To Make You Mine

To Make You Mine
1. Merindukanmu (1)


__ADS_3

Dear Diary.


Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan semua ini.


Semua rasa yang sejak awal tidak seharusnya ada.


Namun selalu kupaksakan untuk ada.


Aku tahu bahwa semua hal terjadi karna alasan.


Tapi aku tidak memiliki alasan untuk mencintainya.


Aku hanya merasa itu benar, dan dia adalah orang yang tepat untuk kucintai.


Dear Diary


Tidak ada yang tahu kedalaman hati.


Seperti aku yang tak bisa menerka apa isi hatinya, bagaimana perasaannya kepadaku.


Tapi satu Yang aku tahu.


Dimataku hanya ada dia.


Dihatiku hanya tertulis namanya.


Bahkan dalam setiap untaian doa yang kupanjatkan, selalu kuharap dia yang jadi imamku.


Namun bukanlah Allah sudah berfirman, bahwa apa yang aku sukai belum tentu baik bagiku, dan apa yang tidak aku sukai mungkin ia benar bagiku.


Maka sekarang aku putuskan untuk pasrah.


Karena aku menggapainya tak mungkin.


Maka kubiarkan hatiku berlabuh pada tempat lain.


Karena aku sudah tak bisa lagi menunggu.

__ADS_1


Karena aku tidak sesabar itu.


Aku akan bahagia di atas bahagianya.. selalu.. selamanya...


Biarkan rasa ini tersimpan dalam hati, bukan untuk dilupakan, tapi sekedar pengingat bahwa di suatu waktu aku pernah mencintainya sangat dalam.


Dan biarkan sisi lain hatiku terbuka untuk menerima cinta lain yang Kau pilihkan untukku*...


______________________________________________


Syaquilla menatap wajahnya di cermin. Wajahnya tampak pucat, kantung matanya terlihat begitu jelas. Pipinya jelas tampak menirus dalam beberapa hari terakhir ini. Ia benar-benar merasa letih. Tentu saja, semua orang yang berada di posisinya pastinya akan merasa letih seperti dirinya kini.


Ia melepas kerudungnya dengan tak bersemangat. Menghapus sisa kotoran di wajahnya dengan cleanser yang ada di atas meja rias. Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.


Sosok wanita berusia 36 berparas cantik masuk ke dalam kamarnya dengan senyuman lebar di wajahnya. Wanita yang telah menjadi ibu sambungnya selama 10 tahun terakhir ini berjalan mendekat dan berdiri di belakang Syaquilla. Kedua tangannya yang berjemari lentik memijit bahu Syaquilla dengan lembut. "Capek?" Tanyanya tak kalah lembutnya dengan pegangan tangannya. Matanya memandang Syaquilla lewat cermin. Syaquilla tersenyum sendu dan mengangguk. "Sabarlah, semua ini ujian untuk kalian. Untuk kamu dan Carina." Lagi-lagi Syaquilla mengangguk.


Ia dan sahabatnya baru saja mendapatkan musibah dengan kebarakannya cafe tempat mereka mencari nafkah selama ini. Dan hari ini Syaquilla baru saja kembali menyelesaikan laporannya di Polsek area Bandung Kota dimana tempat usahanya berdiri.


Pihak kepolisian mengatakan bahwa kebakaran yang terjadi kemungkinan besar terjadi karena faktor kesengajaan. Hal itu masih perlu diselidiki lebih lanjut. Tapi tetap saja, selama proses penyelidikan berjalan. Syaquilla dan Carina masih harus mengganti semua kerugian. Cafe yang menjadi tempat usaha mereka itu merupakan bangunan sewaan. Dan mereka harus mengganti kerusakan gedung dengan merenovasinya ulang. Belum lagi kerugian dengan membayar gaji karyawan yang tidak sebanding dengan pemasukan yang tidak akan mereka peroleh selama beberapa bulan kedepan.


Tapi apa lagi yang bisa Syaquilla dan Carina lakukan. Semua ini musibah, kan?


