
"Kami, Carin dan Syaquilla, baru aja kena musibah." Jawab Carina dengan santai. "Salah satu cafe kami mengalami kebakaran." Lanjutnya. Kalimat terakhirnya membuat Gilang terbelalak kaget. "Tidak ada korban jiwa." Carina berusaha menenangkan. "Dan kerugiannya juga tidak terlalu besar sebenarnya. Masih bisa kami tangani. Hanya saja, dengan bolak-balik ke kantor polisi untuk membuat laporan, tuntutan pemilik ruko dan juga memikirkan nasib karyawannya membuat Qilla jadi kurang istirahat.
Belum lagi polisi mengatakan kalau kemungkinan besar kebakaran terjadi atas unsur kesengajaan, diakui atau tidak Carin yakin itu membuat pikiran Qilla benar-benar terkuras. Tahu sendiri kan Qilla orangnya gimana. Dan memikirkan kemungkinan siapa yang menjadi dalang dibaliknya. Ya, semuanya memang menjadi beban tersendiri." Carina menghela napas panjang.
Gilang terdiam.
Kepribadian Syaquilla yang dikenalnya memang kebalikan dari Carina. Anggaplah keberadaan mereka itu saling melengkapi satu sama lain. Jika Carina berkarakter optimis, maka Syaquilla adalh orang yang pesimis.
Jika Carina selalu memikirkan kemungkinan terbaik dalam segala hal, maka Syaquilla akan memikirkan sisi terburuknya.
Jika Carina orang yang tidak peduli dengan tanggapan orang lain, maka Syaquilla orang yang sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangnya.
Terkadang atau bahkan seringkali menyulitkan, tapi ada beberapa hal positif dari sifatnya itu.
Dia orang yang sangat perhatian dan peduli pada orang lain. Mudah membantu dan menyayangi tanpa pandang bulu. Dia ramah, dia tegar, dan dia cantik.
Ya, Syaquilla cantik. Darah timur tengah dari keluarganya sangatlah kental. Wajahnya adalah versi wanita ayahnya. Hanya bola matanya saja yang berbeda. Jika Adskhan memiliki bola mata hijau, maka Syaquilla memiliki bolamata berwarna coklat yang terang dan indah.
Dan jika ukuran tubuh Adskhan tinggi besar seperti anak raksasa, Qilla versi kebalikannya. Tubuhnya mungil, bahkan lebih kecil dari Carina. Tidak kecil sebenarnya. Tinggi tubuhnya standar untuk orang Indonesia, hanya saja untuk orang luar yang biasanya bertubuh tinggi, 160cm memang terhitung pendek. Dibandingkan Carina yang memiliki tubuh 170cm. Dan lagi, jika Carina memiliki watak pemberani, maka Syaquilla adalah sosok gadis yang pemalu.
Kalau saja Gilang mengenalnya saat gadis itu lahir, ia akan menyarankan Adskhan memberikan gadis itu nama lain. Nama Khumairah sebenarnya lebih cocok untuk gadis itu. Karena seringnya wajahnya memerah karena malu. Membuat Gilang semakin suka menggodanya.
Tapi itu dulu. Saat gadis itu masih remaja.
Sekarang gadis itu sudah dewasa. Terlihat dari bentuk tubuhnya saat tadi Gilang memeriksanya. Pikirannya juga pasti sudah dewasa. Meskipun Gilang tidak tahu apakah karakter pemalunya masih sama atau tidak. Sudah hampir lima tahun mereka tidak bertemu. Bukan waktu yang singkat untuk merubah karakter seseorang, kan?
Gilang sudah menghabiskan dua potong ayam dan dua porsi nasi. Dia benar-benar lapar. Itu tidak bisa dia pungkiri. Carina hanya menatapnya dengan sebelas alis terangkat. Senyum mengejek tersungging di wajahnya yang tirus. "Rakus." Gumamnya yang hanya dibalas tawa oleh Gilang. Gadis itu membersihkan sisa makanannya dan mencuci piring yang digunakannya. "Tidurlah, uncle. Supaya nanti ketika Qilla bangun dia tidak terkejut lagi."
"Apa maksudmu?" Tanyanya seraya mengelap sisa makanan di wajahnya.
"Maksud Carin, bisa jadi alasan Qilla tadi pingsan karena terkejut ada mayat hidup berjalan di depannya." Carina melihat Gilang. Memperhatikan penampilan pria itu dari atas ke bawah. "Lihat penampilan Uncle. Sama sekali tak ada rapi-rapinya." Carina bahkan menyentuh rambut Gilang yang sudah memanjang. "Dan kantung mata Uncle?" telunjuknya mengarah pada bagian bawah matanya sendiri. "Kayak panda yang gak tidur selama musim dingin." Ejekan Carina malah membuat tawa Gilang semakin membahana. Ia bangkit dari duduknya.
