
Rahendra bangun dengan wajah yang semringah setelah berkenan bersama dengan Nissa. Dia tampak senang dan berseri-seri.
Rangga dan Raka menghampiri Rahendra di Ruang makan. Hari ini, Rahendra memasak makanan untuk teman-temannya.
Rangga melirik Raka, "Kesambet apa dia?" bisik Rangga.
"Kesambet jin cinta," Raka tertawa dengan menutup mulutnya.
Rahendra menghidangkan makanan itu kepada kedua sahabatnya. Dia bersenandung dan bersukaria menjalankan aktivitasnya.
Rangga dan Raka tertawa geli melihat tingkah laku Rahendra di pagi hari ini. Walau tahu kedua temannya menertawakan dirinya, Rahendra acuh tak acuh dalam menyikapi teman-temannya.
"Iya-iya yang hatinya sedang berbunga-bunga," ucap Raka.
"Kesenangan duniawi, hahah..," Rangga tertawa.
"Berisik kalian. Sudah cepat makan!"
"Iya-iya,"
Setelah makan, trio R bersiap-siap berangkat ke kampus. Mereka berangkat dari Desa ke Kota pukul lima pagi.
Seperti biasanya, trio R bergantian dalam menyetir mobil untuk menghindari rawannya kecelakaan karena kecapean.
Ketika sampai di kampus, Rangga, Rahendra dan Raka langsung bergegas masuk ke dalam kelas.
"Aku ada kelas pagi, jadi, aku masuk duluan ya," ucap Rangga.
"Iya,"
Dosen kelas pun masuk dan mulai memberikan materi. Semua mahasiswa-mahasiswi mencatat dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen mereka.
Ketika Rahendra sedang fokus dalam kelasnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan membuat dosen dan mahasiswa-mahasiswi menatap dirinya.
"Matikan dering ponselmu, Rahendra!" ucap Dosen kelas.
"Iya, Pak,"
Rahendra mematikan dering ponselnya tanpa melihat siapa yang telah menghubungi dirinya. Walau sudah dimatikan dering ponselnya, Rahendra bisa mendengar suara getaran dari ponselnya.
Dia pun mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Nomor yang tidak dia kenal terus meneleponnya sampai lima belas kali.
Rahendra mengerutkan alisnya, "Sebenarnya siapa orang ini, kenapa dia terus menghubungiku," batin Rahendra.
Rahendra menaruh ponselnya di saku dan kemudian dia izin keluar kelas kepada Dosennya.
Rahendra menghampiri Dosennya, "Maaf, Pak. Aku izin pergi ke kamar mandi." ucap Rahendra.
Dosennya mengangguk memperbolehkan Rahendra keluar. Rahendra langsung pergi ke kamar mandi dan segera mengangkat panggilan tersebut.
Betapa terkejutnya dia mendengar suara si penelepon. Dia hanya mendengar suara deru nafas seseorang yang sangat aneh dan membuat bulu kuduk berdiri.
Rahendra langsung mematikan panggilannya, "Sialan! Siapa sih yang menelepon gue, kenapa suaranya aneh sekali,"
Ketika Rahendra hendak pergi meninggalkan kamar mandi, ponselnya kembali berdering. Nomor tidak dikenal itu kembali menelepon dirinya.
Rahendra langsung berkeringat dan dia kembali mengangkat panggilan aneh tersebut.
Suara bising terdengar dari panggilan itu, suara itu semakin besar, semakin besar dan semakin besar terdengar di telinganya.
Tiba-tiba Rahendra mendengar suara seseorang menjerit hinggap membuat Rahendra menjatuhkan ponselnya ke Lantai.
Rahendra melotot, "Gila! Suara apaan itu tadi." Rahendra mengusap keringatnya.
Dia mengambil ponselnya yang terjatuh ke Lantai dan panggilan itu masih menyambung. Rahendra mencoba mendengarkan kembali suara itu.
Kali ini ia mendengar suara kucing mengeong, suara angin yang berhembus sangat kencang dan suara-suara lainnya.
Rahendra mematikan panggilannya, "Dia, meneleponku." dia menghela nafas panjang.
Rahendra kembali ke kelas dan tampak sangat cemas dan takut setelah mengangkat telepon tersebut.
Dia kembali duduk di kursinya dan mencoba melupakan suara menyeramkan yang dia dengar dari panggil.
Raka menopang dagungya dengan tangan, "Kapan kelasnya selesai," gumam Raka.
