To Make You Mine

To Make You Mine
12. Bagaimana Jika (2)


__ADS_3

Sejujurnya, alasan ia sering menghubungi keluarga adik kembarnya adalah Syaquilla. Ia ingin melihat wajah gadis itu setiap kali melakukan video call dengan keluarga adiknya. Atau setidaknya mendengar suaranya. Namun harapannya tidak pernah terkabul. Karena entah bagaimana radar gadis itu sepertinya begitu kuat. Karena selalunya gadis itu tidak ada atau berpura-pura tidak ada setiap kali Gilang menghubungi Caliana.


Tidak hanya itu. Setiap ada perayaan di keluarganya dimana setiap keluarganya wajib berkumpul. Dan Gilang mencoba menghubungi keluarganya, Gadis itu pun tidak pernah muncul dalam layar. Selalu ada alasan yang dibuatnya. Entah itu sibuk yang sebenarnya ataupun sibuk yang dibuat-buat.


Dan ketika Gilang memilih untuk menghabiskan masa liburannya dengan kembali ke Indonesia. Gadis itu juga tak pernah muncul setiap kali dia berada.


Lima tahun. Butuh waktu lima tahun bagi Gilang sampai akhirnya dia melihat gadis itu dan itupun di apartemennya sendiri. Secara tak sengaja.


Miris.


Sungguh sebuah keajaiban. Ketika Gilang mengejar tempat yang dikiranya akan ada Syaquilla, gadis itu tak ada disana. Tapi tiba-tiba ia bisa melihatnya di tempat yang Gilang pikir tidak akan pernah dikunjungi gadis itu.


Gilang kesal. Sangat kesal.


Memang ia yang mulanya memilih menjauhi gadis itu demi menghilangkan rasa yang ia pikir tak pantas dimilikinya. Tapi sekarang, kenapa saat gadis itu memilih menghindar darinya ia yang malah berbalik tak suka? Ia marah. Tapi ia bingung harus marah pada siapa?


Ialah yang sejak awal memutuskan untuk menghentikkan kegilaan ini. Siapa yang tidak tahu kalau Syaquilla menyukainya. Dari tatapan matanya, caranya memberikan perhatian pada Gilang. Gilang tahu gadis itu menyukainya. Hanya saja Gilang selalu menolaknya. Demi Tuhan. Syaquilla adalah sahabat baik keponakannya, Carina. Dan dia juga kini telah menjadi putri sambung adik kembarnya, Caliana. Gadis itu kini menjadi keponakan sambungnya.


Gilang sudah melihatnya tumbuh sejak gadis itu masih mengenakan seragam putih biru. Apa pantas baginya memiliki perasaan lain? Bisa-bisa ia malah dituduh sebagai seorang pedofil.


Dan ketika ia mendengar dari Carina kalau Syaquilla memiliki kekasih. Gilang benar-benar terkejut. Dadanya serasa digenggam oleh sesuatu lalu ditarik sebegitu kencangnya. Padahal seharusnya dia berbahagia, bukan?


Setidaknya ia tahu bahwa perasaan gadis itu sudah tidak ada lagi untuknya. Tapi kenapa ia malah merasa tak rela?


Gilang menoleh ke arah gadis cantik yang mengenakan kerudung biru di sampingnya. Syaquilla. Harus bagaimana uncle mu ini bersikap?


"Uncle mau meneruskan pemeriksaan sekarang?" Pertanyaan Syaquilla membuyarkan pikirannya. Mau tak mau Gilang menegakkan tubuhnya. Mengikuti gadis berkerudung itu menuju ke tempat pemeriksaan dan melanjutkan kegiatannya.


Tepat pukul tiga sore, mereka memutuskan kalau pemeriksaan dihentikan. Masih ada sepertiga anak penghuni panti yang belum Gilang periksa. Namun karena efisiensi, mereka memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan esok hari.

__ADS_1


Syaquilla masih membereskan semua file yang dia pelajari yang dia dapat dari bu Teti. Rencananya memang yayasan akan menambah beberapa ruangan baru dan akan dilaksanakan beberapa waktu ke depan. Dan tepat sekitar pukul empat, Syaquilla baru hendak meninggalkan yayasan. Namun ketika pergi menuju pelataran parkir, dia tidak menemukan supir maupun mobilnya disana. Tapi justru Gilang lah yang sedang duduk di dalam mobil dengan sebuah buku di hadapannya.


Melihat kehadiran Syaquilla, Gilang membuka jendela mobilnya. "Uncle meminta Pak Iwan untuk pulang." Ucapan pamannya itu menjawab pertanyaan bisunya.


"Tapi kenapa?" Tanya Syaquilla bingung.


"Apanya yang kenapa? Kamu mau pergi ke rumah Oma kan? Jadi kenapa tidak sekalian saja dengan uncle?" Saran pamannya itu.


"Tapi, Qilla.." Syaquilla menatap pakaiannya. Itu hanya salah satu alasan yang dia punya untuk menolak pergi bersama Gilang dan pergi ke rumah Oma nya di waktu menjelang akhir acara. Tadinya demikian, namun sekarang? Syaquilla sendiri tidak memiliki alasan lain saat ini.


"Uncle bisa mengantarmu pulang ke rumah untuk berganti pakaian lalu menuju rumah Oma. Atau alternatif lainnya, uncle antar kamu ke butik kenalanmu-karena uncle baru disini jadi uncle tidak tahu harus kemana-membeli baju di sana lalu langsung ke rumah Oma."


