Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 7. Muncul di rumah pak Bambang


__ADS_3

Rahendra langsung berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruang tamu, "Lari!!" seru Rahendra.


Rangga dan Raka menekuk alis, "Kenapa dengannya?" tanya Raka.


"Entah," ucap Rangga.


Raka kemudian kembali menghadap ke depan dan terkejut melihat sosok Ratih ada di depannya dan duduk di samping Rangga.


Raka mengedipkat kedua matanya beberapa kali, lalu dia beranjak dari duduknya dan perlahan-lahan pergi meninggalkan ruang tamu.


"Lari Rangga! Lari!!" teriak Raka.


???


Rangga mengangkat kedua tangannya. Dia kemudian merentangkan tangannya di atas sofa dan menengok ke arah kiri.


"Hehe. Halo! Apa kabar, pastinya kabarmu baik, kan. Hehe, aku mau ke sana dulu, ya," Rangga beranjak dari duduknya dan ngiprit lari mengejar kedua temannya.


"Hei! Tungguin gue!" seru Rangga.


Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke dalam kamar dan mengunvi kamar mereka.


Rangga duduk di sofa yang afa di kamar tersebut dengan nafas yang terengah-engah, "Capek sekali."


Rahendra menjatuhkan tubuhnya di kasur, "Apa kesalahan kita, Sampai-sampai itu kunti selalu ngikutin kita."


Raka bersender di pintu, "Mungkin dia ingin meminta bantuan kita dalam menyelesaikan masalahnya."


Mereka bertiga memejamkan mata sejenak. Ketika nafas mereka sudah kembali normal, mereka bertiga berdiri dan kembali ke Ruang tamu.


Rangga, Rahendra dan Raka berjalan perlahan-lahan ke ruang tamu seperti seorang pencuri.


"Apakah dia masih ada di sana," ucap Raka.


"Mana gue tau. Emang gue bapaknya," ucap Rangga.


Mereka bertiga bersembunyi di balik tiang dan mengintip ke arah ruang tamu untuk melihat arwah tersebut.


"Dia sudah tidak ada," ucap Raka.


"Alhamdulillah. Akhirnya dia pergi juga," ucap Rangga.


Ketika mereka sedang menatap ke arah sofa yang ada di ruang tamu, seseorang menepuk bahu Rahendra dan memanggil nama mereka bertiga dengan suara tidak terlalu jelas.


"Apaan sih! Jangan mukul-mukul kenapa," ucap Rahendra.


"Siapa yang mukul kamu?" tanya Rangga.


"Kalian, kan?"


Rangga dan Raka menggelengkan kepala, lalu kemudian mereka perlahan-lahan membalik badan ke belakang.


Aaaaaaaaaaa... Mereka bertiga berteriak.


Plak! Orang itu menampar Rahendra. Melempar lap ke wajah Rangga dan memasukkan ember ke kepala Raka.


"Kenapa kalian berteriak seperti itu?" tanya istrinya pak Bambang.

__ADS_1


Rangga mengambil lap tersebut, "Eh, Ibu. Kami kira tadi..." Rangga melirik ke arah Rahendra.


"Tadi apa?" istrinya pak Bambang mengerutkan alisnya.


Raka kemudian melepaskan ember itu dari kepalanya, "Kami kira tadi ibu itu nona kunti." ucap Raka dengan cepat.


"Kunti? Kuntilanak, begitu?"


Rangga, Rahendra dan Raka menganggukkan kepala, "Iya."


"Enak aja, cantik-cantik gini di bilang kunti," ucap istrinya pak Bambang.


Hehe..


Istrinya pak Bambang kemudian membuang muka kepada mereka dan pergi meninggalkan mereka bertiga. Lalu mereka bertiga duduk di sofa tersebut.


"Ngapain kita duduk lagi di sini? Kalau dia datang lagi bagaimana?" ucap Raka.


"Iya, kau benar. Lebih baik kita kembali ke kamar dan langsung beristirahat," ucap Rahendra.


Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke dalam kamar dan menunci kamar mereka. Lalu kemudian mereka tidur.


Ke esokkan harinya...


Rangga, Rahendra dan Raka bangun pagi-pagi dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Sebelum berangkat, mereka bertiga pergi sarapan bersama dengan keluarga pak Bambang.


"Selamat pagi, Pak, Bu!" Raka menyapa mereka.


"Selamat pagi. Silahkan duduk!" ucap Pak Bambang.


Rangga, Rahendra dan Raka duduk di ruang makan. Mereka langsung menyantap sarapan setelah istrinya pak Bambang menyajikan masakannya di meja makan.


