TIBA-TIBA MENJADI IBU

TIBA-TIBA MENJADI IBU
47. Alexander yang dulu sudah tidak ada


__ADS_3

sejak Alexander memutuskan untuk merajut rumah tangganya yang harmonis bersama Anastasia kembali, hubungan Alexander dengan asistennya juga menjadi baik. tak pernah satupun kata-kata asistennya yang pedas menyindir dirinya ia masukkan ke dalam hati. malahan Alexander sangat menyukai keterusterangan feri terhadapnya.


"kamu tenang saja. justru aku sangat berterima kasih, karena kesiap siagaanmu, serta bantuan darimu aku dapat sadar dengan jalan yang aku tempuh ini. aku juga dapat perbaikan kembali dengan istri dan anak-anakku. terima kasih untuk semuanya ya fer. Aku tidak tahu, jika seandainya kamu tidak sigap seperti ini, akan seperti apa kondisiku dan perusahaanku serta keluarga kecilku nanti." ucap Alexander mengucapkan rasa terima kasihnya kepada sang asisten sebesar-besarnya.


hati asisten Ferry seperti hello Kitty, ia tentu akan merasa bangga pada dirinya sendiri. ia juga akan sangat tegas, dan kompeten apa bila mengenai pekerjaan nya.


penuturan Alexander itu tentu saja membuat asisten feri menjadi terharu. sejak awal Ferry mengenal Alexander dan sifatnya, Ferry tidak pernah menyalahkan malahan ia menasehati Alexander seperti keluarganya sendiri.


walaupun kerap kali Alexander membantah dan berteriak kepadanya, namun tak menyurutkan keinginan feri untuk menyadarkan bosnya itu.


"sama-sama tuan. Saya sudah menganggap Tuan seperti keluarga saya sendiri, di samping semua urusan kantor saya akan senantiasa membantu Tuan keluar dari masalah ini. lagi pula, Saya tidak sendiri, saya dibantu oleh Tuan max dan Tuan Bastian hehehe.." ucap asisten Ferry lagi sambil cengengnya. Alexander pun ikut tersenyum mendengar penuturan asistennya itu.


walaupun begitu, kalau bukan karena kasiap siagaan asisten nya ini, max dan Tuan Bastian juga pasti tidak akan terlalu jauh, ikut campur dalam masalah rumah tangga nya. apa lagi, Alexander pernah membantah tuan Bastian, ketika tuan Bastian menolak kehadiran Laura.


Iya juga sangat berterima kasih kepada max dan ayahnya yang sudah mau membantunya. mungkin dia tidak akan mengetahui semua kebusukan keluarga Laura beguel itu tanpa campur tangan Tuan Bastian dan max serta asistennya Ferry.


***


hari-hari telah berlalu. Alexander tidak lagi memperdulikan ibunya yang menjodohkannya dengan perempuan yang tidak dia sukai. saat ini hati Alexander hanya dipenuhi dengan istri dan anak-anaknya.


selama berhari-hari juga, Laura berusaha untuk bisa bertemu dengan Alexander untuk mendiskusikan masalah penarikan investasi di perusahaan keluarganya. seperti hari ini, Laura lagi-lagi datang dan menerobos masuk ke dalam kantor Alexander. para satpam yang berjaga juga sudah bersiaga agar Laura tidak menerobos begitu saja.


Tapi saat terjadi kegaduhan di luar, tiba-tiba Alexander sampai di kantornya. terlihat para satpam sedang mengamankan Laura yang memberontak ingin bertemu dengan Alexander. melihat itu semua, Alexander mencebikkan bibirnya. lagi-lagi pemandangan seperti ini yang ia dapatkan. akhirnya Alexander memutuskan untuk turun dan bertemu dengan Laura.


