To Make You Mine

To Make You Mine
23. Pura-Pura Lupa (2)


__ADS_3

"Assalamualaikum." Salamnya. Syaquilla langsung menuju ke dapur, tepat disana ada Mama nya yang sedang hamil trimester ketiga sedang berdiri dengan perut besarnya bersama Oma nya. Oma Nurma.


"Waalaikumsalam." Jawab kedua wanita itu bersamaan.


"Baru pulang, Sayang?" Sapa Mama nya. Syaquilla mengangguk. Ia menyodorkan tangannya meminta tangan sang Ibu lalu mencium punggung tangannya. Itupun ia lakukan pada wanita di hadapan Mama nya.


"Oma kapan datang?" Tanyanya ramah. Rumah Papanya dan rumah Oma nya sebenarnya tidak terlalu jauh. Cukup lima menit menggunakan mobil, mereka sudah sampai. Karena itu mereka sebut kalau mereka bertetangga. Namun karena Mama dan Papanya dulu sempat memilih tinggal di Jakarta, jadi cukup jarang Oma nya berkunjung ke rumah. Sementara saat ini, Mama dan Papanya memang sudah kembali tinggal di Bandung. Jadi neneknya itu sering datang berkunjung, dan itu menjadi aalah satu alasan kenapa Syaquilla lebih suka tinggal di rumahnya daripada di rumah papanya. Dia hanya ada disana jika Mama, Papa dan adik-adiknya ada di sana saja.


"Belum lama, Sayang. Kamu dari Cafe?" Tanya Omanya, Syaquilla mengangguk. "Sama Carina?" Syaquilla kembali mengangguk. "Anak itu. Pamannya mencak-mencak sama Oma supaya dia mau pindah ke rumah, jangan terus tinggal di apartemen. Tapi malah nolak."


"Memangnya kenapa kalau Carina tinggal di apartemen? Toh selama Abang gak disana, Apartemen kan dijagain sama Carina."


"Masalahnya Abang kamu risih. Katanya cewek sama cowok dewasa gak boleh tinggal serumah. Abang kamu ada benernya juga. Tapi dasar keponakan kamu aja yang bebal." Sungut omanya. Syaquilla hanya tersenyum. "Abangmu juga, udah pulang ke Indo sampe saat ini belum juga ngenalin calon istri sama Mama." Gerutu Oma nya. Syaquilla yang saat itu sedang minum tertegun.


"Ya mungkin emang belum ada calonnya, Ma." Jawab Caliana menenangkan.


"Mau tunggu sampai kapan? Mau nunggu sampe umur empat puluh? Anak kamu aja udah mau empat-terhitung Syaquilla sebagai anak sulung, karena ini merupakan kehamilan ketiga Caliana. Masa dia belum satu pun. Iya kalo nikah entar dia langsung punya anak. Lah kalo enggak? Kayak Mas kamu yang baru punya anak setelah lima tahun nikah. Keburu Mama yang dipanggil Tuhan, Na." Jawab Nurma masih dengan kesal.


"Ya, Mama kok gitu sih. Mama sendiri kan yang bilang sama Ana kalau urusan jodoh itu sudah ada yang ngatur. Masa sekarang jadi Mama yang pesimis. Mungkin Abang masih menunggu waktu yang tepat untuk mengenalkan calon nya sama Mama."


"Iya kalau ada calonnya kalau nggak ada?" Ibunya masih saja cemberut. "Kemarin Mama udah coba jodohin dia sama anak temen Mama, tapi reaksinya ya gitu. Dingin."


"Memang siapa yang coba Mama jodohkan sama Abang?" Tanya Caliana, namun diam-diam Syaquilla mendengarkan.


"Zemira. Mama coba jodohin dia sama dokter Zemira."


Perkataan Nurma membuat kedua wanita berbeda generasi dihadapannya terdiam. "Bukannya Dokter Zemira itu janda? Dan dia sudah punya anak? Dia juga seorang janda cerai bukan janda mati. Apa Mama bener mau jodohin dia sama Bang Gilang?" Caliana memandang ibunya dengan tatapan tak percaya.


Nurma hanya mengedikkan bahu. "Habis mau gimana lagi. Dijodohin sama lajang dia gak mau. Bawa calon sendiri dia juga enggak. Ya udah, Mama bawa cewek yang rido aja. Lagian Zemira udah punya anak itu berarti dia subur. Jadi kalau mereka menikah otomatis Gilang akan cepat-cepat punya anak."


"Ma..." Caliana memelas.


"Udah, gak usah dibahas. Pokoknya Mama nggak mau dibantah. Kalo Gilang nggak juga bawa calonnya ke hadapan Mama. Mau gak mau dia harus terima pilihan Mama. Lagian Zemira meskipun janda, dia masih cantik. Badannya terawat. Udah gitu dia juga Dokter. Gak malu-maluin kalo nanti Mama kenalin sama keluarga ataupun teman-teman Mama." Ucap Nyonya Nurma lagi.


Syaquilla hanya bisa tersenyum kikuk mendengar penuturan Oma nya. Ya, Oma nya benar. Semua poin tentang Zemira memang benar. Cantik, terawat, seorang dokter dan bisa memberikan keturunan. Dibanding dengan Syaquilla. Bahkan jikapun dia meronta, dia tidak ada apa-apanya dengan Zemira.


