
Mereka sudah menyelesaikan acara rutin di panti, dan Natta sedang menyetir sementara Syaquilla duduk dengan santai di samping kemudi. Natta bermaksud untuk mengajaknya makan malam bersama, dan Syaquilla mengiyakan saja.
Syaquilla memandang pria di sampingnya. Teuku Natta Daud. Atau yang lebih dikenal dengan panggilan Dokter Natta. Pria dengan tubuh tinggi, kulit putih dan rambut hitam legam yang lebat itu memiliki wajah yang tampan. Senyumnya selalu menghangatkan dan suaranya selalu menenangkan. Sikapnya selalu mengayomi dan perhatiannya?
Sudah lima tahun ini Syaquilla mengenal pria itu. Skip saja bagaimana pertemuan pertama Syaquilla dengan pria berusia tiga puluh satu tahun itu. Dikemudian harinya Syaquilla di perkenalkan lagi dengannya yang ternyata merupakan putra dari kenalan Papa nya. Putra seorang pengusaha travel yang memilih untuk menjadi dokter alih-alih meneruskan usaha keluarganya.
Natta pria yang sangat, bahkan teramat sangat sopan. Pria itu selalu bertutur kata halus namun tidak segan untuk berbicara pedas jika Syaquilla melakukan kesalahan. Semua orang selalu mengira hubungan mereka sebagai hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun faktanya, hanya Syaquilla dan Natta yang tahu.
Natta memang mengungkapkan perasaannya pada Syaquilla tentang rasa suka dan cintanya pada Syaquilla. Dan Syaquilla pun sebenarnya berusaha untuk membuka hatinya pada pria itu. Meskipun sampai saat ini yang ia miliki pada pria itu hanyalah rasa hormat, segan dan rasa sayang kepada kakak laki-laki yang tak pernah dimiliki Syaquilla.
Flashback
Makan malam itu terasa menyenangkan. Sampai Syaquilla merasa aura aneh setelahnya. Tatapan Natta terhadapnya tampak begitu intens. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang bisa Syaquilla katakan ragu, namun percaya di saat bersamaan.
"Sya." Ucap pria itu dengan lirih. Syaquilla masih memandangnya dengan datar. Bukannya ia tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan pria itu, hanya saja ia tidak ingin merasa besar kepala. Jadi ia memilih mendengarkan.
"Iya Mas."
"Sekali lagi, Mas mau kamu tahu. Mas suka sama kamu. Apa kamu bener-bener gak mau kasih Mas kesempatan?" Tanya Natta dengan mimik penuh harap.
Syaquilla memandang pria di hadapannya dengan tatapan yang penuh keyakinan. "Mas, Mas yang paling tahu keadaan aku. Apa Mas yakin masih mau nerima?" Ia balik bertanya. Dilihatnya pria itu mengangguk. "Bagaimana dengan keluarga Mas? Bagaimana dengan Mama sama Papa Mas? Qilla gak mau nyakitin mereka."
"Sya, Mas terima kamu apa adanya. Mas cinta sama kamu apapun keadaan kamu. Mas tahu, sebenarnya satu-satunya alasan kamu nolak Mas karena dia. Iya, kan?"
__ADS_1
"Mas tahu itu, dan Qilla gak mau hal itu nyakitin Mas." Syaquilla selalu memberikan alasan yang sama. Karena memang faktanya hanya alasan itu yang dimilikinya untuk menolak Natta.
"Mas gak akan sakit hati. Tapi Mas masih berharap kamu masih mau memberi Mas kesempatan. Atau bahkan Mas akan memberi kamu kesempatan untuk memperjuangkan perasaan kamu sama dia."
"Mas, Qilla gak mungkin memperjuangkan dia. Itu karena Qilla tahu kalau Qilla sama dia gak akan bisa bersama. Jadi Qilla tidak menaruh harapan apapun sama dia. Tapi Mas? Mas masih punya kisah yang bisa Mas raih. Qilla gak mau suatu saat Mas menyesal dan akhirnya hati Qilla juga yang Mas korbankan."
