To Make You Mine

To Make You Mine
29. Carina Pov (2)


__ADS_3

Pasien terakhir keluar. Aku masuk ke ruangan pamanku. Sebenarnya sih mau numpang ke toilet dulu, dan kebetulan memang di setiap ruang praktek dokter di RS tempat pamanku bekerja sudah di sediakan toilet pribadi. Di dalam ruangan ada Edwin, teman Syaquilla yang akhirnya jadi mata-mata ku dan tentu saja pamanku. Keduanya sedang mengerjakan sesuatu dan aku tidak ingin mengganggu.


Saat hendak keluar dari toilet. Aku mendengar suara wanita. "Makan siang bareng, yuk." Ajakan yang bernada merajuk. Sepertinya aku sudah mulai hafal gaya manja itu. Siapa lagi kalau bukan putri dari si Nyonya Gincu. Dokter Jendes Gatel Zemira Husain.


"Maaf, Dokter. Saya sudah ada janji." Kudengar suara pamanku yang formal dan berkesan dingin. Bulu tanganku bahkan meremang mendengarnya. Aku bergidik sendiri, rasanya horor saja mendengar pamanku yang biasanya ramah tamah unyu-unyu mendadak bersikap demikian.


"Janji? Janji makan siang? Sama siapa?" Suara itu terdengar seperti... Aku harus mengatakannya apa? Defensif? Posesif? Ah, posesif kali ya.


'Yaelah Dok. Jadi cewek gak peka amat sih ya. Udah jelas si Uncle nolak'.


"Aku ada janji sama Carina." Ohh, pamanku memang jujur. Pujiku dalam hati.


"Jangan bercanda, Lang. Terakhir kali kamu bilang ada janji dengan Carina. Kamu ternyata pergi berdua sama asisten kamu ini ke Masjid depan RS." Ada nada mencebik dalam suaranya. Atau dengusan? Iwwhhh, ternyata Dokter Zemira yang elegan menurut si Nyonya Gincu itu bisa bersikap tak elegan juga.


"Saya pikir Anda bukan tipe orang yang suka menguping, Dokter." Kali ini kudengar suara Edwin. Sepertinya temannya itu benar-benar melakukan perannya dengan baik untuk menjaga pamannya. Apa aku harus bungkusin dia coklat sebagai hadiah?


"A-aku tidak menguping. Itu memang terdengar karena kami masih ada disana." Ada nada gugup dalam suaranya. "Dan aku yakin saat ini kalian juga berbohong. Kamu sengaja menghindar dari aku kan, Lang?"


"Kenapa aku harus menghindar, Dokter." Oh, pamannya memang sangat profesional. Aku harus memujinya, tapi kalau kupuji. Dia bisa besar kepala. Baiklah. Sepertinya sekarang waktunya bakat aktingku keluar.


Dengan cukup keras kubuka kenop pintu, berharap ketiga orang yang ada disana menyadari keberadaanku. Aku berpura-pura terkejut melihat Zemira. "Oh, hai Dokter Zemira." Sapaku berusaha bersikap seramah mungkin. Meskipun sebenarnya aku ingin muntah di hadapan wanita sok cantik itu.


"Ka-kamu?" Tanyanya dengan mimik terkejut. What? Emangnya dia pikir aku hantu?

__ADS_1


"Ya, kenapa dengan saya?" Aku mencari ponselku dan bercermin. Wajahku masih baik-baik saja. "Ah Dokter, bikin saya panik aja. Kirain ada jerawat segede kacang di wajah saya." Ujarku dengan ngeri. Uncle, aku lapar. Masih lama?" Aku memandang pamanku. Dia mengangkat tangannya sejenak ke arahku. Memberikan instruksi pada Edwin dan kemudian bangkit melepas jas kerjanya.


"Kalian mau makan siang?" Perhatianku beralih lagi pada Dokter Jendes yang kupikir sudah menghilang dari sana.


"Iya, Aunty." Jawabku singkat. Bisa kutebak kalau dia hendak mengajukan diri untuk ikut bersama kami.


"Boleh gabung? Aku tidak ada teman makan siang." Pintanya penuh harap. See. Carina hebat kan? Aku menatap Edwin. Dia juga menatapku.


"Bagaimana kalau makan siang bersama saya, Dok. Saya juga gak ada teman makan siang." Ajaknya halus. Zemira memandang Edwin dengan tatapan meremehkan. Oh My God. Look at her face. Aku ingin mendengus jijik.


"Ayo." Ajak pamanku. Aku mengikutinya.


"Maaf ya, Aunty. Mungkin lain kali. Hari ini saya perlu bicara empat mata sama Uncle." Aku bersikap sesopan yang aku mampu, meskipun inginnya berlagak jutek ala-ala pelakor jaman now. Lalu beranjak pergi. Kudengar suara entakkan kaki. Tak perlu menoleh untuk melihat kaki siapa itu.


Kami makan siang dalam diam. Setelah kenyang, aku meletakkan sendok dan garpuku dan menatap pamanku. "Apa?" Tanyanya ingin tahu. "Kamu tiba-tiba menghubungi Uncle. Ada urusan apa?" Tanyanya lagi.


Ya, sebenarnya disebut mendesak juga tidak. Toh aku bisa bicara dengan pamanku di apartemennya nanti. Hanya saja, siklus pertemuan kami tidak teratur. Karena kadang saat aku di apartemennya, dia yang tidak ada disana. Begitupun sebaliknya Oke. Aku harus memilah kata. "Apa Uncle suka pada Dokter Zemira?" Tanyaku to the point. Mulutku kok berasa gatal saat menyebut nama wanita itu.


