Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 22. Cie Rahendra


__ADS_3

Trio R mengantar Nissa kembali ke rumahnya.


Di bawah langit malam yang dingin, arwah Ratih berdiri di belakang mereka di samping pohon beringin.


Ketika Trio R hendak kembali ke dalam mobil, mereka melihat arwah Ratih menatap mereka bertiga.


"Mereka sudah melewati batas! Aku akan menghabisi mereka semua!" pekik arwah Ratih.


Rahendra maju selangkah, "Jangan, Ratih! Beri kami waktu untuk bisa membuat mereka sadar akan kesalahan yang mereka lakukan," pinta Rahendra.


Rangga dan Raka melirik ke arah Rahendra, "Apa kau yakin, Rahendra?" bisik Rangga.


Rahendra mengangguk, "Kita harus mencobanya," ucap Rahendra.


Arwah Ratih mengangguk, "Aku memberi waktu kalian satu minggu. Jika tidak ada perubahan, aku sendiri yang akan...," arwah Ratih menghilang begitu saja.


Rangga, Rahendra dan Raka saling menatap. Setelah itu, mereka kembali ke kontrakan.


Di balik tirai, Nissa menatap ke arah Rahendra dengan senyuman yang indah dan penuh arti.


Diperjalanan menuju rumah indekos, Raka dan Rangga saling menatap. Raka memberi isyarat kepada Rangga dengan menaikkan alisnya dan mengarahkan matanya ke Rahendra.


"Cepat tanyakan," gumam Raka.


"Kau saja,"


Rahendra melirik ke arah mereka dan melihat gelagat aneh Rangga dan Raka.


Walau Rahendra tahu kedua sahabatnya sedang membicarakan dirinya, Rahendra acuh tak acuh dengan sikap Rangga dan Raka.


Ketika sampai di rumah indekos. Rahendra langsung masuk ke dalam kamar.


Rangga menarik tangan Raka, "Apa kamu berfikiran sama denganku?" bisik Rangga sambil memainkan alisnya.


Raka pun memainkan alisnya, "Ya. Sepertinya kita punya pikiran yang sama." ucap Raka.


"Besok pagi kita akan menginterogasi Rahendra, bagaimana?" tanya Rangga.


"Hmm. Kita interogasi dirinya sampai dia berkata jujur,"


Rangga dan Raka berjabat tangan. Setelah itu, mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Di bawah langit biru tertutup embun, Rahendra berdiri di teras rumah sambil menatap langit.


Dia merasakan hembusan semilir pagi,"Indahnya pagi ini," ucap Rahendra sambil merentangkan kedua tangannya.


Rangga dan Raka menghampiri Rahendra. Rangga berdiri di sebelah kanan Rahendra, sedangkan Raka di sebelah kiri.


Ketika Rahendra sedang memejamkan mata menikmati semilir pagi, Rangga dan Raka saling menatap dan...


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Rahendra?" tanya Raka.


Rahendra menurunkan tangannya, "Tanyakan saja,"


Raka menatap Rahendra dan menaruh tangannya di bahu Rahendra, "Kamu menyukai Nissa, kan?"


Mendengar pertanyaan Raka, Rahendra langsung membuka matanya dan menekuk kedua alisnya. "Kata siapa?" Rahendra menatap Raka.


"Kata hatimu," ucap Rangga.


Rahendra menatap Rangga, "Tidak. Hatiku tidak mengatakan hal itu," Rahendra membantah dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Hoho. Jangan bohongi perasaanmu, Rahendra! Aku bisa melihat bagaimana kamu menaruh hati padanya,"


"Tapi aku benar-benar tidak menaruh hati kepada Nissa," bantah Rahendra.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya,"


Rangga dan Raka saling menatap dan memainkan mata mereka. Rahendra yang melihat gelagat kedua sahabatnya hanya terdiam dan menatap Rangga dan Raka.


Rangga duduk di sebelah Rahendra, "Kalau kamu memang tidak menaruh hati pada Nissa, aku akan menembaknya, bagaimana?"


Rahendra langsung menatap Rangga dengan tatapan seakan-akan ingin menerkam.


Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa mengatakannya. Raka dan Rangga bisa melihat wajah Rahendra yang marah dan tidak senang akan pa yang dikatakan Rangga.


Raka menaruh tangannya di bahu Rahendra, "Sudahlah akui saja. Jika benar kamu mencintai Nissa, kami akan membantumu mendapatkannya, bagaimana?"


Rahendra terdiam dan tidak menjawab tawaran dari Raka. Rangga dan Raka masih menunggu jawaban dari Rahendra.


Rangga berdiri, "Ya sudah kalau gitu biar aku saja yang menembaknya dan menjadikannya...," belum selesai bicara, Rahendra langsung menarik tangan Rangga.


Rahendra menekuk alisnya, "Ya! Aku akui aku mencintainya. Kalian puas?"


Rangga dan Raka bersorak mendengar ucapan Rahendra. Mereka berhasil dalam membuat Rahendra mengakui perasaannya kepada Nissa.


Raka merangkul Rahendra, "Sekarang, kami menantang kamu untuk mengatakan perasaanmu kepada Nissa," ucap Raka.


