To Make You Mine

To Make You Mine
3. Gilang Hammam Putra VS Syaquilla Adskhan Levent (1)


__ADS_3

Sementara Syaquilla ke kamar, Carina meraih remote AC yang ada tepat di meja bar yang ada di samping kanan pintu dan menyalakannya sampai suhu yang sesuai.


"Rin, ada aspirin? Atau obat sakit kepala lain?" Syaquilla muncul kembali dari kamar, tangannya meraih kotak obat namun tak mendapatkan apa yang dicari.


"Gak ada, lupa beli." Jawab Carina merasa bersalah. "Kamu masih pusing?" Tanyanya dengan khawatir. Syaquilla mengangguk.


"Ya udah, tunggu disini. Biar aku turun ke minimarket di bawah." Carina mencari dompet yang ada di dalam tasnya dan kembali berjalan keluar, sementara Syaquilla yang sudah tidak tahan dengan sakit di kepalanya memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa.


Ia bergelung di atas sofa dengan memeluk bantal. Rasanya sedikit nyaman. Memejamkan mata seraya menunggu kedatangan Carina, namun ia malah tertidur.


Carina menunggu lift sampai ke lantai mereka. Betapa terkejutnya dia ketika pintu lift terbuka dan sosok yang sudah lama tak ditemuinya berdiri di sana. Menatapnya dengan sama kagetnya lalu kemudian menyeringai. "Hai, Moana." Sapanya dengan cengiran khas nya. "Long time no see." Sapanya dengan sebelah tangan melambai.


"Oh My God. Uncle!" Pekiknya seraya menghambur ke pelukan Gilang. Memeluk tubuh pria itu erat. "Kenapa gak bilang kalo uncle pulang?" Tanyanya lebih dengan nada kesal.


"Biar jadi kejutan dong." Lanjutnya dengan santai.


Carina melonggarkan pelukannya dan menatap wajah pamannya. "Berapa lama?" Tanya Carina dengan alis terangkat. Namun tangannya masih merangkul pinggang pamannya dengan erat. Mereka kembali berjalan menuju unit tempat mereka tinggal.


"Baru balik udah main usir aja." Jawab pria itu dengan nada tersinggung yang dibuat-buat.


"Ya bukannya gitu, uncle sih kayak jelangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar."

__ADS_1


"Kalimat yang salah tuh." Gilang menjentik dahi Carina. "Yang benar 'pulang gak dijemput, pergi gak diantar'." Koreksi pamannya. Mereka sudah ada di depan pintu dan Carina kembali menekan password.


"Ya Tuhan." Pekiknya saat pintu terbuka. Karena kehadiran Gilang, Carina melupakan kebutuhan Syaquilla. Ia menepuk jidatnya dengan cukup keras. "Uncle, aku ke bawah dulu. Sebentar ya." Ucapnya lalu berlari meninggalkan Gilang masuk ke dalam apartemen sendirian.


Gilang melepas sepatunya dan berjalan menuju kamar yang biasa di tempatinya tanpa menyadari sosok yang berbaring di atas sofa. Ia meletakkan ranselnya begitu saja di samping nakas dekat tempat tidurnya dan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Perjalanan panjangnya dari Jerman ke Jakarta dan langsung menuju Bandung membuat tubuhnya benar-benar lelah. Belum lagi jetlag dan rasa laparnya.


Ia bisa menahan laparnya sejenak. Ia benar-benar butuh mandi air hangat.


Syaquilla terbangun karena suara-suara gemerisik yang didengarnya. Kepalanya masih berdenyut kencang. Pandangannya juga berkunang-kunang. Sepertinya anemianya kambuh. Pikirnya dalam hati. "Rin.." Panggilnya dengan lirih saat suara gemerisik itu kembali terdengar. Berharap sahabatnya itu muncul dengan obat yang dibutuhkannya. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Ia terduduk di sofa sambil memijit kepalanya. Rasa sakitnya jadi semakin bertambah. Pandangannya jadi tidak fokus. Semuanya terasa silau di matanya.


Sesekali ia menggeleng dan mengerjapkan mata. "Rin.. kamu dimana?" Panggilnya lagi. Namun tetap tidak ada tanda-tanda Carina berjalan ke arahnya. Ia mencoba berdiri dengan menopangkan tangannya di punggung kursi. Namun apa yang dilihatnya sungguh membuat shock, lututnya terasa lemas seketika.


"Qilla..?" Tanya pria itu dengan nada was-was. Syaquilla merasa bibirnya terangkat, tersenyum. Bahkan dalam khayalannyapun suara itu terdengar jelas. Sejelas denyutan di kepalanya dan dengungan di telinganya. Tuhan, kenapa kau mengujiku seperti ini. Bisiknya dalam hati. "Qilla, kamu baik-baik aja?" Suara itu kembali bertanya. Sesuatu menyentuh lengannya. Angin hangat berhembus dekat dengan wajahnya. Syaquilla kembali berusaha memfokuskan pandangannya, namun yang terjadi justru pandangannya mengabur dan entah bagaimana semuanya menjadi gelap.