"Sepertinya kamu benar, Moana." Ucapnya dan berjalan menuju tangga. "Lebih baik Uncle hilangin jetlag Uncle dulu. Bangunin Uncle saat makan malam." Ucapnya sebelum menutup pintu.
Carina kembali mendudukkan tubuhnya di kursi bar. Menghela napas panjang. Apa yang akan pamannya lakukan kali ini? Carina turut bersedih untuk sahabatnya. Ia satu-satunya orang yang tahu betapa sepupu tiri sekaligus sahabat baiknya itu jatuh cinta pada pamannya.
Ya. Ia tahu bahwa Syaquilla begitu mencintai Gilang. Meskipun itu tanpa sengaja. Ia tahu alasan kenapa sahabatnya itu memilih meninggalkan Bandung dan kuliah di kota Yogya. Tidak lain sebagai upaya gadis itu untuk melupakan pamannya yang tiba-tiba memutuskan untuk melanjutkan meraih gelar doktoral nya di Jerman.
__ADS_1
Syaquilla remaja patah hati. Bagaimana tidak, pria yang dicintainya memutuskan untuk pergi setelah menolak cintanya. Cinta yang bahkan belum ia sempat ungkapkan secara langsung.
Flashback
Itu adalah hari dimana keluarga Adskhan merayakan ulangtahun Ilker yang ketiga, sekaligus syukuran kehamilan Caliana yang memasuki usia tujuh bulan.
Carina, Syaquilla, dan sahabat mereka Meyra yang saat itu sedang liburan ke Indonesia di masa kuliahnya bersama Gilbert, Steven, Loretta dan Nathaniel-sosok yang keberadaannya sangat mengejutkan-memilih duduk bersama di gazebo untuk menikmati makanan. Gilang saat itu datang terlambat. Dia datang bersama rekan sesama dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengannya dan ikut bergabung bersama mereka. Dr. Aathaf dan Dr. Zemira.
"Boleh bergabung?" Sapa Dr. Aathaf ramah. Carina dan Syaquilla mengenalnya karena dokter itu sudah sering bermain ke rumah mereka. Sementara Zemira, ini untuk pertama kalinya mereka bertemu.
"Silahkan, Dok." jawab Carina. Gazebo yang sudah hampir penuh itu sekarang benar-benar penuh.
"Ini dokter Zemira. Dia baru di bangsal kami." Ucap Gilang mengenalkan. "Ini keponakan-keponakanku. Carina, Syaquilla. Dan teman-temannya." Lalu mereka saling memperkenalkan diri. Carina melihat Zemira dan Gilang bergantian. Dilihat dari gerak-geriknya, ia tahu bahwa dokter wanita itu menyukai pamannya.
Dari rentang usia, Carina, Syaquilla dan Meyra adalah orang yang lebih muda diantara sepuluh orang yang ada disana. Maka ketika orang-orang itu berbicara mengenai bisnis dan hal-hal yang sesuai dengan usia mereka, ketiga gadis belia itu tidak mengerti. Tapi ada satu yang Carina pahami dari perkumpulan orang-orang disana. Bau cinta dan kecemburuan yang menguar di udara.
Carina bisa melihat dengan jelas betapa Nathan tidak melepaskan pandangannya dari Meyra, begitupun Steven. Dan setiap kali Steven memandang Meyra atau bersikap baik padanya, maka raut wajah Nathan akan berubah dingin seketika.
Sementara Gilbert. Pria yang disukainya juga terlihat jelas menyukai Syaquilla meskipun wajah yang ditunjukkannya tampak datar-datar saja. Jelas, baik ia dan Gilbert tahu bahwa orang yang dipuja Qilla adalah Gilang. Sementara Gilang, entah ia tahu atau memilih untuk berpura-pura tidak tahu, pria tua itu lebih memilih memerhatikan Zemira yang duduk di sampingnya.
Carina tidak hilang akal. Karena tahu Syaquilla tidak akan berani mengungkapkan perasaannya, maka ia akan mencoba membantunya.
"Jelas masih belia. Belum masuk dewasa." Jawab Aathaf jujur.
"Sama." Jawab Nathan
"Tergantung." Jawab Gilang.
"Tergantung apa?" Tanya Carina bingung.
"Tergantung kamu nanyanya dewasa secara apa? Fisik atau pola pikir?"
"Keduanya." Jawab Carina lagi.
"Ya setiap orang kan punya karakter yang berbeda. Ada yang matang secara pikiran, namun belum secara usia. Dan ada yang sebaliknya."
Kening Carina berkerut. "Oke. Sekarang nilai kami bertiga. Aku, Qilla, dan Mey. Menurut uncle kami bagaimana." Tantangnya.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu mengenal Mey. Kalo kamu, jauh dari kata dewasa. Kamu masih anak-anak. Dan Qilla, dia sudah dewasa secara pemikiran." Jawab Gilang jujur.
