
"Kalian merasa ada yang aneh dengan supir itu gak sih?" tanya Raka.
"Aneh? Apa yang aneh?"
"Lihat bagaimana dia menatap kita,"
Rangga dan Rahendra melirik ke arah supir taksi tersebut. Mereka bertiga melihat tatapan menyeramkan dari supir taksi.
"Kayaknya memang ada yang tidak beres dengan supir taksi ini," ucap Rangga.
"Hmm. Jangan-jangan dia....," Rahendra menatap mereka berdua.
"Bahaya," ucap Raka.
Supir taksi itu tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya. Dia terdiam sejenak dengan menundukkan kepalanya ke bawah.
"Pak. Kenapa berhenti di sini?" tanya Rahendra.
Supir taksi itu kemudian mengangkat kepalanya dan memutar kepalanya ke belakang.
"Astagfirullah. Kepalanya bisa muter gitu," ucap Raka.
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian membuka pintu mobil dan langsung berlari keluar.
"Setan!!" seru Rangga.
"Gue bilang juga apa, ada yang aneh dengan itu supir taksi," teriak Raka.
Mereka bertiga berhenti di depan rumah kosong dan duduk di anak tangga rumah tersebut.
"Kita istirahat dulu di sini," ucap Rahendra.
Mereka bertiga terduduk dengan nafas yang terengah-engah. Ketika mereka sudah merasa tenang, Rangga, Rahendra dan Raka menengok ke arah rumah tersebut.
"Firasatku gak enak nih. Lebih baik kita segera pergi dari sini," ucap Raka.
"Hmm. Sepertinya ini rumah tidak ada penghuninya," Rangga beranjak dari duduknya.
Ketika mereka akan pergi meninggalkan rumah itu, tiba-tiba pintu utama rumah itu perlahan-lahan terbuka.
Ngeeeek... Suara pintu rumah kosong tersebut.
Rangga, Rahendra dan Raka menengok ke arah rumah itu dan keluarlah sosok menyeramkan dari dalam rumah.
Rangga, Rahendra dan Raka melotot, "Kenapa nona kunti ada di situ, apa dia teleportasi." ucap Raka.
"Mana gue tau. Sekarang lebih baik kita... Lari!!" Rangga berlari meninggalkan rumah tersebut.
Raka dan Rahendra mengikutinya dari belakang. Setelah berlari cukup jauh, mereka bertiga akhirnya sampai di Desa di rumah pak Bambang.
"Akhirnya sampai juga," ucap Raka dengan nafas terengah-engah.
Mereka bertiga berjalan ke rumah pak Bambang. Ketika mereka sudah berada di depan pintu, istrinya pak Bambang membuka pintu utama rumah tersebut.
"Wah, kalian sudah kembali," ucap istrinya pak Bambang.
__ADS_1
"Iya, Bu," Rangga bersandar di dinding rumah.
"Ada apa dengan kalian bertiga? Seperti habis di kejar setan saja,"
"Ya, memang kami habis di kejar setan," gumam Raka.
"Hah?"
"Lupakan saja. Kami izin masuk ke kamar ya, Bu. Mau istirahat," ucap Rahendra.
"Oh, iya," istrinya pak Bambang membuka pintu depan lebar.
Rangga, Rahendra dan Raka langsung masuk ke dalam kamar mereka dan tiduran di atas tempat tidur.
"Benar-benar gila hari ini. Kita didatangi dua setan," ucap Raka.
"Hmm. Entah kenapa mereka terus mengejar kita,"
"Apa kuta pernah melakukan kesalahan kepada mereka?"
Rangga, Rahendra dan Raka saling menatap. Raka kemudian mengangkat kedua tangan dan kedua bahunya.
Karena merasa lelah setelah berlari cukup jauh, Rangga, Rahendra dan Raka tertidur pulas.
Ketika mereka sedang tertidur, pak Bambang datang dan masuk ke dalam kamar mereka.
"Sepertinya mereka sangat letih. Aku akan bicara dengan mereka nanti saja setelah mereka bangun," pak Bambang menutup kembali pintu kamar mereka.
Dua jam mereka tertidur, Rangga, Rahendra dan Raka terbangun dan langsung keluar kamar menghampiri keluarga pak Bambang.
"Selamat sore," mereka bertiga menyapa keluarga pak Bambang.
Mereka bertiga duduk bersama dengan keluarga pak Bambang dan membahas tentang arwah Ratih.
Rangga, Rahendra dan Raka diam sejenak ketika pak Bambang bertanya kepada mereka mengenai arwah Ratih.
