Trio R : Pembalasan Dendam Ratih

Trio R : Pembalasan Dendam Ratih
Bab 6. Di ikuti arwah Ratih


__ADS_3

Ke esokkan harinya...


Rangga, Rahendra dan Raka mengemas pakaian mereka. Lalu, mereka bertiga pergi ke rumah pak Bambang untuk menjaga keluarganya dari teror arwah Ratih.


"Terima kasih ya, Bu. Terima kasih karena ibu telah mengizinkan kami menginap di sini," ucap Rahendra.


"Sama-sama, Nak,"


Rangga, Rahendra dan Raka naik ke motor dan berangkat ke rumah pak Bambang.


Ketika mereka meninggalkan rumah itu, Raka melihat arwah Ratih berdiri di samping pohon beringin. Dia menatap tajam mereka bertiga yang telah pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Apakah itu arwah marah karena kami pergi meninggalkan rumah itu," ucap Raka.


Raka menengok ke belakang dan arwah tersebut sudah tidak ada di tempatnya. Raka langsung mengirim pesan kepada Rangga dan Rahendra untuk memberitahu mengenai apa yang dia lihat. Rangga dan Rahendra melihat pesan tersebut.


Sesampainya di rumah pak Bambang...


Pak Bambang, istrinya dan kedua anaknya menyambut kedatangan mereka bertiga.


"Selamat datang, Nak Rangga, Rahendra dan Nak Raka," ucap pak Bambang.


"Iya, Pak,"


Pak Bambang kemudian meminta mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Ketika hendak masuk ke dalam rumah, Rangga melihat di spion arwah Ratih berada di belakang mereka.


Rangga langsung membalikkan badannya, "Tadi dia di sana, kenapa sekarang tidak ada." ucap Rangga.


"Ssssssst! Ayo masuk!" ajak Raka.


"Iya," Rangga berjalan masuk ke dalam rumah.


Ketika berada di dalam rumah, mereka terkesan dengan barang-barang yang ada di rumah pak Bambang.


"Waw. Bapak pecinta seni ya? Rumah ini benar-benar sangat indah," ucap Raka.


"Semua ke indahan ini di buat oleh kedua anakku, merekalah yang menghiasnya," ucap pak Bambang.


"Uuu, sungguh karya yang luar biasa!" Raka melihat lukisan bunga yang ada di dinding.


"Terima kasih!" ucap anak perempuan pak Bambang.


Mereka bertiga kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan berbincang-bincang mengenai arwah Ratih.


"Kami kemarin melihat keberanian kalian dalam menghadapi arwah tersebut, makanya aku meminta kalian untuk menginap di sini dan mengusir arwah itu dari rumah ini," ucap pak Bambang.


"Kemarin yang mengusir arwah itu bukan kami, tapi....," Rangga menutup mulut Raka.


"Serahkan semuanya kepada kami, Pak," ucap Rangga.


Rangga kemudian melepaskan tangannya dari mulut Raka, "Kenapa kamu berbohong?" bisik Raka.

__ADS_1


"Nanti aku jelaskan,"


Istrinya pak Bambang datang menghampiri mereka dengan membawa beberapa makanan ringan dan air dingin.


"Ayo di makan!" ucap istrinya pak Bambang.


"Terima kasih, Bu!"


"Sama-sama,"


Raka mengambil roti yang ada di piring tersebut. Di saat dia mau memakan Roti itu, dia melihat ke arah cermin yang terdapat pantulan arwah Ratih.


Raka melotot dan menjatuhkan roti tersebut ke Lantai, "Dia datang." gumam Raka.


Rangga dan Rahendra melirik ke arahnya, "Dia siapa?" bisik Rangga.


"Nona kunti," bisik Raka.


Lalu Rangga membisikkannya kepada Rahendra, "Kata Raka, dia melihat nona kunti."


Mereka bertiga tersenyum menatap pak Bambang. Pak Bambang dan keluarganya merasa aneh dengan sikap mereka bertiga.


"Apa kalian habis melihat arwah Ratih di sini?" tanya pak Bambang.


"Oh, tidak. Di sini sama sekali tidak ada arwah Ratih," ucap Rangga.


"Benear banget. Yang ada hanya nona kunti," ucap Raka.


"Bercanda pak, bercanda," ucap Raka.


"Hahahaha.. Bisa aja kamu ini,"


Anak laki-lakinya pak Bambang kemudian mengantar mereka bertiga ke kamar.


