To Make You Mine

To Make You Mine
25. Mata, Telinga (2)


__ADS_3

"Dok?" Edwin memandang Gokter Gilang. Pria yang 12 tahuh lebih tua itu memandangnya dan menggelengkan kepala. "Kirain. Soalnya kalo iya, saya bisa bantuin Dokter buat manggil Dokter Zemira lagi."


"Jangan ngaco kamu. Ya udah, pesen makanan online sana. Saya traktir. Anggap aja ucapan terima kasih saya." Ujarnya menyerahkan ponselnya pada Edwin. "Bayar pake saldo yang ada. Saya pesen ayam geprek yang levelnya pedes. Saya ke Masjid dulu." Ucapnya lagi dan berniat meninggalkan Edwin. Namun Edwin malah mengekorinya. "Kamu mau kemana?" Tanya Gilang bingung.


"Ngikut Dokter ke Masjid. Kan mau solat juga dok. Gini-gini juga saya itu gak pernah kelewat lima waktu." Ucapnya berbangga. Gilang tidak lagi berkomentar. Mereka berjalan menuju Masjid beriringan. Tak peduli dengan tatapan ibu dan anak yang menyorot tajam. Sadar akan kebohongan yang sudah kedua pria itu lakukan.


Sore harinya ketika Gilang hendak pulang, dia melihat adiknya di area rumah sakit, dibimbing sang suami. Gilang mendekat dan menyapa keduanya.


"Kalian ngapain disini?" Tanya Gilang penasaran.


Bukannya menjawab, Caliana malah balik bertanya. "Abang, mau pulang?"


"Iya. Kamu kenapa? Udah kerasa?" Tanya Gilang lagi.


"Iya, tadi sempet kontraksi palsu. Dasar Mas Adskhan aja yang lebay. Langsung minta ke RS, padahal gak apa-apa juga." Caliana memandang suaminya sebal. Sementara Adskhan hanya tersenyum salah tingkah.


"Ya, waspada kan gak apa-apa, Yang." Jawab Adskhan lagi.


"Trus gimana? Udah kontrolnya?" Tanya Gilang lagi. Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju area parkir.


"Gak jadi." Jawab Adskhan. "Tiba-tiba adik Abang minta pulang."


"Lho, kok?" Gilang memandang adiknya heran.


"Males aja Bang. Lagian dokter kandungan Ana gak dinas disini. Kalo disini, baru lihat papan nama dokternya aja udah bikin kontraksi ilang." Lagi-lagi Caliana bersungut-sungut.


"Dia kenapa?" Gilang yang tidak mengerti emosi Caliana akhirnya memilih memandang adik iparnya.


Adskhan mengangkat bahu. Lalu pertanyaan Gilang terjawab seketika ketika sosok dokter kandungan lewat di hadapan mereka. "Kamu gak suka sama Zemira, Na?" Tanyanya langsung.

__ADS_1


"Kalo iya, kenapa?" Jawab Caliana jutek. Gilang mengangkat kedua alisnya. Adiknya itu memang tipe Carina banget. Atau sebenarnya Carina itu menjiplak sekali kelakuan Caliana. Mereka berdua kalau tidak suka, selalu menunjukkan nya secara terang-terangan.


"Ya gak kenapa-napa. Cuma nanya aja." Jawab Gilang lagi. Keduanya terpisah saat memasuki mobil masing-masing.


Gilang sebenarnya ingin tahu alasan kenapa adiknya itu secara terang-terangan tidak menyukai Zemira. Namun pertanyaan itu ia tahan. Akan ada lain waktu dimana ia bisa bertanya pada Caliana.


Tepat sebelum ia menyalakan mobil, ponselnya berdering. Nama Caliana tertera di layar persegi itu. "Ya?" Jawabnya dengan cepat.


"Abang ada acara?" Tanya Caliana lagi.


"Enggak. Kenapa emang?"


"Sebenernya Ana sama Mas Adskhan lagi mah OTW ke cafe Qilla sama Carina. Mau makan malam disana. Abang mau gabung."


"Di traktir?" Goda Gilang dengan senyum di wajah.


"Yaelah, udah kaya, minta di traktir pula. Okelah, untuk adik Abang ini punya suami kaya. Kalo enggak."


"Emang Abang tahu kita mau ke Cafe dimana? Main asyik aja."


"Emang mau ke Cafe mana?" Setahu Gilang, Cafe Carina dan Syaquilla itu yang baru beberapa waktu lalu ia kunjungi kan? Cafe dengan gaya modern yang memiliki menu makanan Korea?


