
Carina meletakkan beberapa lembar foto di hadapannya. Foto itu menampakkan beberapa bangunan dengan jenis dan ukuran yang berbeda.
"Itu beberapa lokasi yang disaranin sama anak-anak." Ucap sahabat sekaligus rekanannya itu seraya menyeruput jus dinginnya.
Saat ini mereka sedang duduk santai di salah satu cafe yang ada di area kampus negeri di kota Bandung. "Kalo aku sih milihnya di daerah itu." Tunjuknya pada satu ruko berlantai dua yang baru saja selesai renovasi. "Biaya sewanya emang agak tinggi. Tapi kalo dilihat dari lokasi, trus sama renovasi yang owner nya baru lakuin, aku sih oke." Lanjutnya .
Syaquilla memperhatikan foto yang ditunjuk Carina. Bangunan yang dipilih Carina itu tampak sangat bagus. Mungkin karena baru saja di cat dan di renovasi ulang oleh pemiliknya jadi tampak begitu baru. Namun demikian Syaquilla masih harus melihat lokasinya untuk mempertimbangan struktur lingkungan dan area parkir yang tersedia untuk pelanggan mereka nantinya.
Carina adalah sahabat Syaquilla yang kini juga telah menjadi sepupunya. Gadis cantik bertubuh ideal itu berprofesi sebagai seorang model. Dia adalah putri dari kakak tertua ibu sambung Syaquilla. Dan perlu kalian ketahui, Carina adalah orang yang paling berjasa akan keberhasilan hubungan Ayah Syaquilla dan ibu sambungnya. Karena tanpa bantuan Carina, keinginan Syaquilla untuk menjadikan Caliana sebagai ibunya tentu tidak akan tercapai.
Lima tahun ini Carina juga merupakan rekanan Syaquilla dalam membangun usaha cafe yang mereka geluti saat ini.
Meskipun awal mula mereka mendirikan cafe berasal dari dana kedua orangtua, namun lambat laun kerja keras mereka membuahkan hasil. Mereka menjadi pemilik sekaligus pengelola cafe mereka sendiri yang sekarang sudah merambah dari satu cafe menjadi tiga cafe dengan jenis sajian yang berbeda.
Korean, Japanese dan Western. Tiga konsep di masing-masing cafe yang mereka dirikan dengan model kekinian. Tentu saja, target pasar mereka adalah anak-anak muda yang hobi nongkrong dan pecinta kuliner tentunya.
Dan cafe mereka yang terbakar tempo lalu adalah cafe makanan korea. Salah satu cafe mereka dengan tingkat pengunjung dan penghasilan paling tinggi diantara tiga cafe yang mereka kelola selama ini.
Syaquilla kembali mencoba membandingkan bangunan-bangunan yang ada dalam foto di hadapannya. Namun pilihannya lagi-lagi kembali pada pilihan Carina.
"Kapan kita bisa lihat lokasinya?" Tanyanya pada akhirnya.
Carina yang tahu bahwa sahabatnya setuju dengan pilihannya akhirnya menjawab. "Kita bisa survey lapangan secepatnya. Nanti aku kontak dulu si empunya." Lalu menekan tombol yang ada di ponselnya sementara Syaquilla menunggu seraya kembali melihat-lihat foto tersebut. Mencari kemungkinan pikirannga berubah.
__ADS_1
Namun bukannya pikirannya yang berubah, melainkan rasa sakit di kepala yang ia dapat.
Kepala Syaquilla berdenyut tak karuan. Rasa sakit yang sebenarnya sudah biasa ia rasakan jika ia merasa terlalu lelah. Harus ia akui bahwa belakangan ini ia benar-benar kurang tidur, dan konsentrasinya sendiri terpecah antara kuliah dan permasalahan cafe. Meskipun permasalahan Cafe lebih mendominasi isi kepalanya.
Syaquilla seharusnya sudah mulai bekerja bersama ayahnya tahun ini. Mengingat ia sudah mendapatkan gelas sarjananya beberapa bulan yang lalu. Namun ia masih belum melaksanakan keinginan ayahnya karena ia malah memilih mengejar gelar S2 nya, yang sebenarnya tidak mendapat persetujuan sang ayah.
Tapi ibunya lebih mendukung keputusannya untuk melanjutkan kuliah ketimbang mendukung keinginan suaminya untuk segera memberikan Syaquilla jabatan di perusahaan.
"Mumpung masih muda, dan Qilla nya mau. Kalo dia udah kerja nanti, S2 nya kemungkinan akan dia abaikan karena sibuk kerja." pembelaan sang Ibu tempo itu membuat Syaquilla bersyukur. Syaquilla sendiri tak tahu, ia sebenarnya enggan harus berfokus pada pekerjaan yang ditawarkan sang ayah. Karena ia sebenarnya lebih tertarik menggeluti dunia kuliner. Namun jika ia menolak keinginan sang ayah, ia juga merasa sayang dengan hasil pendidikannya dan perjuangannya belajar selama beberapa tahun kebelakang.
