To Make You Mine

To Make You Mine
11. Bagaimana Jika (1)


__ADS_3

Dear Diary


Aku ingin berkeluh kesah kembali, setelah beberapa waktu aku mencoba menahannya. Bolehkah?


Dari manakah harus kumulai keluhan ini?


Aku hanya ingin tahu, sampai kapankah cobaan ini akan terus datang kepadaku? Setelah hari-hari yang kulalui untuk menghindarinya, kenapa kami harus kembali bertemu?


Rasanya seperti aku berlari dalam sebuah lingkaran. Ketika aku merasa sudah cukup jauh, di langkah selanjutnya aku kembali ke titik awal perjalananku.


Apakah ini takdir? Aku tidak bisa mengatakan ini takdir. Tidak setelah dengan kejinya takdir membuatku terpisah dengannya. Tidak setelah dengan kejinya takdir memberikanku sebuah.....


Aku bahkan tidak ingin mengatakannya karena aku tidak ingin mengingatnya.


Dear Diary


Aku telah berjanji bahwa aku tidak akan lagi menanti. tapi dengan melihatnya, lagi-lagi membuatku merasa goyah. Aku terlena karena senyumnya, dan aku jatuh cinta karena tawanya. Aku kembali terjerat, jatuh ke dalam pesonanya.


Aku tidak pantas mengharapkannya. Bahkan rasanya, untuk jatuh cinta padanya aku merasa tidak berhak.


Mungkin dulu aku berangan memilikinya. Mencintainya sepanjang sisa hidup yang Tuhan beri untukku. Tapi setelah kejadian itu, aku merasa bahwa hak ku untuk mencintainya sudah hilang. Kesempatanku untuk bersamanya sudah tak bersisa. Bahkan bukan hanya untuknya, tapi untuk siapapun yang Tuhan jodohkan untukku di masa depan. Aku merasa tak pantas.


Dear Diary


Kubiarkan kau tahu tentang doa yang setiap malam kupanjatkan pada-Nya tentangnya.


Aku harap dia menemukan kebahagiaannya, meskipun aku tahu bahwa kebahagiaannya bukan bersamaku.


Aku harap dia menemukan jodoh terbaik dari-Nya, meskipun aku tahu jodohnya bukanlah aku. Tidak, aku tidak tahu siapa jodohnya, tapi yang pasti aku harap jodohnya bukan aku.

__ADS_1


Aku harap dia memiliki keturunan yang saleh dan salehah, meskipun dia tidak mendapatkan keturunan itu dari rahimku. Karena aku tahu kemampuanku, aku tahu kesempatanku.


Dear Diary


Dalam doaku aku selalu berharap yang terbaik untuknya. Semoga Allah mengabulkan semua pinta itu. Dan sebagai gantinya, aku juga mengharapkan kebahagiaan untukku. Meskipun kebahagiaanku bukan kuraih bersamanya.


______________________________________________


Gilang baru saja mendudukkan tubuhnya ketika Syaquilla bersuara. "Kenapa Uncle ada disini?" Tanyanya, pria yang ditanya itu menoleh memandang keponakannya. Wajah cantik itu terlihat sendu. Pipinya bersemu merah karena terik matahari. Mereka kini sedang duduk di atas bangku yang ada di taman panti. Tepat di bawah pohon mangga yang tumbuh tinggi.


"Kenapa memangnya?" Gilang balik bertanya. "Uncle gak boleh ya ada disini?" Syaquilla menoleh. Matanya yang berwarna kehijauan menatap ke arahnya. Mata yang diturunkan dari keluarga ayahnya. Wajahnya yang lembut tampak panik dan menggeleng.


"Bukan begitu." Lirihnya. "Hanya saja Qilla dengar hari ini Oma akan ngadain syukuran kepulangan Uncle di rumah." Lanjutnya dengan nada datar. Gilang melihat rok yang menenggelamkan kaki gadis itu bergerak maju mundur.


"Trus? Kalo Oma ngadain syukuran, uncle gak boleh kesini?" Lagi-lagi Gilang bertanya dengan nada menggoda.


"Bukan begitu, uncle." Jawab Qilla dengan nada putus asa. Gilang suka mendengar jika gadis di depannya ini sudah merengek manja. Rasanya seperti melihat Syaquilla sepuluh tahun yang lalu saat dia masih remaja. "Maksud Qilla kan, uncle itu bintang utamanya. Masa iya bintang utamanya gak ada di acara pentingnya."


