
Rangga, Rahendra dan Raka masih tidak memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Nissa.
Mereka masih bertanya-tanya mengapa para warga menganggap kalau apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah.
"Apakah yang kita lakukan akan membuat bencana besar bagi Desa ini," Rangga mengerutkan alisnya.
"Entahlah. Hanya tuhan saja yang tahu kebenarannya," ucap Rahendra.
"Tapi..," Raka terdiam, "Lebih baik kita cari tahu kebenaran tentang cerita masa lalu itu."
"Kau benar. Mungkin saja ada seseorang yang melakukan hal buruk tepat di kejadian itu,"
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian pergi keluar dan mencari tahu mengenai cerita lain yang diceritakan oleh ayahnya Nissa.
Mereka mendatangi beberapa orang untuk menanyakan hal itu, tetapi mereka enggan menceritakan hal itu kepada Trio R.
"Kenapa semua orang pada bungkam sih, apa kejadian itu sangat buruk ya," ucap Raka.
Rangga, Rahendra dan Raka duduk di sebuah batang pohon besar yang sudah di tebang.
Mereka masih berusaha mencari informasi mengenai tragedi lain yang terjadi di Desa itu.
"Aku tahu siapa yang bisa menceritakan hal itu kepada kita," Rahendra menatap kedua temannya.
"Siapa?" tanya Raka.
Rahendra mulai berjalan meninggalkan tempat itu dan pergi ke suatu tempat. Rangga dan Raka mengikutinya dari belakang.
Rangga dan Raka terkejut ketika Rahendra berhenti di sebuah rumah. Dia berhenti tepat di depan rumah arwah Ratih.
"Kau sudah gila ya, Rahendra. Apa kamu berfikir kalau kita akan bertanya kepada nona kunti?" tanya Raka.
"Hmm. Kita tidak akan tahu hasilnya jika belum mencoba," ucap Rahendra.
Rahendra mulai berjalan masuk ke dalam rumah angker itu. Rangga dan Raka mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai di rumah itu, Rahendra terus berjalan menelusuri rumah itu sampai mereka berada di rumah bagian belakang.
"Apa sebelumnya kita pernah masuk ke tempat ini?" tanya Raka sambil melihat-lihat ke atas.
"Sepertinya kita tidak pernah masuk ke sini," ucap Rangga.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang terdapat tempat tidur yang terbuat dari bambu.
Di tempat itu juga terdapat sebuah sumur yang berukuran cukup besar, bahkan sapi pun bisa jatuh ke dalamnya.
Rangga dan Raka melihat ke dalam sumur. Sumur itu terlihat sangat gelap dan menyeramkan.
"Gelap sekali," ucap Raka. Raka menyalakan lampu ponselnya dan menyorot ke arah sumur tersebut.
Ketika Raka menyorot ke arah sumur itu, dia melihat ada sesuatu di dalam sana. Sesuatu seperti seekor kucing yang sudah tidak bernyawa.
__ADS_1
Raka membenahi kacamatanya dan melihat seklai lagi apa yang dia lihat di bawah sana.
Rangga menghampirinya, "Apa yang kamu lihat, Raka?" tanya Rangga.
Raka menunjuk ke arah sesuatu yang ada di dalam sumur, "Itu.. Apa kamu melihat itu." ucap Raka.
Rangga dan Rahendra langsung melihat ke dalam sumur dan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Raka.
Mereka pun mengerutkan alisnya dan bertanya-tanya apa yang ada di dalam sumur tersebut.
"Apa itu seekor kucing hitam?"
"Entahlah. Tapi aku rasa juga begitu," ucap Raka.
"Mungkinkah....?" Rangga melirik ke arah Rahendra dan Raka.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang dan suara gemuruh pun terdengar sangat mengerikan.
Rangga, Rahendra dan Raka menjauhi sumur itu dan mereka bergegas berjalan keluar dari rumah tersebut.
"Kalau suasananya sudah begini, ini pertanda kedatangannya," ucap Raka.
"Sebaiknya kita segera keluar dari sini," ucap Rahendra.
Di saat mereka akan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba pintu ruangan itu tertutup dengan sendirinya.
Braaak! Suara pintu tertutup dengan sangat kencang.