"Semua pasti ada hikmahnya." Ucapnya menenangkan. Syaquilla hanya mengangguk dalam dekapannya. Airmatanya kini berderai tak terbendung lagi.


Ibu tirinya membiarkannya menangis sampai pakaian yang dikenakannya berubah basah. Namun pelukannya tak pernah terlepas, dan usapannya masih begitu lembut. Saat tangisnya berubah menjadi isakan pelan, ia mendongak dan menatap wajah cantik ibunya. "Semua akan baik-baik saja." Ucap ibunya lagi. Tangan lentiknya kini mengusap wajah Syaquilla pelan. "Anggap saja kalian memulai semuanya kembali dari nol. Jangan takut, semua kerugian yang kalian dapatkan sekarang, akan berbuah manis nantinya." Syaquilla hanya mengangguk mengiyakan. "Mandilah, setelah itu kita makan malam. Papamu sudah menunggu di bawah. Jangan sampai dia khawatir." Perintahnya tegas. Syaquilla kembali mengangguk. Caliana mengecup kepala putrinya dengan lembut sebelum akhirnya meninggalkan kamar.


Syaquilla tidak mengalihkan pandangannya dari ibu tirinya. Dalam hati ia merasa bahagia dan bersyukur karena Allah memberikan sosok itu padanya. Sosok ibu yang selama ini diinginkannya ia dapatkan dari Caliana.


Apa yang dijanjikan Tuhan memang selalu benar. Setelah semua duka yang ia rasakan selama 13 tahun masa kecilnya, akhirnya ia menemukan sosok ibu yang mencintainya seperti anaknya sendiri.


Syaquilla kembali tersenyum, mengingat kembali perjuangan yang ia dan sahabatnya Carina lakukan untuk bisa meluluhkan hati Caliana supaya bisa menerima Papanya. Perjuangan yang tak mudah. Namun berakhir indah.


Bahkan sudah sepuluh tahun berlalu sejak Caliana menjadi ibunya, namun Syaquilla masih merasa itu baru saja terjadi kemarin.


Syaquilla kembali menatap cermin. Ia menepuk kedua pipinya, berusaha memunculkan rona kemerahan di wajah pucatnya sebelum kemudian bangkit dari duduknya.


Semua orang tentu, sangat tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja, tapi setidaknya ia tidak boleh membuat orang mengira dirinya jatuh terpuruk karena keadaannya.

__ADS_1


Syaquilla mandi dengan cepat, sepuluh menit kemudian ia sudah turun menuju meja makan.


Meja persegi panjang itu sudah diduduki oleh sang adik dan ayahnya. Adik pertamanya Ilker yang kini berusia delapan tahun sudah duduk manis di tempatnya dan tersenyum ke arahnya. Syaquilla selalu suka melihat pipi tembam adiknya itu. Belum lagi saat ia tersenyum, ia selalu merasa senyumannya itu menular. Mata hijaunya mempesona dan selalu tampak ramah tak seperti milik ayahnya.


Ayahnya, pria berusia 51 tahun itu sudah duduk di kepala meja dengan tablet di tangannya, mengupdate berita terbaru lewat media online. Di usianya yang setengah abad itu, ayahnya masih tampak begitu mempesona. Rambutnya masih hitam legam yang Syaquilla tahu bukanlah hasil semiran. Termasuk rambut-rambut di wajahnya yang lebat. Bahkan kacamata yang bertengger di atas hidungnya malah menampakkan kesan kebapakan yang membuat Syaquilla selalu terpesona melihatnya.


"Hai, Sayang." Sapanya ketika Syaquilla sudah ada di dekatnya. Satu hal lain yang disyukuri Syaquilla dari pernikahan Papanya dengab Caliana adalah, sejak mengenal Caliana memang berubah menjadi pria yang hangat. Ayah yang baik dan perhatian. Tidak seperti sebelum mengenal ibu tirinya. Ayahnya menyembunyikan semua kasih sayangnya dengan sikap kaku.


Lagi-lagi Syaquilla mengucapkan terima kasih karena Tuhan mempertemukan mereka dengan Caliana.


