
*Dear Diary
Aku kembali berbincang bersama sahabatku, mengingat kembali sebuah kenangan lama yang bahkan hampir kami lupakan.
Tentang Cinta, Perjuangan, dan Doa
Sedikit membuat goyah, pada awalnya. Membuatku berpikir ulang. Bisakah? Haruskah?
Bisakah aku berjuang, mengindahkan semua pikiran buruk dalam pikiran? Tapi aku takut sendiri. Bagaimana jika perjuangan itu tidak berakhir indah? Bukan untukku, tapi untuknya?
Haruskah aku berjuang? Mengingat ke depannya bukan hanya masa depanku yang menjadi taruhan. Tapi juga masa depannya?
Dear Diary
Aku goyah. Dia memiliki masa depan yang cerah. Meskipun aku tidak tahu kepada siapa hatinya berlabuh, tapi aku tahu bahwa disana banyak wanita yang ingin melabuhkan hatinya pada Dia. Dan jujur, aku salah satunya.
Tapi jika aku mengingat kata 'pantas'. Maka aku bukan salah satunya. Aku bukan orang yang 'pantas' untuknya. Karena terlalu banyak hal kupertimbangkan juga. Bukan demi kebaikanku, tapi demi kebaikannya.
Aku tidak ingin buta karena cinta. Menutup mata dan menolak memandang kesakitan orang-orang di sekitarku karena ke egoisanku kelak. Dan aku juga tidak ingin menulikan pendengaranku dari ocehan buruk orang lain terhadap kami kelak. Tak apa jika tatapan keji dan ucapan pedas itu diperuntukkan padaku. Tapi jika semua itu ditujukan padanya, aku tidak sanggup. Karena cintaku, itu ada untuk menjaganya.
Dear Diary
__ADS_1
Aku tidak ingin menjadi pribadi yang tidak bersyukur. Hanya saja seringkali aku berharap jika aku sekarang bukanlah aku. Bahwa Syaquilla tidak terlahir sebagai Syaquilla. Aku berharap bisa menjadi orang lain yang bisa dengan bebas mencintai Dia, mengejar Dia dan menunjukkan semua rasa ini kepadanya.
Tapi jika aku tidak menjadi Syaquilla, maka aku tidak akan memiliki apa yang aku miliki saat ini. Orangtuaku, adik-adikku, kerabat-kerabatku, sahabat-sahabatku. Mereka yang kucintai dan mencintaiku. Dan bahkan mungkin, jika aku menjadi orang lain, belum tentu aku mengenalnya. Bukankah aku tidak bersyukur?
Jadi kupikir, lebih baik menggenggam kerikil daripada menggenggam pasir. Karena semakin erat kugenggam kerikil, kerikil itu masih ada di tanganku. Sementara semakin kugenggam pasir, pasir itu semakin lepas dari tanganku. Kulepaskan satu yang berharga dan mempertahankan yang lain. Bukan karena aku tak mencintainya, tapi karena terlalu mencintainya.
Dia akan mendapat kebahagiaannya, dan aku pun mendapat kebahagiaanku. Tidak ada perjuangan dalam kisah cintaku. Aku hanya bisa melantunkan doa untuknya*.
______________________________________________
Rumah sakit memiliki bau khas nya. Itulah yang ada dalam pikiran Gilang. Dan bau\-bau itu sudah cukup bertahan dalam kepalanya. Pada awal masa praktiknya, semua bau itu membuatnya merasa pusing, tapi kini, karena sudah terbiasa, semua bau itu menjadi biasa.
Ponsel khusus rumah sakit berbunyi. Ada pesan khusus. Gilang membaca pesan tersebut dan langsung meninggalkan mejanya.
"Dokter Gilang, silahkan masuk." Suara Dokter Hamid yang berat dan ramah menyambutnya. "Nah, karena sekarang sepertinya semua yang berdinas pagi sudah berkumpul. Jadi biar saya perkenalkan. Dokter-dokter semuanya, rekan staff juga. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa kita akan kedatangan dokter baru di rumah sakit ini. Maka saya perkenalkan kepada Anda-Anda semuanya. Ini dokter spesialis kandungan kita yang baru. Dokter Zemira Husain dan Dokter ahli bedah syaraf, Dokter Teuku Natta Daud."
