Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 30. Kenapa harus Nissa?


__ADS_3

Ketika mereka berenam memasuki area hutan, tiba-tiba suasana hutan itu menjadi sangat mencekam. Angin yang berhembus sangat kencang hingga membuat ranting-ranting pohon berjatuhan. Suara gemuruh terdengar seakan-akan akan terjadi badai yang sangat besar.


Raka menatap ke atas, "Mungkinkah dia datang kembali."


"Mungkin saja. Hal ini biasanya terjadi di saat arwah itu akan menampakkan diri," ucap Rangga.


Sebuah batang pohon yang tidak terlalu besar terjatuh di hadapan mereka, membuat mereka terkejut dan langsung berlari menjauh dari sana.


Raka mengusap dadanya, "Huh. Untung gue tidak punya penyakit jantung."


Tiba-tiba saja Nissa terpelanting ke arah pohon beringin. Rangga, Rahendra, Raka dan kedua teman Nissa terkejut dan mereka langsung berlari menghampiri Nissa.


"Nissa!" Lastri dan Putri menghampiri Nissa.


Rangga menekuk alisnya, "Bagaimana dia..."


"Ini pasti ulahnya," gumam Rahendra.


Rangga, Rahendra dan Raka menghampiri Nissa. Mereka berlima mencoba menyadarkan Nissa yang tidak sadarkan diri—trduduk di bawah pohon beringin.


Rahendra memercikkan air ke wajah Nissa, "Bangun, Niss."


Nissa pun perlahan-lahan membuka matanya. Raka memberikan air minumnya kepada Rahendra untuk diberikan kepada Nissa. Suasana hutan itu kembali mencekam., teriakan arwah Ratih pun terdengar dengan sangat jelas. Rahendra membantu Nissa berdiri—mereka menatap ke sekeliling hutan untuk berjaga-jaga akan terpaan apa yang akan diberikan oleh arwah Ratih.


Sebuah ranting pohon melesat ke arah mereka, "Semuanya menunduk!" teriak Rangga.


Ranting pohon itu menghantam pohon beringin. Rangga, Rahendra, Raka dan yang lainnya terpisah karena menghindar dari hantaman ranting tersebut.


"Gila banget! Dia benar-benar mau membunuh kita semua!" pekik Raka.


Lagi-lagi Nissa terpelanting menghantam pohon besar. Rahendra yang berdiri di sampingnya pun terkejut dan langsung berlari menghampiri Nissa begitu pun dengan yang lainnya. Raka bertanya-tanya dalam fikirannya mengapa arwah Ratih terus saja mengincar Nissa.


Rangga ber jong kok, "Sepertinya arwah Ratih mengincar nyawa Nissa." Rangga menatap Rahendra.


Rahendra menekuk alisnya, "Taoi mengapa dia mengincar nyawanya?"


"Mungkin ada hubungannya dengan kelakuan orang tua Nissa," ucap Raka.


"Kalau yang dikatakan Rangga benar, kita harus berusaha melindungi Nissa darinya," ucap Lastri.


Lastri dan Putri diminta untuk duduk menjaga Nissa. Sedangkan, Rangga, Rahendra dan Raka berdiri di depan mereka untuk menjaga keselamatan Nissa.


Angin kembali berhembus dengan sangat kencang. Arwah Ratih pun menampakkan dirinya dihadapan mereka. Matanya terlihat sangat besar dan penuh dengan kemarahan seakan-akan dia ingin menghantamkan baja kepada mereka.


"Pergilah darisana. Aku tidak ingin melukai orang yang tidak bersalah,"


"Apa masalahmu dengan Nissa? Mengapa kau mengincarnya!" pekik Rahendra.

__ADS_1


"Pergi saja darisana dan jangan mengganggu pembalasanku!"


"Kami tidak akan pergi. Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kami," ucap Rangga.


"Keras kepala!"


Segerombolan kucing hitam datang dan menyerang Trio R. Rahendra langsung meminta Lastri dan Putri untuk membawa Nissa pergi dari sana.


"Cepatlah kalian pergi dari sini!"


Lastri dan Putri langsung memapah Nissa dan membawanya menjauh dari sana. Melihat Nissa dibawa pergi, arwah Ratih pun mengikuti mereka. Trio R tidak bisa membantu Lastri dan Putri lantaran mereka harus menghadapi kucing-kucing hitam itu.


Raka memukul kucing itu dengan kayu, "Sebaiknya kamu pergilah selamatkan mereka, Rahendra! Biar aku dan Rangga yang menghadapi kucing-kucing ini."


