
Mereka sampai di depan sebuah rumah mewah berlantai dua. Sepasang paruh baya yang tadinya duduk di sebuah kursi kayu tampak berdiri saat Dokter Zemira membuka pintu rumah. Begitu pula dengan Gilang. Keduanya masuk bersamaan dan mencium punggung tangan sepasang paruh baya itu. "Dokter Gilang." Sapa ibu Zemira. Gilang mengangguk sopan. "Pi, ini Dokter Gilang. Putranya Ibu Nurma, yang tadi Mami kesana buat syukuran itu." Ibu Zemira mengusap bahu suaminya dengan pelan dan senyum penuh arti.
"Oh, Dokter Gilang juga kerja di RS yang sama sama Zemira?" Tanya sang suami. Gilang menggelengkan kepala.
"Nanti Zemira yang pindah ke RS tempat Mas Gilang kerja sehabis beres kontrak yang sekarang, Pi." Umum Zemira. Ada rasa tak suka yang Gilang rasakan ketika wanita di sampingnya itu bicara. Gilang tahu bahwa Zemira sedang melancarkan aksi pendekatannya. Dia pria dewasa, bukan bocah ingusan.
"Nak Gilang, masuk dulu. Mami siapin cemilan." Tawar ibu Zemira. Namun Gilang menggeleng. Ia tidak ingin memberi harapan apapun pada tiga orang yang berdiri di hadapannya. Sebisa mungkin ia harus memberi jarak pada mereka.
"Maaf, Tante, Om. Saya harus pergi lagi." Tolak Gilang halus.
"Kok buru-buru sih. Ini kan belum terlalu larut juga." Ibu Zemira mencoba menahannya. Bahkan tangan Zemira sendiri sudah dengan agresifnya menahan lengannya. Gilang mencoba menurunkan tangan wanita itu dengan gerakan halus.
"Saya harus ke rumah adik saya. Maaf Om, Tante. Saya permisi dulu." Pamitnya halus dan mengangguk dengan sopan.
Gilang kembali masuk ke dalam mobil dan melihat Syaquilla yang masih asyik memandangi ponselnya. "La, pindah ke depan ya." Pintanya pelan. Syaquilla mendongak.
"Uncle maju aja dulu. Nanti udah lima puluh meteran Qilla pindah ke depan." Jawab Syaquilla pelan.
"Kenapa harus di depan?"
__ADS_1
"Risih, nanti dilihat sama orangtuanya aunty Zemira." Jawabnya lagi memberi alasan. Dahi Gilang mengernyit. Apa maksud Syaquilla?
"Uncle bukan supir loh, La. Ayo cepet pindah sekarang. Ngapain juga mesti tunggu di depan." Gilang tidak ingin dibantah. Ia tidak akan menyalakan mesin mobil jika Syaquilla masih belum pindah. Syaquilla memandang ragu namun kemudian turun dan menuruti permintaan pamannya.
"Nanti keluarga aunty Zemira mikir yang enggak-enggak. Uncle jelasin kalo Qilla itu keponakan uncle." Ucapnya sesaat sebelum memasang seatbelt nya.
"Kenapa uncle harus repot-repot jelasin? Emang mereka pegawai sensus?" Jawab Gilang santai seraya menyalakan mesin mobil.
Sementara di teras rumah Zemira.
"Siapa itu? Kalian gak pulang berdua?" Tanya ibu Zemira memandang Zemira bingung. Sementara sang suami sudah berjalan masuk ke dalam rumah entah sejak kapan.
"Cucu tiri? Jadi dia tidak ada hubungan darah dengan Gilang?" Ibu Zemira panik.
"Gak ada. Tapi Mami tenang aja, Zemi pasti bakal menangin Gilang kok. Gilang itu orangnya peduli sama pandangan orang. Jadi dia gak mungkin macarin keponakannya sendiri, meskipun itu keponakan tiri." Yakin Zemira. Namun tak pelak juga hatinya merasa was-was. Terlebih dari cara Gilang yang selalu saja mengerling ke arah Syaquilla sepanjang perjalanan tadi.