"Malam, Pa." Sapanya dan mencium sisi kepala Adskhan seperti kebiasaannya selama sepuluh tahun terakhir ini. Ia melakukan hal yang sama pada adik sulungnya. "Hai, prens." Sapanya ramah.


"Hallo juga, prenses." Jawab adiknya dengan senyum terkembang di wajah.


"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Syaquilla berbasa-basi.


"Good!" Jawabnya santai, cengiran lebar lagi-lagi memenuhi wajahnya. "Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, itu sudah pasti." Jawabnya dengan nada bangga.


"Smart boy!" Ucap Syaquilla seraya mengacak rambut adiknya.


Tak lama kemudian seruan datang dari arah dapur. Caliana lalu muncul dengan semangkuk ayam pedas di tangannya. Aroma pedas menusuk hidungnya yang secara langsung membuat semua orang meneteskan air liur.


"Ayam taliwang!" Serunya seraya meletakkan mangkuk di atas meja. "Rasanya super pedas, semoga tidak ada yang sakit perut besok." Harapnya. Wanita itu meraih piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk sebelum menyerahkannya pada suami dan anak-anaknya. Setelah semuanya mendapat bagian, ia kemudian duduk dan mengisi piringnya sendiri. Begitulah kebiasaan sang Ibu selama sepuluh tahun terakhir ini.


Keempatnya makan dengan obrolan ringan. Lagi, itu merupakan satu dari sekian banyak kebiasaan yang ditularkan Caliana pada keluarganya. Berbicara saat makan. Karena menurut ibunya itu, keakraban bisa dibangun dengan saling bercerita. Dan Syaquilla suka itu. Kecuali jika ceritanya harus bertema tentang dirinya. Baru Syaquilla merasa enggan.


"Bagaimana hasil penyelidikan polisi?" Tanya ayahnya beberapa saat setelah obrolan ringan berlangsung.


Syaquilla menoleh pada ayahnya dan tersenyum. "Mereka bilang kemungkinan kebakaran yang disengaja, dan mereka masih mendalaminya. Tapi mereka sudah mengijinkan cafe berjalan kembali." Jawabnya apa adanya.


"Apa sebaiknya kamu cari lokasi lain. Pindah dari sana?" Tanya ibunya yang dianggap Syaquilla sebagai sebuah saran. Ayahnya turut mengangguki pertanyaan ibunya. "Cari lokasi yang lebih strategis, meskipun mengeluarkan biaya yang lebih besar, tapi kalau kamu bisa menentukan lokasi yang baik, prospek ke depannya juga insyaAllah akan ada hasil." Lanjut ibunya lagi.


Syaquilla mengangguk. "Qilla sama Carin udah mikir kesana, Ma. Dan lokasi yang sekarang juga sebenernya memang udah gak nyaman. Kemarin juga udah sharing sama Carina. Dia lagi cari info lewat temen-temennya."


Sejujurnya, di lokasinya yang sekarang memang benar-benar sudah mereka rasa tak nyaman. Meskipun lokasinya strategis, dan sejauh ini memberikan mereka banyak keuntungan, tapi jika tempatnya seringkali dipalaki preman, bukan hanya dirinya, tapi juga konsumennya tidak merasa nyaman.


Belum lagi area parkir yang tidak memadai dan seringnya terjadi curanmor. Syaquilla dan Carina benar-benar berniat untuk pindah.

__ADS_1


Ayahnya hanya memberikan anggukan sebagai tanggapan. "Kalau ada apa-apa. Bilang sama Papa. Papa akan memberikan kamu modal. Anggap saja Papa investor kamu. Kalau kamu keberatan, kamu bisa ngasih royalti sama Papa sebesar Papa ngeluarin modal buat kamu." Canda ayahnya yang dijawab dengan tepukan pelan ibunya. Adskhan tersenyum, tangannya terulur mengusap lengan sang putri. "Papa selalu mendukung kamu, kamu tahu itu kan?" Ucap papanya meyakinkan. Qilla mengangguk mengiyakan. Dan obrolan berlanjut pada hal lain yang lebih ringan.


__ADS_2