To Make You Mine

To Make You Mine
20. Edwin (2)


__ADS_3

Seorang wanita yang easy going seharusnya tidak kesulitan berteman, bukan? Karena sebaru apapun lingkungan yang mereka datangi, mereka secara otomatis sangat mudah berbaur. Jadi lagi, Gilang tahu bahwa itu hanya sekedar alasan. "Maaf, Dokter. Saya tidak bisa. Saya sudah punya janji makan siang dengan orang lain." Jawabnya Gilang. Tidak sepenuhnya bohong, dan bukan sekedar alasan untuk mengelak. Karena memang dia sudah punya janji makan siang dengan orang lain. Dan itu bukan dengan Zemira.


Suara ketukan terdengar lagi, pintu yang masih terbuka memperlihatkan sosok tamu mereka. "Maaf telat." Suara seorang wanita menyapa mereka. Edwin memandang sang tamu dengan mulut menganga.


"Ca-Carina?" Tanyanya terkejut.


Carina memandang pria yang berseragam serba putih itu lalu tersenyum. "Anda mengenal saya?" Tanyanya ramah. Pria muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"A-aku Edwin. Kita satu sekolah waktu SMP dulu." Jawabnya mengulurkan tangan. "Kamu mungkin tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu, dan sahabat baikmu, Syaquilla."


Carina menerima uluran tangan pria itu. "Hai, Edwin. Maaf kalau aku tidak mengenalmu. Otakku sedikit telmi kalau mengingat nama orang." Ucapnya apa adanya. Edwin mengangguk. Ya, Carina memang sosok yang ceria, tapi dia juga merupakan orang yang sulit mengenali nama orang. Kecuali orang-orang tertentu yang memang frekuensi pertemuannya intens. 


"Tak apa. Aku paham. Selamat ya, aku sering melihat wajahmu di beberapa iklan." Ucapnya tulus. Carina membalas dengan senyum tak kalah tulusnya. "Bagaimana kabar Syaquilla?"


"Sehat, dia sehat." Jawab Carina masih dengan senyumnya. "Oh, hai Dokter Zemira." Carina mengalihkan perhatiannya pada orang lain yang ada di ruangan itu. Tangannya melambai sebagai sapaan.


"Oh, hai Carina." Sapa Zemira dengan senyum terpaksa. "Jadi, kamu ada janji sama Carina?" Zemira memandang Gilang. Pria itu mengangguk. Gilang berdiri dan melepas jas dokternya. Meraih gantungan pakaian dan memasangkannya di sana sebelum memasukannya ke dalam loker. "Dimana kalian akan makan siang? Boleh gabung?" Zemira memandang Gilang dengan tatapan memelasnya. Gilang hendak membuka suara, bermaksud menolak. Namun Carina lebih dulu menyela.

__ADS_1


"Kenapa tidak?" Itu jawaban Carina. Gilang menatap tajam keponakannya, namun Carina malah menerbitkan senyum ceria di wajahnya. Ia mengabaikan Gilang dan balik memandang Edwin. "Kamu juga, apa punya janji makan siang?" Tanyanya pada Edwin. Edwin menggeleng. "Good. Kita bisa pergi berempat. Lokasinya tidak terlalu jauh. Ayo." Ajaknya lagi dan tanpa menunggu persetujuan siapapun ia berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan Gilang. Let's see the show. Gumamnya dalam hati.


Mereka sudah berada di area ruko dimana cafe Syaquilla dan Carina berada. Menggunakan mobil Carina dengan Gilang sebagai supirnya. Saat ini mereka sedang berada dalam antrian untuk masuk pelataran parkir cafe. Karena memang sudah jamnya makan siang, dan Cafe mereka menjadi salah satu tempat buruan, maka tempat parkirnya secara otomatis penuh.


"Bukannya itu Dokter Natta?" Pertanyaan Edwin keluar ketika melihat seorang pria turun dari sebuah mobil SUV dan berjalan menuju arah Cafe yang juga mereka tuju.


"Mana?" Carina yang duduk di samping kursi pengemudi mencoba melihat arah yang ditunjuk Edwin. "Kamu kenal Mas Natta?" Ia bertanya pada Edwin yang dibalas anggukan.


