
Gilang berdiri terpaku. Pasalnya tiba-tiba saja Zemira dan Ibunya sudah berdiri di depan ruangannya bersama seorang gadis kecil yang usianya sekitar empat atau lima tahun saat Gilang baru saja kembali dari UGD. "Sayang, salim sama Om." Gilang mendengar suara Nyonya Tri, ibunya Zemira. Gadis kecil berwajah cantik dengan rambut keriting hitam itu mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Gilang dengan sopan.
"Maaf ya, Lang. Tadi Mami kesini buat imunisasi Gisel. Trus tanya-tanya kamu. Kan Mami tahu kita udah satu RS sekarang. Jadi aku kesini." Ucap Zemira dengan raut bersalah yang Gilang tahu hanya pura-pura.
"Apa kabar tante." Gilang menyapa sopan dan mencium punggung tangan wanita yang seusia Mama nya itu.
"Kok tante sih. Panggil aja Mami. Temen-temen Zemira kan biasanya manggil gitu." Ucap wanita itu dengan nada merayu.
Gilang mencebik dalam hati. Dulu ketika masih mahasiswa, sebelum mengenal siapa ibunya. Jangankan ingin dipanggil 'Mami', sekedar dipanggil 'Tante' pun wajahnya berubah kecut. Gilang tidak mengindahkan rayuan wanita itu. Dia hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. "Dokter Gilang ada janji makan siang? Kalau gak ada, gimana kalau kita makan siang bareng?" Tawar Nyonya Tri lagi.
Gilang terdiam. Dia memang tidak punya janji makan siang. Tapi ia juga tidak mau makan siang bersama Zemira dan ibunya. Ia sedang berpikir cepat untuk membuat alasan sebelum Edwin menyelanya. "Dokter, Carina menghubungi saya. Dia bertanya apa Dokter sudah berangkat atau belum." Pernyataan itu keluar dari mulut Edwin yang tiba-tiba muncul dari dalam ruangan dan berekspresi terkejut saat melihat Zemira dan ibunya. "Oh, ada Dokter Zemira." Sapanya sopan. Zemira hanya memberikan senyum tipis.
Gilang memandang asistennya itu. Sebenarnya ia tidak punya janji dengan Carina. Apalagi gadis itu sedang ada pemotretan di luar kota. Tapi tak apa, itu bisa dijadikan alasan untuk menghindar. "Maaf Tante. Saya ada janji sama keponakan saya. Maklum, dia memang sedikit manja." Tolak Gilang halus. Lalu tanpa menunggu jawaban Zemira dan ibunya, Gilang kembali masuk ke ruangannya dan memandang Edwin dengan tatapan penuh tanya. Tapi asistennya itu hanya mengangkat bahu sambil tersenyum jenaka. Membuat kernyitan di dahi Gilang semakin dalam.
"Saya cuma membantu, Dokter. Saya lihat Dokter merasa tak nyaman pada Dokter Zemira dan ibunya. Jadi saya berusaha jadi penengah yang baik." Ucap Edwin tanpa merasa bersalah sedikitpun. Lagipula Gilang sebenarnya bersyukur atas tindakan asistennya itu. Hanya saja ia masih belum bisa mengakuinya. "Atau saya salah? Kalau sebenarnya Dokter mau makan siang bersama mereka?" Edwin balik bertanya. Takut ia telah salah langkah. Tapi sebenarnya yang dilakukan Edwin bukan solidaritas sebagai sesama laki-laki. Bukan pula bentuk loyalitas dari bawahan pada atasan. Bukan karena dua hal itu. Tapi lebih untuk memenuhi permintaan teman. Permintaan yang secara langsung diarahkan padanya untuk menjaga Gilang. Edwin ingat pada permintaan temannya itu beberapa waktu lalu.
Flashback
"Gue bener-bener butuh bantuan loe." Carina memandang Edwin dengan tatapan tajamnya. Mereka berada di sebuah cafe yang tempatnya tak terlalu jauh dari kost-kostan Edwin. Edwin balik memandang teman lamanya itu dengan bingung. "Ini tentang Syaquilla." Lanjut Carina lagi.
