Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 27. Di serbu kucing hitam


__ADS_3

Raka menyipitkan matanya, "Kalian membicarakanku, kan?" tanya Raka.


Rangga dan Rahendra menggelengkan kepala, "Tidak. Kami sedang membicarakan teman kelasmu yang memakai kacamata itu." ucap Rangga.


"Ahmad? Yang tidak bisa mengucapkan huruf R itu?"


Rangga dan Rahendra mengangguk, "Iya dia."


Ketika Trio R sedang makan siang di kantin kampus, tiba-tiba ponsel Rahendra berdering. Nomor tidak di kenal meneleponnya.


Rahendra mengambil ponselnya di saku bajunya, "Nomor tidak di kenal meneleponku. Angkat atau tidak?"


"Angkat saja, siapa tahu penting," ucap Raka.


Rahendra mengangkat panggilan tersebut. Ternyata yang menelepon Rahendra adalah salah satu warga desa.


'Hallo nak Rahendra'


'Iya. Ada apa, Pak?'


'Nak. Bisakah kalian kembali ke Desa?'


'Memangnya ada apa, Pak?'


'Kembali saja. Nanti kalian juga akan tahu alasannya'


'Baik, Pak. Kami akan langsung kembali ke Desa'


Rangga, Rahendra dan Raka langsung bergegas menghabiskan makanan. Setelah itu, mereka langsung masuk ke mobil dan pergi menuju Desa.


"Memangnya ada masalah apa di Desa?" tanya Raka.


"Entahlah. Sepertinya ada masalah besar di sana," ucap Rahendra.


"Walau kita berangkat sekarang, kita akan sampai di sana tiga jam lagi. Lalu bagaimana..." Rangga menghentikan ucapannya sendiri.


"Ya. Semoga saja tidak ada masalah besar yang terjadi di sana,"


Sedangkan di Desa. Sesuatu telah terjadi, semua warga tampak panik berlarian keluar dari rumah.


Nissa berusaha menghubungi Rahendra, tetapi tidak ada jawaban darinya.


Nissa dan teman-temannya bersembunyi di ruang bawah tanah yang ada di dalam rumahnya. Orang tua Nissa dan saudaranya sedang berada di luar Desa.


"Apakah Rahendra menjawab panggilan darimu, Nissa?" tanya Putri.


Nissa menggelengkan kepala, "Tidak. Dia masih tidak menjawab panggilanku."


"Coba kamu hubungi, Raka atau Rangga. Mungkin saja Rahendra sedang menyetir, makanya fia tidak mengangkat panggilan darimu," ucap Lastri.


"Akan aku coba,"

__ADS_1


Nissa kemudian menghubungi Raka. Namun, Raka pun tidak menjawab panggilan darinya. Dia juga mencoba menghubungi Rangga dan fia pun tidak menjawab panggilannya.


"Tidak ada yang menjawab panggilan dariku,"


"Sepertinya mereka sedang berada di jalan dan mereka bertiga mematikan dering ponsel mereka," ucap Putri.


"Mungkin saja,"


Rangga, Rahendra dan Raka telah masuk ke daerah pedesaan tersebut. Mereka bertiga sama sekali tidak menyentuh ponsel mereka selama perjalanan menuju Desa.


"Percepat sedikit kecepatannya, Raka," ucap Rahendra.


"Iya,"


Raka menambahkan kecepatan laju mobil tersebut. Nissa, Lastri dan Putri masih berada di ruang bawah tanah. Mereka terus mencoba menghubungi Trio R.


Ketika mereka sampai di Desa, mereka bertiga terkejut melihat para Warga Desa berlarian pergi meninggalkan Desa tersebut.


Rangga menekuk alis, "Apa yang terjadi di sini?"


"Mungkinkah Ratih berulah lagi?" Raka melirik ke arah Rahendra.


"Mungkin saja,"


Raka langsung memarkirkan mobilnya. Lalu mereka turun dan bertanya kepada salah satu warga.


Rangga menarik tangan warga yang berlari, "Ada apa ini, Pak?" tanya Rangga.


"Dia berulah. Dia berulah." warga itu langsung pergi meninggalkan Rangga.


Mereka bertiga terkejut melihat banyak sekali kucing hitam yang berada di Desa. Kucing-kucing itu mengacak-acak semua perabotan warga dan juga menyerang beberapa Warga Desa.


"Mengapa Kucing-kucing ini tampak marah sekali?" Raka menekuk alisnya.


