To Make You Mine

To Make You Mine
18. Amunisi (2)


__ADS_3

"Siap-siap, waktu kita hanya tinggal lima menit sampai dibuka." Carina bertepuk tangan dan karyawan kembali ke tempat mereka masing-masing.


Dua orang chef masuk ke area dapur, satu kasir berjalan ke balik meja yang sudah tersedia satu set komputer dan mesin faktur. Lalu sisa empat orang berdiri siap di bagian depan toko.


Mereka adalah ketujuh karyawan yang sudah bekerja sama di kedai yang sebelumnya kebakaran. Karyawan yang sudah seperti saudara bagi Carina dan Syaquilla. Karyawan yang sopan dan segan namun akrab di waktu yang bersamaan.


Setelah itu Carina dan Syaquilla naik ke lantai tiga ruko. Di lantai tiga ini sudah di desain menjadi kantor, ruang penyimpanan, kamar untuk karyawan berukuran 3x3 sebanyak dua kamar dan kamar berukuran 3x4 meter untuk kamar khusus Carina atau Syaquilla. Ada juga mushola. Semua ruang itu disekat dengan papan tebal dan dilapisi wallpaper dinding sehingga terlihat nyaman.  Setidaknya Carina dan Syaquilla membuatnya nyaman sehingga ia, Carina dan juga karyawannya bisa betah tinggal  disana. Karena terkadang, Syaquilla sendiri suka tinggal di ruko jika terlalu malas untuk pulang.


Ruangan kerja Syaquilla sendiri sebagian besar terbuat dari kaca gelap yang memiliki balkon yang menghadap ke area depan ruko sehingga ia bisa melihat area parkir ruko lewat teralis besi yang dibuat khusus oleh pemilik ruko.


Syaquilla duduk di balik meja, menyalakan layar persegi empat yang menunjukkan seluruh area cafe. Semua area toko ini sudah mereka pasang dengan CCTV, bukan karena mereka tidak percaya pada karyawan. Tapi lebih sebagai antisipasi jika suatu saat ada konsumen yang membuat masalah, atau jika terjadi kehilangan, CCTV bisa menjadi pembuktian.


Seluruh area mulai dari lantai satu sampai tiga masing-masingnya memiliki empat CCTV, belum termasuk CCTV di area dapur dan penyimpanan. Sementara area parkir terpasang dua CCTV dan pintu belakang yang mengarah menuju area penerimaan barang terpasang dua CCTV juga. Jadi total keseluruhan ada 19 CCTV di cafe mereka. Mahal? Tentu saja. Untuk membeli satu pcs kamera saja mereka haru mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, dikali 19, ya tentu mereka mengeluarkan tujuh nol di belakang nominalnya. Tapi demi keamanan dan kenyamanan bersama, Syaquilla dan Carina tidak masalah dengan itu.


Toh semua biaya sudah ada perhitungannya. Mereka hanya berharap kalau Cafe mereka berjalan sukses sesuai harapan.


"Gimana sama kuliah kamu? Lancar?" Carina bertanya.


"Sejauh ini lancar. Kamu kerjaan gimana? Ada pemotretan yang nilainya waw?" Syaquilla memandang sahabatnya, tiba-tiba wajah sahabatnya memerah. "Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya Syaquilla curiga.


"Mm... Anu..." Ucapnya ragu-ragu.


"Apa Rin, ngomong aja."


"Aku minta maaf sama kamu, La."


Syaquilla mengerutkan dahi bingung. "Minta maaf kenapa? Kamu bikin salah sama aku?"


"Ya, bisa dibilang iya. Bisa juga dibilang enggak. Aku bingung juga sih mau gimana bilangnya. Ini tentang Gilbert."

__ADS_1


Gilbert? Syaquilla masih mengerutkan dahinya pada Carina. "Kenapa sama Gilbert?"


"Dia ada disini."


Kali ini Syaquilla tercengang. "Gilbert? Disini? Sama Meyra?"


"Aish... Kenapa bawa-bawa si Meyra. Meyra udah pasti ada di Inggris lah sama lakinya."


"Trus?"


"Gilbert disini. Dia ternyata jadi fotografer." Jawab Carina dengan desahan kesal.


"Asli?" Syaquilla tersenyum melihat wajah kesal sahabatnya. Ini bukan kisah cinta segitiga. Tapi Carina menganggapnya demikian. Tapi Syaquilla menganggap ini cinta aneh. Carina-meskipun tak mau diakui gadis itu-jelas menyukai Gilbert. Sementara Gilbert mengatakan ia suka Syaquilla-namun Syaquilla tidak menyukainya, karena meskipun ia tidak memiliki pria lain yang ia sukai, ia tidak bisa menerima Gilbert menjadi imamnya karena masalah agama-dan Syaquilla sendiri jelas menyukai Gilang. Meskipun ia tidak tahu perasaan Gilang terhadapnya.


"Jadi kalian sekarang kerjasama?" Tanya Syaquilla lagi. Dan Carina mengangguk lemah.


"Maksud kamu, Gilbert sekarang bergelut di dunia fashion, gitu?" Syaquilla mencoba memahami perkataan Carina yang terkadang suka terlalu panjang dan berbelit. Sahabatnya itu mengangguk. "Tapi kamu bilang tadi dia fotografer?"


