To Make You Mine

To Make You Mine
14. Kenalan Lama (2)


__ADS_3

"Saya di rumah sakit Mitra Medika. Tapi sudah buka klinik kandungan sendiri." Jawab wanita itu dengan nada sedikit jumawa.


"Oh, jadi Aunty ngambil spesialis kandungan?" Wanita itu mengangguk. Ada rasa tak nyaman terlihat dari kernyitan dahi pria itu setiap kali Carina memanggilnya dengan sebutan 'Aunty'.


"Kamu..."


"Syaquilla, Aunty." Ucap Syaquilla dengan senyum di wajahnya.


"Iya, maaf. Saya lupa. Maklum udah lama gak ketemu. Kamu sekarang kerja?"


Syaquilla menggeleng. "Saya masih freelance, Aunty." Jawabnya masih dengan senyum di wajahnya.


"Ohh.." jawab Zemira dengan senyum mengejek di wajahnya. Carina memperhatikannya.


"Gak usah lebay gitu, La." Carina mengibaskan tangannya di depan Syaquilla. "Syaquilla ini anaknya memang suka merendah, Aunty. Padahal dia ini seorang pengusaha loh." Ucap Carina dengan nada bangga. Ia tidak ingin sahabat baiknya diejek begitu saja oleh wanita seperti Zemira.


"Maksudnya?" Zemira memandang Carina dan Syaquilla bergantian.


"Loh, Aunty lupa? Waktu kita pertama kali ketemu lima tahun yang lalu? Kita kan ketemu di ulang tahunnya adik Syaquilla." Carina mengingatkan. Entah Zemira yang tidak menyadari siapa Syaquilla sebenarnya atau memang wanita itu mengira Syaquilla hanyalah sekedar 'sahabat baik' bagi Carina seperti hanya Meyra yang tempo lalu juga ada di acara tersebut. "Syaquilla ini putri sambung dari adik kembar uncle Gilang. Dia putri sulung Adskhan Levent. Pemilik Coskun Company. Aunty tahu kan, Coskun Company?" Carina menatap Zemira. Wanita itu membelalak tak percaya. Dalam hati Carina tersenyum senang. 'Kalah telak kan, loe'. Ucapnya dalam hati.


"Dan keluarganya juga yang selama ini menjadi donatur di beberapa yayasan amal dan juga rumah sakit." Lanjutnya masih dengan maksud mengejek wanita itu.


"Oh, begitu." Ucap wanita itu dengan wajah memucat.


"Iya, begitu." Jawab Carina dengan nada yang sama seperti ucapan Zemira.


"Kalian?!" Seruan itu membuat keempat orang yang ada disana berpaling pada si pemilik suara. Caliana dengan perut besarnya tampak melambai-lambaikan tangan. "Ayo kesini, acara doanya mau dimulai." Keempatnya mengangguk. Carina mengajak Syaquilla, membiarkan kedua orang dewasa di belakangnya berjalan mengikuti mereka.


"Kamu kenapa sih, Rin? Kok gitu amat?" Tegur Syaquilla dengan bisikan pelan.


"Biarin aja. Biar tuh medusa mikir. Emangnya dia pikir aku rela apa uncle aku sama dia? Aku gak rela kali. Mana dia terang-terangan ngejek kamu."


"Tapi gak usah se frontal itu juga, kan?"


Carina hanya mengangkat bahu. Mereka sudah berada di ruang tengah yang telah berubah menjadi tempat lesehan dimana karpet-karpet tebal digelar dan makanan-makanan di sajikan. Seorang ustadz yang sudah diundang oleh Oma Nurma sudah bersiap memberikan wejangan dan doa.

__ADS_1


Syaquilla masih berada di rumah kediaman Gilang dan sedang membantu para asisten rumah tangga untuk membereskan bekas-bekas makanan para tamu. Sementara para pria pergi beriringan menuju masjid terdekat untuk melakukan solat berjamaah.


"Kamu nginep disini?" Tanya Carina yang juga sedang membawa piring kotor di tangannya.


"Engga, aku pulang aja." Jawab Syaquilla seraya meletakkan piringan itu di meja bar yang nantinya akan dicuci oleh para asisten.


"Kok? Kenapa gak nginep? Aku juga nginep, gak balik ke apartemen."


"Masih ada kerjaan." Jawab Syaquilla santai.


"Ada kerjaan atau..." Carina menjeda ucapannya.


"Carin, apaan sih."


"Ya habisnya, kamu tuh kalo ada 'dia' berubah jadi gak asyik tau gak sih." Gerutunya. Syaquilla tersenyum.


"Kan kamu tahu alasannya."


"Trus mana jiwa Syaquilla yang dulu? Katanya mau berjuang?",


"Syaquilla yang itu udah pergi sejak lima tahun yang lalu, Rin." Jawab Syaquilla dengan nada sendu.