"Apa Warga Desa berbuat buruk lagi terhadap Kucing-kucing ini,"


"Kita harus selamatkan yang lainnya," Rahendra langsung berlari menuju rumah Nissa.


Rahendra mencari keluarga Nissa di dalam rumahnya. Tetapi, dia tidak melihat ada siapa pun di rumah tersebut.


Rahendra langsung kembali kr mobil untuk mengambil ponselnya yang dia letakkan di dalam mobilnya.


Rangga menghampiri Rahendra, "Tenanglah. Nissa dan keluarganya pasti baik-baik saja." ucap Rangga.


Rahendra langsung membuka ponselnya dan dia melihat ada sepuluh klai panggilan dari Nissa. Rahendra langsung menghubungi Nissa kembali.


'Hallo...'


'Rahendra. Apa kamu sudah berada di Desa?'


'Iya. Kamu sekarang di mana, Nis?'

__ADS_1


'Di ruang bawah tanah. Pergilah ke rumahku, lalu masuk ke gudang. Di sana terdapat lukisan kuno, geser lukisan tersebut dan kamu akan melihat pintu masuknya'


Rahendra, Rangga dan Raka langsung bergegas kembali ke rumah tersebut. Mereka pergi ke gudang dan mencari lukisan yang di katakan oleh Nissa.


Raka membuka tirai gudang tersebut, "Di mana lukisannya?" tanya Raka.


"Nissa tadikan bilang dia berada di ruang bawah tanah. Itu berarti lukisannya berada di bawah." Rangga langsung membuka kain yang menutupi barang-barang yang tergeletak di Lantai.


Mereka pun berhasil menemukan lukisan tersebut. Rangga langsung menggeser lukisan itu dan pintu ruangan itu pun terlihat.


"Ini dia." Rangga langsung membuka ointu ruangannya.


Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghampiri Nissa, Lastri dan Putri.


Di saat mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, Raka merasa melihat sesuatu di balik jendela gudang itu.


"Siapa yang mengintip tadi," batin Raka.


Raka langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu Ruang bawah tanah tersebut.


Nissa, Lastri dan Putri langsung menceritakan apa yang telah terjadi di Desa tersebut.


Berawal dari keributan salah satu Warga Desa yang sedang berburu kucing hitam yang berada di dalam hutan.


Awalnya, mereka hanya melihat satu ekor kucing. Tapi kemudian, Kucing-kucing itu bermuncylan dari balik pohon yang sangat besar.


Beberapa warga yang berburu langsung berlari meninggalkan hutan dan kembali ke Desa. Tanpa mereka sadari, Kucing-kucing itu mengikuti mereka.


"Pantas saja Kucing-kucing itu terlihat sangat marah. Para manusia-manusia itu telah mengganggu mereka," ucap Raka.


Awalnya, Kucing-kucing itu hanya mengacak-acak barang-barang milik warga. Semakin lama mereka berada di Desa, Kucing-kucing itu semakin menjadi. Mereka mengacak-acak barang dagangan warga bahkan menyerang mereka.


Beberapa orang terluka karena mereka. Kucing-kucing itu telah mencakar dan menggigit Warga Desa.


Tidak ada satu orang pun yang mau membantu warga yang terluka, mereka di sibukkan menyelamatkan diri mereka sendiri.


"Hah. Mana mau mereka menolong sesama," ucap Raka.


"Lalu. Bagaimana kalian bisa berada di sini? Apa Kucing-kucing itu juga menyerang kalian?" tanya Rangga.


"Tidak. Di saat Kucing-kucing itu akan masuk ke dalam rumah ini, aku dan Lastri langsung mengunci pintu dan kami langsung bersembunyi di ruangan ini," ucap Nissa.


Raka lagi-lagi melihat sesuatu. Kali ini, dia melihat arwah Ratih di pojok ruangan. Arwah itu menatap dengan tatapan yang tidak biasa.


Raka berjalan menghampiri arwah Ratih tersebut. Rangga, Rahendra dan yang lainnya menatap aneh ke arah Raka.


"Mau kemana si Raka?" tanya Lastri.


"Entahlah," Rangga tiba-tiba teringat mengenai mimpi yang di dapat Raka.


Rangga membisikkan sesuatu kepada Rahendra, "Kau ingat dengan mimpi yang diceritakan Raka?"

__ADS_1


Rahendra mengangguk, "Apa Jangan-jangan..."


Tiba-tiba Raka terjatuh ketika dia menatap ke arah pojok ruangan tersebut. Raka pun jatuh ke Lantai dan tidak sadarkan diri.


__ADS_2