To Make You Mine

To Make You Mine
21. Edwin (3)


__ADS_3

Carina melepas alas kaki dan meletakannya di rak sepatu yang ada di samping pegangan tangga lalu berjalan maju diikuti Edwin. "La... Aku bawa temen lama loh kesini." Salamnya dengan nada nyaring. Gilang melihat sekeliling, mencari keberadaan Syaquilla. Tapi yang dilihatnya malah pintu-pintu tertutup yang sepertinya mengarah ke beberapa ruangan. Syaquilla muncul dari arah belakang tangga dengan apron berwarna hitam di dadanya. Satu tangannya memegang piring dan satunya lagi memegang spatula.


"Siapa?" Tanyanya pada Carina. Lalu matanya tampak terkejut melihat orang-orang yang ada di belakang Carina. "Oh, Hai Uncle, Dokter." Sapanya pada Gilang dan Zemira dengan ramah. "Dan ini..." Dia memandang Edwin dengan dahi berkerut pada awalnya lalu kemudian berubah berbinar. Terkejut sekaligus senang di saat bersamaan. "Kamu Edwin Bagaskara, kan?" Tanyanya ragu-ragu. Kali ini Carina yang menatap Syaquilla bingung.


"Kalian kok kayaknya kenalnya pake 'intens', bukan sekedar kenal?" Tanya Carina bingung.


Syaquilla balas memandang Carina dengan bingung. "Lah, kan kamu yang bilang bawa teman lama. Masa iya kalo cuma 'kenalan' disebut kenalan lama." Jawabnya. "Emang kamu gak bener-bener kenal sama Edwin?" Tegur Syaquilla. Carina menggeleng. "Dia ini dulu pernah jadi ketua PMR di sekolah kita, Rin. Masa kamu lupa. Dia yang nolongin kamu pas pingsan waktu upacara." Jawab Syaquilla mengingatkan. Syaquilla meletakkan spatula nya ke atas piring dan kemudian  mengulurkan tangannya pada Edwin. "Kamu apa kabar? Bener jadi perawat ya akhirnya?" Ujarnya dengan kekaguman yang tak ia sembunyikan. Pria itu tersenyum malu seraya mengusap tengkuknya. Sementara Gilang cukup terkejut karena sepertinya 'intens' yang dikatakan Carina sudah mencapai pada konteks saling berbagi mimpi masa depan. Ia merasa kesal karena fakta itu.


"Iya, Alhamdulillah. Semuanya juga berkat kamu. Kamu juga, sukses punya cafe kayak cita-cita kamu dulu." Jawab Edwin malu-malu.


"Ih, apaan sih. Itu emang kamunya aja yang pinter. Dan ya, Alhamdulillah. Semuanya berkat Carina juga." Jawab Syaquilla lagi dengan senyum hangatnya. Membuat ketiga orang lainnya hanya melongo heran melihat Syaquilla yang entah kenapa begitu banyak tersenyum dan tersipu dalam waktu kurang dari lima menit.


Dada Gilang semakin berdebar kencang. Jika saja bisa, ia ingin memaku wajah Syaquilla sehingga ia bisa terus menunjukkan wajah berseri dan penuh senyum itu selamanya. "Loh, kenapa masih berdiri disini? Mau pada makan siang kan? Rin, udah minta makanan sama anak-anak?" Tanya Syaquilla lagi.


Carina menepuk dahinya pelan, lupa pada satu fakta itu. "Tunggu disini ya, biar aku turun dulu ke bawah." Lalu dengan segala jurus kecepatannya, Carina memakai sandal yang ada begitu saja dan kembali turun ke bawah.


"Ayo kesini. Di dalam ada temen aku juga." Syaquilla memandu ketiga orang yang diajak Carina untuk masuk ke sisi lain ruangan berpintu yang merupakan dapur dan juga area outdoor lantai tiga yang disulap menjadi area yang nyaman dengan rumput sintetis  dan pot-pot tanaman hias di bagian lantainya dan bagian atap yang tertutup kanopi transparan. Sehingga bisa merasakan hangatnya sinar matahari.

__ADS_1


"Lho, Dokter Gilang, Dokter Zemira?" Natta yang sedang memegang sebuah mangkuk dari arah dapur menuju meja yang ada di atas tikar menatap para tamu dengan cukup terkejut.


Zemira yang sejak masuk area Cafe tidak bersuara kini balas menyapa Natta. "Hai, Dokter Natta. Carina mengajak kami makan siang disini, gak disangka ada dokter Natta juga."