"Iya. Itu juga. Jadi ternyata aku juga baru tahu kalau si G itu suka terjun langsung ke acara pemotretan. Awalnya kupikir dengan 'terjun langsung' itu ya istilah untuk mengawasi. Tapi ternyata salah. Terjun langsung menurut dia itu ya, dia yang jadi fotografer nya." Carina mendengus kesal. Namun Syaquilla tersenyum lebar. "La, kamu ngejek?" Tan1yanya dengan nada sinis. Syaquilla semakin tersenyum lebar.


"Aku cuma mau balikin amunisi ke kamu, Rin." Jawab Syaquilla santai.


"Amunisi?" Carina balik memandangnya dengan dahi berkerut.


"Kejar dia, pertahankan. Karena cinta itu bukan duduk diam dan memperhatikan. Tapi bergerak dan memperjuangkan. Kalau dia pasif, kamu yang berubah aktif. Kalau dia gak mesum, kamu yang mesumin." Syaquilla memandang sahabatnya, dan Carina balik memandangnya dengan mulut menganga. Syaquilla benar-benar mengalahkannya dengan telak.


FLASHBACK


Jaman putih abu-abu.

__ADS_1


Meyra, Carina dan Syaquilla sedang duduk di bangku kantin. Meyra dengan batagor dan teh manisnya. Syaquilla dengan mie ayam dan es jeruknya. Dan Carina dengan bakso dan milkshake kesukaannya.


"Jadi, UGM?" Tanya Carina memandang Syaquilla. Syaquilla mengangguk. Dia sudah mengantongi ijin dan juga undangan beasiswa dari universitas ternama di Indonesia. "Loe Mey? Jadi ke Inggris?" Meyra menatap Carina dengan wajah sedih.


"Belum yakin, Rin." Jawabnya sendu.


"Maksud loe? Loe bukannya udah ikut program juga? Kemarin kata loe udah dapet sertifikat bahasa?"


"Iya. Semuanya udah. Tinggal dapet panggilan aja. Cuma gue ragu sekarang. Semisal gue kesana, gimana nasib gue, Rin? Kalo Nathan gak suka sama gue gimana?"


"Yaelah. Loe sama si Qilla apa bedanya sih?" Carina menatap tajam pada sahabat yang sudah menjadi sepupunya itu. Syaquilla yang merasa namanya disebut mendongakkan kepalanya dari mie ayam di hadapannya.


"Kenapa bawa-bawa aku sih, Rin?" Tanyanya tak suka.


"Iya. Kamu sama si Mey tuh gak ada bedanya. Nih ya, dengerin kata Mbah Carin. Biar Mbah yang ramal percintaan kalian." Carina memandang Meyra dan Syaquilla bergantian. "Biar Mbah tanya sama kalian. Selama ini, perjalanan kalian untuk dapat beasiswa itu gimana? Perlu perjuangan, kan?" Syaquilla dan Meyra mengangguk. "Kalian belajar-belajar dan belajar. Masuk tempat kursus ini. Ambil privat itu. Blah-blah-blah. Trus kalian dapat hasil dari perjuangan itu, kan?" Lagi-lagi Syaquilla dan Meyra mengangguk. "Nah..." Carina menggebrak meja, membuat Meyra dan Syaquilla terkejut. Bahkan mangkuk dan gelas mereka bergetar dengan cukup kuat. "Tuh kalian tahu prinsip dasarnya. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu perlu perjuangan. Ingat lagu lawas yang everlasting. 'perjuangan dan doa'. Kalian berjuang keras, sisanya lantunkan doa." Ujarnya dengan berapi-api.


"Kamu suka Nathan." Telunjuknya mengarah pada Meyra. "Kamu suka uncle." Telunjuk itu beralih pada Syaquilla. "Jadi kalian berjuang dapetin keduanya dengan berbagai cara. Tapi jangan lupa dengan kata 'halal'. Jangan coba-coba keluar nalar. Licik boleh, tapi jangan rakus. Kejar dia, pertahankan. Karena cinta itu bukan duduk diam dan memperhatikan. Tapi bergerak dan memperjuangkan. Kalau dia pasif, kamu yang berubah aktif. Kalau dia gak mesum, kamu yang mesumin. Ya, raba-raba dikit kali gak apa-apa. Anggap aja icip-icip sebelum dibeli." Jawab Carina dan lalu kembali menyedot milkshake nya. Sepertinya tenggorokan gadis itu mengering karena terlalu banyak berkoar.


Flashback Off


Carina memandang Syaquilla lalu kemudian mengumpat pelan. "Sial!" Desisnya. Bagaimana bisa sahabat sekaligus sepupunya itu benar-benar membalikan amunisinya kepadanya.


Bahkan Carina sendiri lupa pernah mengatakan itu pada sahabatnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ucapannya dulu berbuah manis pada sahabat mereka, Meyra. Karena gadis itu berhasil mendapatkan pria pujaannya. Sekarang tinggal Carina dan Syaquilla yang perlu berjuang dengan 'amunisi' Carina.


______________________________________________


***Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih


TBC***

__ADS_1


__ADS_2