Gilang menatap ke arah Zemira yang memang sudah dikenalnya dan mengangguk pelan. Lalu tatapannya beralih pada Dokter pria yang juga ia kenal beberapa minggu yang lalu. Dokter Teuku Natta Daud. Atau Dokter Natta atau Mas Natta. Pria yang kini berstatus sebagai pacar atau tunangan keponakannya.
Permainan macam apa yang sedang ditulis Tuhan untuknya saat ini? Kenapa kedua orang itu bisa ada di hadapannya saat ini?
Gilang tersadar dari lamunannya saat seorang rekan menyenggol pelan lengannya. Tepat disaat Zemira mengulurkan tangan untuk berkenalan sebagai sopan santun. Beberapa dokter tampak mengulum senyum, mengira kediaman Gilang karena dia terpukau akan kecantikan Zemira. Padahal mereka salah. Keterpukauannya lebih karena kehadiran pria berwajah manis di hadapannya.
__ADS_1
Selesai berbasa-basi. Sepuluh menit kemudian Gilang sudah berada di balik mejanya. Siap untuk bekerja. Melakukan visit antar ruangan pasien yang berada di bawah tugasnya. Setelah itu ia melanjutkan dengan memeriksa pasien yang sudah mendaftar di poli penyakit dalam.
Pukul 12.00 siang, sebuah ketukan pelan terdengar dari luar. Gilang memandang Edwin, perawat laki-laki yang menjadi asistennya. Pasalnya pengobatan dihentikan selama jam isoma. Istirahat, solat, makan. Jadi seharusnya mereka tidak memiliki pasien saat ini. Edwin mengangkat bahu, jelas ia pun tidak tahu siapa yang ada di luar pintu.
"Masuk." Perintah Gilang halus. Lalu kemudian pintu dibuka dan wajah Zemira muncul disana.
"Hai." Sapanya dengan sebuah senyum lebar.
Gilang mengerutkan dahi. Heran akan keberadaan Dokter Kandungan yang areanya cukup jauh dari area Gilang tiba-tiba muncul disana. "Ya, Dokter Zemira?" Tanya Gilang dengan nada dan sikap formalnya.
Zemira tampak mengerutkan dahi, wajahnya tiba\-tiba cemberut merajuk. "Ayolah Gilang, apa harus se formal itu?" Tanyanya dengan gaya kekanakan. "Kita sudah mengenal cukup lama, kalau kau lupa." Ujarnya, menekankan kata mengenal, seolah ia ingin menegaskan kepada dunia tentang siapa dirinya.
"Maaf, Dokter. Tapi kita masih ada di area rumah sakit." Sanggah Gilang dengan halus. Ia berusaha bersikap profesional. Kenalan lama atau bukan, Gilang tidak ingin muncul desas\-desus ada hubungan lain antar sesama dokter baru. Ia ingin menjaga jarak sebisa mungkin. "Ada yang bisa dibantu?" Tanya Gilang lagi dengan nada tegasnya.
Gilang tahu bahwa saat ini Zemira sedang berusaha mendekatinya. Bukan karena dia sok kepedean. Tapi mengingat sepak terjang Zemira dan ibunya semenjak kepulangannya kembali ke Indonesia, Gilang tahu bahwa wanita di hadapannya ini sedang menargetkan Gilang sebagai calon potensialnya. Dan karena itu, Gilang ingin memberi tahu wanita itu bahwa ia tidak memiliki minat terhadapnya dengan bersikap se profesional mungkin baik diluar atau didalam lingkungan kerja.
Mereka teman lama, kuliah di kampus yang sama. Tapi awal mereka bertemu pun karena Aathaf memperkenalkan mereka. Karena dulu temannya itu sempat mengagumi Zemira dan ingin dekat dengannya. Dan hanya sekedar itulah hubungan mereka. Dan Gilang tidak mau ada krasak-krusuk tidak jelas beredar di area rumah sakit.
Zemira masih memberengut kesal. Tapi Gilang tidak memedulikannya. "Aku mau mengajakmu makan siang. Mengingat aku masih baru disini dan hanya ada kau yang kukenal, jadi kupikir kita bisa makan siang bersama?" Ajak wanita itu.
______________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih
TBC