To Make You Mine

To Make You Mine
8. Hanya Saja... (2)


__ADS_3

Meskipun ia sudah berusaha menahan diri untuk tidak membuka akun media sosial pria itu, tetap saja ia tidak bisa menahan diri.


Jemarinya selalu mengusap layar pipih miliknya sampai berjam-jam. Tidak sampai disitu, penderitaannya bertambah setiap kali ia berkunjung ke rumah neneknya. Tak pelak lagi pembicaraan tentang pria pujaannya selalu menjadi topik yang sepertinya menyenangkan untuk dibahas.


Tentang kabarnya, tentang rencana masa depannya, tentang siapa jodohnya kelak. Hal yang sebenarnya menyakitkan untuk Syaquilla dengar. Karena dalam diam, dia berharap bahwa dialah orang yang ada dalam setiap cerita itu. Tapi ia tahu, itu tak mungkin.


Terus menghindar pun Syaquilla tidak mungkin. Tapi terus berada di sana dan mendengarkan pembicaraan mereka pun Syaquilla tak sanggup.


Syaquilla beruntung memiliki sosok Carina di sampingnya. Sahabat yang kini menjadi sepupunya itu selalu mengerti akan deritanya.


Ia satu-satunya dalam keluarga yang mengetahui tentang kisahnya. Tentang isi hatinya. Sahabatnya itu selalu membantunya mengalihkan pembicaraan para orang tua. Dan kalau hal itu tidak berhasil. Carina selalu mengajaknya menyingkir dari sana.


Jika saja Carina itu laki-laki. Syaquilla yakin dia akan jatuh cinta padanya.


Carina dan kepekaannya. Persahabatan yang terjalin tanpa sengaja yang membuat Syaquilla mendapatkan keberuntungan tak terkira. Carina lah yang dengan baik hati bersedia membantunya menyatukan ayahnya dengan Caliana, sang tante.


Suara ketukan di pintu diiringi suara ibunya menyadarkan lamunannga "Kak, udah mau magrib. Udahan dulu kerjanya." Pucuk dicinta ulam pun tiba. Panjang umur sekali Mama tirinya itu. Baru saja dipikirkan sudah memanggilnya begitu saja.


"Iya, Ma. Kakak simpen dulu kerjaannya." Seru Syaquilla. Ia benar-benar menyimpan file yang sedang dikerjakannya. Gambar yang hanya bertambah tak sampai sepuluh persen karena ia terlalu sibuk melamun sepanjang sore.


Syaquilla keluar dari kamarnya. Di ruang tengah ada Papa nya, adik-adiknya dan juga pria pujaannya sedang menonton sambil sesekali berbincang. Syaquilla berjalan mendekat ke arah papanya dan mencium punggung tangannya, kemudian sisi kepalanya. Seperti kebiasaannya.


"Gimana urusan Kakak? Udah beres semua?"

__ADS_1


"Lima puluh persen, Pa. Ahamdulillah." Jawabnya.


"Alhamdulillah." Jawab Papanya.


"Qilla mandi dulu ya Pa." Pamit Syaquilla, sekalipun ia berusaha tak melirik Gilang. Adskhan mengangguk. Syaquilla beranjak naik ke lantai dua tempat kamarnya berada.


Setibanya di kamar, bukannya menuju kamar mandi. Syaquilla malah terduduk di atas tempat tidur. Mengusap dadanya dan menarik napas perlahan. Ya ampun, hanya sekilas melirik dari sudut mata saja jantungnya berdebar sedemikian rupa. Bagaimana dengan makan malam nanti? Syaquilla tidak mungkin terus menerus menghindari pamannya itu, bukan?


Syaquilla kembali menarik napas panjang. 'Apa yang terjadi, terjadilah'. Lirihnya lalu bergegas.


Selesai dengan kewajibannya Syaquilla turun dan melihat ayah, paman dan kedua adiknya sudah kembali dengan tayangan tv setelah melaksanakan kewajiban mereka. Syaquilla berjalan menuju dapur. "Mama, biar Qilla aja. Mama mending duduk aja. Kasihan nanti debay kecapekan." Syaquilla meraih makanan yang ada di tangan ibunya dan meminta ibunya untuk duduk di meja makan.


"Gak apa-apa, Kak. Mama itu cuma hamil, bukan sakit." Tolak ibunya. Syaquilla hanya mengangguk. Ia sendiri merasa takut akan kondisi ibunya. Bukankah melahirkan di usia tiga puluh lima sekarang termasuk usia rentan?