Suara getaran handphone Raka terdengar. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon dirinya.
Raka mengerutkan alisnya, "Nomor siapa ini? Kenapa dia meneleponku," batin Raka.
Raka langsung mematikan panggilannya dan kembali fokus pada materi yang sedang dijelaskan oleh dosennya.
Rangga pun mengalmi hal yang sama dengan Rahendra dan Raka. Nomor yang tidak dia kenal menghubunginya. Namun, Rangga tidak peduli dengan panggilan tersebut dan langsung mematikan ponselnya.
"Mengganggu saja," gumam Rangga.
Setelah kelas selesai, trio R bertemu di tempat biasa. Mereka memasang wajah berbeda-beda. Rahendra masih tampak takut akan suara yang dia dengar, Raka tampak lemas dan matanya terlihat sangat sayup. Sedangkan Rangga, dia tampak lesu dan tidak semangat.
Raka menguap dengan sangat keras, "Aku mengantuk sekali." ucap Raka.
Rangga melirik ke arah Rahendra, "Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu terlihat cemas?" tanya Rangga.
"Apa kau tahu. Tadi, ada nomor tidak dikenal meneleponku, lantas aku jawab panggilannya. Dan apakah kalian tahu siapa yang meneleponku?" Rahendra menatap kedua temannya.
Rangga dan Raka menggelengkan kepala, "Tidak! Emang siapa yang meneleponmu?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Arwah Ratih," bisik Rahendra.
Rangga dan Raka terkejut mendengar hal itu. Mereka tidak percaya akan ucapan Rahendra.
"Mana mungkin arwah Ratih meneleponmu, diakan tidak memiliki telepon," ucap Raka.
"Aku serius." Rahendra mengambil ponselnya dan menunjukkan riwayatnya panggilannya.
Rangga dan Raka merasa aneh dengan nomor telepon tersebut, mereka berdua juga mengeluarkan ponsel dan melihat riwayatnya panggilan.
"Nomor yang menghubungiku sama seperti nomor yang menghubungimu, Rahendra," ucap Rangga.
"Iya. Aku pun mendapat panggilan dari nomor yang sama," ucap Raka.
Trio R saling menatap satu sama lain. Mereka masih bertanya-tanya apakah benar arwah Ratih yang telah menghubungi mereka.
Rangga, Rahendra dan Raka berjalan menuju kantin kampus. Mereka makan siang di sana sambil membicarakan nomor telepon tersebut.
"Coba kamu hubungi kembali nomor tersebut," ucap Rangga.
Rahendra mencoba menghubungi kembali nomor tersebut. Panggilan itu pun berdering, tetapi tidak ada yang menjawabnya.
Rahendra terus mencoba menghubunginya lagi. Tapi tiba-tiba panggilannya dimatikan. Hal itu membuat mereka kaget dan bertanya-tanya siapa yang mematikan panggilan mereka.
"Panggilannya dimatikan. Itu berarti yang menelepon manusia bukan setan," ucap Raka.
"Tapi tadi saat aku menjawab panggilannya, suara yang aku dengar bukan suara manusia," ucap Rahendra.
"Mungkin kamu salah mendengar, Rahendra," ucap Rangga.
"Tidak. Aku benar-benar mendengar suara seekor kucing dan suara teriakan seseorang,"
"Hmm. Untuk memastikan kebenarannya, kita harus cepat kembali ke Desa dan datang ke rumah tersebut,"
Setelah menghabiskan makan siang, trio R bergegas kembali ke Desa untuk mencari tahu kebenaran mengenai panggilan yang telah mengganggu aktivitas Rangga, Rahendra dan Raka.
Ketika sampai di Desa. Trio R langsung mendatangi rumah arwah Ratih dan mereka masuk ke dalam rumah tersebut.
"Baru berdiri di depan rumahnya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri," ucap Raka.
"Mau gimana lagi. Kita harus masuk ke dalam dan mencari tahu mengenai hal itu," ucap Rangga.
Trio R masuk ke dalam rumah dan mulai mencari sesuatu di dalam rumah tersebut. Sudah mencari ke seluruh Ruangan, mereka tidak menemukan apa pun.
Rangga, Rahendra dan Raka keluar dari rumah angker tersebut.
"Kita tidak menemukan apa yang kita cari di sana," ucap Rangga.
"Sepertinya, orang yang menelepon kita hanyalah orang iseng yang ingin bermain-main dengan kita bertiga," ucap Raka.