Natta tersenyum. Wajah manisnya terlihat semakin memikat saat tersenyum lembut seperti itu. "Wah, gagal kencan dong kita, Sya." Ucapnya dengan nada menggoda ke arah Syaquilla.


"Mas, apaan sih." Syaquilla yang kini beralih menuju pantry tampak tersipu malu. Lagi, Gilang ingin membingkai wajah itu. Sayang, semburat merah di wajah Syaquilla bukan dikarenakan olehnya.  "Ayo silahkan duduk. Sebentar lagi Carina kesini bawa makanannya." Ucapnya ramah.


"Saya kenal Dokter Gilang, sama dokter Zemira. Kalau Anda?" Tanyanya pada Edwin. "Maaf, saya masih baru di RS." Katanya setelah melihat seragam Edwin.


"Saya Edwin, Dok. Kebetulan saya asisten Dokter Gilang. Saya tahu Dokter. Maklum, Dokter baru biasanya selalu jadi bahan gosip antar rekan." Jawab Edwin jujur. "Dan kebetulan juga teman SMP nya Carina sama Syaquilla." Jawab Edwin dengan senyum ramahnya.


"Kalo mau tanya-tanya tentang Qilla, ya tanya saya dong, Dok. Masa tanya Edwin." Jawab Carina yang ternyata sudah kembali dari lantai bawah dengan membawa senampan makanan diikuti salah satu karyawan mereka yang membawa satu nampan pula di satu tangan dan satu set kompor di tangan lain.


"Enggak ah, kalo nanya kamu bawaannya bokek. Mesti pake sogokan mulu." Tolak Natta halus. Carina mendelik, sementara Syaquilla lagi-lagi tertawa, dan lagi-lagi itu membuat Gilang merasa panas.


Gilang diam sepanjang makan siang, begitupun dengan Zemira. Hanya Carina dan Natta yang banyak bicara, sementara Syaquilla dan Edwin hanya menimpali sesekali.

__ADS_1


Carina diam-diam memperhatikan bagaimana reaksi pamannya setiap kali Syaquilla tertawa ataupun saat sahabatnya itu merespon pembicaraan Natta. Atau bahkan ketika Natta tanpa sengaja melakukan skinship pada Syaquilla.


Dia juga memperhatikan bagaimana Zemira memandang Syaquilla dengan tatapan tak suka nya. Pancaran matanya begitu tajam dan menusuk, meskipun ketika ada orang yang mengajaknya bicara, ekspresinya akan kembali pada mode ramah.


Carina tahu bagaimana perasaan keempat orang yang ada di hadapannya. Dia tidak buta. Ia tahu bagaimana Natta yang mencintai Syaquilla dengan tulus namun disaat bersamaan merelakan Syaquilla jika gadis itu lebih memilih Gilang.


Ia juga tahu bagaimana Gilang cemburu, namun tak bisa mengungkapkan kecemburuannya pada Syaquilla karena rasa cintanya yang tak tersampaikan.


Lalu ia juga sadar, bagaimana Zemira yang memendam obsesinya pada Gilang yang Carina yakin siap melakukan berbagai macam hal asal Gilang menjadi miliknya.


Dan terlebih ia sangat tahu bagaimana dalamnya rasa cinta Syaquilla terhadap Gilang namun tak percaya pada dirinya sendiri untuk maju, dan di saat yang bersamaan begitu menghargai Natta dan berusaha membuka hatinya demi pria itu hanya untuk melupakan sosok lain yang menurutnya tak bisa ia gapai.


Maka, setelah semua kesimpulan yang ia tangkap. Tatapan terakhirnya jatuh pada sosok Edwin. Satu-satunya pria dalam ruangan itu yang tidak terlibat cinta segi empat, dan satu-satunya pria yang tidak memiliki perasaan pada Syaquilla yang bisa Carina mintai bantuannya. Ya. Edwin akan menjadi mata, telinga dan mulut Carina. Bahkan kalau perlu, Carina akan menjadikan pria itu, bukan hanya sekedar tameng. Tapi juga senjata untuk melaksanakan rencananya.


______________________________________________


Jangan lupa klik ❤️ untuk masukin cerita ini ke library, dan klik 👍 kalo suka sama ceritanya,, kasih juga Mimin vote sebagai dukungan... Terima kasih

__ADS_1


TBC


__ADS_2