Syaquilla terenyak. Memandang Gilang dengan sorot tak percaya. "Uncle kok ngomongnya gitu? Qilla kan disini gantiin Aunty Gisna. Papa sama Mama juga udah ngijinin itu."


"Ohh.. uncle kira kamu disini karena kamu ngehindarin uncle." Gilang melihat wajah memucat keponakannya dari ujung matanya.


"Ke-kenapa uncle bilang begitu?" Tanya gadis itu terbata. Ia tidak berani memandang ke arah Gilang.


"Gak tau. Cuma perasaan aja." Jawabnya sederhana. Ya, memang hanya perasaannya saja bahwa Qilla memang tampak menghindarinya. Meskipun gadis itu berusaha melakukannya secara tak kentara.


Kenapa Gilang bisa menyimpulkan demikian? Itu semua merupakan kesimpulan dari hasil pengamatannya selama ini.


Syaquilla tidak pernah bersedia melakukan video call dengannya, bahkan ketika semua keluarganya berkumpul.

__ADS_1


Gadis itu juga tidak ikut keluarganya saat mereka mengunjungi Gilang ke Jerman. Dan ketika Gilang pulang ke Indonesia, gadis itu sama sekali tak pernah menunjukkan batang hidungnya.


Dan terakhir saat makan malam di rumahnya, gadis itu lebih memilih untuk mengurung dirinya di ruang kerja ayahnya daripada menemani adik-adiknya bermain seperti kebiasaannya.


Selalu saja ada alasan yang dibuat Syaquilla supaya tidak berada dalam satu ruangan yang sama dengannya.


Awalnya-di tahun-tahun awal kepindahan Gilang-ia berpikir bahwa ketiadaan Syaquilla diantara keluarganya adalah karena kesibukannya dengan beasiswa dan kuliahnya. Tapi makin kemari, entah kenapa Gilang merasa bahwa gadis itu memang secara sengaja menghindarinya.


Bahkan hari ini.


Yang Gilang tahu, Syaquilla bukanlah gadis pemalas. Dan dia adalah orang yang selalu mengutamakan kepentingan keluarga diatas segalanya. Dia selalu membantu jika memang keluarganya memerlukan bantuannya, seperti acara yang dibuat ibunya untuk penyambutannya kali ini.


Tapi secara nyata gadis itu memilih untuk tidak ada disana dengan alasan harus pergi ke yayasan, padahal Gilang tahu, Bu Teti pun lebih dari sekedar mampu untuk melakukan kegiatan ini.


Ia bukannya baru pertama mengetahui mengenai panti asuhan ini, meskipun ini pertama kalinya ia datang dan membantu. Ia sudah seringkali mendengar tentang yayasan yang didanai keluarga Levent mengingat adik kembarnya kini menjadi salah satu anggota keluarga tersebut. Belum lagi Aathaf sebagai sahabatnya seringkali bercerita tentang kebaikan dan pekerjaan yang diberikan keluarga ipar Gilang itu padanya. Jadi sedikitnya Gilang tahu.


Tapi bukan hanya hal itu yang membuat Gilang merasa heran. Alasan lainnya adalah kenapa ia harus merasa kesal?


Ya. Ia kesal. Sangat kesal.


Kesal karena Syaquilla terus menerus menjaga jarak darinya. Tapi ia sendiri tidak tahu kenapa.


Saat ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Jerman dulu, semua ia lakukan demi menghindari gadis itu. Karena jujur saja, ia merasakan sebuah rasa yang tak pantas untuk keponakan sambungnya yang saat itu masih remaja.


Ia selalu merasakan rindu jika tak melihat gadis itu. Ia bahkan merasa tak rela ketika suatu waktu sahabat dari sahabat gadis itu berkunjung dan secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Syaquilla.


Cemburu? Tentu saja Gilang tahu itu rasa cemburu. Dia pria dewasa, jadi tidak mungkin dia tidak tahu rasa itu. Tapi ia sendiri merasa tidak pantas untuk memiliki rasa itu pada Syaquilla. Meskipun bibirnya mengatakan bahwa berhubungan dengan gadis seusia Syaquilla terasa seperti berhubungan dengan keponakan sendiri. Tapi hatinya berkata lain.


______________________________________________

__ADS_1


***Hai-hai Readers, terimakasih telah berkunjung. Jangan lupa klik ❤️ untuk memasukkan cerita ini ke library. Dan jika kalian suka cerita ini, jangan lupa juga klik 👍, vote dan komen ya... Dukungan kalian teramat sangat membantu Mimin..


TBC***....


__ADS_2