
Syaquilla baru saja turun dari kamarnya, Ia mengenakan gamis berwarna biru langit dengan kerudung biru navy. Yang ia dengar sejak ia membuka pintu adalah suara ceria adik-adinya. Ilker dan Faiqa. Penasaran dengan apa yang terjadi, ia pun turun, dan cukup terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.
Gilang!
Pria itu kini tengah bermain dengan kedua keponakannya. Putra-putri dari saudara kembarnya.
"Kak Qilla, Uncle ngajakin kita jalan-jalan!" seru Ilker dengan sumringah. "Uncle bilang mau beliin Ilker sama Faiqa mainan. Yang baaaanyaaaak." bocah bertubuh gemuk itu memperagakan lingkaran dengan kedua tangan besarnya. Syaquilla mengangguk turut tersenyum karena senang.
"Tapi Uncle gak bisa pergi sendiri, Kak." Suara ibu sambungnya datang dari arah dapur. "Gak ada yang bantuin jagain Faiqa sama Ilker. Kakak mau ikut kan? Anterin? Karena Mama jelas gak bisa." Caliana mengusap perutnya. Memberikan kode kalau ada bayi yang harus ia jaga.
Syaquilla memandang sang ibu, lalu pamannya uang masih asyik mengajak main Faiqa, lalu kembali ke ibunya lagi. Caliana tersenyum. Mau tak mau Syaquilla mengangguk. "Abang, Teteh, ayo ganti pakaian dulu." Seru Caliana. Kedua bocah yang dipanggil menuruti ibunya. Ilker berlari ke atas ke tempat kamarnya berada dan Faiqa di bawa ke kamarnya di lantai bawah. Sementara Syaquilla, dia memang sudah hendak pergi ke suatu tempat. Jadi dia tak perlu berganti pakaian lagi
"Kamu punya rencana?" Syaquilla hanya tersenyum dan mengangguk. "Kalo ada rencana, lebih baik gak usah temenin Uncle. Uncle bisa kok jagain mereka." Gilang berujar halus.
Kalau karena Qilla yang mau? Kalau Qilla mau ngabisin waktu Qilla sama Uncle?
"Kayak yang iya aja." Suara Caliana kembali terdengar. Mungkin karena sudah sepuluh tahun berpengalaman jadi ibu, menggantikan pakaian anak pun hanya butuh waktu beberapa menit yang singkat. "Udah, Ilker itu nurutnya sama Qilla. Faiqa juga. Jadi semisal mereka ngeyel, ada Qilla yang jadi penengah." Ujar Caliana lagi. Gilang hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
Mereka berempat akhirnya menuju sebuah Mall besar di jalan Gatot Subroto. Ilker dan Faiqa begitu antusias. Kalau saja tidak Syaquilla dan Gilang tahan, keduanya akan berlari menaiki eskalator begitu saja.
Mereka berkeliling, mencari pakaian, mainan, buku dan cemilan yang mereka suka. Dan ketika jam makan siang datang, mereka mampir di salah satu restoran fast food kesukaan Ilker.
Kenyang dan lelah berjalan-jalan, mereka akhirnya memutuskan pulang. Faiqa tertidur dalam perjalanan pulang. Tubuh kecilnya bergelung di atas pangkuan Syaquilla di jok belakang. Sementara Ilker duduk dengan anteng di samping supir sambil mengemil.
Sesampainya di rumah, Syaquilla bermaksud menggendong Faiqa masuk ke dalam. Namun Gilang menahannya. Melarangnya membawa Faiqa dan lebih memintanya untuk membawakan barang belanjaan mereka ke dalam. Tanpa banyak kata, Syaquilla menurut saja.
Rumah tampak sepi. Syaquilla meletakkan belanjaan di ruang bermain anak-anak. Tepat saat itu Gilang masuk dengab Faiqa dalam gendongannya. Syaquilla membukakan kamar Faiqa, dan setelah itu ia memilih untuk undur diri dan menyembunyikan diri di ruang kerja Adskhan yang juga sering ia gunakan.
Ia memiliki dua alasan untuk itu. Alasan pertama adalah Gilang, dan alasan keduanya karena memang dia ingin segera melanjutkan pekerjaannya.