"Hmm.. Sebenarnya...," ketika Raka akan mengatakannya kepada pak Bambang, Rangga langsung memotong ucapannya, "Jadi, begini pak. Arwah itu memang beberapa kali menampakkan diri, tapi Bapak tenang saja, kami akan mengurus semuanya."
Pak Bambang menganggukkan kepalanya. Mendengar ucapan Rangga, Rahendra dan Raka menatapnya dengan tajam.
Raka berbisik, "Apa kau yakin dengan ucapanmu?"
Rangga menjawab, "Yakin donk."
Rahendra berbisik, "Kau ingat apa yang terjadi terakhir kali?"
Rangga menatap Rahendra dan mengingat apa yang telah terjadi kepada pak Somad.
Rangga menunduk sejenak, "Bismillah saja. Semoga yang lalu tidak terjadi lagi." ucap Rangga.
Setelah mengobrol bersama dengan keluarga pak Bambang, Rangga, Rahendra dan Raka masuk kembali ke dalam kamar mereka.
Mereka bertiga merenungi hal yang akan mereka lakukan jika arwah Ratih mulai membalaskan dendamnya terhadap pak Bambang.
"Yang bisa menghentikannya hanyalah kucing hitam itu," ucap Rangga.
__ADS_1
"Tapi bagaimana cara kita memanggil kucing hitam itu?"
"Kucing itu bak jailangkung. Datang tak di undang pulang tak di antar," ucap Rahendra.
Mereka bertiga terdiam sejenak. Rangga kemudian mengambil laptopnya dan membaca kembali cerita tewasnya Ratih dan kucingnya.
"Mengapa kamu membaca berita itu lagi, Rangga?" tanya Raka.
"Ya, siapa tahu ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menghentikan arwah Ratih,"
Rangga, Rahendra dan Raka membaca kembali artikel mengenai tewasnya Ratih. Setengah jam membaca artikel tersebut, Rangga menutup laptopnya dan menaruh tangannya di dagu.
"Kita tidak menemukan apa pun di sana," ucap Raka.
"Hmm. Sekarang bagaimana?" tanya Rangga.
Rahendra mengangkat kedua bahu dan lengannya, "Tidak ada cara lain selain mengawasi pak Bambang. Ketika arwah itu datang, kita harus bisa mencegahnya."
"Kau benar,"
"Tapi bagaimana kalau dia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepada kita di rumah pak Somad?" ucap Raka.
Rahendra menggaruk kepalanya, "Sudahlah. Sekarang lebih baik kita jalankan saja apa yang sudah kita rencanakan, soal itu, kita fikirkan nanti saja."
Rangga, Rahendra dan Raka kemudian pergi keluar kamar dan makan sore bersama dengan keluarga pak Bambang.
Setelah selesai makan, mereka nonton televisi bersama di ruang keluarga. Rangga, Rahendra dan Raka terus mengawasi sekeliling ruangan.
"Kita harus berjaga, jangan sampai lengah," ucap Rahendra.
Ketika keluarga pak Bambang, Rangga, Rahendra dan Raka berjalan-jalan keluar rumah untuk mengawasi keadaan.
Setelah merasa keadaan luar rumah aman, mereka bertiga kembali ke dalam rumah dan melanjutkan menonton televisi.
Ngik.. Ngik.. Ngik.. Suara jendela tertiup angin.
"Cepat tutup jendelanya!" ucap Rangga.
Raka beranjak dari tempat duduk dan pergi untuk menutup jendela. Ketika dia akan menutup jendela, dia melihat sosok Ratih tengah berdiri di depan rumah.
"Guys!" Rangga dan Rahendra menengok ke arahnya, "Dia datang." ucap Raka.
Rangga dan Rahendra beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Raka. Mereka melihat ke luar rumah.
"Bahaya," ucap Rangga.
Lalu kemudian mereka kembali ke Ruang keluarga dan mengelilingi pak Bambang dan keluarganya.
Rangga berdiri di belakang pak Bambang, Raka berdiri di sebelah anak laki-lakinya pak Bambang, sedangkan Rahendra, dia berdiri di sebelah istrinya pak Bambang.
Tepat jam dua belas malam, pintu rumah dan jendela-jendela yang sudah tertutup rapat tiba-tiba terbuka oleh angin yang menghembus kencang.
Pak Bambang dan keluarganya terbangun karena terkejut mendengar suara itu.
"Ada apa ini?" tanya pak Bambang.
__ADS_1
"Dia sudah datang," ucap Raka.
Sosok Ratih kemudian masuk ke dalam rumah dengan tatapan yang sangat tajam dan...