"Dia dokter baru di RS. Baru saja masuk barengan Dokter Zemira." Edwin melirik dokter Zemira dan Zemira mengangguk.


"Ohh,, begitu. Ternyata dunia itu sempit ya. Atau harusnya ganti kalimat? Bandung itu sempit." Carina terkekeh. "Aku kenal kamu, kamu kenal aku sama Syaquilla. Kamu kerja sama Uncle, kenal sama dokter Natta yang ternyata adalah tunangan Syaquilla." Umum Carina dengan suara senangnya.


"Beneran itu?" Tanya Edwin memastikan. Carina mengangguk. Edwin tersenyum senang. "Bener-bener gak nyangka ya. Tapi Dokter Natta sama Syaquilla emang cocok. Cantik-tampan. Mana dua-duanya ramah juga. Sama-sama pendiam dan pemalu juga. Aku harap dokter Natta bisa bahagiain Qilla." Doa Edwin tulus. Yang malah membuat Gilang menggertakkan gigi dan semakin mencengkeram kemudinya erat.


"Amiin." Jawab Carina tak kalah tulusnya. Meskipun dalam hati gadis itu berharap sosok yang duduk di sampingnya lah yang akan memberikan kebahagiaan untuk sahabat sekaligus sepupunya itu.


"Apa bagusnya kalau sama-sama pendiam." Komentar Gilang yang kini sudah berhasil memarkirkan mobilnya. "Namanya hubungan itu harus saling melengkapi. Kalau satu pasif, satunya harus aktif." Ujarnya sebelum turun dari mobil dengan wajah kesal. Diikuti Zemira.

__ADS_1


Edwin yang memang menunggu Carina keluar tampak memberanikan diri bertanya. "Rin, kayaknya ada yang salah?" Edwin memandang Carina bingung. Carina balik memandangnya dengan senyuman hangat.


"Menurut loe?" Carina balik bertanya. "Oke, gue ngerasa gak perlu terlalu kaku." Lanjut Carina lagi yang memilih ber 'loe-gue' pada pria yang baru dikenalnya itu. Bukan karena tidak sopan, hanya rasanya gaya seperti itu lebih nyaman. Dan melihat wajah Edwin yang datar-datar saja, sepertinya pria itu juga tidak keberatan. "Gue tahu kita gak bisa dibilang akrab. Tapi gue bakal butuh bantuan loe ke depannya nanti. Mengingat loe kayaknya bisa menilai situasi dengan cara cepat kayak barusan. Loe mau bantu gue kan?"  Carina memandangnya penuh harap. Sebenarnya ide ini muncul begitu saja. Dan Carina juga tidak seratus persen mengharapkan jawaban 'iya' dari Edwin. Secara mereka baru saja bertemu dan mereka tidak terlalu 'akrab' satu sama lain.


Edwin mengerutkan kening. "Selama Loe gak minta resep obat yang aneh-aneh, gue sih oke." Jawab pria itu santai.


Carina tersenyum lebar. "Ya enggak lah." Ia mengibaskan tangan lentiknya. "Emangnya obat apa juga yang bisa gue minta? Gue gak perlu obat pelangsing, gak perlu obat kuat juga." Ucapnya  tertawa sebelum mengikuti dua orang dewasa di depannya.


Gilang memindai area lantai satu yang hampir penuh itu. Tapi tidak melihat kehadiran Natta maupun Syaquilla. Dimana mereka?


"Dokter Natta ada di lantai tiga." Jawab Carina datar di sampingnya. "Dokter Natta itu tamu khusus, jadi diperlakukan khusus, Uncle. Mana mungkin Dokter Natta disuruh antri di lantai satu atau dua." Ucap Carina lagi. "Ayok, ikutin gue." Carina mengajak Edwin yang mengekor di belakangnya menuju tangga. Mau tak mau Gilang mengikuti keponakannya diikuti Zemira di belakangnya.


Saat tangga mengarah ke lantai tiga, terdengar suara tawa laki-laki dan perempuan. Entah bagaimana Gilang merasa dadanya berdebar kencang. Telinganya memanas, bukan karena cuacanya yang panas, tapi karena suara merdu tawa Syaquilla yang jarang di dengarnya.


______________________________________________


Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih

__ADS_1


TBC


__ADS_2