Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 16. Raka yang aneh


__ADS_3

Arwah Ratih tiba-tiba muncul kembali di hadapan Raka dan membuatnya tidak bisa menghampiri teman-temannya.


Raka perlahan-lahan melangkahkan kaki ke belakang dan dia kemudian langsung berlari meninggalkan Nona Kunti.


"Sialan! Kenapa dia terus mengejarku!" seru Raka.


Raka terus berlari.. Berlari dan berlari.. Tanpa dia sadari dia berlari sampai berada di depan rumah arwah Ratih.


Dia pun berhenti dan menatap rumah tersebut sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari.


"Hah! Kenapa gue bisa berlari sampai di sini. Bagaimana bisa!"


Raka duduk di anak tangga rumah tersebut dan mengatur nafasnya. Dia memejamkan mata untuk sejenak.


"Huh!" Raka menarik nafas panjang dan menghela nafasnya.


Rangga dan Rahendra yang melihat Raka dihadang oleh arwah Ratih langsung mengikuti Raka berlari.


Mereka pun menghampiri Raka yang sedang duduk di anak tangga rumah tersebut.


"Sedang apa kamu di sini, Raka?" tanya Rangga.


"Sedang ngopi. Ya sedang duduklah!" ketus Raka.


"Maksudku kenapa kamu berlari ke sini,"


Raka mengangkat kedua bahu dan kedua tangannya, "Mana aku tahu. Aku hnaya mengikuti jalannya saja."


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini," ucap Rahendra.


Mereka bertiga langsung pergi meninggalkan rumah itu dan kembali ke rumah keluarga Nissa.


Ketika sampai di sana, mereka terkejut melihat bapaknya Nissa baik-baik saja dan tidak menampakkan wajah takut sedikit pun.


"Ba-bapak ada di sini?" Raka bertanya dengan heran.


"Iya. Kalian dari mana saja?"


"Ta-tadi...," Rangga langsung menghentikan Raka bicara. "Mobil kami tadi mogok Pak. Makanya kami baru sampai." ucap Rangga.


"Hmm. Ya sudah, kalian cepat masuk dan tidur,"


"Iya, Pak,"


Rangga, Rahendra dan Raka masuk ke dalam kamar mereka. Raka masih bertanya-tanya mengapa mereka terus-terusan di teror oleh arwah Ratih.


"Apa yang kamu fikirkan, Raka?" tanya Rahendra.


"Kalian merasa aneh gak sih,"


"Aneh kenapa?" tanya Rangga.


"Sekarang kita yang sering di teror oleh arwah itu,"


"Perasaanku enggak tuh. Dari awal kita datang sampai sekarang, kitakan memang di ganggu olehnya,"


"Iya, tapi...,"


"Sudahlah! Lebih baik kita tidur saja,"


"Hmm,"


Ke esokkan harinya...


Rangga, Rahendra dan Raka bersiap-siap berangkat ke kampus. Sebelum berangkat, mereka sarapan bersama keluarga Nissa.


Setelah itu, mereka berangkat ke kampus sekitar jam lima pagi. Karena jarak antara Desa dan Kota mereka sangat jauh, mereka harus berangkat pagi-pagi sekali agar bisa tepat waktu sampai di kampus.

__ADS_1


"Tumben kamu diam saja, Raka," ucap Rangga.


"Aku lagi gak mood,"


"Raka, gak mood.. Oh? Tidak mungkin!" ucap Rangga dan Rahendra.


"Kalian tidak percaya?"


Rangga dan Rahendra menggelengkan kepala, "Tidak!"


"Terserah kalian saja,"


Selama perjalan menuju Kota, Raka terus murung dan tidak menampakkan sifatnya yang ceria seperti biasanya.


Setelah sampai di kampus, Raka langsung berjalan masuk ke dalam ruang kelasnya.


Dia sama sekali tidak mendengar kawan-kawan kampusnya menyapa. Mereka pun bertanya-tanya akan sikap Raka hari ini.


"Tumben sekali dia bersikap seperti itu," ucap seorang mahasiswa fakultas ekonomi.


"Entahlah. Mungkin dia sedang ada masalah,"


"Tapi biasanya si Raka walau ada masalah apa pun, dia tetap ceria dan menyapa kita,"


"Sudahlah! Jangan memperpanjang hal itu,"


Raka duduk di bangkunya sambil melamun dan menampakkan wajah murung.


Beberapa temannya ada yang mendekatinya dan menanyakan apa yang terjadi padanya, tetapi Raka tidak mendengar dan hanya terdiam melamunkan sesuatu.


Seorang mahasiswi mendekati Raka,"Rak!!" dia berteriak di telinganya Raka.


