
Syaquilla sedang mengerjakan pembukuan ke dalam file di hadapannya tepat saat Carina masuk dengan senyum sumringahnya. Tadi setelah makan siang, Carina kembali mengantarkan Gilang, Zemira dan Edwin ke RS dengan alasan tanggung jawab. Padahal Natta sudah berbaik hati mengajak ketiga tamu mereka untuk kembali ke RS bersama. "Kok balik lagi, kirain mau terus pulang." Carina hanya mengedikkan bahu dan duduk di sofa panjang di depan Syaquilla. "Emang gak ada kerjaan lain, Rin?"
"Enggak. Lagi free. Baru aja aku ngisi amunisi." Jawab Carina santai dan memilih memperhatikan CCTV.
"Gilbert?" Tanya Syaquilla lagi. Mendengar kata 'amunisi' secara tak langsung membuatnya mengingat pembicaraan mereka tempo lalu mengenai keberadaan Gilbert sebagai fotografer Carina.
Carina mematung sejenak sebelum akhirnya balik memandang
Syaquilla dengan tatapan bingung. "Kok malah Gilbert, sih?"
"Ya kan kamu tadi bilang baru ngisi amunisi. Otomatis pikiran aku balik ke Gilbert." Jawab Syaquilla dengan santainya dan kembali memasukkan data ke dalam komputernya.
"Abaikan si Gilbert. Buang jauh tuh orang ke laut." Ucap Carina lagi dengan nada sinis.
Syaquilla tersenyum. "Oke-oke. Nanti aku bilang dia buat terjun ke laut kalo ketemu." Guraunya. "Trus, amunisi apa yang kamu maksud?" Tanya Syaquilla lagi penasaran.
Carina balik menatap sahabatnya. Ia punya suatu rencana di kepalanya, Tapi tentu saja bukan rahasia namanya Jika dia mengungkapkan hal itu kepada Syaquilla. "Ada deh. Yang pasti ini tentang masa depan aku, kamu dan kita. Kamu doain semoga urusan aku lancar ya." Pintanya tulus. Syaquilla kembali tersenyum. Mereka bersahabat dan sekarang sudah menjadi saudara sepupu. Tentu saja Syaquilla akan selalu mendoakan kebahagiaannya. Bahkan tanpa gadis itu minta.
__ADS_1
"Gimana laporan ke dua tempat yang tadi udah kamu ambil?" Syaquilla akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Karena ia tahu jika Carina sudah menyimpan rahasia, maka rasa itu akan disimpan sampai gadis itu siap untuk mengatakannya.
Carina membuka tas tangannya yang cukup besar dan menyerahkan kedua buah map berbeda warna yang berisikan laporan keuangan itu kepada Syaquilla. Ya, tugas mereka dalam urusan Cafe mereka bagi-bagi. Syaquilla mendapat tugas untuk mengurusi hal-hal yang berbau keuangan dan pembukuan. Sementara Carina yang bertugas untuk terjun ke lapangan, memantau cafe, mengambil setiap laporan serta meng-handle jika ada masalah antara karyawan dan konsumen. Meskipun poin ketiga jarang sekali terjadi.
Istilahnya, Syaquilla menjadi administrator, sementara Carina berperan sebagai humas.
"Bagaimana dengan iklan dan promosi di medsos?" Tanya Syaquilla lagi.
"Lancar. Launching menu baru siap diedar weekend ini. Lagi proses editing." Jawab Carina santai. Ya, satu lagi tugas Carina. Dia yang kini menjadi selegram dan pekerjaannya sebagai model memungkinkannya untuk melakukan promosi tentang cafe mereka di medsosnya. Dia juga yang menjadi ikon cafe mereka. Dan mau tidak mau, harus diakui bahwa dia memiliki peran penting atas banyaknya konsumen cafe mereka. Meskipun si pemilik otak adalah Syaquilla.
Sahabat sekaligus sepupunya dan yang ia harap akan jadi istri pamannya itu sangatlah tidak suka dikenal umum. Dia terlalu 'low profile' dan karenanya dia bahkan tidak keberatan kalau orang-orang mengira Cafe ini milik Carina padahal sebenarnya tempat ini didirikan oleh mereka berdua.