Dan ketika ayahnya mengiyakan, menyetujuinya untuk kuliah lagi, secara otomatis Syaquilla memeluk ibunya dengan haru. Berterimakasih atas dukungannya. Dan kini, setelah program S2 nya ia coba, ia malah mendapat ujian dengan musibah yang menimpa tempat usahanya. Dan secara fisik ataupun emosional itu sangat mempengaruhinya.
Carina sudah kembali duduk. Gadis itu meletakkan ponselnya ke dalam saku celana dan memperhatikan Syaquilla. "Kita bisa kesana nanti sore. Kamu gak ada kelas lain?" Syaquilla menggeleng. Jam pelajarannya hari ini memang sudah usai. Jadi dia bisa pergi kemanapun setelah ini. Ia sudah bersiap, hendak bangkit dari duduknya, namun Carina malah menyentuh dahinya dengan punggung tangannya. "Are you okay?" Tayanya dengan cemas. "Muka kamu pucat, La. Tapi kamu gak demam." ujarnya seraya membandingkan suhu Syaquilla dengan suhu tubuhnya sendiri.
Syaquilla menyentuh tangan sahabatnya dan menurunkannya dari dahinya seraya tersenyum. "I'm okay." Jawabnya menenangkan. "Cuma kurang tidur aja."
Syaquilla kembali tersenyum menenangkan. "Iya, tahu. Tapi mau gimana lagi, tiap kali mau merem yang kebayang cafe mulu." Jawabnya dengan kekehan geli. Carina hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Mau istirahat di apartemen?" Tawarnya yang dijawab anggukan Syaquilla.
Bagi Syaquilla tempat ternyaman kedua setelah rumah kedua orangtuanya, itu adalah apartemen sahabatnya.
Mereka meninggalkan cafe dan berjalan beriringan menuju parkiran. Carina mengemudikan mobilnya sementara Syaquilla duduk di kursi penumpang dengan tangan memijat pelipis. Denyutan di kepalanya belum berhenti juga. Seharusnya ia minta mampir ke apotek atau minimarket untuk membeli obat sakit kepala. Tapi sudah terlambat, mereka sudah sampai di basement apartemen Carina.
__ADS_1
Mereka memasuki lift yang ada di basement. Mereka menghabiskan waktu dalam diam selama lift menuju lantai 15. Dan masih diam saat mereka keluar dari lift dan menuju ke unit tempat tinggal Carina.
Sebenarnya apartemen itu bukan milik Carina pribadi. Namun milik pamannya yang memang Carina tinggali selama dua tahun terakhir ini.
Apartemen itu, sampai saat ini sudah ditinggalkan selama lima tahun lamanya. Karena selama tiga tahun pertamanya apartemen ini disewakan dan di tahun keempat baru Carina tempati dan sesekali, atau sebetulnya seringkali Syaquilla menginap disana, sebagai pelepas rindu pada sosok si pemilik apartemen yang memilih melanjutkan program studi kedokterannya di Jerman.
Pria itu, si pemilik apartemen, bernama Gilang.
Dia adalah adik dari ayah Carina dan juga merupakan kakak kembar dari ibu tirinya, Caliana.
Gilang, sesosok pria yang selama ini menjadi pujaan hati Syaquilla. Meskipun tak pernah ada yang tahu, karena ia menyimpan rasa itu rapat, untuk dirinya sendiri.
Gilang Hammam Putra, sesuai dengan namanya, Gilang yang berarti bercahaya terang dan Hammam yang artinya pahlawan. Baginya Gilang adalah sesosok pahlawan yang menerangi hatinya, meskipun pria itu tak pernah tahu.
Hmm.. Gilang. Apa kabarnya paman tirinya itu? Sudah lima tahun pamannya itu meninggalkan Indonesia, dan dua tahun mereka tidak pernah berjumpa meskipun ada acara besar keluarga. Apakah pria itu merindukannya? Karena Syaquilla sangat merindukannya.
Rindu yang sebenar-benarnya rindu meskipun ia tidak pernah mengucapkannya.
Syaquilla berjalan menuju kamar yang biasa ia tempati ketika ia menginap. Bukan kamar utama tempat Gilang dulu tidur. Tapi kamar yang dijadikan Carina kamar pribadinya.
Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran Queen itu. Ia begitu ingin memejamkan mata, menghilangkan denyut sakit si kepalanya seraya berharap sosok yang dirindukannya bisa singgah sejenak saja dalam mimpinya. Menghiburnya dan menghilangkan mimpi buruk yang sudah dua minggu ini menghantuinya.
______________________________________________
__ADS_1
Ditunggu Vote dan Komennya ya Readers 🤭