"Kami pergi ke kampus dulu, Pak, Bu. Sore nanti kami akan kembali," ucap Rahendra.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," ucap Pak Bambang.


Rangga, Rahendra dan Raka mencium tangan pak Bambang dan juga istirahat, setelah itu, mereka pergi ke kampus dengan naik travel.


Raka menguap, "Hua! Aku benar-benar masih mengantuk."


"Apalagi aku. Rasanya pengen banget cuti kuliah dan tidur seharian, tapi itu tidak bisa," Rangga menaruh kepalanya di bahu Rahendra.


Rahendra menyipitkan matanya, "Enak banget kamu main bersandar di bahuku." Rahendra mendorong Rangga.


"Hissst. Numpang bentar aja," ucap Rangga.


"Bayar,"


Dua jam kemudian...


Rangga, Rahendra dan Raka sampai di kampus. Mereka kemudian turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kelas.


Setelah sampai di kelas Rangga, Rahendra dan Raka meletakkan buku catatan dan buku materi di atas meja.


Dosen mereka masuk ke dalam kelas, "Selamat pagi!" Dia menyapa mahasiswa-mahasiswi kelasnya.


"Selamat pagi, Bu," mereka membalas sapaan Dosennya.

__ADS_1


Dosen mereka kemudian mulai memberikan materi.


"Kerjakan dengan baik tugas ini!" ucap Dosen.


"Iya, Bu,"


Semua mahasiswa-mahasiswi memasukkan semua buku-buku mereka ke dalam tas dan kemudian pergi meninggalkan kelas.


Rangga, Rahendra dan Raka bertemu di tempat biasa setelah kelas mereka selesai. Lalu kemudian mereka pergi ke warung makan yang ada di depan kampus sebelum kembali ke Desa.


"Hari ini banyak sekali tugas kampus, apa kita tetap kembali ke Desa itu?" tanya Raka.


"Tentu saja. Kitakan sudah berjanji akan kembali ke sana," ucap Rahendra.


Seorang pelayan warung menghampiri mereka dengan membawa makanan yang sudah mereka pesan.


"Terima kasih!" ucap Rangga kepada pelayan warung.


"Sama-sama,"


Mereka bertiga langsung menyantap makanan yang mereka pesan sambil membahas tentang arwah Ratih.


"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan jika dia melakukan hal yang sama dengan pak Bambang?" tanya Raka.


"Entahlah. Lebih baik sekarang kita lebih waspada lagi," ucap Rahendra.


Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, Rangga, Rahendra dan Raka pergi mencari taksi untuk mengantar mereka kembali ke Desa.


"Taksi!" Rangga berusaha menghentikan taksi yang lewat.


Rahendra dan Raka duduk di pinggir jalan sambil menunggu Rangga mendapatkan taksi.


"Hari ini kita sial sekali, kita tidak mendapatkan satu taksi pun," ucap Rangga.


"Kamu saja yang tidak bisa menghentikan para taksi," ucap Rahendra.


"Kalau begitu kamu saja yang menghentikannya,"


"Hmm. Lihat bagaimana aku menghentikannya," Rahendra beranjak dari duduknya.


Dia kemudian berdiri di tengah jalan ketika ada taksi yang akan melintas. Rahendra juga merentangkan kedua tangannya agar supir taksi menghentikan laju kendaraannya.


"Apa dia sudah gila menghentikan taksi dengan cara itu," ucap Raka.


"Kita lihat saja, dia berhasil atau tidak,"


Taksi itu semakin dekat dengan Rahendra, "Berhenti!!" teriak Rahendra.


Supir taksi kemudian menghentikan laju kendaraannya tepat di depan Rahendra. Lalu kemudian Rahendra menghampiri supir dan memintanya untuk mengantar mereka ke Desa.


"Pak. Bisa antarkan kami ke Desa Sukamaju?" tanya Rahendra.


"Bisa. Naiklah!" ucap supir taksi itu.


Mereka bertiga kemudian naik ke taksi, mereka pun berangkat menuju Desa. Selama Diperjalanan mereka bertiga merasakan hal yang aneh terhadap supir taksi tersebut.


Mereka bertiga saling menatap, "Kalian merasa ada yang aneh dengannya gak sih?" bisik Raka.

__ADS_1


"Hmm. Wajahnya terlihat sangat pucat dan...,"


Supir taksi itu kemudian menatap mereka bertiga melalui kaca spion. Supir taksi itu menatap mereka dengan tatapan yang tidak biasa.


__ADS_2