Mobil yang disupiri Pak Iwan sudah masuk ke area parkir dalam rumah Adskhan. Sebenarnya Syaquilla sendiri punya satu rumah pribadi yang ia beli dari hasil usahanya selama lima tahun terakhir ini. Pada awalnya ia membeli sebidang tanah atas usul pamannya, Lucas. Yang memang bekerja sebagai seorang arsitek. Pamannya itu mengatakan jika investasi dalam dunia property terlebih tanah dan rumah, semakin lama harganya semakin mahal. Karena itu ketika Syaquilla melihat papan pengumuman sebuah lahan dijual, ia berkomunikasi dengan pamannya. Meminta saran mengenai harga dan lokasinya. Ketika pamannya melihat ke area secara langsung, melakukan tawar menawar, maka jadilah lahan seluas satu hektar itu Syaquilla beli.
Kalau kalian ingin tahu darimana Syaquilla punya uang. Itu ia dapatkan dari Papanya. Bukan meminta, tapi selama sembilan tahun hidupnya, sejak ia duduk di kelas tiga SD, ia rajin menabung. Jika Mama sambungnya kaya karena warisan dan bisnis serta kepintarannya dalam investasi. Maka Syaquilla memulainya dengan rajin menabung.
Uang bulanan yang Papanya kirim melalui Granny nya setiap bulan. Serta uang saku yang ia dapat dari para uncle-unclenya ia simpan di rekening yang kala itu masih berupa tabungan anak dengan dibantu Granny nya.
__ADS_1
Lalu saat Syaquilla mulai mengenal Caliana. Ia mulai belajar berbisnis dengan membuat kue-kue lokal sederhana yang bisa ia titipkan di kantin sekolah. Tidak ada yang tahu hal itu kecuali orang rumah dan Carina. Dan ketika Papanya tahu, meskipun pada awalnya Papanya melarangnya karena takut Syaquilla lelah dan lupa akan pelajaran sekolah, setelah dijanjikan bahwa ia sanggup, maka pada akhirnya Papanya luluh.
Ya, secara akademik memang Syaquilla tidak sepandai Carina ataupun Meyra. Diantara mereka Syaquilla menempati urutan ketiga. Carina di nomor satu. Tapi meskipun begitu, nilainya tidak terlalu mengecewakan. Dia masih bisa meraih beasiswa saat mengajukan diri ke UGM.
Kembali ke masalah rumah. Setelah Syaquilla memutuskan untuk membeli lahan itu. Ia kembali menabung, meskipun sebenarnya saat itu uangnya cukup jika ia ingin membuat sebuah sederhana. Namun Syaquilla dan Carina sudah berniat ingin membuka usaha mereka. Dan setahun setelah mereka lulus. Setelah Syaquilla dinyatakan bisa bergerak bebas. Maka ia dan Carina memulai bisnis kuliner yang saat ini mulai berkembang. Modal yang mereka keluarkan bisa kembali bahkan di tahun pertama mereka membuka usaha.
Semua berkat dukungan orangtuanya. Dan berkat Carina juga yang memilih untuk melanjutkan karirnya di dunia modeling, sehingga pangsa pasarnya menjadi lebih luas.
Setahun yang lalu, sebelum Syaquilla memutuskan melanjutkan S2, ia akhirnya kembali berdiskusi dengan pamannya dan akhirnya membuat desain rumah minimalis yang kini sudah berbentuk rumah dua lantai bergaya modern yang nyaman dihuni. Dengan bagian belakang rumah luas yang bisa ia jadikan kebun pribadi dan dinding batu tinggi yang melingkupi seluruh tanah milik Syaquilla. Sementara untuk desain interiornya, Syaquilla sendiri yang menatanya. Sesuai dengan passion nya.
Pamannya sendiri sebenarnya sudah menawari Syaquilla posisi di perusahaan arsitekturnya. Namun Papa Syaquilla tidak merelakannya. Papanya ingin Syaquilla menggantikan posisi Papanya di Coskun Company kelak. Yah, mau bekerja bersama pamannya ataupun dengan Papanya, bagi Syaquilla sama saja. Toh dua-duanya bekerja di bidang konstruksi.
Syaquilla turun dari mobilnya dan melihat mobil yang dikenalnya. Ia masuk dari halaman belakang seperti kebiasaannya. Dan melihat area tersebut kosong. Jadi mungkin kalau pemilik mobil dan Mama nya ada di dalam.
______________________________________________
Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih
__ADS_1
TBC