
Aaaaaaa... Raka menabrak seseorang yang ada di belakangnya.
Plak! Rangga memukul kepala Raka. "Aaa! Dasar penakut!" ejek Rangga.
Raka menghela nafas, "Siapa yang takut? Aku bukan takut ya, tapi terkejut," ucap Raka.
"Ya.. Ya, ya. Lagian ngapain kamu di situ?" tanya Rangga.
"Aku tadi menutup jendela, eh malah dikerjain sama angin yang membuat jendela itu terbuka kembali," ucap Raka.
"Kasihan,"
Selang berapa lama Rahendra keluar dari kamar dan menghampiri mereka berdua.
"Hua!" Rahendra menguap sambil berjalan menghampiri Rangga dan Raka.
Rahendra menatap kedua temannya dengan mata sipitnya itu.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Rahendra.
Rangga menatap Raka, "Wajahmu terlihat sangat aneh, haha," ejek Rangga.
Rahendra menatap kecermin dan melihat wajahnya di kaca jendela.
Rahendra melihat wajahnya dari kanan ke kiri, "Wajahku biasa saja tidak ada yang aneh." ucap Rahendra.
"Hahaha! Matamu sipit sekali. Pasti kamu habis menahan kantuk, ya?" tanya Raka dengan sedikit mengejek Rahendra.
"Hmm. Aku menahan kantuk agar tugas kuliahku selesai," ucap Rahendra.
Di malam harinya...
Trio R duduk di teras rumah menikmati semilir angin ditemani dengan kopi dan beberapa makanan ringan.
Mentari yang sudah terbenam telah berganti dengan rembulan. Mereka duduk dengan bercanda-tawa di bawah cahaya rembulan.
Raka menyeruput kopinya, "Nikmatnya malam ini," Raka menatap ke arah langit malam.
Rangga melipat kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepala sambil bersandar di dinding rumah. "Akhirnya kita bisa menikmati suasana malam tanpa adanya gangguan," kata Rangga.
"Iya. Semoga saja keadaan Desa ini baik-baik saja," ucap Rahendra.
Di tengah-tengah obrolan, gemuruh datang dengan suara yang sangat kencang sampai membuat trio R terkejut.
Suasana yang tadinya damai berubah menjadi sangat mencekam. Rangga, Rahendra dan Raka menatap langit malam dan bertanya-tanya mengenai suara gemuruh yang mereka dengar.
Raka ternganga, "Gara-gara kamu Rahendra," ucap Raka.
Rahendra menatap Raka, "Lah, kenapa kamu menyalahkanku?" Rahendra menekuk alisnya.
"Ya, gara-gara kamu membahas Desa itu, gemuruh yang menyeramkan langsung datang," ucap Rangga.
Angin malam berhembus sangat kencang disertai petir yang terlihat sangat menyeramkan di langit malam.
__ADS_1
Rangga, Rahendra dan Raka menatap petir di langit hitam. Jendela-jendela rumah mulai terbuka-tertutup karena hembusan angin yang sangat kencang.
Trio R saling menatap, "Jangan-jangan...,"
Petir menyambar sebuah pohon yang ada di depan kontrakan mereka disertai kabut putih.
Mereka menatap sesuatu yang ada di balik asap putih tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka melihat arwah Ratih berada di balik kabut putih tersebut.
Raka ternganga, "Waduh! Dia teleportasi." Raka melotot ketika mengatakan hal itu.
Rangga menggigit kuku jarinya, "Hihi.. Mau apa dia kesini." gumam Rangga.
"Kalian mau tetap diam di sini menatapnya?"
Raka dan Rangga melirik ke arah Rahendra. Lalu, mereka berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Rangga menutup pintu dengan rapat, sedangkan Raka dan Rahendra mengunci Jendela-jendela yang sebelumnya terbuka karena hembusan angin.
Raka mengintip dari jendela, "Dia masih berada di sana," ucap Raka.
Rangga bersandar di sofa, "Kenapa dia datang menghampiri kita? Padahal kitakan sudah keluar dari Desa," ucap Rangga.
Rahendra duduk di sofa, "Mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu," Rahendra menatap kedua sahabatnya itu.
Mereka bertiga membuka pintu rumah dan menghampiri arwah Ratih yang masih berdiri di depan rumah indekos mereka.