"Oke. Next question." Ujarnya. "Misal, aku, Meyra, Qilla, suka sama pria seumuran Om-om yang ada disini. Apa kalian akan menerima kami?"
"Suka sama cinta bisa jadi definisinya berbeda untuk kita para laki-laki, dan untuk kalian yang masih belia." Jawab Aathaf.
"Maksudnya?"
"Ada suka sekedar suka. Ada suka yang menuju obsesi. Ada cinta yang benar-benar cinta. Dan ada cinta yang berdasar pada obsesi. Jadi suka dan cinta mana yang kamu maksud?"
Carina mengerutkan kening. "Mm.. semacam suka dimana kamu deg-degan kalau lihat orang itu. Terus kamu berharap bisa terus melihat orang itu. Menunggu chat nya yang ga tahu kapan masuk. Atau sekedar sapaan darinya yang bikin hati berbunga?"
"Apa kamu kesal kalau dia sama cewek lain?" Tanya Aathaf lalu Carina mengangguk. "Apa kamu khawatir kalau dia gak ngasih kamu kabar? Tapi kamu gengsi buat nanya kabar dia lebih dulu?" Carina kembali mengangguk. "Apa kamu nangis kalau dia pergi?" Lagi-lagi Carina mengangguk. "Lalu kalau ada pria lain yang pedekate sama kamu, kamu nerima pria itu?" Kali ini Carina menggeleng. "Meskipun dia lebih tampan atau lebih kaya dari orang itu?" Carina mengangguk. "Oke fix. Itu cinta. Meskipun gak tahu ya bertahan sampai kapan." Ucap Aathaf dengan senyum geli di wajahnya. "Tapi mengingat kamu gak berpaling sama pria yang lebih ganteng, berarti kamu tulus mencintai kejelekannya." Suara tawa terdengar menggema di gazebo.
"Jadi?" Tanya Carina tak sabar.
"Ya, kalo itu kena nya di aku, ya gak masalah. Kamu 18 menuju 19, aku sendiri baru menuju 31, beda 12 tahunan lah ya. Kalau aku sih oke. Toh usia kalian udah usia cukup buat menikah. Jadi kalo kami para pria udah tua ini ngebet pengen nikah, tinggal nikahin aja. Usia mah gak masalah."
"Aku sih oke. Umurku baru 28, cuma beda 10 tahun." Jawab Nathan santai.
"Kalo uncle?" Tanyanya pada Gilang.
"For me, No!" Jawabnya singkat.
"Kenapa?"
"Jawabannya udah jelas. Rasanya kayak nikah sama keponakan sendiri. Aku lebih suka sama cewek yang usianya gak beda jauh. Seenggaknya, pola pikirnya gak terlalu bertentangan. Perbedaan satu dekade itu punya banyak pengaruh. Dari sifat, kegemaran, dan cara belajar pasti akan berbeda.
Sementara sebuah hubungan, fondasi utamanya kan komunikasi. Kita gak bisa mengalah dan berubah kekanakan hanya demi menyeimbangkan diri dengan pasangan yang lebih muda. Pun sebaliknya, kalian tidak bisa berpura-pura matang hanya untuk mengimbangi kami. Pria yang lebih tua.
Dan masalah pelik lainnya akan bermunculan karena satu faktor. Usia. Meskipun mereka yang sebaya belum tentu tidak memiliki konflik. Tapi secara komunikasi, dirasa lebih nyaman." Jawabnya panjang lebar. Carina mengangguk mengerti. Apa yang diucapkan pamannya memang sangat masuk akal menurutnya. Meskipun disisi lain ia cukup patah hati mendengarnya.
Carina menatap Meyra yang tersenyum tersipu , tampak puas dengan jawaban Nathan, pria pujaannya.
Sementara Syaquilla, ia tampak tersenyum, mencoba tampak tegar seperti biasanya. Sahabatnya itu tahu bahwa apa yang diucapkan Gilang merupakan penolakan secara tidak langsung terhadap keberadaannya, terhadap cintanya. Gadis itu sedih, terlihat dari matanya. Namun Carina tidak ingin memperpanjangnya.
Dekade. Itu kata yang tadi Gilang ucapkan sebagai tolak ukurnya. Dinding yang dibangun untuk menghindar dari cinta Syaquilla. Dan sejak saat itu, Syaquilla tampak menjaga jarak dari Gilang. Dan ketika Gilang mengatakan akan melanjutkan S3 nya ke Jerman. Gadis itu memilih untuk mengejar beasiswanya di UGM, Yogyakarta. Sebagai upaya terakhirnya untuk melupakan cintanya.
__ADS_1
Flashback Off