To Make You Mine

To Make You Mine
26. Oma (1)


__ADS_3

Tamagoyaki-Telur dadar gulung. Beef teriyaki. Sup Miso. Syaquilla sedang mengolah bahan dan bumbu untuk membuat tiga menu yang diinginkan ibunya. Bersamaan dengan Carina yang masuk dengan sebuah nota pesanan di tangannya.


Mereka memasak makanan yang sebagian besar bahan utamanya sudah tersedia. Sehingga tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan dan menyajikannya. Carina meletakkan sebagian masakan yang sudah matang ke atas nampan dan membawanya keluar dapur. Tak lama kemudian dia kembali muncul dan kembali meletakkan makanan di atas nampan. Kali ini Syaquilla turut mengikutinya dengan senampan yang berisi makanan di tangannya.


Ia sempat tertegun saat melihat sosok yang ada di meja bersama keluarganya. Syaquilla menelan ludahnya, mencoba menetralisir detak jantungnya sebelum akhirnya meneruskan langkahnya. "Pesanan Mama!" Syaquilla mendengar ibu sambungnya bertepuk tangan dan memekik senang saat Syaquilla meletakkan masakan yang masih mengepul itu di hadapan mamanya.


"Habisin ya, Ma. Jangan sampai sisa." Perintah Syaquilla halus. Tanpa diminta ibunya itu mengangguk antusias dan mulai meraih sendok.


Caliana menyeruput sup nya dan menggumam senang. "Mmm... Enaknya." Caliana kembali menyeruput sup nya. Ilker memandang ibunya dan hendak menggunakan sendoknya untuk mencoba sup yang ada di hadapannya, namun Caliana lebih cepat mendentingkan sendoknya ke sendok Ilker. "No, sayang. Ini khusus buat Mama. Jangan minta." Perintahnya. Ilker cemberut memandang Mamanya. Syaquilla, Carina dan Adskhan tertawa serempak. Gilang hanya terpaku memandang Syaquilla.


"Mama, icip dikiiiitttt aja." Pinta Ilker dengan wajah memelas lucu.


"No, Sayang. Minta aja sama kakak kamu kalau kamu mau." Jawab Caliana dan lagi-lagi menyeruput sup nya dengan gaya menggoda Ilker.


"Mama ih, Mama gak sayang Ilker." Ilker lagi-lagi cemberut. "Awas aja ya, nanti kalo Ilker punya makanan enak gak akan Ilker bagi." Ia kemudian menyuapkan tempura besar ke dalam mulutnya.


"Ilker, minta kakak buatin aja." Saran Papa nya dengan halus.

__ADS_1


"Ilker gak mau yang baru, Papa. Ilker maunya icip punya mama." Jawab adiknya kekeuh. Pemandangan ini memang biasa mereka lihat. Entah kenapa, Ilker selalu saja ingin mencoba makanan yang sedang ibunya makan, dan selalu menolak jika disarankan untuk pesan makanan yang sama. Dan anehnya, Caliana juga selalu menolak untuk memberikan makanannya kecuali Ilker melakukan hal-hal terlebih dahulu untuknya.


"Mau?" Tanya Caliana. Ilker mengangguk. "Cium Mama dulu dong." Caliana mengetukkan jari telunjuknya ke pipi kanannya. Ilker sudah berhenti mencium ibunya sejak dia masuk sekolah dasar. Alasannya karena ia sudah besar dan merasa tak boleh mencium-cium ibunya lagi.


"Mama ihhh..." Rengeknya.


"Cium Mama, kalo nggak ya jangan mau." Caliana kembali menyeruput sup nya dengan mata melirik pada Ilker. Ilker mengalah. Ia akhirnya bangkit dari duduknya dan mencium pipi ibunya dengan cepat. "Apaan itu? Kok gak ada rasanya." Caliana memandang Ilker. Ilker cemberut. Jari-jari nya yang gemuk memegang rahang Caliana dan bibir merahnya mencium pipi kanan ibunya dalam.


"Udah." Ucapnya sinis.


Sementara Faiqa seolah tidak menyadari perang antara ibu dan kakak laki-lakinya. Ia anteng saja dengan makanannya. Setelah asyik menonton drama ibu dan anak itu, mereka kembali melanjutkan makanannya.