Lagi-lagi Edwin mengerutkan kening. "Kenapa sama dia? Dia baik-baik aja kan? Apa ini ada hubungannya sama Dokter Natta? Tapi gue gak kenal sama Dokter Natta." Hanya itu yang bisa Edwin pikirkan saat ini. Kaitan dirinya dengan Syaquilla jika ia sambungkan dengan statusnya sebagai seorang perawat yang kebetulan bekerja di rumah sakit yang sama dengan pria yang Edwin kira sebagai tunangannya, pasti tentang tunangan itu sendiri. "Loe mau gue mata-matain Dokter Natta, gitu?" Tanyanya pada akhirnya.
Carina mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Bukan itu. Ini tentang Syaquilla, tapi gak ada hubungannya sama Natta. Lagian kenapa loe malah mikir kesana?"
Edwin mengangkat bahu. "Ya habis gimana lagi. Gue kerja di RS yang sama, trus loe bilang ini ada urusannya sama Syaquilla. Ya kalo gue tarik benang merahnya berarti ini urusan gue, Syaquilla sama Dokter Natta. Loe bilang minta gue jadi mata telinga loe. Berarti loe minta gue jadi mata-mata Dokter Natta?" Kesimpulan Edwin menjadi meragukan di akhir kalimat ketika melihat tatapan Carina yang tajam.
__ADS_1
"Loe bener masalah tarik benang merahnya. Cuma orangnya yang salah. Lagian ngapain juga gue minta loe awasin Natta. Tanpa gue awasin juga si Natta gak bakal selingkuh. Dia tuh udah jatuh sejatuh-jatuhnya sama si Qilla. Yang mau gue minta loe awasin itu Zemira." Ucap Carina tajam.
"Dokter Zemira? Kenapa emang?" Lagi-lagi Edwin memandangnya dengan alis menyatu.
"Gue mau loe awasin dia. Buat tuh cewek gatel jauhin uncle gue."
"Dokter Gilang?" Tanya Edwin. Carina mengangguk. "Tapi kenapa?"
"Loe mau versi Cerpen apa Novel?" Tanya Carina pada Edwin. Membuat Edwin semakin bingung. "Maksud gue, loe mau cerita pendeknya apa cerita panjangnya?"
"Yaelah loe. Nanya gitu aja bahasanya ribet banget."
"Loe juga, ditanya begitu masa gak paham. Jadi loe mau versi mana?"
"Gue kasih cerita versi drama korea aja ya. Biar gak kepanjangan." Jawab Carina lagi. "Jadi, ceritanya Uncle gue sama si Qilla tuh saling jatuh cinta." Ujar Carina menjelaskan. Edwin yang sedang meneguk jus jambunya hampir saja tersedak saat mendengar ucapan Carina.
"Tapi kalian kan sepupuan. Otomatis..." Carina mengangkat tangannya, menyela Edwin sebelum pria itu berbicara lebih banyak.
"Tahan pertanyaan loe. Gue belum kelar ngedongeng." Perintahnya halus. Edwin mau tak mau kembali tutup mulut. "Jadi Uncle gue sama si Qilla itu saling jatuh cinta. Si Qilla udah jatuh cinta sama Uncle gue sejak jaman putih biru. Sementara Uncle gue, gue gak tau kapan dia jatuh cinta sama si Qilla. Karena gue juga gak terlalu merhatiin, tapi kayaknya emang udah lama juga sih." Carina menerawang sejenak. "Hubungan Qilla sama Uncle gue itu gak ada ikatan darah. Jadi sebenarnya mereka itu sah-sah aja kalopun mau married.
"Masalahnya disini adalah. Hukum sosialnya. Loe tahu lah gimana nyinyirnya netijen yang maha benar. Qilla merasa dia gak pantas jatuh cinta sama kakak kandung dari ibu sambungnya. Begitu juga sama si Uncle. Dia merasa kalau dia gak pantas jatuh cinta sama Qilla yang notabene adalah keponakannya. Dan terlebih karena terpaut usia hampir 13 tahun. Jadi bisa dibilang Uncle gue ngerasa ketuaan gitu."
