
"Hei!" seru Rangga.
Rangga, Rahendra, Nissa dan kedua temannya berlari menghampiri Raka. Mereka berusaha menyadarkan Raka yang tidak sadarkan diri.
Rangga menepuk pipinya Raka, "Hei, Raka bangun!"
Rahendra memercikkan air ke wajah Raka, "Bangun, Raka!"
Perlahan-lahan Raka membuka matanya. Dia pun tersadar dan langsung terduduk di Lantai. Rahendra memberikan air munum kepada Raka.
"Apa yang terjadi?" tanya Raka.
Putri menekuk alisnya, "Kamu tadi tak sadarkan diri, Raka. Apa kamu tidak ingat?"
Raka menggelengkan kepala, "Aku, pingsan? Tapi kenapa?" Raka bertanya-tanya.
Rangga menatap Rahendra heran. Mereka membantu Raka berdiri dan duduk di kursi yang ada di Ruangan bawah tanah tersebut.
"Kamu istirahat saja di sini, Raka," ucap Rangga.
"Iya,"
Rangga menatik tangan Rahendra. Dia mengajaknya membicarakan sesuatu mengenai Raka berdua saja.
Rangga berbisik, "Apa kejadian ini ada hubungannya dengan mimpi yang di dapat Raka?"
Rahendra mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Taoi kemungkinan mimpi Raka itu mengartikan sesuatu."
"Iya. Kita harus bisa memecahkan arti dari mimpi Raka,"
Ketika sedang berbincang, Lastri tiba-tiba menghampiri mereka dan bertanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kalian sedang membicarakan apa? Kok bisik-bisik," tanya Lastri.
"Tidak ada." Rangga berjalan pergi meninggalkan Lastri.
Merasa di abaikan oleh Rangga, Lastri memasang wajah kesal. Dia merasa Rangga tidak suka kalau dia berada di dekatnya.
Rahendra yang melihat sikap Lastri yang terlihat marah karena di acuhkan oleh Rangga—tertawa. Dia tidak bisa menahan tawanya.
"Dasar, Rangga. Coba nengok ke belakang sekali aja, kamu akan melihat hal yang sangat lucu," gumam Rahendra.
Setengah jam sudah mereka berada di Ruang Bawah Tanah. Trio R, Nissa, Putri dan Lastri keluar dari Ruangan tersebut. Mereka melihat keadaan Desa itu yang sudah sangat kacau.
Desa itu tampak sepi bak tak berpenghuni. Beberapa orang terlihat tergeletak di tanah—terluka parah.
Trio R dan kawan-kawan membantu warga yang terluka. Mereka membawa warga itu ke rumahnya Nissa untuk mengobati mereka.
"Desa ini benar-benar bak tak berpenghuni," ucap Raka.
"Semuanya hancur berantakan,"
"Sebaiknya kita bantu warga yang terluka," ajak Rahendra.
Trio R dan kawan-kawan berpencar untuk mencari warga yang masih berada di Desa. Rata-rata mereka terluka di bagian wajah, lengan dan leher. Luka bekas cakaran dan gigitan kucing-kucing itu terlihat sangat jelas.
"Mari Pak saya bantu," Rangga memapah seorang Bapak yang terluka di dekat sawah.
__ADS_1
Rahendra menemukan seorang ibu-ibu yang tengkurap di tengah jalan, "Bu!" Rahendra membalikkan badan ibu itu. "Dia terluka parah sekali." Rahendra langsung membawa ibu itu ke rumah Nissa.
Setelah semua warga yang terluka di kumpulkan di rumah Nissa, mereka berenam kemudian mengobati luka mereka.
Rangga menghampiri Lastri, "Las. Perbannya di mana ya?" tanya Rangga.
Lastri menunjuk ke arah lemari di pojok ruangan. Rangga menengok ke arah lemari tersebut, "Di dalam lemari itu?" Lastri mengangguk.
Rangga menekuk alisnya, "Kamukan bisa mengatakannya, kenapa hanya menunjuk saja." Rangga berjalan meninggalkan Lastri.
Lastri menatap Rangga dari belakang dengan wajah yang tertekuk kesal. Dia pun bicara seorang diri—membicarakan Rangga.
Rahendra lagi-lagi tertawa melihat tingkah Lastri yang bersikap dingin kepada Rangga. Raka yang melihat Rahendra tertawa sendiri merasa heran.
"Memangnya ada lucu, Rahendra?" tanya Raka.
"Ada. Kau tahu....," Rahendra membisikkan sesuatu kepada Raka.
Raka tertawa, "Benarkah?"
Rahendra memainkan alisnya, "Iya. Lucu, kan?"