"Ya. Mungkin apa yang kalian katakan benar,"
Raka mengambil ponselnya di saku bajunya dan melihat siapa yang telah menghubunginya. Betapa terkejutnya dia melihat nomor tidak di kenal itu telah menelepon kembali.
Raka melotot, "Hei. Nomor itu menghubungimu."ucap Raka.
"Angkat panggilannya dan nyalakan pengeras suaranya," ucap Rangga.
Raka mengangkat panggilan tersebut. Mereka hanya mendengar suara hembusan nafas dari panggilan itu.
Rangga, Rahendra dan Raka saling menatap satu sam lain. Suara-suara aneh pun terdengar, dari suara kucing mengeong, suara seorang wanita menangis dan suara seseorang menghentakkan kayu ke Lantai.
Rangga, Rahendra dan Raka melihat ke arah ruangker tersebut. Rumah itu terlihat sangat aneh, dan suasananya menjadi sangat mencekam.
Raka mematikan panggilannya, "Jangan-jangan..." dia menatap tajam ke dalam rumah angker tersebut.
Pintu rumah itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Angin pun berhembus sangat kencang dan daun-daun kering mulai berjatuhan.
Perlahan-lahan jendela rumah bagian depan terbuka dengan di iringi suara-suara aneh yang ada di dalam rumah. Suara tersebut membuat mereka semakin merasa merinding.
Jendela itu terbuka dengan sangat keras dan membuat trio R sangat terkejut melihat sosok yang ada dihadapan mereka.
Tatapan sosok itu sangat tajam dan mengerikan. Seperti akan segera menerkam mereka bertiga.
Trio R saling bercengkerama. Sosok menyeramkan yang ada di rumah itu bukan hanya satu, melainkan tiga.
Sosok-sosok itu perlahan-lahan mendekati mereka bertiga. Rangga, Rahendra dan Raka perlahan-lahan berjalan mundur dan hendak melarikan diri dari sana.
Deg.. Deg.. Deg..
Prank!
Rangga, Rahendra dan Raka menyipitkan matanya karena ketiga sosok itu bukanlah hantu sungguhan, melainkan Nissa dan kedua temannya.
"Hahaha..," tawa Nissa dan teman-temannya. "Begitu saja takut." seorang wanita mendekati mereka.
Rangga melepaskan cengkeraman tangannya, "Siapa yang takut. Kami bukan takut, tapi terkejut." ucap Rangga.
"Halah. Sudahlah, kalau takut tuh bilang aja takut,"
"Tidak! Kami tidak takut dengan hal begituan. Iyakan, sobat?" Raka melirik ke arah Rahendra.
"I-iya. Hantu itu tidak ada, yang ada hanya arwahnya," ucap Rahendra.
Hahaha.. Nissa dan teman-temannya tertawa.
__ADS_1
Mereka berenam kemudian pergi meninggalkan rumah angker tersebut. Ketika mereka akan masuk ke dalam mobil, Raka merasa melihat sesuatu di balik pohon beringin yang berada di sebelah rumah angker itu.
Rangga membuka kaca mobil, "Ayo cepat naik, Raka!"
"Iya," Raka langsung masuk ke dalam mobil.
Mereka berenam pergi ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal di Desa itu. Selama di perjalanan, Nissa memperkenalkan kedua teman-temannya kepada Rangga, Rahendra dan Raka.
Wanita berbaju coklat dan berambut panjang bernama Lastri. Dia berusia dua puluh tahun dan aktif dalam bidang seni tari.
Sedangkan wanita berambut pendek (sebahu) bernama Putri. Dia berusia dua puluh tahun dan aktif dalam bidang seni lukis.
Rangga melirik ke belakang, "Salam kenal ya. Saya Rangga, cowok paling baik, ramah dan paling ganteng dari kedua cowok ini." Rangga memuji dirinya sendiri.
"Ganteng? Tapi kok, jomblo," sindir Rahendra.
"Modal ganteng doank, hahaha..," sahut Raka.
"Bukan jomblo, tapi hanya belum nemu yang pas aja," ucap Rangga.
"Oh, begitu,"
Nissa dan kedua temannya menengok ke arah Raka, "Salam kenal. Aku Raka, cowok paling humoris, ganteng dan baik hati." ucap Raka.
"Wah, jago melawak donk?" tanya Putri.
