To Make You Mine

To Make You Mine
16. Dokter Zemira, Dokter Natta (2)


__ADS_3

Gilang mendorong pintu depan dengan pinggulnya dan berjalan masuk. Suara televisi di ruang keluarga masih terdengar, menandakan pemilik rumah masih terjaga. "Lho, Bang. Qilla tidur?" Sapaan Caliana menyambutnya. Adiknya itu menatap Gilang dengan semangkuk makanan di tangannya. Fakta bahwa adiknya semakin rakus ketika hamil selalu membuat Gilang geleng-geleng kepala.


Gilang berjalan menuju tangga. Ia tahu dimana letak kamar gadis itu meskipun tidak pernah memasukinya. Caliana mengikutinya, membantunya membukakan pintu kamar Syaquilla dan membuka selimut pelapis tempat tidur. Gilang menidurkannya dengan pelan lalu mundur dan keluar ketika Caliana merapikan selimut putrinya dan membantu putrinya melepas kerudung.


Gilang turun dan kembali ke mobil, membawa barang belanjaan Syaquilla dan meletakkannya di atas sofa. "Loh, kamu nganterin Qilla, bang?" Gilang mendelik pada adik iparnya yang lima belas tahun lebih tua darinya itu. Entah kenapa sampai saat ini, setiap kali Adskhan memanggilnya dengan panggilan 'Abang', ia merasa adik iparnya itu sedang mengejeknya.


"Iya, kalian pulang duluan kok gak bilang-bilang, gak khawatir apa kalo Qilla naik taksi malem-malem tapi malah diapa-apain sama supirnya." Tegur Gilang, lebih seperti ia yang seorang ayah, bukannya Adskhan.


"Abang ih, kalo ngomong kok asal." Caliana yang sudah kembali dari lantai atas balik menegur kakak kembarnya.


"Iya abang kesel aja. Jadi mikirnya yang buruk-buruk. Kejahatan sekarang ini kan mudah dilakuin selama ada celah." Gilang mendesah.


"Iya, Ana minta maaf. Tadi Ana yang minta pulang. Ana pikir karena ada Carina, Qilla mau nginep." Jawab Caliana, wajahnya jelas menunjukkan rasa bersalah. Gilang mengacak rambut adiknya seperti kebiasaannya.


"Abang pulang dulu." Gilang mengusap perut adiknya sejenak. "Uncle pulang ya sayang, salam sama kakak-kakakmu ya." Lalu Gilang mengecup sisi kepala Caliana dan beranjak pulang.


*****


Gilang sudah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir panti. Ia mencari mobil yang dikenalnya, namun tidak ditemukannya. Apa gadis itu menghindar? Lagi? Tanyanya dalam hati. Menghindar adalah kebiasaan Syaquilla belakangan ini, Gilang akhirnya menyadari kebiasaan keponakannya itu.


Bukan tanpa alasan. Awalnya ia merasa kecurigaannya tak beralasan. Namun kemarin, semuanya tampak jelas. Syaquilla menolak satu mobil bersamanya, menolak berada satu ruangan bersamanya. Dan Gilang yakin, jika tadi ia menjemput gadis itu di rumahnya, gadis itu juga akan menolak tawarannya berangkat bersama dengan berbagai alasan.


Gilang mengetukkan jarinya di atas roda kemudi. Ia merasa serba salah. Ada yang salah disini, terlebih tentang hatinya. Ia merasa tak rela jika gadis itu menghindarinya, tapi ia sendiri jelas berusaha menghindari gadis itu bukan?


Sepuluh menit bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Gilang memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan menuju ruang Bu Teti. Ia akan bertanya pada pengurus panti alasan apa yang dikatakan Syaquilla pagi ini atas ketidak hadirannya.

__ADS_1


Namun Gilang terkejut. Sesaat setelah ia membuka pintu ia melihat sosok yang dicarinya sedang duduk di atas sofa, sedang berbincang serius bersama Bu Teti dan seorang pria. "Oh, Dokter Gilang. Baru sampai?" Sapa Bu Teti ramah. Gilang meletakkan tas dokternya di atas sofa yang kosong dan berjalan mendekat. "Kenalkan, ini Dokter Natta." Bu Teti memperkenalkan.


Pria bertubuh jangkung, berwajah manis itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. "Saya Natta. Saya dengar Anda pamannya Syaquilla?"


"Gilang." Gilang membalas uluran tangan pria itu. "Ya, secara kebetulan saya memang pamannya Qilla." Jawabnya berusaha tersenyum ramah.


"Karena ada dua dokter disini, jadi akan lebih mempersingkat acara pemeriksaan." Bu Teti bangkit dari duduknya dan memandang Gilang dan Natta secara bergantian. "Para Dokter sudah siap?" Keduanya hanya mengangguk sebagai jawaban. "Dokter Natta ini memang sesekali datang dan membantu juga disini, Dokter Gilang." Bu Teti memberitahukan. Mereka dalam perjalanan menuju ruang kesehatan yang kemarin digunakan untuk memeriksa anak-anak. "Dokter Natta ini mengambil spesialis saraf, kalau dokter sendiri?" Bu Teti yang mengiringi langkah Gilang mendongak memandangnya. Sementara tatapan Gilang masih tertuju pada dua orang di depannya


"Saya mengambil spesialis penyakit dalam, Bu." Jawab Gilang dengan nada datar.


"Saya merasa bangga sendiri karena bisa mengenal orang-orang hebat seperti kalian. Dokter Natta, Dokter Gilang, Syaquilla, keluarga Levent. Saya benar-benar merasa Allah memberkati saya." Gilang tidak menjawab. Dia hanya memberikan senyumannya.


