
Hai, Aku Carina. Lengkapnya Carina Abigail. Sahabat sekaligus sepupu Syaquilla dan juga keponakan dari pria yang dicintainya. Gilang Hammam Putra
Aku bukan orang tersibuk sedunia. Dan aku juga bukan orang tersantai di dunia. Tapi jelas, aku adalah orang yang sibuk mengurusi kehidupan orang lain. Terlebih urusan percintaan orang lain. Dulu, sepuluh tahun lalu aku pernah berperan atas kisah cinta ayah Syaquilla dan tanteku. Dan kini, aku juga ingin berperan. Bukan ingin, tapi harus ambil peran dalam kisah cinta sahabat dan pamanku. Meskipun aku sendiri masih mencari cara untuk memuluskan niatku.
Aku baru kembali dari acara pemotretan. Jujur, meskipun aku ini seorang model dan sudah memiliki bayaran yang cukup fantastis. Aku belum memiliki rumah sendiri. Tidak seperti Syaquilla yang sudah memiliki rumah impiannya, aku lebih memilih menunggu suamiku nanti yang memberikanku rumah. Dan mengingat aku belum berencana menikah, dan pria yang kucintai pasti tak akan mendapatkan restu karena perbedaan agama. Jadi ya... Semakin jauh bayanganku tentang cerita happy ending.
Oke, skip masalah pernikahan. Balik lagi ke tempat tinggal. Aku tinggal di empat tempat sekaligus. Kalau bukan apartemen Uncle, aku tinggal di ruko Cafe, atau di rumah Syaquilla. Tapi satu-satunya rumah yang bisa kuakui sebagai rumahku yaitu tempat dimana ayah dan ibu serta nenek dan adikku berada. Ya, rumah ayahku yang juga bertetangga tak jauh dari rumah ayah Syaquilla.
Aku hendak memarkirkan mobilku. Namun saat kulihat ada sebuah mobil sedan terparkir di halaman samping, ku urungkan niatku dan memilih untuk meninggalkan mobilku di luar pagar tanpa menghalangi gerbang masuk rumah. Kalau bukan tamu ibuku yang bertandang, pasti tamu Oma. Karena aku tidak punya teman yang akan mengunjungiku. Dan rekan kerja ayahku tidak akan bertamu di siang hari seperti ini.
Aku memilih masuk lewat pintu garasi yang langsung mengarah ke dapur. Tidak ada siapa-siapa di dapur. Adikku belum pulang sekolah. Hanya ada asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makan siang disana. "Tamu siapa, Nin?" Tanyaku pada Nin Hindun. Asisten yang sudah bekerja disana sejak aku kecil. Usia Nin Hindun mungkin sama dengan Oma. Atau bahkan bisa lebih tua. Tapi karena selalu aktif bergerak, tubuh tua itu masih tampak segar bugar.
"Tamunya Oma, Neng." Jawab Nin Hindun dengan suara lirihnya. Biasanya aku tidak terlalu penasaran dengan tamu Oma. Namun entah kenapa, kali ini sepertinya aku ingin mengintip. Ada sebuah cermin oval besar yang sengaja di pasang ayahku di dinding ruang tamu. Jika para tamu mengira cermin itu dipasang disana supaya para tamu bisa bercermin, maka para tamu itu salah. Karena cermin itu ada di sana untuk mengawasi para tamu itu sendiri.
__ADS_1
Aku memandang pantulan cermin tersebut dan cukup terkejut ketika melihat seorang wanita seusia Oma dengan alis sulaman dan bibir merah cabai sedang berbicara serius menghadap Oma ku. Aku tahu siap wanita itu. Dia adalah saingan beratku. Maksudku, dia adalah pesaingku sebagai mak comblang. Aku memutuskan untuk duduk bersandar di samping lemari besar yang menjadi pemisah ruang tamu dan ruang keluarga, berniat untuk menguping. Andai saja aku punya 'telinga terjulur' nya si kembar Weasley. Itu lebih memudahkan. Ya, seandainya saja Harry Potter ada di dunia nyata. Sepertinya aku akan menyengajakan diri pergi ke Inggris, menuju peron 9 ³/⁴ dan pergi ke Hogwarts. Hahaha, ya. Aku salah satu pecinta novel dan film legendaris itu.