"Rin..." Syaquilla berhenti dari kegiatannya. Ia memandang Carina yang juga memandang Syaquilla dengan tatapan tajamnya. "Kamu tahu kalau sejak lima tahun yang lalu semuanya sudah berubah. Aku bukan Syaquilla yang dulu. Tidak ada lagi yang bisa aku banggakan kepadanya. Tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan dari dia. Dia lebih pantas untuk orang lain." Syaquilla lagi-lagi tersenyum sedih.


"La..."


"Rin.. please..." Mohonnya. Carina mengangkat tangan, tanda dia menyerah. Syaquilla dan kekeraskepalaannya bukan sesuatu yang bisa Carina lawan.


Syaquilla melipat mukenanya dan meletakkannya di atas tempat tidur Carina. Setelahnya ia merapikan kembali kerudungnya ia membereskan barang bawaannya dan bersiap pulang.


"Beneran mau pulang, La?" Carina yang sedang memainkan ponselnya kini terfokus pada Syaquilla.


"Iya, Rin. Anterin yuk." Bujuk Syaquilla dengan manja.


"Enggak ah, capek. Disini aja nginep." Carina balik membujuk. Syaquilla memberengut. Ia tahu bahwa ayah dan ibunya sudah pergi setelah magrib tadi karena mengira Syaquilla akan menginap di kediaman Gilang.

__ADS_1


"Rinn..." Rengeknya lagi.


"Minta anterin aja sama uncle. Dia pasti mau kok." Carina masih tak mau kalah. Gadis itu malah berbaring dan memunggungi Syaquilla.


"Ya udah deh." Jawab Syaquilla. Carina tersenyum dan berbalik. Merasa kalau dirinya sudah menang dari Syaquilla. Namun ternyata perkiraannya salah. Gadis itu terus saja melenggang meninggalkan kamar.


"Lho, La. Mau kemana?" Teriak Carina.


"Pulang, naek taksi online." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun. Carina mencak-mencak. Dengan cepat ia meraih jaket dalam lemari dan kunci mobil dari dalam tas nya. Ia mengejarnya dan bermaksud mengantarkan Syaquilla, namun langkahnya terhenti di tangga.


"Gilang, tolong anterin bu dokter ya." Terdengar suara Nurma memanggil Gilang. "Lho, Sayang. Kamu mau kemana?" Pertanyaan itu kini beralih pada Syaquilla.


"Pulang, Oma."


"Kenapa pulang, Omma pikir kamu mau nginap disini."


"Engga, Oma. Ada kerjaan yang mesti Qilla kerjain. File nya Qilla tinggalin di rumah. Jadi Qilla mau pulang aja." Tutur Syaquilla lagi.


"Kamu pulang naik apa? Papa sama Mama kamu udah pulang duluan. Mereka pikir kamu mau nginep."


"Qilla naik taksi online aja, Omma." Jawabnya lagi dan mencium tangan neneknya.


"Pulang sama Uncle aja." Gilang menjawab dari sisi lain ruangan.


"Gak usah, Uncle. Qilla udah pesan via aplikasi." Tolaknya halus. Dia kemudian berjalan menuju pintu. Namun Gilang mencegahnya.


"Uncle antar. Gak baik malem-malem naik taksi online." Gilang memegang lengan Syaquilla dan menuntunnya menuju pintu depan.


Zemira yang tengah menunggu Gilang mendadak kehilangan senyumnya ketika melihat Gilang menuntun Syaquilla. "Kok?" Tanyanya memandang Gilang dan Syaquilla bergantian. Syaquilla yang merasa tak enak langsung melepas tangan pamannya.


"Uncle anterin Aunty aja. Qilla naik taksi online aja."


"Gak bisa. Lagian barang punya kamu masih ada di mobil uncle. Dan uncle juga ada perlu sama Papa kamu. Jadi sekarang masuk ke mobil. Cancel aja orderannya." Perintahnya lagi.


Tak ingin menambah masalah, Syaquilla membuka pintu belakang mobil. Memberi peluang pada Gilang dan Zemira untuk bisa lebih dekat. Sekilas Syaquilla merasakan tatapan tajam dari Gilang ke arahnya. Namun sebaliknya, sebuah senyuman tampak di wajah Zemira.

__ADS_1


Syaquilla memilih bermain dengan ponselnya. Selama perjalanan selalunya Zemira yang memulai pembicaraan. Sementara Gilang hanya menjawab seadanya saja. "Setelah habis kontrak ku dengan rumah sakit yang sekarang. Aku juga akan pindah ke rumah sakit tempat kamu bekerja. Nanti kita bakal sering ketemuan lagi ya, Lang." Syaquilla melihat wanita itu menyentuh bahu Gilang dengan mesra, mau tak mau ada rasa cemburu memenuhi dadanya.


Sementara Zemira memilih untuk bekerja di rumah sakit yang sama dengan Gilang guna lebih dekat dengan pria itu. Maka Syaquilla memilih untuk beralih rumah sakit tempat ia biasa melakukan pemeriksaan guna menghindari pria itu.


__ADS_2