"Jika kamu tidak mengatakannya dalam waktu tiga hari, aku akan merebut Nissa darimu," sambung Rangga.


"Oke,"


Rangga, Rahendra dan Raka bersiap-siap untuk pergi ke Desa menemui Nissa.


Rangga dan Raka merapikan pakaian Rahendra dan sedikit merubah penampilannya.


"Apa-apaan sih kalian ini! Aku tidak suka gaya rabut seperti itu," pekik Rahendra.


Rahendra langsung merubah gaya rambutnya seperti biasanya. Setelah itu, mereka berangkat menuju Desa.


Rangga menepuk punggung Rahendra,"Laki harus berani!"


"Kamu ingatkan harus mengatakan apa?" lirik Raka.


"Iya aku ingat,"


Rahendra mengetuk pintu rumah Nissa. Ibunya Nissa membukakan pintu dan menyuruh mereka masuk ke dalam rumah.


"Oh kalian, ayo masuk!"


Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke dalam rumah tersebut. Terlihat Rahendra masih gugup walau kedua sahabatnya sudah menyemangati dirinya.


Rangga celingak-celinguk di sekitar rumah. "Di mana Nissa, Bu?" tanya Rangga.


"Setelah kejadian kemarin, Nissa tidak mau keluar dari kamarnya," ucap wanita paruh baya.


Rangga menatap Rahendra memberinya isyarat untuk menghampiri Nissa di kamarnya.


"Apa aku boleh menemui Nissa, Bu?" tanya Rahendra.


"Boleh, Nak,"


Rahendra beranjak dan langsung pergi ke kamarnya Nissa. Rangga dan Raka yang tidak yakin dengan Rahendra langsung menghampirinya.


"Kami juga ingin menemui Nissa, apakah boleh, Bu?" tanya Rangga.


"Boleh,"


Rahendra mengetuk pintu kamar Nissa, "Nissa! Bolehkah aku masuk?" tanya Rahendra.

__ADS_1


Nissa langsung membukakan pintu dan mengizinkan Rahendra masuk ke dalam kamar.


Rangga dan Raka berdiri di depan pintu dan mendengarkan pembicaraan Rahendra dan Nissa.


Rahendra memberikan setangkai bunga mawar kepada Nissa,"Lupakan kejadian kemarin, Nis. Anggap saja kejadian kemarin hanya sebuah mimpi," Rahendra berusaha menyemangati Nissa.


Nissa mengambil bunga tersebut, "Terima kasih,"


Rahendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bagaimana aku mengatakannya." gumam Rahendra.


Nissa menatap Rahendra, "Kau mengatakan sesuatu?" tanya Nissa.


Rahendra menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tidak mengatakan apa pun,"


Rangga menepuk dahi, "Rahendra ini benar-benar tidak bisa diharapkan."


Raka menggelengkan kepala, "Mengatakan beberapa kata saja sulit sekali."


Rangga dan Raka membuka sedikit pintu kamar tersebut. Mereka berdua memberi isyarat kepada Rahendra.


Rahendra membalikkan badan dan melihat kedua sahabatnya berdiri di balik pintu.


"Cepat katakan!" ucap Rangga.


"Jangan terlalu banyak berfikir, Rahendra!"


Rahendra membalikkan badannya lagi dan mendekati Nissa yang sedang berdiri menatap jendela.


Raka menggarung kepala, "Aku gugup sekali," gumam Rahendra.


Rahendra memejamkan matanya dan perlahan-lahan menarik nafas lalu menghembuskan.


"Nis!" Rahendra memanggil nama Nissa dengan lembut.


Nissa membalikkan badan, "Iya,"


"Hmm.. Itu, Nissa.. Aku..," Rahendra tergugup.


Di balik pintu kamar, Rangga dan Raka tampak kesal dengan Rahendra yang kesulitan mengatakan hal itu kepada Nissa.


"Dasar payah!" gumam Raka.


"Aku... Nis, apa kamu punya waktu luang malam nanti?" tanya Rahendra.


Nissa mengerutkan alisnya, "Iya. Malam nanti aku punya luang, kenapa?"


"Hmm.. Aku.. A-aku..,"


Di balik pintu kamar...


"A-aku.. A-a-a-aku..! Gue hajar lu, Rahendra!" gumam Rangga.


"Aku ingin mengajkmu jalan malam ini, apakah kamu mau jalan denganku?" tanya Rahendra.


Nissa tersenyum manis membuat Rahendra semakin berdebar berada di dekatnya.


"Apa butuh waktu sangat lama untukmu mengatakan hal itu, Rahendra?" tanya Nissa.


"Hmm..," Rahendra hanya tertawa dan menggaruk kepalanya.


"Aku mau,"


Mendengar jawaban dari Nissa, Rangga dan Raka bersorak gembira hingga membuat pintu kamar itu terbuka lebar.


"Woo!" sorak Rangga dan Raka.

__ADS_1


Nissa dan Rahendra menatap ke arah Rangga dan Raka. Nissa tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.


Setelah itu, Trio R kembali ke rumah indekos dan akan datang lagi di malam hari.


__ADS_2