"Darimana loe tau kalo uncle loe punya pikiran kayak gitu? Bisa aja itu cuma kesimpulan loe sendiri." Edwin menyela saat dilihatnya Carina meneguk minumannya.
"Bukan gue yang narik kesimpulan. Tapi si Uncle sendiri yang ngomong secara gamblang. Kalo katanya, punya hubungan sama cewek yang usianya 12 tahun lebih muda itu kayak hubungan sama ponakannya sendiri. Maksudnya gue. Dan Syaquilla juga secara langsung dengerin itu. Jadi otomatis dia tuh hopeless. Ditambah satu dua kejadian, bikin si Qilla itu bener-bener give up sama Uncle gue." Jawab Carina jujur.
__ADS_1
"Jadi, loe mau ganti peran loe dari sahabat jadi ibu peri nya Cinderella, begitu?" Tanya Edwin dengan tajam.
"Ya, bisa dibilang gitu. Atau loe mau bilang gue jadi mak comblang kek. Bilang gue mau jadi makelar cinta kek, up to you lah. Yang jelas intinya itu. Gue mau Qilla sama Uncle gue tuh berhenti bersikap masokis dan buat mereka berdua ungkapin perasaan mereka masing-masing. Bahagia itu dikejar kan, Bro?" Ujar Carina santai sebelum menyuapkan makanan dalam satu sendok besar. Carina dan cara makannya, sama sekali tak ada anggun-anggunnya.
Edwin memijit pelipisnya. Ia tidak mengenal Carina begitu dekat. Ia juga tidak terlalu mengenal Syaquilla secara pribadi. Namun Edwin tahu kalau Syaquilla adalah gadis yang baik dan tulus. Gadis itu jugalah yang telah membantu Edwin selama ini. Ya, Edwin adalah salah satu anak panti yang tinggal di yayasan yang keluarga Syaquilla naungi. Meskipun pada awalnya ia takut kalau Syaquilla akan mengejeknya di sekolah setelah tahu asal-usul nya seperti orang-orang kaya kebanyakan, tapi ternyata itu hanya ketakutan Edwin semata. Karena pada kenyataannya gadis itu tidak memandang rendah dirinya. Bahkan saat mereka bertemu tempo lalu, gadis itu mengenalkannya sebagai 'Ketua PMR' bukan 'Anak Panti'.
Dan ya, lewat Syaquilla juga akhirnya Edwin bisa melanjutkan pendidikan SMK nya di sekolah keperawatan dan juga mendapat beasiswa untuk kuliah di jurusan keperawatan pula. Jadi sekarang, saat Carina meminta bantuannya untuk Syaquilla, selama itu di jalan yang benar, maka Edwin akan membantunya sepenuh hati.
"Jadi loe maunya gue gimana?"
"Gak banyak. Cukup awasin gerak-geriknya Zemira. Kalo dia coba-coba deketin Uncle gue di RS, coba loe handle. Gue yang jadi tameng loe. Kalo dia ngeyel, loe hubungin gue." Pinta Carina lagi. Edwin hanya mengangguk.
"Trus, Dokter Natta?" Tanya Edwin lagi.
"Abaikan Dokter Natta. Tapi kalo sekiranya Dokter Natta bisa dijadiin pancingan buat bikin Uncle cemburu sih, oke-oke aja deh. Karena sebenernya Dokter Natta juga mau Qilla memperjuangkan cintanya, meskipun dia sendiri juga cinta sama si Qilla." Lanjut Carina lagi. Dan lagi-lagi Edwin mengangguk. "Trims ya Ed." Carina benar-benar mengucapkannya dengan tulus.
"Gue lakuin ini demi Qilla." Jawab Edwin jujur. Carina hanya mengangguk.
Flashback Off
______________________________________________
Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih
TBC
__ADS_1