"Lucu banget. Hahaha.. Aku akan mengganggu mereka,"
Setelah mengobati Warga Desa, Trio R dan kawan-kawan membereskan kekacauan yang diperbuat oleh para kucing tersebut.
Mereka memilah barang-barang yang masih utuh—tidak rusak. Sedangkan barang-barang yang sudah hancur mereka letakkan ke dalam sebuah wadah.
Barang-barang yang tidak bisa di selamatkan itu akan di buang ke tempat pembuangan. Sedangkan barang-barang yang masih bisa di selamatkan itu di kembalikan ke rumah pemiliknya.
"Hayo! Jangan sampai ada yang tertinggal," seru Rangga.
"Iya,"
"Lastri!" Raka memanggil Lastri.
Lastri berbalik, "Ada apa, Raka?" tanya Lastri.
"Di cariin Rangga tuh," ucap Raka.
"Hah? Kenapa dia mencariku?"
"Entah. Coba saja tanyakan sendiri,"
Raka berlalu meninggalkan Lastri. Lastri masih bertanya-tanya mengapa Rangga memintanya bertemu dengannya.
Rahendra menghampiri Rangga, "Rangga!" panggil Rahendra.
"Iya. Ada apa?"
"Di cariin Lastri tuh,"
"Lastri? Kenapa dia nyariin saya?"
"Mana saya tahu. Sudah sana samperin! Biar aku yang melanjutkan pekerjaanmu,"
Rangga pun pergi meninggalkan Rahendra. Dia pergi ke tempat di mana Lastri mengajaknya bertemu.
__ADS_1
Ketika Rangga sampai di tempat itu, Lastri pun sampai di sana. Mereka saling menatap dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
"Ada apa, Rangga 'Lastri'" Rangga dan Lastri bertanya bersama.
Rangga menekuk alisnya, "Bukankah kamu yang mengajakku bertemu?" tanya Rangga.
Lastri mengangkat alisnya, "Kamu yang mengajakku bertemu."
"Enak saja. Tadi Rahendra mengatakan oadaku kalau kamu memintaku datang ke sini,"
"Tadi juga Raka datang padaku dan mengatakan kalau kamu memintaku datang ke sini,"
Rangga dan Lastri terdiam sejenak. Mereka tersadar kalau mereka telah dipermainkan oleh Raka dan Rahendra.
"Oh. Jadi mereka mengerjai kita." Rangga menggulung lengan bajunya.
Lastri melipat tangan di dada, "Ya. Awas saja mereka!"
Rangga melirik ke arah Lastri dan kemudian dia membisikkan sesuatu kepadanya. Lastri pun setuju dengan apa yang di katakan Rangga.
Setelah merencanakan sesuatu bersama dengan Lastri, Rangga terlebih dahulu pergi meninggalkan tempat itu. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya begitu pun Lastri.
Raka berbisik, "Apa mereka sudah baikkan?"
"Entah. Mungkin masalah malah tambah besar,"
"Gawat kalau begitu,"
Raka dan Rahendra melanjutkan pekerjaan. Ketika sedang mengerjakan pekerjaan, tiba-tiba Lastri dan Rangga bertengkar hebat.
"Kau! Benar-benar cowok paling menyebalkan!" pekik Lastri.
Rangga menekuk alis, "Yang menyebalkan itu kamu, bukan saya!"
Raka, Rahendra, Nissa dan Putri menghampiri Rangga dan Lastri. Mereka bertanya-tanya apa yang membuat Rangga dan Lastri bertengkar.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian bertengkar seperti itu?" tanya Nissa.
Lastri menghampiri Nissa, "Pria ini. Dia tidak mau mengaku kalau dia tadi yang memintaku bertemu." Lastri menunjuk ke arah Rangga.
Rangga menghampiri Lastri, "Hei. Memang bukan aku, tapi kamu yang mengajakku bertemu."
"Enak saja. Lihat, dia tidak mau mengaku, kan,"
Raka dan Rahendra saling menatap—Raka menepuk jidat, "Masalah mereka malah semakin rumit." ucap Raka.
"Iya. Ternyata rencana kita gagal total,"
Putri hanya menjadi penonton di dalam perdebatan antara Rangga dan Lastri. Rahendra dan Raka yang berulah oun hanya diam dan tidak angkat bicara.
"Raka. Tadi, kan kamu bilang Rangga yang memintaku menemuinya?" tanya Lastri.
"I-i-iya," Raka tergugup.
"Rahendra. Tadi bukankah kmau mengatakan kalau Lastri yang memintaku menemuinya?" tanya Rangga.
"I-iya. Dia yang....," Rahendra terdiam.
__ADS_1
"Yang apa...?"
Raka dan Rahendra saling menatap. Mereka kemudian mengakui perbuatan mereka di hadapan yang lainnya.