Rangga, Rahendra dan Raka berputar-putar di tempat itu untuk melihat sekeliling ruangan.
Arwah Ratih pun muncul tepat di sebelah sumur tua tersebut. Rangga, Rahendra dan Raka melotot melihat arwah itu ada di sana.
"Apa yang akan dia lakukan sekarang," ucap Rangga.
Rangga, Rahendra dan Raka perlahan-lahan melangkahkan kaki ke belakang. Mereka berusaha lari dari sana tetapi...
Rangga memegang gagang pintu dan berusaha membuka pintu ruangan itu dengan sekuat tenaga.
"Susah sekali pintu ini di buka!" pekik Rangga.
Arwah Ratih perlahan-lahan mendekati mereka dan membuat Rangga terus mencoba membuka pintu tersebut.
"Cepat buka pintunya, Rangga!" seru Raka.
"Aku sudah mencobanya, tapi ini sangat sulit," ucap Rangga.
Arwah Ratih pun berdiri tepat di depan mereka. Melihat sosok itu ada di depan mereka, Rangga langsung melepaskan gagang pintu itu.
"Aku tidak akan melukai kalian. Kalian datang untuk menanyakan hal itu, bukan?" ucap arwah Ratih.
Rangga, Rahendra dan Raka menganggukkan kepala. Arwah Ratih membalikkan badan dan mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Orang yang melepaskan kucing hitam itu di rumahnya ternyata tidaklah melepaskannya dengan baik-baik. Melainkan dia melemparnya ke dalam Sumur tua itu.
Kucing itu pun mati di tempat karena kepalanya terbentur dinding sumur. Saat itu, Ratih benar-benar sangat marah dan menghanguskan semua yang ada di Desa itu.
"Jadi, hal itu terjadi karena ulahnya sendiri," ucap Rahendra.
"Iya. Apa yang sudah dia perbuat, dia juga yang harus bertanggung jawab,"
Setelah arwah Ratih mengatakan kejadian yang sebenarnya, dia pun menghilang begitu saja. Pintu ruangan itu pun terbuka dengan sendirinya.
Rangga, Rahendra dan Raka langsung bergegas keluar dan meninggalkan rumah itu.
"Semuanya sudah jelas, kita harus memberitahu kepada warga mengenai hal ini," ucap Rangga.
Rangga, Rahendra dan Raka langsung kembali ke rumah keluarga Nissa dan mengatakan hal itu kepada keluarga Nissa.
Trio R terkejut melihat respon yang diberikan keluarga Nissa. Mereka sama sekali tidak percaya akan pa yang dikatakan oleh Rangga, Rahendra dan Raka.
"Kalian ini ada-ada saja. Mana mungkin orang yang sudah mati bercerita secara langsung kepada kalian," ucap bapaknya Nissa.
"Sepertinya kalian terlalu banyak menonton film horor, ngaco!"
Rangga, Rahendra dan Raka hanya bisa mengerutkan alis mereka mendengar perkataan keluarga Nissa.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar dengan perasaan kecewa akan reaksi keluarga Nissa.
"Seharusnya kita tidak mengatakan hal itu kepada mereka," ucap Raka.
"Iya. Lagian kenapa juga kita... Huh!" Rangga menghela nafas panjang.
"Sudahlah. Aku agak capek dengan warga Desa ini, bagaimana kalau kita kembali saja ke kota dan menghentikan ekspedisi ini?" tanya Rahendra.
"Ide bagus,"
Rangga, Rahendra dan Raka langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas mengemasi barang-barang mereka.
Setelah semua barang-barang mereka di masukkan ke dalam tas, mereka bertiga langsung keluar dari kamar.
"Kalian mau pergi ke mana?" tanya Nissa.
"Kami akan kembali ke kota," ucap Rahendra.
"Kenapa?" Nissa mengerutkan alisnya.
"Kalian tidak pernah mempercayai kami, kan? Jadi, lebih baik kmai pergi dari sini," ketus Raka.
"Lalu bagaimana dengan arwah itu?"
"Urus saja sendiri, jangan libatkan kami lagi!!" seru Rangga, Rahendra dan Raka serentak.
Trio R langsung masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan Desa itu.
__ADS_1