Syaquilla bingung sendiri. Apapun pilihan yang di ambilnya, semuanya berujung dengan berduaan bersama Gilang di dalam mobil. "Mungkin butik saja." Jawabnya pasrah. Gilang mengangguk.


Mereka membisu selama perjalanan. Baik Syaquilla maupun Gilang tak banyak bicara. Keduanya bingung harus membicarakan apa atau bertanya tentang apa. Syaquilla bicara hanya ketika ia menunjukkan jalan ke tempat yang hendak mereka tuju.


Syaquilla telah mendapatkan satu buah gaun sederhana berwarna toska muda bersalur pink yang memiliki kerudung dengan bahan senada. Saat melakukan transaksi pembayaran, Gilang mencegahnya, mengeluarkan kartu debitnya sendiri dan membayar pakaiannya.


Ketika transaksi selesai, pria itu juga mengulurkan tiga buah paper bag berlogo butik yang sma pada Syaquilla. "Hadiah ulang tahun uncle." Ucapnya menjawab kebingungan Syaquilla.


"Tapi Qilla kan gak ulang tahun, uncle?" Tanya Syaquilla bingung.


"Anggap saja hadiah-hadiah yang sudah uncle lewatkan sebelumnya." Jawabnya dengan datar. "Ambil saja, mumpung uncle lagi baik." Pria itu kemudian meninggalkan Syaquilla yang masih dalam keadaan tercenung tanpa kata.


Syaquilla mengikuti langkah pria itu kemudian. "Uncle, ini kebanyakan." Jawab Syaquilla lagi. Dia memang tidak melihat satu persatu pakaian yang dipilih pamannya itu. Tapi dia tahu ada lebih dari satu pakaian di dalam masing-masing paper bag itu.


"Ya, uncle kan sudah melewatkan beberapa kali ulang tahun kamu. Ditambah ucapan selamat karena masuk UGM, udah gitu hadiah kelulusan kamu. Yah, anggap aja begitu lah." Lagi-lagi Gilang menjawab dengan nada santainya.


"Bukannya seharusnya Qilla yang ngasih uncle hadiah." Jawab Syaquilla. Langkah Gilang terhenti.

__ADS_1


"Hadiah? Buat uncle?"


"Ya, kan yang baru saja kembali itu uncle. Yang jadi bintang hari ini juga uncle." Jawab Syaquilla saat Gilang kembali melanjutkan langkahnya.


"Nanti uncle tampung dulu. Biar kamu ngasih uncle hadianya sekalian kayak uncle barusan."


"Tapi kan Qilla gak sekaya uncle. Kenapa ga sekarang aja?" Tawar Syaquilla. Namun Gilang menggeleng.


Mereka sudah kembali ke pelataran parkir. Gilang membantu Syaquilla memasukkan paper bag ke bagian belakang mobil. Lalu kemudian mobil melaju ke kediaman orangtua Gilang.


Ibu Gilang seringkali merecoki Gilang tentang masalah jodoh. Mengingat usia Gilang yang sekarang menginjak tiga puluh lima, dan adik kembarnya yang sudah akan melahirkan anak ke tiga nya, ibunya semakin gencar berusaha menjodohkan Gilang dengan putri teman-temannya. Dan Gilang tahu, hal itupun akan terjadi hari ini. Jadi sebenarnya ia juga enggan untuk datang ke acara yang ibunya sendiri adakan.


Gilang melirik Syaquilla. Bagaimana jika... Dengan cepat Gilang menggelengkan kepalanya. Apa kata orang nanti jika Gilang mengatakan kalau dia menginginkan keponakannya sendiri untuk jadi istrinya? Tentunya semua orang akan mencecarnya. Syaquilla dua belas tahun lebih muda darinya. Sebuah angka yang signifikan tentunya. Terlebih status gadis itu adalah putri sambung dari adik kembarnya. Sekalipun ia tidak memedulikan anggapan orang, tapi bagaimana dengan keluarganya.


Ibunya menyayangi Syaquilla sudah seperti beliau menyayangi Carina, cucu dari putra sulungnya. Tapi akankah beliau akan dengan legowo menerima ide Gilang? Lantas bagaimana dengan Adskhan, ayah dari Syaquilla. Apakah pria itu akan bersedia memiliki menantu yang usianya lebih cocok menjadi paman gadis itu?


Gilang dilema. Tapi ia tidak bisa memungkiri perasaannya.


Sementara Syaquilla. Apakah gadis itu masih menyimpan rasa yang sama untuknya? Bagaimana dengan pria bernama Natta itu? Gilang tidak ingin mengganggu hubungan mereka jika saja hubungan keduanya memang sudah sedemikian serius.


Mereka sudah sampai di rumah keluarga Gilang. Gilang memilih untuk tidak memasukkan mobilnya ke dalam rumah. Sengaja supaya ia bisa lebih mudah pergi jika memang dia ingin. Beberapa mobil tampak sudah terparkir rapi di halaman rumah dan bagian luar rumah. Ada mobil yang Gilang kenali disana. Dahinya berkerut, apakah Gilang mengundangnya ke acara ini? Karena setahu Gilang, ia bahkan tidak pernah mengontaknya.


______________________________________________


***Hai-hai Readers,, terimakasih sudah berkunjung...


Jangan lupa klik ❤️ untuk memasukkan cerita ini ke rak buku/library kalian ya... vota dan klik 👍 juga jika kalian suka cerita ini... dan komentar kalian sangat Mimin tunggu 🤗🤗


TBC***....

__ADS_1


__ADS_2