To Make You Mine

To Make You Mine
10. Hai, Prenses (2)


__ADS_3

Gisna menggenggam tangan Syaquilla yang tak lebih besar dari tangannya sendiri. "Makasih ya, Sayang. Aunty janji, sampai si baby udah uncle kamu nyatakan aman dibawa kesana kemari, Aunty yang akan pegang kembali yayasan."


"Iya, Aunty. Tenang aja. Lagian Qilla juga kan udah biasa kesana. Jadi ya, nyaman-nyaman aja. Anggap aja latihan punya anak." Jawab Syaquilla meskipun ada sedikit rasa sakit di hatinya mendengar kata 'anak'. Dan tampaknya tantenya itu menyadarinya.


"Jangan berpasrah diri sebelum usaha, Sayang. Tuhan itu Maha Pengabul. Kun Fayakun. Meski kita anggap tidak mungkin, kalau Dia mengatakan mungkin, maka akan jadi mungkin. Dokter kan manusia. Dia tidak memegang kendali penuh atas kehidupan manusia. Mereka hanyalah salah satu sarana pembantu manusia untuk menyembuhkan. Sementara si Pemberi Sembuh, Pemberi Nyawa itu tetap saja Yang Maha Kuasa." Gisna mengusap punggung keponakannya itu dengan sayang. Usia mereka yang tidak terpaut jauh justru membuat Gisna merasa seolah Syaquilla itu adiknya. Bukan keponakannya.


Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyum muncul di wajahnya, meskipun tidak sampai ke matanya.


Syaquilla. Satu doa untuk kebahagiaannya selalu terselip dalam doa Gisna dan suaminya. Gadis yang semenjak kecil tidak benar-benar mendapat kebahagiaan dan bahkan mungkin sampai saat ini, hanya berapa persen dalam tahun-tahun kehidupannya dimana gadis itu merasakan bahagia sepenuhnya.


"Sudah sampai, Aunty. Nanti hari jum'at Qilla usahakan mampir ke panti dan bicara sama Bu Teti ya. Aunty tenang aja. Kalau Qilla butuh bantuan, nanti Qilla seret Carina aja." Ucapnya. Gisna mengangguk. Lalu setelah mencium punggung tangan tantenya, Qilla beranjak menuju Cafe yang masih tertutup dengan kain terpal.


🌸🌸🌸


Hari jum'at sore, Qilla sudah mendapat semua laporan mengenai panti asuhan 'Rumah Bahagia' yang dikelola oleh tantenya. Setelah menyelesaikan rutinitas sorenya, Qilla memilih untuk duduk di atas meja belajarnya, menyeruput coklat panasnya seraya men-scroll mouse yang ada di tangan kirinya.


'Hmm...pemeriksaan rutin anak-anak ya.' Qilla bermonolog. Baiklah, semoga saja dengan daftar kesibukan ini dia bisa melupakan seseorang yang benar-benar ingin dia lupakan. Batinnya.


Setelah merasa cukup membaca semua kegiatan rutin panti dan mencatatnya dalam kalender ponsel, Qilla memilih turun dan bersiap untuk makan malam.


Seperti biasa, ayah dan adik-adiknya sudah mengisi meja makan. Syaquilla duduk di kursi biasanya setelah mencium pelipis sang ayah."Aunty Gisna bilang kamu udah nyanggupin buat ngelola panti ya, Sayang?" Suara Adskhan menjadi pembuka acara makan malam mereka.

__ADS_1


"Iya, Pa. Katanya Uncle Lucas gak ngasih ijin Aunty buat ngurus yayasan sampai baby lahir."


"Kamu harus inget, kamu gak boleh terlalu capek." Ayahnya mengingatkan. Syaquilla hanya mengangguk.


"Papa tenang aja, Qilla udah prepare semua. Qilla juga baru beres kontrol kemarin dan semuanya baik-baik aja." Jawabnya menenangkan, ayahnya mengangguk.


"Kalau perlu bantuan, hubungi Papa." Perintah ayahnya dengan halus.


"Iya, Papa." Jawab Qilla dengan senyum dikulum. Terkadang ia geli sendiri dengan sikap posessif ayahnya. Tapi ia tahu kalau semua itu beliau lakukan karena sayang.


Sabtu pagi Syaquilla sudah bersiap dengan gamis merah mudanya dan kerudung biru langit. Warna soft yang selalu ia sukai. Supir pribadinya sudah menunggu dan sedang memanaskan mobil. Pria berusia empat puluh lima tahun itu kini menjadi bodyguard sekaligus supirnya setiap kali Qilla memerlukannya.


