berdosa itu. waktu itu entah hantu apa yang merasuki hati nyonya Tamara, sehingga tega berkata kasar di depan seorang anak kecil.


Tuan Bastian menarik nafasnya dengan pasrah. Iya juga mengarahkan pandangannya kepada sang istri.


"papa tidak tahu, lagi pula Apa alasan Mama bertanya kabar Alexander. bukannya mama sama sekali tidak memperdulikan Alexander dan keluarganya selama ini..??" tanya Tuan Bastian. sebenarnya dalam hati Tuan Bastian benar-benar merasa geram kepada istrinya ini. Namun karena nasehat dan kata-katanya tidak pernah didengar oleh Nyonya Tamara, Tuan Bastian berhenti untuk ikut campur semua urusan Nyonya Tamara. keberadaan Tuan Bastian di luar negeri juga salah satu alasan menghindari Nyonya Tamara.


"hiks.. Mama menyesal pa. pasti saat ini Alexander sedang terpukul." ucap Nyonya Tamara lagi, ia membayangkan raut wajah sedih putranya itu. tapi tiba-tiba Tuan Bastian bangkit dari duduknya. melihat Tuan Bastian bangkit dari duduknya, Nyonya Tamara juga ikut bangkit dan bertanya kepada suaminya.


"papa mau ke mana..??" tanya Nyonya Tamara. Tuan Bastian saat ini sedang bersiap-siap, Iya akan pergi menyusul keponakannya max dan putranya di luar kota.


"papa akan keluar kota menyusul Alexander dan max. papa juga sudah mengirimkan beberapa orang handal untuk mencari dan menemukan Anastasia dan kedua cucuku." ucap Tuan Bastian. Nyonya Tamara yang mendengar pengakuan Tuan Bastian dengan menyebutkan kedua anak Alexander dengan cucunya, tanpa menyertakan kata kita di dalamnya. Nyonya Tamara menunjukkan kepalanya pelan.


"mereka juga adalah cucuku..??" ucap Nyonya Tamara dengan lirih dan sampai tidak terdengar di telinga Tuan Bastian. namun Tuan Bastian tidak perduli sama sekali. Iya kemudian menelpon asistennya yang saat ini ia percaya untuk menghandle perusahaan yang ada di Indonesia.


"halo Jacob, segera ke rumahku sekarang. jangan lupa persiapkan semua barang keperluan kita di luar kota nanti." ucap Tuan Bastian di dalam telepon. setelah itu Tuan Bastian langsung mengakhiri panggilan. Nyonya Tamara yang mendengar bahwa suaminya akan menyusul Alexander di luar kota, entah kenapa dalam hati nyonya Tamara tergerak untuk ikut ke sana.


"pa, papa mau ke mana..?? papa mau keluar kota menyusul Alexander ya.. Mama ikut ya pa.." ucap Nyonya Tamara. tanpa menunggu persetujuan dari tuan Bastian, Nyonya Tamara langsung mengemasi beberapa barang yang ia perlukan di sana. Iya tidak terlalu membawa banyak barang, yang akhirnya akan merepotkan dia nanti.


Tuan Bastian juga tidak terlalu memperdulikan Nyonya Tamara, biarkan saja Nyonya Tamara ikut asalkan tidak mengganggu pekerjaan mereka nanti.

__ADS_1


***bersambung****


__ADS_2