Makan siang mereka kembali berkumpul di aula. Mau tidak mau Gilang sendiri merasa ada rasa tak nyaman di dadanya melihat kedekatan Natta dan Syaquilla. Meskipun dia tahu bahwa hal tersebut tidak harusnya ada.


Mengingat ucapan Carina tempo lalu bahwa Syaquilla dan Natta dijodohkan, Gilang pikir dia harus pasang badan dan bicara pada adiknya mengenai hal itu. Namun melihat mereka sekarang, Gilang pikir bahwa ajang perjodohan itu berubah menjadi ajang saling menyukai. Bahkan Natta ataupun Syaquilla tidak bersikap canggung dan tampak saling mengagumi satu sama lain.


Gilang baru saja kembali ke apartemennya. Ia meletakkan jaketnya di atas kursi bar. Berjalan menuju pantry dan meraih minuman dingin dari dalam lemari es. Sesuai dengan perkiraan Bu Teti, bahwa dengan keberadaannya dan Natta, pekerjaan mereka untuk memeriksa anak-anak jadi lebih cepat selesai. Di satu sisi Gilang merasa bersyukur karena itu. Tapi satu poin untuk rasa syukurnya, dua poin lainnya membuatnya selalu mengumpat dalam hati. Poin pertama tentu saja berkaitan dengan Syaquilla yang selalu dekat dengan Natta, dan poin kedua karena ia tidak memiliki waktu lebih banyak untuk memperhatikan Syaquilla.


"Uncle baru pulang?" Suara Carina mengagetkannya. Untung saja air dalam mulutnya sudah sepenuhnya masuk ke dalam tenggorokan. Jika tidak, pilihannya antara menyembur gadis itu atau tersedak.


"Kamu ngagetin aja!" Serunya.


"Apanya yang ngagetin? Salah uncle sendiri malah melamun." Gerutu Carina dan malah dengan santainya menyenggol pamannya dan membuka lemari es.


"Kenapa belum pindah?" Tanya Gilang penasaran. Carina yang sedang mengambil bahan makanan tidak memedulikannya. "Carin?" Tanya pamannya lagi.

__ADS_1


Carina mendesah. Ia meletakkan makanan di atas meja. "Uncle kenapa harus buru-buru sih? Lagian kan Uncle juga jarang di apartemen. Carin udah beresin semua pekerjaan rumah, gak bikin barang rusak. Kenapa masih nyuruh Carin pindah?"


"Uncle butuh privasi." Jawab Gilang datar. Carina malah mengangkat sebelah alisnya dan memandang pamannya tidak percaya. "Kenapa?" Gilang memandang sepupunya dengan sikap menantang.


Carina menggelengkan kepala dan mulai mengiris bawang di hadapannya. "Carina gak percaya aja kalo Uncle berubah menjadi pria nakal." Jawabnya santai. "Ternyata tinggal di luar negeri benar-benar merubah orang ya." Dengusnya.


"Apa maksud kamu?" Gilang memandang keponakannya dengan bingung.


"Tadi Uncle bilang butuh privasi. Uncle mau bawa cewek ya kesini? Mau berbuat mesum?" Carina menancapkan ujung pisau ke atas talenan dan memandang pamannya dengan sinis.


"Ya Allah, Carin. Otak kamu itu." Pekik pamannya tajam. "Gimana bisa kamu berpikir kayak itu?" Tanyanya tak percaya.


Carina lagi-lagi mengedikkan bahu. "Trus privasi macam apa yang Uncle maksud? Toh Uncle juga cuma jadiin apartemen tempat tidur, sama kayak Carin. Jadi privasi apa yang Uncle maksud kalo bukan mau bawa cewek kesini trus macem-macem disini? Kalo cuma pulang kerja trus makan lanjut tidur, Carin kan gak ganggu privasi Uncle. Malah kita saling bantu. Kalo gak Uncle yang masakin Carin, Carin yang masakin Uncle. Uncle jagain Carin biar Carin gak bawa cowok kesini, Carin juga jagain Uncle supaya Uncle gak bebas bawa cewek. Win-win kan?"


"Memangnya kenapa kamu gak mau tinggal sama orang tua kamu? Kamu masih sering berantem sama Papa kamu?" Tanya Gilang lagi masih penasaran.


"Sampai saat ini Ayah masih gak setuju Carin jadi model. Belum lagi Oma maksa-maksa Carin cepetan nikah. Karena dulu Itan nikah di usia Carin. Carin risih." Gadis di hadapannya itu mulai memanaskan wajan dan menuang minyak ke atasnya.


"Ya kalo ada calonnya, kenapa gak disegerakan?" Tanya pamannya lagi.


Carina menoleh dan tersenyum miring pada pamannya. "Carina gak mau ngelangkahin Uncle. Takutnya nanti Uncle merana. Di keluarga Oma kan sisa Uncle yang masih bujang." Gadis itu lalu menuangkan bawang ke dalam wajan dan disambut suara desisan minyak. "Lagian Carina masih mau jadi bridesmaid. Terakhir jadi Bridesmaid pas nikahannya Itan, belum kenyang." Jawabnya sambil mengaduk masakannya yang menciptakan wangi menggiurkan. Gilang rasanya hendak meneteskan air liur seandainya kalimat Carina selanjutnya tidak terucap. "Jadi nunggu Syaquilla nikah, baru Carina nyusul." Dan satu kalimat itu membuat perut Gilang terasa mual seketika.


______________________________________________


***Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih

__ADS_1


TBC***


__ADS_2