"Sudah siap, Neng?" Tanyanya saat Qilla selesai mengenakan sepatunya.


Selama mobil melaju, mereka mengobrol hal-hal ringan. Mulai dari keadaan keluarga pak Iwan. Keadaan cafe yang dikelola Qilla. Sampai acara gosip dan berita di tv. Hal itu membuat mereka lebih akrab, dan Qilla menyukainya. Bersama pak Iwan seperti bersama pamannya sendiri.


Mereka sampai di pintu gerbang 'Rumah Bahagia'. Karena bukan hanya sekali-dua kali Pak Iwan mengantar Syaquilla ataupun keluarganya, pria itu tahu kemana alur parkir khusus para pengurus panti.


Syaquilla sudah siap dengan ranselnya yang berukuran cukup besar. Meskipun Pak Iwan menawarinya untuk membawa tas itu, Syaquilla menolak dengan halus. Syaquilla sudah masuk ke bagian sekretariat panti. Seorang wanita yang diperkirakan seusia pak Iwan menyapanya dengan senyum ramahnya. "Mba Qilla udah datang." Sambutnya.


Syaquilla mencium tangan wanita itu seperti kebiasaannya. Baginya, wanita seperti Bu Teti adalah wanita yang harus dia hargai. Karena selain jiwa sosialnya yang tinggi, wanita itu telah memberikan seluruh dirinya untuk panti. Yang Syaquilla tahu, Bu Teti tidak memiliki keluarga karena kecelakaan yang menimpanya. Oleh karena itu, sejak seluruh anggota keluarganya meninggal, beliau mengabdikan dirinya untuk panti.

__ADS_1


"Hari ini katanya pemeriksaan kesehatan anak-anak ya, Bu?" Tanya Syaquilla seraya meletakkan tas nya ke atas meja.


"Iya, Mba. Tapi baru saja saya dapat pemberitahuan kalau dokter Aathaf tidak bisa datang. Katanya mendadak putrinya sakit." Terang Bu Teti. Qilla hanya bisa terdiam. "Tapi dokter Aathaf sudah meminta rekannya untuk menggantikannya. Katanya sih teman masa kuliahnya dulu." Syaquilla mengenal siapa itu dokter Aathaf. Dokter Umum yang sudah bekerja sama dengan keluarga Levent cukup lama. Beliau juga sudah Papanya angkat menjadi dokter pribadi, karena meskipun di usianya yang terbilang muda, Dokter Aathaf itu merupakan dokter yang potensial. Dan tentang teman masa kuliahnya? Mendadak Syaquilla membayangkan satu nama. Tidak mungkin 'dia' kan?


"Assalamualaikum..." Sebuah ketukan memecah keheningan dalam kepala Syaquilla. Syaquilla berbalik, jawaban atas pertanyaannya kini tampak di hadapannya. Sedang berdiri dengan menenteng ransel dan tersenyum ramah kepada mereka. "Saya Gilang, saya diminta dokter Aathaf untuk menggantikannya hari ini." Pria tampan itu memperkenalkan diri.


"Ah, Dokter Gilang ya. Silahkan masuk. Saya Bu Teti, pengurus yayasan." Bu Teti mengulurkan tangannya menyapa Gilang. Gilang membalas uluran tangannya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. "Ini Mba Syaquilla. Beliau disini sebagai pengganti pengelola yayasan." Tuturnya lagi.


Gilang tersenyum. "Hai, Prenses." Sapanya tanpa mengulurkan tangan.


Bu Teti mengangkat alis. Terkejut dengan panggilan pria di hadapannya pada putri pemilik yayasan. "Dokter mengenal Mba Qilla?" Tanyanya penasaran.


"Kebetulannya begitu, Bu. Beliau keponakan saya."


"Keponakan?" Tanya Bu Teti tak percaya. Mengingat usia Gilang yang sepertinya masih tiga puluhan dan Qilla sendiri sudah dua puluhan.


"Ceritanya panjang, Bu. Jadi kita mulai pemeriksaannya kapan?" Gilang mengalihkan pembicaraan. Dan setelahnya mereka di sibukkan dengan acara memeriksa anak-anak.


______________________________________________


Hai-hai Readers,,, salam kenal dari Mimin,,,

__ADS_1


minta dukungannya ya,, dengan cara Vote, trus klik ❀️ untuk memasukkan cerita ini ke rak buku/library kalian,, dan klik πŸ‘ juga ya...


Komennya sangat Mimin tunggu... πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2