"Pokoknya Mami gak mau tahu, kamu mesti dapetin Gilang, Zem. Mama gak mah ya dipermalukan lagi yang kedua kali." Ibu Zemira memandang putrinya dengan tajam.
"Iya Mami, Mami tenang aja." Jawab Zemira tak kalah tajamnya. "Udah ah, Zemira capek. Mau tidur." Zemira lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tanpa berniat menengok kamar lain untuk menunjukkan kepeduliannya.
__ADS_1
Di mobil Gilang
"Besok kamu ke panti jam berapa, La?" Gilang membuka pembicaraan.
"Gak tau, kayaknya pagi." Jawab Syaquilla datar. Matanya sudah benar-benar berat. Ia lelah dan mengantuk. Meskipun ia sudah berusaha mengucek matanya tapi kantuknya malah semakin terasa.
"Kamu ngantuk? Tidur aja, nanti kalau udah sampe uncle bangunin." Ucap Gilang. Syaquilla menoleh ke arahnya dan menggeleng.
"Gak apa-apa uncle. Gak lama lagi juga nyampe kan." Tolak Syaquilla.
Gilang melirik Syaquilla dari spion samping. Gadis itu membuka sepertiga kaca jendela dan mengulurkan tangannya, seolah mencoba menangkap udara. Ada yang berbeda dengan Syaquilla. Gilang tidak bisa memungkiri bahwa waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merubah seseorang, terlebih perubahan seorang remaja menjadi dewasa. Tapi ia tidak mengira perubahan yang terjadi pada Syaquilla akan se drastis ini.
Gilang mengenal Syaquilla seperti mengenal Carina. Meskipun tidak benar-benar seperti ia mengenal Carina. Carina-nya, dalam lima tahun ini tidak terlalu banyak berubah. Secara fisik, iya. Gadis itu tambah dewasa dan terlihat lebih matang. Dalam pola pikir Carina memang sudah dewasa sebelum waktunya sejak dia remaja, meskipun Syaquilla jauh lebih dewasa dari pada Carina. Tapi mengenai karakter, tingkah laku. Tidak banyak yang berubah. Carina masih suka bicara blak-blakan dan petakilan. Dia tidak gengsian meskipun secara profesional dia benar-benar menjaga imagenya. Tapi saat dengan keluarga, dia masih Carina yang dulu.
Sementara Syaquilla? Dalam lima tahun ini terlalu banyak yang berubah darinya. Dia kini berhijab, meskipun belum mencapai titik syar'i, tapi dia benar-benar menjaga penampilannya dan menutup auratnya sebaik mungkin. Dan Syaquilla yang dulu ia kenal, meskipun tak banyak bicara seperti Carina, tapi ia gadis yang banyak tersenyum dan suka tertawa. Namun sekarang? Untuk melihatnya tertawa itu sepertinya sangat sulit. Bahkan senyumpun gadis itu begitu irit. Apa hanya perasaannya saja atau memang gadis itu berubah menjadi semakin pendiam? Dan bahkan terkesan menjaga jarak darinya?
Gilang kembali melirik Syaquilla. Gadis itu memejamkan mata. Sepertinya benar-benar tertidur. Dan itu juga salah satu perbedaan yang bisa Gilang lihat. Karena dulu, Syaquilla yang ia tahu adalah gadis yang energik. Tapi sekarang?
Apa Gilang harus bertemu Caliana, adik kembarnya. Dan membahas masalah Syaquilla? Tapi kalau Caliana bertanya kenapa ia ingin tahu, apa yang harus dikatakannya? Gilang bergelut dengan pikirannya sendiri. Dan lima belas menit kemudian ia sudah sampai di kediaman adik kembarnya.
__ADS_1
Security membukakan pintu gerbang untuknya. Gilang masuk dan memilih parkir di depan pintu utama. Ia membuka seatbelt nya dan seatbelt Syaquilla. Ia tidak ingin membuat gadis itu terbangun. Dengan perlahan Gilang membuka pintu kemudi dan berjalan memutar. Membuka pintu penumpang dengan perlahan dan mencoba menggendong Syaquilla sepelan mungkin supaya gadis itu tidak terbangun.