"Ini kamar kalian. Maaf ya kalau kamarnya kurang nyaman," ucap anak laki-laki pak Bambang.


"Ah, tidak apa-apa, yang penting kami bisa tidur dengan nyenyak," ucap Raka.


Rangga, Rahendra dan Raka menaruh tas mereka di Lantai. Anak laki-laki pak Bambang pergi meninggalkan kamar mereka.


Setelah dia pergi, Rangga, Rahendra dan Raka melompat ke atas tempat tidur," Bagaimana ini? Nona kunti benar-benar mengikuti kita." ucap Raka.


"Tenang-tenang. Aku sudah punya rencana," ucap Rangga.


"Apa rencanamu?" tanya Rahendra.


"Rencananya adalah....," Raka dan Rahendra menatap Rangga dengan serius. "Masih dalam proses pembuatan." Raka dan Rahendra langsung memalingkan wajah mereka.


"Itu sama saja belum memiliki rencana," ucap Rahendra.


"Dasar! Kalau aku tahu kamu tidak memiliki rencana apa pun, aku tidak akan mau ikut ke sini," ucap Raka.

__ADS_1


Rangga menaruh tasnya di dekat lemari kaca yang ada di kamar tersebut. Di saat Rangga memutar balik tubuhnya, dia melihat ada pantulan bayangan di cermin lemari.


"Apa tadi yang aku lihat," gumam Rangga.


Rangga melirik ke arah cermin itu secara perlahan dan... Dia menatap tajam ke cermin, lalu melihat ke arah pantulan sosok yang dia lihat.


Rangga memelototi sosok tersebut, "SubhanaAllah! Sungguh.. Seram sekali ciptaanmu ya Robb." Rangga menutupi matanya.


Rahendra dan Raka melihat ke arah Rangga, "Ada apa denganmu, Rangga?" tanya Rahendra.


"Ada pacarmu tuh di luar jendela," ucap Rangga.


Rahendra dan Raka menengok ke arah jendela, mereka terkejut melihat sosok itu ada dihadapan mereka.


Rahendra beranjak dari tempat tidur, "Dia bukan pacar gue, tapi pacarnya Raka." ucap Rahendra.


Raka beranjak dari tempat tidur, "Enak aja. Gue lebih baik pacaran dengan Ibu-ibu daripada dengannya."


Arwah Ratih kemudian menghampiri mereka bertiga dengan cara menembus kaca jendela kamar tersebut.


"Yah-yah. Dia tembus," Raka menunjuk ke arah arwah Ratih.


"Mati nih kita," ucap Rangga.


"Lu aja yang mati, gue sih belum mau," ucap Raka.


Rahendra berjalan mundur menuju pintu kamar, "Lebih baik sekarang kita... Lari!!" seru Rahendra.


Rahendra membuka pintu dan lari keluar kamar lebih dulu, Rangga kemudian menyusulnya. Ketika Raka memegang gagang pintu dan hendak berlari keluar kamar, arwah Ratih tiba-tiba memegang kerah baju bagian belakangnya.


"Hadeuh! Kenapa di pegang sih. Nona kunti, tolong lepasin! Cari cowok lain aja ya, jangan gue," Raka menarik kerah bajunya.


Raka kemudian melirik ke arah belakang, dia melihat arwah Ratih yang sedang memelototi dirinya.


"Ih, seram sekali. Apa tidak ada setan berwajah imut, kalau imut ya, bukan setan namanya, tapi badut," celetuk Raka.


Nona kunti itu melepas kerah baju Raka, Raka kemudian membuka pintu kamarnya dan berlari keluar kamar.


"Emaaaak! Tolong Raka!" seru Raka.


Raka menghampiri kedua temannya yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka duduk dengan nafas yang terengah-engah.


"Benar-benar ya, kenapa dia selalu saja muncul di waktu yang tidak tepat," gerutu Rangga.


"Ya, kamu bilang ke nona kunti, 'Nona, tolong datangnya di jam sekian aja ya,' begitu," ucap Raka.


"Heh! Kalau bisa begitu, udah gue lakuin kali,"


Rangga, Rahendra dan Raka menyenderkan kepala mereka sambil memejamkan mata.


Ketika Rahendra membuka matanya sambil menghadap ke atas, "MasyaaAllah!!!" teriak Rahendra.

__ADS_1


Rahendra langsung mengangkat kepalanya dan berdiri di samping sofa dia pun...


__ADS_2