Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 10. Melarikan diri


__ADS_3

Kucing hitam peliharaan Ratih telah muncul dihadapan mereka. Mereka bertiga menghentikan langkah mereka.


"Mengapa kucing ini muncul?" ucap Rahendra.


"Entahlah,"


"Kucing-kucing apa yang bikin baper?" tanya Raka.


"Kucing.. Kucing anggora," ucap Rangga.


"Salah,"


"Anak kucing," ucap Rahendra.


"Salah,"


"Terus kucing apa?"


"Ku cingtai dia dengan penuh kesabaran,"


"Ea,"


"Ku cintai bukan ku cingtai," ucap Rahendra.


"Lah, udah gantitah?"


"Dari dulu juga begitu,"


Mereka bertiga kemudian menengok ke arah kucing tersebut, "Lah, kemana itu kucing?" Rahendra menengok ke kanan ke kiri.


Raka mengangkat kedua tangan dan bahunya. Mereka bertiga kemudian berjalan menghampiri arwah Ratih dan pak Bambang.


Arwah tersebut mengangkat pak Bambang ke atas dan hendak menjatuhkannya ke bawah. Rangga, Rahendra dan Raka kemudian berlari dan berusaha menyelamatkan pak Bambang.


Ketika pak Bambang akan jatuh ke Lantai, Rangga, Rahendra dan Raka menangkapnya. Pak Bambang pun terjatuh di atas tubuh mereka.


"Aku selamat, aku selamat," ucap pak Bambang.


"Iya, selamat. Tapi bisa gak segera turun dari atas tubuh kami!" ucap Raka.


"Eh, iya," pak Bambang berdiri dan membantu Rangga, Rahendra dan Raka berdiri.


Melihat pak Bambang selamat, arwah Ratih kemudian marah dan berteriak sangat kencang hingga membuat pintu dan jendela terbuka-tertutup dengan kencang.


Aaaaaaaaa! Bruk! Brak!


"Gawat, dia marah!" ucap Raka.


Rangga, Rahendra, Raka dan pak Bambang langsung berlari ke luar rumah. Namun, arwah Ratih menghentikan mereka dengan menutup semua pintu dan jendela rumah tersebut.


Arwah Ratih perlahan-lahan berjalan mendekati mereka. Pak Bambang yang ketakutan itu langsung berlari mencari jalan keluar dan meninggalkan Rangga, Rahendra dan Raka.


"Pak jangan lari!" teriak Rangga.


Rangga kemudian mengejar pak Bambang, sedangkan Rahendra dan Raka berdiam diri di tempat.


"Matilah kita," ucap Raka.


"Lu aja yang mati, gue mah ogah," ucap Rahendra.

__ADS_1


Raka dan Rahendra kemudian perlahan-lahan berjalan kebelakang ketika arwah Ratih semakin dekat, semakin dekat dengan mereka.


"Kenapa kalian menggangguku?!" seru arwah Ratih.


"Karena kami tidak ingan kamu menghabisnya," ucap Rahendra.


Arwah Ratih kemudian melempar beberapa kayu ke arah Rahendra dan Raka. Mereka berdua menghindar dan berhasil lolos dari hantaman kayu tersebut.


Lalu, mereka berdua berlari menjauhi arwah Ratih. Namun, arwah Ratih tetap mengejar mereka dan melempari mereka dengan kayi yang ada di sana.


"Mak! Tolong Raka!" seru Raka.


"Emakmu gak ada di sini. Bagaimana dia bisa menolongmu?"


"Ya, barangkali emakku bisa teleportasi,"


"Haha. Keren banget donk emakmu,"


"Iya, donk,"


Ketika sebuah kayu mendekati mereka dan akan menghantam mereka berdua, Rahendra dan Raka langsung menunduk dan kayu itupun terhantam ke dinding.


Lalu kemudian, Rahendra dan Raka bertemu dengan pak Bambang dan Rangga. Mereka berempat langsung berlari dan berusaha membuka pintu yang ada di depan mereka.


"Cepat Rahendra! Cepat!" seru Raka.


Ceklek.. Ceklek.. Rahendra berusaha membuka pintu.


Arwah Ratih itu semakin dekat dengan mereka dan melemparkan sebuah kayu besar ke arah mereka.


Rahendra kemudian membisikkan sesuatu kepada mereka bertiga. Ketika kayu itu semakin dekat dengan mereka, mereka berempat langsung menunduk dan membuat kayu itu menghantam pintu dan pintu itupun terbuka.


Mereka berempat langsung berlari keluar dari rumah dan masuk ke dalam hutan. Rangga, Rahendra, Raka dan pak Bambang berlari dengan memisahkan diri. Rangga dan Raka berlari ke arah utara, sedangkan Rahendra dan pak Bambang berlari ke arah selatan.