Lamunan Raka langsung hilang ketika mendengar suara mahasiswi itu, "Apa sih! Kenapa berteriak di telingaku?"


Mahasiswi itu melipat tangannya di dada, "Lagian kmau di panggil-panggil dari tadi tidak menjawab."


"Iya,"


"Maaf kalau gitu,"


Mahasiswi itu duduk di kursi yang ada di depan meja Raka. Dia menatap Raka yang kembali melamunkan sesuatu.


Mahasiswi itu mencubit pipi Raka, "Aduh! Kenapa kamu mencubitku?"


"Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya mahasiswi itu.


"Tidak ada!"


"Ayo ceritakanlah!"


"Tidak ada!"


"Hisst! Cerita saja, dari pada kmau melamun sendiri,"


"Keras kepala seklai ini cewek," gumam Raka. "Sudahlah jangan ganggu aku Sofia! Aku lagi mau sendiri untuk beberapa waktu."


Mendengar perkataan Raka, Sofia langsung meninggalkannya dan kembali duduk dibangkunya.


Tidak lama setelah itu, dosen masuk ke dalam kelas dan memulai kelasnya. Selama kelas di mulai, Raka terus murung dan tidak semangat belajar.


"Sebenarnya gue kanapa ya. Hari ini gak mood banget," batin Raka.


Setelah kelas selesai, Rangga, Rahendra dan Raka bertemu di kantin kampus. Sebelum kembali ke Desa, mereka makan siang terlebih dahulu.


"Cepat habiskan makananmu, Raka!" ujar Rangga.


"Aku.. Ah, sudahlah,"

__ADS_1


"Kamu tuh kenapa, Rak? Lagi patah hati?" tanya Rahendra.


Raka menggelengkan kepala, "Aku juga tidak tahu aku kenapa, pokoknya gak mood."


"Eh. Kayak cewek aja, biasanya cewek klo lagi itu pasti bawaannya gak mood,"


Setelah Raka menghabiskan makanannya, mereka bertiga langsung bergegas kembali ke Desa.


Selama perjalanan, Raka tertidur pulas. Hari itu, Raka berbeda dari yang biasanya, dia menjadi pendiam tidak ceria seperti biasanya.


"Gue heran sama si Raka. Setelah kejadian kemarin, dia berubah drastis loh," ucap Rangga.


"Jangan-jangan si Raka kesambet penghuni rumah itu lagi,"


"Ya gak mungkinlah. Penghuni rumah itukan arwah Ratih, masa iya dia kesambet arwah Ratih,"


"Ya mungkin saja,"


Rangga menatap Raka melalui kaca spion mobil. Dia masih bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada temannya itu.


Ketika mereka melintasi hutan tepat di dekat rumah arwah Ratih. Mobil Rahendra tiba-tiba mati dan tidak bisa menyala.


"Ada apa, Rahendra?" tanya Rangga.


"Gak tahu nih,"


Rangga dan Rahendra turun dari mobil dan melihat apa yang terjadi dengan mobilnya.


Raka pun terbangun mendengar suara gaduh Rangga dan Rahendra. Dia turun dari mobil dan menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Ada apa? Kenapa berhenti di sini?" tanya Raka.


"Sepertinya mobil ini mogok," ucap Rahendra.


"Hadeuh! Kenapa mogoknya di sini sih. Kan serem," Raka memandang ke sekeliling hutan.


"Aku akan menelepon Nissa dan memintanya mengirim montir ke sini,"


Rahendra mencoba menghubungi Nissa, tetapi ponselnya tidak bisa dihubungi.


"Bagaimana?"


"Tidak aktif,"


"Coba lagi,"


Rahendra mencoba kembali menelepon Nissa, tetapi tetep tidak bisa.


Raka perlahan-lahan berjalan memasuki hutan, dia melihat seseorang sedang berjalan masuk ke dalam hutan.


"Hei Raka! Kamu mau kemana?" teriak Rangga.


Raka tidak menjawab Rangga. Dia terus berjalan mengikuti orang yang dia lihat. Rangga dan Rahendra pun mengikuti Raka.


Ketika orang itu membalikkan badan, Raka terkejut melihat wajahnya dan sontak dia langsung berlari menjauhinya.


"Sialan! Ngapain gue pakai mengikuti dia," pekik Raka.


Ketika berlari, tanpa sadar Raka telah menabrak Rangga dan Rahendra yang berada di belakangnya.


"Aduh!" seru Rahendra.


"Kamu kenapa, Raka?" tanya Rangga.


"Ada setan. Ayo kita pergi dari sini,"


Ketika Raka baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba ada s....

__ADS_1


__ADS_2