Pria itu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya dengan erat. "Mas gak bisa janjiin masa depan akan seperti apa. Bahkan Mas sendiri masih gak yakin Tuhan akan memberikan kita waktu berapa lama untuk bisa ada di dunia ini. Tapi satu yang bisa Mas janjiin sama kamu. Kalau perasaan Mas sama kamu itu tulus, Sya. Setidaknya pertimbangkan itu." Syaquilla memandangnya dengan nanar. "Kasih Mas kesempatan, Sya. Mas akan bantu kamu buka hati buat Mas. Ya? Setidaknya, cobalah untuk mensugesti pikiran kamu kalau di hati kamu ada cinta untuk Mas. Balas ucapan Mas setiap kali Mas bilang I Love You. Meskipun Mas tahu itu hanya sekedar kata. Tapi siapa yang tahu suatu saat menjadi nyata." Pintanya lagi. Syaquilla tidak punya alasan lagi. Pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk. Dan sejak hari itu, Natta mengikrarkan bahwa mereka akan menerima perjodohan ini.
Flashback Off
Dan kini sudah berjalan enam bulan. Meskipun mereka tidak pernah bertukar cincin. Namun kedua keluarga sudah menganggap keduanya kini resmi bertunangan.
"Apa kamu goyah, Sya?" Tanya pria itu. Tatapannya tidak menuduh, tidak juga mengandung amarah. Namun Syaquilla tahu ada rasa sedih di wajah pria itu.
"Mas tahu. Maaf." Ucap pria itu lagi. "Mas hanya merasa..." Pria itu menggantung ucapannya. "Sudahlah. Maafkan Mas. Bagaimana keadaan Cafe?" Natta mengalihkan pembicaraannya.
"Alhamdulillah. Minggu depan sudah siap opening lagi. Nanti Qilla kasih tahu jadwalnya. Qilla harap Mas bisa datang."
"Mas usahakan datang. Mas gak mau ketinggalan hari bersejarah kamu." Ucap pria itu dan mengusap kepala Syaquilla dengan sayang. "Bagaimana kondisi kamu? Masih pusing?"
"Beberapa hari belakangan ini, udah enggak." Jawabnya jujur. Meskipun ia sempat drop, tapi memang belakangan ini kondisinya baik-baik saja.
"Jangan abaikan kalau kamu merasa apa-apa. Ya?" Pintanya halus. Syaquilla mengangguk. Pria itu memberikan kecupan hangat di puncak kepala Syaquilla yang tertutup kerudung tepat sebelum lampu merah berganti hijau.
__ADS_1
'Ya Allah, kenapa tidak Engkau buka hatiku untuk pria sebaik dia? Karena sungguh, rasa ini nyaman saat bersamanya. Tapi aku sendiri tidak tahu apakah nyaman ini adalah bentuk dari cinta?' bisik Syaquilla dalam hati. Ia memandang pria di sampingnya yang masih fokus menyetir seraya sesekali menggenggam tangannya.
Seminggu sudah berlalu.
Hari ini Syaquilla sedang bersih-bersih bersama Carina, bersiap untuk membuka Cafe mereka. Para karyawan yang berjumlah tujuh orang itu sudah bersiap dengan tugas mereka masing-masing. "Bismillah ya La. Semoga dimulai acara pembukaan sampai selamanya, tidak ada masalah berarti di usaha kita." Ucap Carina saat mereka merasa pekerjaan mereka sudah cukup memuaskan.
Mereka kini tengah berdiri bersama ketujuh karyawan di area antara dapur dan meja kasir yang memang posisinya bersebelahan. Tidak seperti dalam ftv atau drama dimana ketika opening sebuah gerai ada acara gunting pita dan lain-lainnya. Mereka cukup berdiri bersama secara berputar, berdoa dengan ucapan keras dari masing-masing orang dan diamini oleh yang lainnya.
"Semoga cafe kami laris."
"Semoga tidak ada masalah lagi dengan cafe kami."
"Semoga Mbak Qilla dan Mbak Carina menaikkan THR kami."
"Semoga saya dapat jodoh pelanggan yang kaya seperti di FTV-FTV gitu."
Dan doa lainnya yang saling di amini meskipun diselingi dengan sedikit senyum dan tawa. Lalu setelahnya mereka menyatukan tangan mereka dan bersorak lalu bertepuk tangan.
______________________________________________
***Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih
TBC***
__ADS_1