Alexander pun berjalan dengan penuh kewibawaannya dengan diikuti oleh asisten Ferry di belakangnya. mereka berjalan ke arah Laura yang masih memberontak ingin bertemu dengannya dan bahkan tak segan-segan memaki para satpam yang berjaga itu. Laura yang melihat kedatangan Alexander pun berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


"Alexander...!! Kenapa kamu melarangku untuk masuk ke kantormu sayang.., lihatlah para satpam satpam yang tidak tahu diri ini menghalangiku untuk bertemu denganmu. tolong berikan keadilan untukku, lagi pula mereka sudah sering melihatku bolak-balik datang ke kantormu." ucap Laura memelankan suaranya. Ferry yang mendengar panggilan sayang dari Laura pun membuatnya jadi merinding. Bagaimana tidak, aura yang Alexander keluarkan sangat dingin dan membuat tertekan siapapun yang berada di sampingnya.


( sayang..!! wah cari mati ini orang.. nggak tau aja dia Kalau tuan Alex sangat berbahaya sekarang. ii.) batin asisten Ferry. sementara Alexander kesabarannya sudah mencapai ubun-ubun.


mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Laura, membuat Alexander mengepalkan tangannya dan dadanya bergemuruh. dalam hatinya merasa sakit, mendengar orang lain memanggilnya sayang. Alexander tidak terima. Anastasia saja, tidak manggil nya seperti itu. ia begitu marah, ia tak mau ada orang lain yang memanggilnya sayang selain istri nya.


sesampainya Alexander di depan mata Laura. Alexander berdiam diri sejenak sambil menatap sorot mata yang tajam kepada Laura. Laura yang mendapati tatapan yang begitu tajam dari Alexander mengatupkan bibirnya. Seolah Alexander memang tidak ingin melihat kedatangannya.


"Apakah kamu tidak lelah berakting setiap hari. jujur saja aku sebagai penonton sangat muak melihatmu. para pekerja ku menghalangimu masuk itu karena perintah dari ku. dan seharusnya kamu tidak lagi menginjakkan kaki di tempat ini."ucap Alexander dengan datar yang sukses membuat bulu kuduk merinding.


"jangan membuat keberadaanmu di sini membuat suasana di kantor saya menjadi tidak enak. Saya tidak ingin ada sampah masyarakat yang berteriak-teriak di depan kantorku. dan ingat sampai kapanpun aku tidak akan mau bertemu denganmu. karena itu segeralah angkat kaki dari sini dan jangan datang Lagi. "ucap Alexander hendak melangkahkan kaki memasuki kantor. namun lagi-lagi Laura berteriak kepada Alexander.


"Lex, apa yang terjadi denganmu? Aku hanya ingin bertemu denganmu karena kita sudah lama tidak bertemu. Apakah aku salah merindukan dan mencintaimu..!!"ucap Laura sambil pura-pura merasa sedih. seolah-olah Ia adalah korban intimidasi dari semua orang.


"dengarkan aku baik-baik Laura beguel. dulu aku begitu bodoh sampai harus mempercayaimu dan mencintaimu. dulu aku benar-benar sangat dungu mencintai perempuan licik yang sudah memiliki kekasih. kamu bilang apa tadi..? mencintai dan merindukanku..??! " tanya Alexander dengan sarkas. satpam satpam itu sudah melepaskan belenggu di tangan mereka di tangan Laura. sejenak Laura terdiam mendengar ucapan Alexander.


"kamu bilang mencintai dan merindukanku. Apakah aku tidak salah dengar.. ataukah yang kamu cintai dan rindukan itu adalah uangku untuk membahagiakan kekasihmu itu. dengarkan Aku baik-baik, jangan kira aku tidak mengetahui apa yang kamu lakukan di belakangku bersama dengan kekasih dan keluargamu. dan aku tahu maksud kedatangan kamu, jika memang iya maka lupakan saja. karena sampai kapanpun aku tidak akan kembali bekerja sama dan menanamkan sahamku di perusahaan kalian. cukup sudah selama ini kalian membodohiku. masih untung masalah ini aku tidak bawa ke ranah hukum, namun jika kamu dan keluargamu masih mengganggu keluargaku maka aku tidak akan menjamin bahwa masalah ini akan sampai di ranah hukum. jadi, sebelum kalian bertindak maka kalian harus pikirkan terlebih dahulu. karena aku Alexander bukanlah Alexander yang dulu." ucap Alexander menekankan kata-katanya. setelah itu Alexander pun langsung meninggalkan Laura yang masih berdiri mematung mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alexander. kedua tangan Laura mengepal dengan kuat sehingga ia tidak sadar bahwa kuku panjangnya sudah menancap masuk ke dalam kulit dan dagingnya.


