
Di sebuah ruangan yang sangat gelap-gulita. Raka terduduk dengan tangan yang diikat ke atas. Raka kebingungan akan apa yang telah terjadi kepadanya. Dia terus berteriak memanggil Rahendra dan Rangga, namun, mereka tidak menjawab panggilan Raka.
"Rangga, Rahendra! Di mana kalian! Jangan bercanda donk," teriak Raka.
Berkali-kali Raka memanggil nama Rangga dan Rahendra, tetapi mereka tidak juga menjawab panggilan Raka. Raka mendengar uara seseorang berjalan mendekati ruangan tersebut.
"Rangga, Rahendra! Apa itu kalian?" teriak Raka.
Pintu ruangan itu terbuka, Raka bisa melihat orang itu masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. Akan tetapi, dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Hei, Rangga! Apa itu kamu?" tanya Raka.
Pria itu berjalan mendekati Raka. Pria yang berpakaian serba hitam dan dia membawa sesuatu di tangannya.
"Siapa kau?" Raka menekuk alisnya.
Pria itu mengangkat tangannya yang memegang cambuk. Dia mengarahkan cambuk itu ke arah Raka.
"Aaaaa!" teriak Raka.
Raka terbangun dari tidurnya. Dia berkeringat dingin dan sangat takut akan mimpi yang dia dapatkan.
"Mimpiku seram sekali," ucap Raka.
Raka beranjak dari tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya, lalu kemudian pergi keluar menemui teman-temannya.
"Hei, Raka," sapa Rangga.
Raka hanya tersenyum menjawab sapaan Rangga. Rangga dan Rahendra merasa aneh dengan sikap Raka di pagi hari itu.
"Kamu gak sakit, kan, Raka?" tanya Rahendra.
Raka menggelengkan kepala, "Tidak."
"Lalu mengapa wajahmu tampak murung gitu?"
"Aku tadi habis bermimpi sangat menyeramkan," ucap Raka.
"Mimpi apa?" tanya Rangga.
Raka menceritakan mimpi yang dia dapatkan. Namun, Rangga dan Rahendra malah menertawakan dirinya
"Ah, kalian ini. Aku serius,"
"Iya-iya,"
Raka terdiam. Dia kembali memikirkan arti dari mimpi yang dia dapatkan. Dia masih bertanya-tanya siapa orang yang ada di dalam mimpinya.
"Kira-kira siapa orang itu? Apakah mimpi ini hanya sebagai bunga tidur atau ada sesuatu yang akan terjadi," batin Raka.
__ADS_1
Rangga menatap Raka, "Apa yang kamu fikirkan, Raka?" tanya Rangga.
"Aku masih memikirkan mimpi itu,"
"Halah! Gak usah di fikirin. Mimpi itu, kan cuma bunga tidur," ucap Rahendra.
"Sudahlah lupakan saja." Rangga berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Rangga dan Rahendra pergi ke kamar mereka untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Raka pun masuk ke dalam kamarnya.
Ketika mereka sudah akan berangkat ke kampus, tiba-tiba Rangga menatap aneh Raka yang baru keluar dari kamarnya.
Raka mengerutkan alisnya, "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Raka.
"Apa kamu tidak menyadari sesuatu, Raka?" tanya Rangga.
"Apa?"
"Kamu pakai baju terbalik. Hahaha," Rangga dan Rahendra menertawakan Raka.
Raka menyipitkan alisnya dan langsung membalikkan bajunya yang dia pakai secara terbalik.
Setelah itu, mereka pergi ke kampus. Tepatnya pukul lima pagi. Seperti biasanya, Trio R selalu bergantian dalam mengendarai mobil tersebut.
Rangga membuka ponselnya, "Wajahmu masih cemberut aja, Rak."
"Apa kamu masih memikirkan mimpi itu?" tanya Rahendra.
"Mengapa kamu tidak coba cari ke internet, mungkin saja kamu bisa mendapatkan jawaban dari mimpimu itu,"
Raka langsung mengambil ponselnya dan mencark web khusus mimpi. Dia terus mencari arti dari mimpinya tersebut.
Rangga menengok ke belakang, "Bagaimana? Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Rangga.
"Tidak. Aku tidak menemukan apa pun," ucap Raka.