Rahendra mengangguk, dia kemudian berlari menghampiri Lastri dan Putri. Berkali-kali arwah Ratih menghantamkan ranting-ranting pohon kepada mereka, untungnya, Lastri dan Putri bisa menghindari hantaman ranting tersebut.


Ketika Rahendra hampir dekat dengan Lastri dan Putri, tiba-tiba seekor kucing hitam menggigit kakinya dan membuat langkah Rahendra terhenti.


Rahendra terjatuh, "Kau ini!" Rahendra berusaha melepaskan gigitan kucung tersebut.


Sebuah kayu yang cukuo besar melesat ke arah Lastri, Putri dan Nissa. Kayu itu menghantam mereka dari belakang dan membuat mereka tersungkur.


Rahendra, Raka dan Rangga terperangah melihat hal itu. Rahendra pun melepaskan gigitan kucing itu dengan sangat kasar. Begitu pun Rangga dan Raka yang langsung berlari menghampiri Lastri, Putri dan Nissa.


"Gawat!"


"Waaaaaaa!" seru Raka.


Rangga berhenti dan membalikkan badannya, "Waduh." Rangga menghampiri Raka untuk menolongnya lepas dari gerombolan kucing itu.


Sementara Rahendra, dia berdiri di depan arwah Ratih dengan merentangkan kedua tangannya. Lastri dan Putri berusaha menyadarkan Nissa yang masih tidak sadarkan diri.


"Aku mohon bangun, Nissa," Putri menepuk pipi Nissa.


"Jangan menghalangiku, Rahendra!"


"Apa kesalahan Nissa padamu? Dia kan tidak terlibat dalam masalah itu,"


"Kau tidak tahu apa pun! Jadi, diam saja dan pergilah dari sana!" pekik arwah Ratih.


"Jika kau ingin menjalankan Pembalasanmu itu, lewati dulu aku," Rahendra menantang arwah Ratih.


Di sisi lain... Rangga pun berhasil mengusir Kucing-kucing itu dari atas punggung Raka. Raka langsung membalikkan badannya dan tiduran sejenak.


Raka menghela nafas,"malangnya nasibku,"


"Sudahlah tidak ada waktu lagi untuk bercanda. Sekarang cepat bangun dan kita harus membantu mereka,"

__ADS_1


"Iya,"


Rangga dan Raka langsung bergegas menghampiri Rahendra dan yang lainnya. Mendengar tantangan dari Rahendra, arwah Ratih terdiam sejenak dia menatap Rahendra dengan sangat tajam.


"Aoa yang terjadi?" tanya Rangga.


"Entahlah. Tapi aku merasa Rahendra melakukan hal yang tidak biasa," ucap Raka.


Nissa perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ke sekitarnya. Dia menatap Rahendra dari belakang yang sedang berdiri di depannya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Rahendra,"


"Kenapa kau diam saja. Cepat lanjutkan pembalasan dendammu,"


Arwah Ratih pun dapat di tenang kan oleh Rahendra. Dia pun hilang tiba-tiba beserta dengan para kucing hitamnya. Setelah itu, Rahendra membalikkan badannya untuk melihat bagaimana keadaan Nissa.


Rahendra duduk berjongkok di sebelah Nissa,"Kau baik-baik saja, Nis?" tanya Rahendra


Nissa mengangguk, "Aku baik-baik saja."


"Alhamdulillah,"


Raka melirik ke arah Rangga, "Aduh!" seru Raka.


Rahendra, Nissa, Lastri dan Putri menatap Raka.


"Punya teman jahat banget sih. Tidak tahu apa temannya yang luvu, imut dan menggemaskan ini terluka,"


"Lebay,"


"Hahaha.." Rangga menertawai Raka. "Kasihan di acuhkan,"


Raka menyipitkan matanya, dia memukul kepala Rangga dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Rangga.


"Hoho.. Si Raka marah ni ye,"


Mereka berenam pun kembali ke rumah Nissa. Rahendra memapah Nissa selama perjalanan menuju rumahnya.


"Aduh! Nasibnya jadi jomblo,"


"Dari tadi kamu ngomong terus, gue sumpel daun kemangi nanti biar diam,"


"Terserah gue, mulut-mulut gue, ye..,"


Ketika sampai di rumah, Rahendra meminta Lastri dan Outri membawa Nissa masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Hari ini benar-benar meresahkan,"

__ADS_1


__ADS_2