Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 29. Akhirnya selesai


__ADS_3

Rangga dan Lastri menyatukan telapak tangan mereka. Mereka melakukan itu karena senang rencana yang mereka buat untuk membuat Rahendra dan Raka mengakui perbuatan mereka dihadapan semua orang.


"Berhasil."


"Berhasil?" Raka menekuk kedua alisnya.


"Iya, berhasil. Kami berhasil membuat kalian mengakui perbuatan kalian sendiri," ucap Rangga.


"Jadi, kalian hanya ber-acting tadi?"


Lastri mengangguk, "Lagian kenapa juga kalian pakai berbohong dan membuat aku dan Rangga bertemu berdua?"


Raka dan Rahendra menyipitkan mata. Lalu, mereka berdua pergi begitu saja dan melanjutkan pekerjaan mereka yang terhenti.


Setelah semuanya selesai, beberapa warga yang tadinya tiduran di rumah Nissa kini menghampiri mereka berenam.


"Nak!" panggil seorang wanita paruh baya.


"Iya, Bu. Apa ibu membutuhkan sesuatu?" tanya Putri.


Ibu paruh baya itu menggelengkan kepala, "Tidak. Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian." Ibu itu menggenggam kedua tangan Putri.


"Tidak perlu berterima kasih, Bu. Ini sudah kewajiban kami untuk saling menolong antara sesama warga,"


Ponsel Rahendra tiba-tiba berdering. Nada panggilan terdengar di ponselnya dan ternyata yang meneleponnya Kepala Desa.


Rahendra mengangkat panggilannya,'Hallo.'


'Nak. Apakah keadaan Desa sudah membaik?'


'Sudah, Pak. Kalian kembalilah ke Desa'


'Baik. Jika memang benar keadaan Desa sudah membaik, kami semua akan kembali ke Desa'


'Iya, Pak. Kami akan menunggu kalian di Desa'


Kepala Desa dan Warga Desa yang tadinya pergi meninggalkan Desa tersebut kini satu per satu telah kembali ke Desa.


Mereka tampak melihat ke sekeliling Desa untuk memastikan apakah keadaan Desa itu sudah membaik atau belum. Mereka masih dihantui rasa takut akan kejadian itu terulang kembali.


"Beneran sudah aman, kan?" seorang pria paruh baya menatap ke sekeliling Desa.


"Sudah aman, Pak. Tenang saja," ucap Rahendra.


"Alhamdulillah kalau begitu,"

__ADS_1


Seorang anak kecil yang digendong oleh ibunya terlihat masih sangat ketakutan. Dia memeluk erat ibunya dengan mata yang masih terpejam, gadis kecil itu enggan membuka matanya.


"Bukalah matamu, Nak. Kucing-kucing itu sekarang sudah tidak ada," bujuk ibu dari gadis kecil itu.


Gadis kecil itu menggelengkan kepala, "Tidak mau. Bagaimana kalau Kucing-kucing itu kembali lagi?"


Raka menghampiri gadis kecil itu, "Hei. Kenapa takut begitu sih. Kamu mau tahu sebuah cerita tidak?" Raka berusaha membujuk gadis itu.


"Cerita apa, Kak?" tanya gadis kecil itu yang masih memejamkan matanya.


"Kakak tidak mau memberitahu kalau kamu tidak mau membuka matamu," Raka melipat kedua tangannya di dada.


Gadis itu terdiam, dia pun perlahan-lahan membuka matanya walau sesekali dia menutup kembali matanya itu. Akhirnya, gadis kecil itu mau membuka matanya.


Ibunya menurunkan gadis itu. Raka kemudian berlutut dan menatap gadis kecil tersebut. Dia pun menceritakan sebuah kisah karangan nya sendiri kepada gadis kecil itu.


"Mau dengar ceritanya?" tanya Raka.


Gadis kecil itu mengangguk, "Mau."


Di sebuah hutan yang sangat gelap dan jauh dari permukiman—ada seorang gadis kecil yang sering datang ke hutan itu secara diam-diam. Gadis itu suka seklai melihat bermacam-macam hewan yang ada di dalam hutan.


"Apa dia tidak takut dengan hewan-hewan itu?" tanya gadis kecil itu.


"Tidak. Karena dia gadis kecil yang pemberani." Raka mengangkat kedua tangannya.


"Kamu tahu apa yang terjadi?" tanya Raka.