Yang Syaquilla lakukan saat ini adalah membuat desain untuk cafe mereka yang baru. Tadinya hari ini Qilla hendak pergi kesana untuk mengambil ulang foto ruko. Namun karena acaranya dengan Gilang dan adik-adiknya, ia membatalkan nya. Lagipula Qilla sudah mengukur ruko yang akan mereka sewa beberapa saat mengecek lokasi waktu lalu. Dan sekarang ia sedang merencanakan desain interiornya sebelum memutuskan para tukang mengerjakannya.
Mendesain itu memakan banyak waktu, selain untuk berpikir, Syaquilla juga sering merombak gambarnya saat dirasanya kurang cocok, sehingga ia hanya keluar untuk melaksanakan shalat ashar dan mengambil air minum dan setelahnya kembali bersembunyi di balik pintu jati lebar itu.
Sementara itu, setelah Faiqa bangun, Gilang mengajak Ilker dan adiknya Faiqa untuk membongkar belanjaan mereka dan bermain di ruang yang dibuat khusus untuk area bermain anak yang cukup luas.
__ADS_1
Ia tidak lagi melihat keberadaan Syaquilla sejak ia membaringkan tubuh mungil Faiqa dan kemhdian gadis itu memilih untuk mengurung diri di ruang kerja ayahnya. Entah sibuk bekerja, atau mungkin menghabiskan waktunya untuk membaca novel yang baru saja dibelinya.
Namun saat waktunya shalat Ashar, ketika ia dan Ilker hendak pergi ke Masjid yang tidak jauh dari rumah Adskhan, ia melihat gadis itu keluar. Masih rapi dengan hijab birunya. Sepertinya ia tidak menyadari keberadaan Gilang yang melihatnya menghilang ke area belakang rumah, tempat dimana Mushola keluarga berada.
Syaquilla bukannya tidak menyadari keberadaan sang paman di rumahnya. Ia tahu, meskipun ruang kerja ayahnya merupakan ruangan kedap suara, tapi Syaquilla bisa memperhatikan Gilang dan seluruh keluarga lainnya dari CCTV yang dipasang ayahnya. Yang ia lihat dari layar persegi di hadapannya.
Bahkan kalau perlu jujur, waktu yang ia habiskan untuk bekerja tidak lebih banyak daripada waktu yang dihabiskannya untuk memperhatikan Gilang.
Pekerjaan hanyalah alasan. Karena memang selain ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya, ia sengaja menghindari pamannya itu. Dan lebih memilih memperhatikannya secara diam-diam seperti ini.
Walau bagaimanapun, meskipun tahun-tahun telah berlalu. Rasa dalam hati Syaquilla itu masih ada. Padahal ia sudah sekuat mungkin mengalihkan hati dan pikirannya dari pria itu.
Setelah selesai dengan kewajiban asharnya, Syaquilla segera kembali keruangan Papanya untuk mengerjakan pekerjaannya-bukan, tapi untuk bersembunyi. Meskipun ia tahu malam ini pikirannya akan kembali dipenuhi Gilang dan berakhir menangis semalaman karena merindukan pria itu. Karena tidak bisa mendapatkan pria itu.
Tidak. Syaquilla sudah dewasa sekarang. Seharusnya rasa itu sudah tak ada. Bukankah cinta yang dimilikinya untuk Gilang hanyalah sekedar cinta monyet? Itu kan yang diyakininya selama ini. Tapi kenapa?
'Ya Allah, sadarkanlah hati hamba. Hilangkanlah rasa ini untuknya. Bagaimana bisa hamba masih menyimpan rindu sementara sosok orang yang ia rindukan ada dalam jangkauan tangannya?'
__ADS_1
Alhasil, sampai magrib menjelang, bukannya pekerjaan yang ia selesaikan. Tapi diam dalam lamunan dengan layar CCTV yang sepenuhnya menampakkan sosok Gilang.
Mengingat masa lalu yang ia lewatkan dengan semua kesibukan demi menghabiskan waktu untuk melupakan pria itu. Tapi selalunya, saat tidak ada lagi hal yang harus dilakukan. Ia kembali mengingat sosok itu. Sosok paman tirinya.