Gilang bergerak cepat, mencoba menahan tubuh tubuh Syaquilla agar tidak ambruk ke lantai, bersamaan dengan pintu terbuka dan Carina muncul. "Qilla..!" Pekikan kaget itu disertai dengan derap kaki yang mendekat. "Uncle, dia kenapa?" Tanyanya bingung.


"Uncle gak tahu. Tadi dia berdiri, lalu ambruk." Gilang mengangkat tubuh mungil Syaquilla dan membawanya masuk ke dalam kamar Carina yang sudah terbuka sebelumnya. Dibaringkannya tubuh yang lemah itu dan dengan cepat Gilang beranjak ke kamarnya, membongkar ranselnya dan mengambil peralatan medisnya.


Carina mengusap kening Syaquilla yang mulai berkeringat dingin. Ia sedang melepas kerudung yang digunakan sahabatnya dengan maksud untuk membuat gadis itu lebih nyaman dan tidak tercekik saat Gilang kembali dengan alat medisnya dan mulai memeriksa.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama bagi Gilang untuk memeriksa Syaquilla. "Dia kelelahan." Gumamnya namun terdengar jelas di telinga Carina. Gilang mencari infusan yang selalu dia bawa di dalam tas nya. Mencari tempat supaya bisa menggantunya sebelum memasangkan selang dan jarumnya ke lengan Syaquilla. "Dia kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah pucat Syaquilla seraya mengontrol tetesan cairan infusnya. Lalu menyuntikkan sesuatu kedalam tabung infus.


"Dari siapa pertanyaan itu berasal? Dokter Gilang, Uncle Gilang, atau pria bernama Gilang?" Tanya Carina balik menggoda.


Gilang mendongak. Tatapannya berubah tajam. "Dari seorang manusia kepada manusia lainnya atas dasar kemanusiaan." Jawabnya ketus.


Carina mencebik. "Ah Uncle, uncle bikin Carin kecewa." Jawabnya jujur. Carina menutupi tubuh Syaquilla dengan selimut sampai ke batas dadanya sebelum beranjak meninggalkan kamar, diikuti pamannya. "Dia memang kelelahan, dan sedang banyak pikiran." Jawabnya ketika mereka sudah berada di area dapur. "Minum?" Tawar Carina, yang dijawab gelengan kepala.


"Lapar, sebenarnya." Jawabnya sambil duduk di meja bar.


"Sebentar lagi. Tadi sudah pesan makanan via online. Sabar ya." Jawab Carina santai. Ia menuangkan sirup ke dalam gelasnya dan memasukkan gula sebelum menyeduhnya dengan sedikit air panas. Tepat saat ia hendak memasukkan es batu, bel apartemen berbunyi. "Tepat waktu." Gumamnya kepada Gilang. "Tuh, makanan uncle sudah datang. Kali ini aku yang traktir, nanti giliran." Jawabnya sambil lalu.


Gilang mengedipkan sebelah mata "Anytime, Moana." Jawabnya seraya berjalan menuju pintu. Seorang pria mengenakan jaket dan helm berlogo ojek online berdiri dengan menenteng dua kantung makanan dan minuman yang berasal dari satu resto yang tidak Gilang kenal.


"Apartemen Ibu Carina?" Tanya si tukang ojek yang dibalas anggukan Gilang. "Lima potong ayam penyet, empat nasi dan tiga jus jeruk." Pria itu menyodorkan bungkusannya kepada Gilang. "Jangan lupa bintangnya ya, Mas." Lalu dengan sopan tukang ojek itu pergi.


"Tiga orang tapi pesan sampe lima ayam, kamu gak salah?" Gilang meletakkan bingkisan itu di atas meja, yang langsung dibuka oleh Carina.


"Ini makanan favoritnya Qilla. Siapa tahu dia jadi nafsu makan. Udah beberapa hari ini dia sulit makan. Udah kurus ntar makin kurus aja dia." Ucap Carina blak-blakan. Gadis itu bahkan belum menjawab pertanyaan Gilang sebelumnya.


"Jadi dia kenapa?" Gilang mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Dan rasa ayam itu benar-benar membuatnya jatuh cinta. Pedas yang membuat orang tak ingin berhenti memakannya.

__ADS_1


______________________________________________


Hai hai,, salam kenal dari Mimin si pendatang baru... Minta supportnya ya,, please kasih krisan buat cerita yang Mimin buat, jangan lupa tap ❤️ dan 👍 supaya Mimin semangat bikin cerita,, terima kasih 🤗🤗🤗


__ADS_2