Caliana menyebutkan alamat Cafe yang berbeda. "Anak-anak mau makan ramen. Mereka udah ada disana. Abang nyusul ya." Lalu kemudian telepon ditutup dan Gilang mendapatkan pesan dari Caliana yang berisikan peta lokasi yang harus ditujunya.


Dengan dahi berkerut, Gilang menyalakan mesin dan mulai melaju sesuai tuntunan GPS.


Cafe yang dikunjunginya saat ini masih berupa ruko tiga lantai. Sama seperti Cafe makanan Korea yang sebelumnya dia kunjungi. Jika Cafe makanan Korea yang sebelumnya memiliki bentuk gedung memanjang, maka Cafe makanan Jepang ini memiliki bentuk melebar dengan dekorasi khas jepang yang kental. Pohon sakura imitasi tampak menghiasi pintu depan ruko yang dipagari kayu. Tempat makannya juga berupa meja-meja pendek persegi yang orang Indonesia kenal dengan sebutan lesehan. Sementara sisi kiri dan kanan ada meja yang menempel pada dinding yang diperuntukkan bagi mereka yang hendak makan sendiri atau berdua dengan duduk berjejer.


Nuansanya nyaman. Bahkan di dekat susuran tangga terdapat sebuah layar persegi panjang layar sentuh bertuliskan "Pesan Lagu, Disini."

__ADS_1


"Kon'nichiwa, Selamat sore. Selamat datang di Qina Cafe." Sapa seorang pramuniaga perempuan yang memakai seragam sekolah ala-ala murid Jepang yang khas dengan seragam sailor nya. "Kakak sudah pesan tempat? Atau baru pertama kali kesini?" Sapanya dengan ramah.


"Apa tadi ada wanita hamil bersama suaminya datang kesini?" Gilang balik bertanya. Si pramuniaga itu tampak mengerutkan dahi. "Wanita hamil besar mengenakan dress hamil selutut berwarna peach, bersama suaminya."


"Oh, Ibu Ana?" Pramuniaga itu akhirnya mengingatnya. Gilang mengangguk. "Mari saya antar Kakak." Jawabnya sopan dan mengajak Gilang memasuki area dalam cafe. Di balik sekat kayu yang ditempeli lukisan panorama pegunungan, Gilang melihat dua meja persegi yang sudah di satukan. Caliana dan Adskhan sudah dudk. Adskhan malah sedang memijit kaki sang istri yang terlihat membengkak tanpa ada rasa risih apalagi malu.


"Abang udah nyampe." Caliana berseru dan melambaikan tangannya. Gilang mengangguk kepada pramuniaga tadi dan menggumamkan terima kasih sebelum akhirnya ia melepas sepatunya dan naik menuju lesehan yang memang dibuat cukup tinggi dari lantai.


"Mana anak-anak? Katanya tadi anak-anak disini?" Gilang mencari ke area bermain anak yang dibuat khusus dalam ruangan itu yang jaraknya sekitar lima meter dari tempat duduk mereka.


"Faiqa lagi ke belakang, diantar Ilker." Adskhan menjawab mewakili. Gilang mengangguk. Ia melihat-lihat buku menu yang ada di hadapannya.


"Lho, Uncle datang juga?" Pertanyaan itu keluar dari sosok yang amat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Carina. "Siapa yang ngundang?" Tanyanya ingin tahu. Ia memandang Caliana dan Adskhan bergantian.


"Itan yang ajak. Tadi kebetulan ketemu di RS." Jawab Caliana jujur. Ibu hamil itu sudah membetulkan posisi duduknya menjadi bersila.


"Owhh.. Ya udah. Udah pada milih menu belum? Biar Carin yang bikin. Kasihan anak-anak lagi kerepotan." Lanjutnya lagi. "Ilker sama Faiqa mana?" Carina celingukan mencari sosok adik sepupunya yang tak lama muncul. "Abang sama Iqa udah tahu mau makan apa?" Tanyanya pada kedua bocah itu.


"Iqa mau Matcha, Kak." Jawab Faiqa.


"Itu mah nanti. Makannya dulu, Iqa." Ucap Carina mengingatkan. Lalu bocah lima tahun itu melirik menu dan menunjukkan makanan yang dia mau. Begitu juga dengan Ilker, Adskhan dan Gilang. "Itan mau apa?" Carina memandang tantenya.


"Itan udah pesen langsung sama Qilla. Lagi dimasakin katanya." Jawab Caliana santai, yang membuat Gilang mendongak dan memandang adiknya dengan tatapan bingung.


"Ok, sabar menunggu ya. Chef Carin buatkan hidangan spesialnya dulu." Lalu Carina meninggalkan mereka berlima ke arah yang Gilang tebak merupakan dapur.


______________________________________________


Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih

__ADS_1


TBC


__ADS_2