Gadis itu menggelengkan kepala, "Tidak tahu. Apa gadis kecil itu mengalami hal yang sama seperti kita, Kak?" tanya gadis kecil itu.


Raka menggeleng, "Tidak. Gadis itu tidak mengalami hal yang sama dengan kita."


Kucing-kucing itu terlihat menggeram ketika melihat gadis kecil itu ada dk hutan. Seakan-akan kucing-kucing itu akan menyantap gadis itu. Tapi, karena kepintaran dan keberanian gadis kecil pemberani, kucing-kucing itu menjadi jinak dan berteman dengan si gadis pemberani.


"Apa kamu tahu apa yang dilakukan gadis kecil pemberani ini?" tanya Raka.


Gadis itu menggelengkan kepala, "Tidak tahu. Mungkin dia ditemani oleh orang dewasa."


"Salah. Gadis pemberani ini mendekati Kucing-kucing itu dan menyayanginya dengan setulus hati,"


"Benarkah?"


"Iya,"


Gadis itu mendekati satu per satu Kucing-kucing yang terlihat sangat marah. Dia mengelus kepala Kucing-kucing itu satu oer satu dan dia juga memberikan makanan yang dia bawa. Kucing-kucing itu tampak senang dan mereka langsung tenang.

__ADS_1


"Para hewan tidak akan menjadi ganas jika mereka diperlakukan dengan baik, tapi jika mereka diperlakukan sangat buruk, maka hewan-hewan itu akan menyerang dengan membabi buta." Raka melirik ke arah Warga Desa.


"Hmm. Jadi, kita harus menyayangi hewan ya, Kak?"


"Iya. Karena hewan itu manis dan hewan itu tidak ada yang mengakibatkan kesialan atau apa pun,"


Putri menghampiri Raka da n gadis kecil itu, "Jadi, apakah adik manis ini akan menjadi gadis kecil pemberani?" tanya Putri.


"Iya. Aku akan menjadi gadis pemberani itu dan aku janji akan menyayangi semua hewan,"


Rasa takut yang gadis kecil itu rasakan telah berubah menjadi kebrranian yang luar biasa. Kini dia sudah melupakan rasa takutnya atas apa yang sebelumnya terjadi.


"Hebat, Raka! Kamu bisa menghilangkan rasa takut gadis itu," ucap Rangga.


"Iya donk. Siapa dulu, Raka gitu loh,"


"Sombong,"


Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah Nissa. Nissa berusaha menghubungi orang tuanya yang sampai sekarang belum juga kembali ke Desa.


"Apa orang tuamu masih belum bisa dihubungi, Niss?" tanya Rahendra.


Nissa menggelengkan kepala, "Belum. Aku jadi khawatir dengan mereka. Apakah telah terjadi sesuatu kepada mereka?"


"Berfikirlah positif, Niss. Mereka pasti baik-baik saja, mungkin saja baterai ponsel mereka habis, jadinya tidak bisa mengabarimu," ucap Raka.


"Iya. Semoga saja ucapanmu benar,"


Selama menunggu orang tua Nissa datang, Trio R, Nissa dan teman-temannya Nissa berjalan-jalan sekitar Desa.


Setelah kejadian yang terjadi di Desa itu, suasana Desa itu menjadi sangat sepi tidak ada satu warga pun yang beraktivitas di luar rumah.


"Sepi banget ini Desa, seperti tidak ada penghuninya," ucap Raka.


Ketika ada satu anak bermain di luar rumah, seorang ibu langsung mengajaknya masuk ke dalam. Dia menarik paksa anaknya yang sedang asyik bermain.


Rangga, Rahendra, Raka dan yang lainnya tampak sedih melihat hal itu. Mereka merasa kalau Warga Desa masih takut akan kejadian itu terulang kembali.


"Setakut itukah mereka? Sampai-sampai anaknya...,"


"Sudahlah. Itukan urusan mereka, mita gak usah ikut campur,"


"Iya."


Mereka berenam melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi mereka melihat kelakuan aneh Warga Desa. Kali ini, mereka melihat ada seorang warga yang habis pulang dari toko, dia membawa banyak sekali barang. Ketika dia sampai di rumah, ibu itu langsung memasukkan motornya ke dalam dan mengunci rapat pintu rumahnya.

__ADS_1


"Hahaha.. Mereka benar-benar sangat kocak," ucap Raka.


__ADS_2