"Nah. Berarti mimpimu itu hanyalah bunga tidur, Rak,"
"Iya-iya,"
Ketika sampai di kampus, Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke dalam kelas masing-masing. Tetapi, ketika Raka hendak masuk ke dalam kelas, dia telah salah masuk ke dalam ruangan. Bukannya masuk ke dalam kelasnya, Raka malah masuk ke ruang laboratorium.
Dengan tatapan yang kosong, Raka masih belum menyadari hal itu. Dia tetap duduk di sana tanpa melihat ke sekelilingnya.
"Siapa orang itu? Kenapa sepertinya dia tidak asing," batin Raka.
Salah satu teman kelasnya Raka menghampiri Rangga yang hendak masuk ke dalam kelasnya. Dia bertanya mengenai Raka.
"Rangga!" Dion, teman kelas Raka.
__ADS_1
"Iya." Rangga menghentikan langkahnya.
"Apa Raka tidak masuk hari ini?" tanya Dion.
"Lah. Raka tadi sudah pergi ke kelas lebih dulu," ucap Rangga.
"Tapi dia tidak ada di kelas,"
Rangga menekuk alisnya. Dia kemudian mencari Raka di seluruh kampus. Dari toilet, perpus dan tempat-tempat lainnya.
Akhirnya, Rangga menemukan Raka sedang dusuk melamun di ruang laboratorium. Rangga langsung menghampiri Raka.
"Hei, Raka!" panggil Rangga.
Raka langsung menatap Rangga, "Kenapa kamu masuk ke kelasku?" tanya Raka.
"Kelas? Coba lihat ke sekitarmu, apa ini kelasmu?"
Raka menenhok ke kanak, kiri dan belakang. Dia terkejut melihat dia sedang duduk di dalam laboratorium.
Raka langsung beranjak dan pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Tuh, kan. Aku bilang juga apa, mimpi itu bukan bunga tidur. Bukti saja aku...," Raka berhenti bicara ketika melihat Rangga berada di depannya. "Bukankah tadi Rangga ada di sebelahku?" batin Raka.
Raka langsung menengok ke arah laboratorium. Dia tidak melihat ada siapa pun di sana. Rangga menghampiri dirinya dan memintanya untuk masuk ke dalam kelasnya.
Raka mengerutkan alisnya, "Berarti tadi...,"
Raka langsung berjalan pergi meninggalkan laboratorium dan masuk ke dalam kelasnya. Dosen dan teman-teman kelasnya sudah berada di dalam ruangan.
Rangga yang melihat Raka bersikap sangat aneh menjadi cemas dan dia pun mencari arti dari mimpi Raka tersebut.
Rangga membuka handphone-nya, "Mungkin Raka benar. Mungkin saja ada sesuatu mengenai mimpi yang dia dapatkan." batin Rangga.
Selama pelajaran di mulai, Rangga terus mencari arti mimpi Raka di internet. Dia pun akhirnya menemukan arti dari mimpi Raka tersebut.
Di katakan, jika seseorang bermimpi berada di ruangan yang sangat gelap.. Dia akan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Dan jika di dalam kegelapan itu ada seseorang yang mendekatinya, itu berarti akan ada seseorang yang menjadi dalang dari hal buruk tersebut.
Rangga mengerutkan alisnya, "Apakah Raka akan dalam masalah besar?" batin Rangga.
Setelah kelas usai. Rangga langsung menghampiri Rahendra dan menceritakan apa yang telah terjadi kepada Raka dan dia juga mengatakan hal yang dia temukan di internet mengenai arti mimpi yang Raka dapatkan.
"Kalau itu memang akan terjadi, kita harus bisa membantu Raka keluar dari masalah tersebut," ucap Rahendra.
Raka menghampiri Rahendra dan Rangga. Dia langsung mengajak kedua sahabatnya itu pergi ke kantin sekolah.
Rangga dan Rahendra langsung berdiri di sebelah kanan-kiri Raka. Mereka tampak memperhatikan sekitar kampus untuk berjaga-jaga akan pa yang akan terjadi kepada Raka.
"Kita harus waspada dan perhatikan baik-baik lingkungan sekitar," bisik Rangga kepada Rahendra.
__ADS_1
"Iya. Kamu juga jangan sampai lengah,"
Raka sedikit mendengar ucapan mereka. Dia kemudian menghentikan langkahnya dan menatap tajam kedua sahabatnya itu.