Rangga meminta Rahendra untuk mengaktifkan ponselnya agar bisa tahu keberadaan mereka.


"Kalian berhati-hatilah!" ucao Rahendra.


"Hmm,"


Arwah Ratih itu kemudian mengikuti Rahendra dan pak Bambang, sedangkan Rangga dan Raka di ikuti oleh seekor kucing hitam peliharaan Ratih.


"Yah, dia ngikut gue lagi," ucap Rahendra ketika melihat arwah Ratih ada dibelakangnya.


Ketika Raka sedang berlari, tiba-tiba dia berhenti karena kucing hitam itu telah menggigit kakinya.


"Aduh! Aduh! Kakiku!" seru Raka.


Rangga berhenti dan menengok ke arah belakang. Dia melihat kucing hitam itu sedang menggigit kakinya Raka. Rangga kemudian menghampirinya dan berusaha melepaskan gigitan kucing itu.


"Cepat lepaskan!" seru Rangga.


Kucing itu melepaskan gigitannya, "Dasar kucing sialan! Cari daging tuh di pasar atau di sungai, jangan kakiku yang dijadikan santapan."ucap Raka.


Kucing itu mengeong dan bulu-bulunya menaik ke atas. Rangga dan Raka langsung berlari secepat mungkin agar bisa meloloskan diri dari kucing hitam tersebut.


Mereka berdua kemudian memanjat sebuah pohon dan kucing tersebut terus mengeong dati bawah pohon sambil menatap ke arah mereka.


"Kucing manis, kucing imut, tolong biarkan kami pergi ya," ucap Raka.

__ADS_1


Grrrrrrrrrr....


Raka memeluk batang pohon, "Seram sekali." ucap Raka.


"Sepertinya kita harus menunggu di sini sampai dia tertidur," ucap Rangga.


Di selatan...


Rahendra dan pak Bambang berlari secepat mungkin agar mereka bisa lolos dari kejaran arwah Ratih.


"Lari lebih cepat, Pak!" ucap Rahendra.


Arwah Ratih kemudian terbang dan berdiri dihadapan mereka. Rahendra dan pak Bambang menghentikan langkah mereka.


"Sialan! Mengapa dia ada di sana," ucap Rahendra.


Rahendra kemudian menghubungi Rangga dan mengatakan apa yang sedang mereka alami.


"Gawat! Dia memblokir jalanku," bisik Rahendra.


"Sama saja. Si kucing hitamnya pun memblokir jalan kami," ucap Rangga.


"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Rahendra.


"Kalian berusahalah lari darinya dan kami juga akan berusaha mengecoh kucing ini," ucap Rangga.


Rangga dan Raka kemudian membuat sebuah rencana, sedangkan Rahendra dan pak Bambang mulai berlari ke arah utara. Arwah Ratih mengejar mereka.


Rangga dan Raka kemudian turun dari atas pohon melewati arah berlawanan ketika mereka naik. Mereka menuruni pohon tersebut dengan perlahan-lahan.


"Pelan-pelan, jangan sampai ketahuan," ucap Raka.


Ketika Rangga dan Raka sudah berada di bawah, mereka langsung berbalik arah dan terkejut melihat kucing hitam tersebut ada dihadapan mereka.


"Waaa! Aku terkejut," ucap Raka.


"Bagaimana dia bisa ada di sana?,"


"Mana aku tahu,"


Rangga dan Raka saling menatap, "Satu, dua..., tiga! Lari!" mereka berlari dan menjauhi kucing hitam tersebut.


Ketika mereka sudah berlari snagat jauh, Rangga, Rahendra, Raka dan pak Bambang bertemu di tengah-tengah hutan.


"Syukurlah kita bertemu di sini," ucap Rahendra.


Mereka berempat menengok ke arah belakang dan melihat arwah Ratih dan kucing hitamnya ada di belakang mereka.


"Mereka masih mengejar," ucap Rangga.


"Lari!"


Mereka berempat berlari dengan cepat. Raka kemudian melemparkan sebuah kayu besar ke arah arwah Ratih dan kucingnya.


"Walau kamu melempar teng baja sekalipun, mereka masih bisa mengejar kita," ucap Rahendra.


"Eh, iya juga ya. Merekakan hantu,"


Rangga dan Rahendra melanjutkan lari dan menyusul Rangga dan pak Bambang.

__ADS_1


Ketika hampir sampai di ujung hutan dan mereka melihat jalan raya, sebuah kayu besar menghantam mereka berempat dan membuat mereka tersungkur.


__ADS_2