Ya, karena Caliana yang suka masak. Otomatis kegemaran itu menular padanya. Bahkan Carina. Dan sekarang sepupunya, putri uncle Lucas yang baru berusia sembilan tahun pun sudah gemar sekali memasak.


Mereka sudah mengelilingi meja makan persegi panjang itu. Ayahnya duduk di ujung meja, di samping kanannya ada Caliana, istrinya. Di samping Caliana ada Syaquilla. Sementara di sisi kiri ayahnya ads Gilang, lalu Ilker dan Faiqa adik bungsu yang sebentar lagi statusnya akan digantikan si jabang bayi.


"Abang rencananya jadi pindah kesini?" Tanya Caliana memandang kakak kembarnya. Syaquilla bisa melihat dari sudut mata ketika Gilang mengangguk. "Rumah Sakit mana?" Gilang menyebutkan salah satu nama rumah sakit yang terkenal di kotanya. "Wah, deketan sama Cafe nya Qilla donk. Sering-sering ajakin temennya nanti ke cafenya Qilla. Promosiin sama temen-temen abang." Gilang lagi-lagi mengangguk.


Sepanjang makan malam Syaquilla hanya diam. Hanya sesekali berkomentar jika ia ditanya. Kedua orangtuanya faham akan karakternya. Jika Syaquilla sedang demikian berarti dia sedang ada pikiran. Jadi mereka tidak memaksa Syaquilla untuk terlibat dalam obrolan. Takutnya otak Syaquilla kelebihan beban. Karena kondisi Syaquilla saat ini tidak sama seperti kondisi saat remaja nya dulu.


Semua orang mengira Syaquilla sedang sibuk memikirkan cafe nya. Padahal faktanya, dia sedang menghindar supaya tidak bertatap mata dengan pamannya.

__ADS_1


Setelah selesai mencuci piring, Syaquilla pamitan untuk kembali ke kamarnya. Lagi-lagi menjadikan pekerjaan sebagai alasannya. Kedua orangtuanya tidak keberatan dan mengijinkannya saja. Syaquilla menarik napas panjang, bersyukur akan pengertian keduanya.


Seperginya Syaquilla, Gilang memandang adiknya dengan tatapan heran. "Apa Qilla baik-baik aja? Kayaknya dia kerjanya terlalu keras."


Caliana hanya tersenyum sedih. Bukannya ia tidak peka dan tidak tahu perasaan putri sambungnya itu. Hanya saja, ia berusaha menutupinya sebisa mungkin. Jika Syaquilla memang ingin merahasiakannya, maka itu tetap menjadi rahasia.


"Qilla baik-baik aja, Bang. Dia memang lagi ada kerjaan. Abang tahu kan kalau dia baru aja dapet musibah." Gilang mengangguk. Carina memang mengatakan itu di apartemen tempo lalu. "Dia juga lagi ngurusin kuliahnya. Dia pengen cepet-cepet beres supaya bisa segera kerja di kantor." Lanjut Caliana lagi. Gilang hanya menganggukkan kepalanya.


"Abang juga denger dia dijodohin?"


Caliana terkejut dengan ucapan kakaknya. Ia menoleh pada sang suami, meminta bantuan. "Gak dijodohin, Bang. Cuma ya iseng-iseng berkenalan aja. Qilla nolak pacaran. Jadi kami pikir mungkin cara ini lebih baik buat dia."


"Padahal Qilla masih muda. Gak usah diburu-buru juga." Komentar Gilang lagi. Padahal memang sejak mengetahui Syaquilla dekat dengan pria lain, Gilang merasa ada rasa tak nyaman di hatinya.


"Gak diburu-buru sih. Tapi Qilla pernah ngomong sama Ana kalo dia mau nikah muda." Jawab Caliana mewakili. "Lagian Natta juga orangnya baik. Sopan pula. Iya kan, Mas?" Caliana memandang suaminya. Adskhan mengangguk. "Abang sendiri? Udah tua masih sendiri aja? Gak niat punya anak kayak aku?"


Gilang meringis. Bukannya ia tidak mau menikah ataupun punya anak. Hanya saja... "Belum ada jodohnya." Jawabnya singkat.


"Makanya, jangan terus-terusan kumpul kebo sama buku." Jawab Caliana lagi.


"Sayang, bahasanya dong." Tegur Adskhan melirik ke arah Ilker dan Faiqa yang juga ada disana. Meskipun keduanya masih anteng dengan mainan mereka masing-masing.


"Maaf.." bisik Caliana dengan cengirannya.

__ADS_1


__ADS_2