"Mama kok ngomongnya gitu sih?" Caliana memandang ibunya dengan risih. Walau bagaimanapun, dia tidak ingin putrinya tersinggung. Karena tanpa diketahui ibunya, Caliana tahu bahwa putri sambungnya itu menyukai Gilang. Meskipun secara diam-diam. Dan Caliana pun tahu bahwa kakak kembarnya itu sebenarnya juga menaruh hati pada Syaquilla. Hanya saja keduanya masih tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka masing-masing karena terkendala satu dua hal.


Caliana hanya bisa berdoa, semua Allah memuluskan jalan cinta kedua orang yang dikasihinya. "Ilker sama Faiqa dimana, Ma?" Pertanyaan putri sambungnya itu mengembalikan Caliana pada kesadarannya.


"Ada di kamarnya." Jawab Caliana. Syaquilla hanya memberikan anggukan dan sebuah senyum tipis sebelum beranjak menuju adik-adiknya.


Syaquilla naik ke lantai dua. Meletakkan tas nya di kamar sebelum kembali meninggalkannya dan berjalan menuju kamar adik laki-lakinya. Setidaknya, bermain bersama adik-adiknya bisa memberikan hiburan tersendiri baginya. Dan sebentar lagi, kurang dari sebulan lagi mereka akan mendapatkan mainan baru berupa adik dalam kandungan ibunya.


"Prens, lagi ngapain?" Tanya Syaquilla setelah mengetuk pintu kamar adiknya. Meskipun Ilker masih berusia delapan tahun lebih, tapi mereka sudah membiasakan diri untuk saling menghormati privasi masing-masing. Jadi mereka saling mengetuk pintu jika ingin masuk ke area pribadi.


"Prenses." Ilker mendongak dari tabletnya dan menatap Syaquilla dengan senyum berbinarnya. Kacamata minus yang bertengger di hidungnya malah membuatnya semakin tampan. Ilker menuruni kepintaran ibunya. Meskipun ayahnya juga cerdas, tapi mengingat sejarah ibu sambungnya dan juga pamannya dulu yang pernah mengikuti akselerasi, jelas gen kepintaran siapa yang lebih menurun pada Ilker. "Aku baru belajar chord yang baru. Itu loh, lagu yang lagi hits. Mau ya nyanyi." Pintanya dengan wajah sumringah.


"Nyanyi? Iqa juga mau dong." Syaquilla terkejut ketika melihat adik perempuannya yang juga ada di kamar adik laki-lakinya. Ternyata Faiqa sejak tadi sedang membaca buku sembari tengkurap di atas karpet dan terhalangi ranjang yang tinggi. "Iqa aja ya yang nyanyi, ya." Pinta bocah itu. Tapi Ilker menolak. "Ahh... Abang.."

__ADS_1


"Nanti, Iqa nyanyinya lagu anak-anak. Abang sama Kak Qilla mau nyanyi lagu dewasa dulu." Ilker beralasan. Padahal sebenarnya ia menolak karena suara Faiqa yang cempreng dan tak enak didengar.


"Ihh,, Abang..." Rengek Faiqa lagi.


"Gini aja. Kita syuting. Abang jadi pemain musik, kak Qilla jadi penyanyi, Iqa jadi kamera girl. Oke?" Tawar Ilker dengan senyum menggoda nya. Ilker sepertinya terlalu banyak mendapat energi uncle Lucas dan uncle Erhan. Karena sifatnya yang jahil berbeda dengan sifat papa mereka yang lebih kalem.


"Oke-oke. Iqa jadi kamera girl." Faiqa membentuk huruf O dengan menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.


Ilker mengeluarkan gitar akustik dari tas nya. Bocah itu belajar bermain musik dari Erhan sejak usianya enam tahun. Hebatnya, papanya mendukungnya dan sekarang permainannya sudah sangat ahli. Meskipun Ilker tidak mengambil kursus musik resmi. Bocah itu lebih mengandalkan belajar dari video streaming.


"Emang Prens mau nyanyi lagu apa?" Syaquilla yang sudah duduk di atas tempat tidur Ilker memperhatikan adiknya yang sedang menyetting nada.


"Itu loh, lagu yang Prenses senandungkan waktu itu." Ilker kemudian memetik sebuah nada, dan Syaquilla tersenyum. Faiqa memasang tablet dengan kamera mengarah pada Ilker dan Syaquilla. Ilker mulai memainkan intronya, dan Syaquilla mulai mengeluarkan suaranya, sementara Faiqa berlari dan memilih duduk di atas pangkuan Syaquilla.


Pernah aku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan kuberi


Apapun kan ku lakui


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tahu rasa ini


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa

__ADS_1


Ohhh ohhhhh ohhhh


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Ohhh


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Suara tepukan tangan membuat ketiga orang yang memunggungi pintu serentak berbalik. Adskhan berdiri diambang pintu dengan senyum mengarah pada ketiga buah hatinya. "Apa Papa mesti jadi produser? Kok suara Kakak bagus ya?" Ucapnya dengan mimik dibuat heran. Syaquilla yang malu merasakan wajahnya memanas. Sementara Ilker dengan santainya sudah mematikan video di tabletnya. Tanpa Syaquilla tahu, sebenarnya bocah itu memiliki akun media sosial yang sudah memiliki banyak follower. Lihat saja nanti, saat video ini di unggah, akan ada berapa banyak jempol yang diterimanya.


______________________________________________

__ADS_1


Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih


TBC


__ADS_2