"Tentu saja. Pakarnya komedi,"
Mereka berenam sampai di warung makan populer di Desa. Lalu kemudian, Lastri meminta Raka untuk membuat lawakan saat di dalam warung nantinya.
"Bisa, kan?"
"Bisa donk,"
Raka mulai memikirkan lawakan yang pas untuk mereka. Dia melihat sekeliling dan mencari ide untuk dijadikan bahan lawakan.
Rahendra memesankan makanan ringan dan minuman untuk semuanya. Dan Raka memulai aksi melawaknya.
"Dengarkan ya...," Raka menaruh ponselnya di meja. "Kalian tahu kenapa kebanyakan pedagang yang menggunakan gerobak selalu berteriak saat berdagang?" tanya Raka.
"Kenapa?"
"Karena... Kalau tidak teriak ya tidak yang beli. Aneh sekali kamu!"
"Hahaha.. Gak lucu!"
"Lawakanmu hambar, Raka," ucap Rahendra.
Seorang pelayan warung makan menghampiri mereka dengan membawa makanan yang sudah di pesan Rahendra.
Sambil memakan-makanan ringan itu, Raka melanjutkan kembali melawaknya.
Dia mencoba membuat ketiga wanita yang di depannya itu tertawa. Akan tetapi, lawakannya terus saja gagal dan hambar.
Raka menghela nafas panjang, "Sepertinya bakatku dalam melawak sudah hilang." Raka menyangga dagunya dengan rangan kanannya.
Ketika Raka menyipitkan matanya, dia melihat arwah Ratih sedang berdiri di sebelah mobil Rahendra.
Raka menatap tajam sosok tersebut dan dalam benaknya dia bertanya-tanya mengapa arwah itu berada di sana dan mengikuti mereka sampai di sana.
"Apa dia mengikuti kami, atau...," batin Raka.
Rangga memerhatikan Raka yang sedari tadi menatap keluar ruangan. Dia pun melihat ke arah luar dan ikut terkejut melihat sosok Ratih ada di sana.
Rangga melotot, "Ngapain dia di sana? Apa dia membuntuti kami." batin Rangga.
Nissa dan teman-temannya merasa ada yang aneh dengan Rangga dan Raka. Mereka kemudian memberitahu Rahendra dengan menggunakan isyarat tatapan mata.
Rahendra menatap ke arah Rangga dan Raka. Lalu kemudian, dia membuyarkan pandangan Raka dan Rangga.
"Kenapa dengan kalian?" tanya Rahendra.
Rangga melirik ke arah Raka, "Tidak ada." mereka berdua menggelengkan kepala.
Lastri menatap Rangga, "Benarkah? Tapi tatapan kalian seakan-akan kalian sedang melihat sesuatu yang sangat menyeramkan," ucap Lastri.
Rangga kembali melirik Raka, "Tidak! Kami tidak melihat sesuatu yang seram."
"Kalian itu, aneh sekali," ucap Putri.
Setelah itu, mereka berenam pergi meninggalkan warung. Rahendra mengantarkan pulang Lastri, Putri dan Nissa.
Pertama, dia mengantar Lastri sampai ke depan rumahnya. Lalu berikutnya, Putri. Dia pun mengantar Putri sampai ke depan rumahnya. Dan yang terakhir, Nissa. Rahendra mengantar Nissa sampai ke depan pintu rumahnya.
Raka pindah duduk di kursi mobil bagian tengah, "Apa kamu melihat hal yang sama denganku tadi, Rangga?" tanya Raka.
"Hmm. Mungkin saja kita juga memikirkan hal yang sama mengenai hal itu," ucap Rangga.
"Ya. Mungkin saja. Aku masih bertanya-tanya mengapa arwah itu berada di sana dan apa yang ingin dia lakukan," Raka menatap langit-langit mobil.
Rahendra masuk ke dalam mobil dan memerhatikan kedua temannya yang sedang melihat langit-langit mobil.
Rahendra menekuk alisnya, "Sebenarnya kalian itu kenapa?" tanya Rahendra.
Raka menatap Rahendra, ".... Tidak ada apa-apa." ucap Raka.
__ADS_1
Rahendra mengangkat kedua bahunya. Lalu kemudian dia melajukan kendaraannya. Mereka kembali ke rumah indekos.
Selama perjalanan kembali ke indekos, Rangga dan Raka masih memikirkan hal itu. Mereka masih bertanya-tanya apa yang dilakukan sosok itu di sana.