"sialan kamu Alexander, aku pasti akan membalasmu. aku tidak peduli Siapa kamu, yang pasti aku akan menghancurkanmu karena sudah mempermalukan aku di sini." ucap Laura dengan geram. karena Laura masih berdiri di sana, kedua satpam yang bertugas pun kembali mengusir Laura dari tempat itu.


Laura tidak tahu saja, bahwa kedatangannya di kantor Alexander malah membuat ia malu sendiri. tapi Laura sok-sokan menyalahkan orang lain. dasar gadis yang tidak beretitude.


"apalagi yang Nona tunggu. Nona sudah melihat sendiri bahwa atasan kami tidak membutuhkan kehadiran Nona di sini. jadi tolong hargai pekerjaan kami." ucap salah satu satpam di sana.


dengan tatapan mata tajam karena mendapat usiran halus dari kedua satpam tersebut. Laura langsung meninggalkan lobby kantor Alexander. Iya kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. sekarang tujuannya adalah rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


***


sementara Alexander. Iya masuk ke dalam ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Iya tidak lagi memikirkan masalah yang barusan terjadi mengenai Laura yang datang menemuinya. Alexander larut dalam fokus mengurus perusahaannya, selama berhari-hari juga, Iya tidak pernah berhubungan baik lagi dengan nyonya Tamara.


namun kadang-kadang Alexander merasa bersalah karena tidak lagi berhubungan baik dengan mananya. namun ketika Alexander berpikir mamanya yang terus menjodoh-jodohkannya dengan perempuan yang ia pilih, Alexander menjadi kesal sendiri dan malah menyibukkan dirinya dalam pekerjaannya.


setelah pekerjaan Alexander selesai. sejenak Alexander meregangkan otot-ototnya dan kembali menggenggam benda pipih itu dan menghubungi keluarga kecilnya.


Tut


"halo Ayah, " ucap ariano. Alexander menyempitkan matanya, ke mana Anastasia Kenapa tiba-tiba ariano yang memegang handphonenya. Alexander pun tersenyum melihat wajah putranya memenuhi layar handphonenya.


"halo jagoan ayah, ke mana bundamu nak..? Kenapa Ian yang memegang handphone bunda.?" tanya Alexander kepada sang anak.


" bunda ada di dalam ayah, bunda sedang menyusui adik abela. karena bunda tidak bisa mengangkat panggilan dari ayah, akhirnya Iyan deh yang ngangkat.. Maaf ya yah.." ucap ariano sambil tersenyum simpul di layar handphone itu. Alexander pun juga ikut tersenyum.


"tidak apa-apa sayang. Oh iya, katakan sama bunda sebentar lagi ayah akan pulang. nanti kita akan makan malam di luar bersama dengan nenek Rosma dan kakek dirgan." ucap Alexander menyampaikan pesannya kepada sang. sebenarnya tak perlu disampaikan, karena, Anastasia sendiri berada di samping ariano dan mendengar percakapan mereka.


"hehehe baik ayah. nanti akan ia sampaikan kepada bunda. tapi beneran Ayah tidak berbohong kan..??" tanya ariano lagi. ariano pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang bunda yang masih sibuk menyusui adiknya. namun Anastasia tetap mendengarkan percakapan mereka.


"tidak dong sayang, mulai sekarang Ayah tidak pernah bohong lagi sama Iyan dan bunda. jadi sampaikan sama bunda ya sayang. kalau begitu panggilannya Ayah tutup, Ayah harus mengerjakan pekerjaan ayah agar pekerjaan Ayah cepat selesai dan cepat pulang. oke boy.." seru Alexander sambil mengangkat tangannya membentuk huruf o.


aryano pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. setelah itu Alexander pun langsung menutup panggilan.


***bersambung.

__ADS_1


__ADS_2