Beberapa jam kemudian.


Syaquilla sedang duduk diam di balkon kamar rumahnya. Rumah pribadinya, bukan rumah orangtuanya. Setelah makan bersama di Cafe, tadi ia akhirnya memutuskan untuk pulang dan Carina bersedia mengantarkannya. Mengingat rumah Syaquilla berada di daerah yang jauh dari pusat kota dan berada di dataran tinggi, Carina takut jika Syaquilla memutuskan untuk pergi diantar taksi online.


"Kalo orang selewat lihat kamu kayak gini, duduk sendirian di bawah pohon rindang. Kok jadi serem sendiri ya bayangin nya." Komentar Carina yang masuk ke dalam kamarnya dengan membawa dua gelas mug berisi coklat panas. Syaquilla tersenyum ke arahnya. Mengerti alasan kenapa sahabatnya itu berkomentar demikian. Karena saat ini ia sedang mengenakan baju tidur berwarna putih dengan rambut panjang hitamnya yang ia biarkan tergerai mencapai atas pinggangnya.

__ADS_1


Ini rumahnya, Syaquilla merasa leluasa memakai pakaian apapun. Ia mengenakan baju tidur selutut berlengan pendek dengan bagian leher berbentuk persegi dan sedikit menunjukkan leher jenjangnya. Rambutnya yang baru saja dikeramas ia biarkan kering alami. Kulitnya terlihat putih bersih dan sehat.


Carina meletakkan mug milik Syaquilla  di atas meja rotan berbentuk bundar yang lapisan atasnya dipasangi kaca bening. Carina memilih duduk di atas ayunan berbentuk telur yang terbuat dari bahan rotan yang sama berwarna putih beralaskan bantal empuk persegi berwarna merah. Tempat favoritnya di kamar Syaquilla. Sementara Syaquilla duduk di atas kursi panjang, juga terbuat dari rotan yang di cat putih dengan bantalan empuk yang dibuat memenuhi alas dan punggungnya. Syaquilla duduk dengan memeluk lututnya. Dan membiarkan lututnya masuk ke dalam gaun tidur yang dikenakannya.


"Kalo aja dulu aku tahu jadinya bakal kayak gini, kayaknya aku bakal nawar supaya tanah ini dibagi dua, Na. Kita bisa tetanggaan." Ucapnya menyeruput minumannya. Mereka sama-sama memandang hamparan pemukiman kota yang ada di kejauhan. Kerlap-kerlip lampu tampak seperti pijaran bintang di mata mereka. Hanya sesekali suara bising kendaraan yang lewat di sekitar tempat tinggal Syaquilla. Bahkan jarak antara rumah Syaquilla dengan rumah tetangga hampir tiga puluh meter jauhnya.


"Kamu gak bakal cocok tinggal di tempat kayak gini, Rin." Jawab Syaquilla. "Jauh ke kota. Kurang fleksibel. Kalo Mama bilang, daerah ini cocoknya buat pensiunan." Syaquilla meraih mug nya dan menghirup wangi coklat yang disukainya.


"Itan bener juga. Tapi ya kalo dipake sekali-kali enak juga. Nyaman, adem, gak ada yang gangguin gitu." Lagi-lagi Carina menjawab. Carina mendesah tiba-tiba. "Aku lihat cara dia natap kamu, La." Ucapan Carina membuat Syaquilla memegang mug nya erat. "Kamu yakin mau menyerah?" Syaquilla menoleh pada Carina. Ia menarik gaun tidurnya ke atas, menunjukkan betis dan paha kirinya pada Carina. Carina mengerti maksud sahabatnya. "Dia dokter. Dia akan mengerti keadaan kamu. Kalian bisa berjuang bersama. Terlebih apa yang terjadi sama kamu, itu karena kamu ingin bersama dia." Carina memandang sahabatnya dengan tatapan sendu. Ia tahu bahwa ini pembahasan yang dihindari Syaquilla. Tapi ia juga ingin sahabat dan pamannya itu berjuang bersama.


______________________________________________


Hai-Hai Readers...


Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih


TBC

__ADS_1


__ADS_2