Oke, kembali ke masalah menguping. Aku mencoba menajamkan telingaku untuk kembali mendengarkan pembicaraan mereka. "Ya, sekarang lebih dimudahkan karena mereka sudah kerja di RS yang sama." Aku mendengar suara Nyonya Gincu yang terdengar bahagia. "Memang kalau jodoh gak lari kemana, iya kan. Jeng? Gilang sudah jauh-jauh pergi Jerman. Zemira udah pernah gagal di pernikahan. Eh sekarang mereka sama-sama bertemu lagi di kota ini dan bekerja di tempat yang sama." Lanjutnya lagi masih dengan suara yang sumringah.
Jujur, aku mendengus. Kesal? Jijik? Ya, itu yang aku rasakan saat ini. Wanita tua itu tanpa malu-malu menjajakkan anaknya. Pasti sebentar lagi dia akan menyebutkan satu persatu kecocokan lain diantara putrinya dan juga pamanku.
"Iya, Jeng. Saya juga sedang berusaha membujuk Gilang supaya mau dekat dengan Dokter Zemira." Aku mendengar suara Oma ku.
"Sebenarnya gak terlalu sulit juga, Jeng. Mereka kan pernah satu kampus bersama dulunya. Udah saling mengenal cukup lama. Ya setidaknya mereka cukup tahu satu sama lain. Jadi sepertinya tidak akan terlalu sulit untuk menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka." Lagi, si Nyonya Gincu berpendapat.
"Tapi ya, Jeng. Saya sedikit bingung sebenarnya. Apa Jeng yakin kalo Dokter Gilang benar-benar gak lagi dekat sama siapapun? Soalnya saya tuh udah nyoba ngajak Dokter Gilang makan sama-sama, tapi kok kesannya Dokter Gilang ngelak terus gitu." Aku mendengar si Nyonya Gincu mendesah sedih.
"Enggak, Jeng. Gilang sampai saat ini masih belum dekat sama siapapun. Sebaliknya. Saya mau tahu, apa mantan suaminya Dokter Zemira gak akan buat masalah kedepannya nanti?" Oma ku sepertinya sedikit ragu. Aku jadi ingin tahu alasan sebenarnya perceraian Zemira dengan mantan suaminya.
__ADS_1
"Gak mungkin lah, Jeng. Bapaknya si Gisel gak akan berani macam-macam lagi. Kalau dia macam-macam, akan kami polisikan. Kan Jeng sendiri tahu alasan Zemira cerai itu karena KDRT, dia juga gak memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Bahkan sekarang dia gak menuhin kewajiban dia sebagai bapak untuk menuhin tunjangan anak." Lagi-lagi si Nyonya Gincu mendesah. Aku kok merasa ragu.
"Gimana kalau begini saja, Jeng. Kita atur makan malam. Saya ajak Gilang, Jeng ajak Zemira. Nanti restorannya kita atur. Sesuaikan sama jadwal dinas anak-anak." Saran Oma nya. Terdengar tepukan tangan antusias. Tanpa melihat ke cermin pun aku yakin itu tepukan si Nyonya Gincu.
Whatever. Sepertinya sekarang aku harus menyusun rencana. Oke fix. Let's Gercep-Gerak Cepat. Aku memilih kembali keluar rumah melewati pintu saat masuk tadi dan berjalan menuju mobil. Aku memasang headsetku dan memanggil seseorang di ponsel. "Dimana?"
"...."
"Aku OTW. Kita lunch bareng." Aku menginjak pedal gas lebih dalam. Aku tidak ingin terhalang macet karena sebentar lagi jam makan siang.
______________________________________________
Hai-Hai Readers...
__ADS_1
Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih
TBC