"Kenapa sama Zemira?" Tanya pamanku ingin tahu.


"Aku tahu Uncle itu gak bodoh. Uncle pasti sadar kalau Oma sedang mencoba menjodohkan Uncle dengan dia." Jawabku datar. Uncle mengangkat bahu. Ekspresinya tak terbaca. "Jadi Uncle suka sama dia atau enggak?" Tanyaku lagi.


"Apa Uncle harus jawab itu?" Dia lagi-lagi balik bertanya. Inilah susahnya berkomunikasi dengan Uncle. Aku menggerutu sendiri.

__ADS_1


"Oke, ganti pertanyaan. Bagaimana perasaan Uncle pada Syaquilla?" Kulihat dia menegang. "Jangan tanya aku, 'kenapa dengan Syaquilla'." Ujarku jengkel. "Jawaban Uncle menentukan keputusan yang akan aku buat." Pamanku bergeming. "Orang tua Dokter itu membuat rencana untuk mengajak Uncle dan Dokter itu makan bersama. Semuanya akan dilakukan seolah-olah itu semua pertemuan yang tidak disengaja. Kalau Uncle memang menyukai Dokter itu dan bersedia melanjutkan rencana Oma. Maka aku akan menyerah. Tapi jika Uncle mempunyai pilihan lain aku akan membantu Uncle." Jawab ku terus terang.


Pamanku tampak berpikir. Namun lagi-lagi hanya keheningan yang terjadi diantara kami. "Bagaimana pendapat Uncle tentang Dokter Natta?" Kulihat pamanku mengerutkan dahi. "Dia pria tampan. Kedua orang tuanya memiliki perusahaan travel. Posisinya sebagai dokter ahli bedah saraf juga patut diperhitungkan. Menurut Edwin dia pria yang baik." Jawab ku tanpa menunggu komentarnya. "Dia sangat mencintai Syaquilla. Dia selalu mengharapkan yang terbaik untuk Syaquilla. Dan dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan Syaquilla." Tuturku lagi tetapan pamanku tampak menajam. Kurasa itu semacam tatapan 'Tutup mulutmu!' atau mungkin 'Apa kau sedang berusaha membandingkan pamanmu dengan pria lain?!' atau bisa saja tatapan sinis itu hanya sekedar imajinasiku.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan sama Uncle." Aku bisa mendengar nada tak suka dari suaranya.


Aku mengedikkan bahu. "Carina bukan ingin membandingkan Dokter Natta dan Uncle. Carina bukan wanita bodoh. Carina tahu bahwa Uncle juga menaruh hati pada Syaquilla. Carina hanya ingin tahu seberapa besar rasa yang Uncle miliki untuk Syaquilla. Carina hanya ingin tahu seberapa besar keinginan Uncle untuk memiliki Syaquilla. Carina hanya ingin tahu seberapa kuat perjuangan Uncle untuk mendapatkannya." Aku melihat mata pamanku yang menatapku tak percaya. Matanya melebar, mulutnya terbuka. Aku tahu dia hendak menyanggah, namun mengurungkan niatnya. "Memangnya Uncle pikir aku tidak tahu bahwa kepergian Uncle ke Jerman 5 tahun yang lalu adalah salah satu usaha Uncle untuk menjauhinya? Uncle maupun Dokter Natta memandang Syaquilla dengan cara yang sama." Sepertinya suara yang kukeluarkan terlalu tinggi sampai orang-orang mulai memperhatikanku. Aku lebih memilih untuk tidak memperdulikan mereka.


"Tolong pikirkan kembali. Jika Uncle memang ingin memperjuangkan Syaquilla, aku bersedia membantu Uncle. Dengan cara apapun itu." Jawabku tulus. "Tapi jika memang Uncle lebih suka untuk bersama Dokter itu. Aku tidak akan menghalangi." Lanjutku pasrah. Aku memandang pamanku lekat. Mencoba membaca pikirannya.


Baiklah. Aku bukan ahli pembaca pikiran. Aku bukan cenayang. Aku juga bukan psikolog. Aku hanya mengandalkan perasaanku sebagai seorang perempuan. Sebagai sahabat dan sebagai keponakan, bahwa pamanku juga mencintai sahabatku.


Pamanku meletakkan sendoknya. "Jam makan siang Uncle sudah habis." Kalimatnya benar-benar membuatku ingin menjambaknya dan membenturkan kepalanya ke atas meja. Kulihat pamanku berdiri dan bersiap membayar ke kasir. Aku mengekorinya. Menyebutkan makanan apa saja yang kuambil. Setelahnya aku mengikutinya dalam diam.


Kami berjalan menuju parkiran. Dia menungguku masuk ke dalam mobil. Tapi aku memilih berdiri di sampingnya. "Aku masih menunggu jawaban Uncle." Kataku lirih. "Dan kuberitahu satu hal. Syaquilla  perlu ungkapan. Dia perlu diyakinkan dan dia hanya perlu diperjuangkan. Hanya itu yang dia butuhkan saat ini." Lalu setelahnya aku masuk ke dalam mobil. Berharap pamanku tersandung sesuatu dan kepalanya terbentur hingga dia akhirnya bisa berpikir jernih.


______________________________________________


Hai-Hai Readers...


Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih


TBC

__ADS_1


__ADS_2