Rangga dan Raka berjalan di belakang Rahendra. Mereka berdua memegang bahu Rahendra.
Rangga mendorong perlahan Rahendra ke depan, "Cepat tanyakan!" bisik Rangga.
Arwah Ratih mengangkat kepalanya, "Kembalilah ke Desa sekarang! Dan lihat apa yang dilakukan mereka," ucap arwah Ratih.
Setelah mengatakan hal itu, arwah Ratih tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Rangga dan Raka menghampiri Rahendra.
Trio R kemudian bergegas kembali ke Desa malam itu juga untuk melihat apa yang dilakukan Warga Desa.
Raka melipat kedua tangannya di dada, "Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Sampai-sampai arwah Ratih datang menghampiri kita?"
"Entahlah....,"
"Mungkin Warga Desa kembali menyiksa kucing hitam," sambung Rahendra.
Ketika mobil Rahendra memasuki perbatasan Desa itu dengan Desa sebelah. Mereka melihat ada keramaian di setiap jalan.
Trio R bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan para Warga Desa di jalanan.
Rahendra menghentikan mobilnya di pinggir jalan, "Kita turun di sini saja," ucap Rahendra.
Rangga dan Raka turun dari mobil, "Sepertinya ada yang gak beres nih," ucap Rangga.
"Mereka ini benar-benar selalu saja berbuat ulah!" seru Raka.
Trio R mendekati kerumunan itu dan menerobos kerumunan untuk melihat apa yang terjadi di depan sana.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat para Warga Desa mengelilingi Nissa dengan membawa banyak senjata.
Rahendra berdiri di belakang Nissa, "Ada apa ini?" tanya Rahendra.
Rangga dan Raka berdiri di sebelah Rahendra, "Apa yang kalian lakukan kepada Nissa?" tanya Rangga.
"Gadis ini..," seorang pria membawa tombak menunjuk ke arah Nissa. "Gadis ini telah melanggar peraturan Desa sama seperti Ratih!" pekik pria itu.
Raka maju selangkah, "Karena kucing hitam?"
"Ya,"
"Kami akan melenyapkan dirinya sama seperti kami melenyapkan Ratih!" sahut seorang pria membawa kayu sangat besar.
Rangga, Rahendra dan Raka berdiri melingkari Nissa. Mereka memasang badan untuk menyelamatkan Nissa dari amukan Warga Desa.
Para Warga Desa menatap tajam Trio R. Mereka marah kepada Trio R karena mereka melawan Warga Desa.
"Minggirlah kalian! Jangan ikut campur dengan urusan kami! Cepat pergi!" pekik pria membawa tombak.
Rangga, Rahendra dan Raka saling menggenggam tangan. Mereka tetap memasang badan untuk melindungi Nissa.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, gemuruh pun datang dengan suara yang sangat mengerikan. Suasana Desa itu kembali mencekam.
Para Warga Desa menengadah dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Seorang pria berkaos biru mendekati pria membawa tombak, "Mungkinkah dia marah?" bisik pria tersebut.
Tiba-tiba mereka mendengar suara kucing hitam menggeram lalu mengeong dengan sangat kencang.
"Dia datang! Dia datang!" seru Warga Desa.
Para Warga Desa langsung membubarkan kerumunan tersebut. Mereka berlari meninggalkan tempat dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
Beberapa warga menutup dan mengunci pintu dan jendela rapat-rapat.
Setelah semua warga pergi meninggalkan tempat itu, Rahendra mengulurkan tangannya untuk membantu Nissa berdiri.
"Bangunlah, Nissa," ucap Rahendra.
Nissa menggenggam tangan Rahendra. Karena terluka di bagian kaki, Rahendra merangkulnya untuk membantunya berjalan.
"Pelan-pelan," ucap Rahendra.
Rangga dan Raka saling menatap. Mereka merasa aneh dengan sikap hangat Rahendra kepada Nissa.
Rahendra yang biasanya bersikap jutek kepada seorang wanita, hari ini menampakkan sikap yang berbeda.
Raka menekuk alisnya, "Dia beneran Rahendra, kan?"
"Iya, dia Rahendra,"
"Tapi kenapa dia...,"
__ADS_1
Rangga mengangkat kedua alisnya, "Mungkin dia...,"
Rangga dan Raka tersenyum menyeringai.